...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

yang tetap pilu di sisa-sisa senja

Seorang perempuan, usianya senja, menangis. Batinnya perih. Dan sepertinya tangis tak pernah cukup untuk membahas dan menyelesaikan luka yang ia alami berpuluh-puluh tahun silam. Di sela-sela suaranya yang patah, ia mencoba memberi tahu sesuatu. Gerak-gerik tubuhnya yang polos (seperti Keisya, keponakan saya, yang kalo bercerita susunan kalimatnya sangat sulit dimengerti, tapi untungnya tubuhnya pun berbicara. Setidaknya dahi saya tidak terlalu mengkerut untuk mengira-ngira apa yang ingin dia ceritakan), membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Laki-laki dan perempuan. Kaum muda. Ya, kami. Kami yang mengikuti pemutaran film dokumenter tentang Jugun Ianfu beberapa waktu lalu. Dan saya yakin, siapa yang tidak geli pada saat seorang ibu tua –maaf- meremas-remas payudaranya sendiri di hadapan kamera. Ia memperagakan bagaimana para tentara Jepang menjajah keperempuanannya. Miris. Dan buru-buru saya tertunduk, mencoba menghindari tontonan.

Begitulah perempuan di negeri ini punya sejarah yang lain lagi. Cerita kusam yang selalu suram. Cerita yang tidak pernah saya ketahui jika saja saya tidak bertemu dengan seorang kawan yang sangat berminat dengan cerita-cerita perang. Karena sejauh yang saya tahu, selama saya belajar di bangku sekolah, guru-guru sejarah saya tak pernah sedikitpun memberi tahu bagaimana cerita Jugun Ianfu. Jangankan cerita, namanya pun, sejauh yang saya sadari, tidak pernah tersebut (salah satu guru sejarah saya lebih senang menceritakan rambutnya yang memutih, dan yang satu lagi lebih senang menghisap nikotin dari batangan rokok yang dikulum di mulutnya yang sangat hitam).

Jugun ianfu adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada perempuan penghibur yang terlibat dalam perbudakan seks selama Perang Dunia II di koloni Jepang dan wilayah perang. Indonesia, sebagai salah satu negara jajahan Jepang, tentunya menjadi salah satu lahan subur untuk praktek Jugun Ianfu (Japanese sex slaves). Dengan paksaan maupun diiming-imingi sekolah ke luar negeri maupun dijadikan pemain sandiwara, para perempuan waktu itu direkrut. Mereka dijebloskan ke dalam rumah bordil yang konon sengaja didirikan pemerintah Jepang untuk meningkatkan kinerja militernya (pemuasan kebutuhan seksual para tentara dan misi menyebarkan penyakit kelamin di daerah musuh).

Menurut para Jugun Ianfu yang berhasil bertahan hidup hingga pasca kemerdekaan, rumah bordil Jepang merupakan tempat yang mengerikan. Perempuan-perempuan itu dibagi menjadi tiga atau empat kategori, tergantung lamanya pelayanan. Yang paling baru (yang lebih tidak mungkin terkena penyakit kelamin) ditempatkan di kategori tertinggi. Namun, dengan berjalannya waktu, perempuan-perempuan baru tersebut akan diturunkan kategorinya karena kemungkinan terkena penyakit kelamin lebih tinggi. Ketika mereka dianggap terlalu berpenyakit untuk digunakan lebih lanjut, mereka diabaikan. Banyak perempuan yang dijadikan Jugun Ianfu melaporkan uterus mereka membusuk dari penyakit yang diperoleh oleh ribuan lelaki dalam waktu beberapa tahun. Dan ketika perang berakhir dan posisi militer Jepang terancam, perempuan-perempuan itu ditinggalkan dan tidak dipedulikan lagi nasibnya.

Riwayat tragis, lebih mencekam dan membekas. Seorang perempuan tua asal Cimahi yang ada dalam film dokumenter yang dipertontonkan waktu itu (saya lupa namanya), memperlihatkan bekas luka di balik kebaya lusuh yang ia kenakan akibat pengangkatan rahimnya yang rusak. Ia membatin. Selama ia bebas dari cengkeraman Jepang, ia selalu hidup sendiri. Bebannya berlipat. Ia tidak mungkin kembali dan mencari keluarga maupun sanak saudaranya. Karena menjadi seorang Jugun Ianfu berarti menjadi orang yang harus siap untuk dicemooh dan diludahi masyarakat waktu itu. Dan lagi, tidak ada lelaki yang mau menerima perempuan kotor yang pernah dijamah semena-mena oleh orang lain, lanjutnya. Dan hanya di sebuah bangunan tua yang juga pernah menjadi rumah bordil itulah perempuan itu bertahan sampai akhirnya ia meninggal beberapa tahun lalu.

Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika saya hidup di masa penjajahan Jepang waktu itu (1942-1945). Melihat kesaksian para Jugun Ianfu di film yang saya tonton pun sudah membuat perasaan saya meledak-ledak: benci, sedih, takut, marah, dan menangis. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana khawatirnya para orang tua yang memiliki anak-anak perempuan kala itu, ketika mereka mendengar kaki dengan sepatu militer berderak-derak di halaman. Saya juga tidak bisa membayangkan berapa banyak doa dipanjatkan ketika pintu-pintu rumah mereka mulai digedor. Hfffhh… Dalam benak saya, saat itu yang hadir benar-benar suasana yang sangat menegangkan.

Sejarah Jugun Ianfu adalah sejarah tentang sebuah kepiluan mendalam bagi kita, perempuan. Sejarah yang mungkin hanya bisa dilihat jika mata kita sudah sangat terbelalak untuk membaca dunia, membaca kehidupan. Sejarah yang, dalam pengalaman saya, serupa mitos. Nyata nyata tidak, tidak tidak nyata. Sejarah yang hanya berlabuh dari sisa-sisa senja para korbannya. Setelah itu, entahlah. Mungkin benar-benar akan jadi mitos. Akan jadi dongeng yang sangat tidak cocok untuk jadi lulabi, tidak pernah lumrah jadi pengantar tidur, jika tidak ingin mengalami mimpi buruk. Semoga tidak.


(dari celah-celah lupa dan kesadaran yang hampir luput)

0 comments:

Post a Comment