...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

Showing posts with label pagi. Show all posts
Showing posts with label pagi. Show all posts

lachrymose

.....hari kelima di tahun yang selalu diawali dengan hingar bingar yang sama

ya harusnya saya menuliskan ini 168 jam lalu dari waktu saya menuliskannya kembali sekarang. penyakit "ketidakmampuan menulis dadakan" tiba-tiba muncul. namun yakinlah, kata-kata itu belum retak, bahkan ia belum kehilangan aromanya, sama seperti saat pertama kali ia dimuntahkan dari sela-sela cericit lengking burung yang hampir kalah, dari antara celah nyanyi ayam yang membasi, dari tengah pijar mentari yang telah memar, dan dari tengah-tengah deru mesin yang mulai kelabu, pagi itu.

mienai mono wo kanjiyou
kibou ya negai wo
...
kimi no ashita wo miushinawanai
de
hatenai yume wo oikakete ikou
...*


--------------------------
* Carry On, Arashi
dedicated to someone who's working hard and doing his best for his dreams

vague

kami, saya dan beberapa kawan, pada suatu pagi, akhirnya terjebak pada pembahasan serius tentang sejarah. terlalu pagi untuk pembahasan seserius itu. ayam pun masih enggan bersenandung. tapi saya merasa beruntung karena ada saatnya saya merasa butuh kawan-kawan serupa mereka.

"sejarah adalah jejak-jejak kaki di padang pasir. badai, bahkan angin kecil bisa kapan saja menghapusnya," ujar kawan saya yang a.

"bukan. sejarah adalah hak setiap mereka yang menang dan punya kuasa," tutur kawan saya yang b.

kawan saya yang c tidak mau ketinggalan "sejarah itu abu, hitam dan putih yang tidak jelas."

"makanya, kita tidak bisa sembarangan mempercayai sejarah. butuh ketelitian. tidak sembarang catatan, tidak sembarang peninggalan, dan pastinya diceritakan oleh orang-orang yang 'pantas', 'layak', 'mampu', dan 'bertanggung jawab' atas segala macam peristiwa yang ditatahnya, disampaikannya," timpal kawan saya yang d.

"oo... butuh ketelitian?" tanya saya.

"ya, itu yang paling penting," katanya meyakinkan.

"masak?" tanya saya lagi.

"apa lagi?" kawan d terlihat sedikit kesal.

"ada lagi yang lain, menurut saya."

"apa?" kawan c seperti merasa perlu penasaran.

"kesabaran dan secangkir kopi"

raut muka kecewa, kesal, dan dua menampakkan kegelian mengiringi tawa saya yang renyah. dan kami pun kembali pada buku kami masing-masing, pada pagi kami masing-masing, pada khayalan kami masing-masing tentang siang yang entah akan menjadi saksi peristiwa sejarah penderitaan apa lagi di muka bumi. pada akhirnya, ayam bangun dan kami memanjatkan doa kami masing-masing. mungkin doa yang sama: semoga ini adalah hari terakhir kami dan saudara-saudara kami menderita.

escapist???

Kedatangannya pagi itu adalah nafas buat saya yang tengah 'sekarat' akibat tuntutan dan bilangan tanggal. Dua kepingan CD ia serahkan. Dan saya hanya menukar pemberiannya itu dengan sebatang wafer cokelat dan segelas air putih.

Jika Divan Semesta punya PYTM, maka saya punya kawan saya yang satu itu. Ia adalah salah seorang yang tidak sadar bahwa ia ikut andil dalam meramu saya, mempengaruhi bentuk saya sekarang. Rumahnya adalah tempat singgah kedua saya di Bandung. Tangan ibunya adalah sering saya cium. Makanannya sering saya habiskan. Tempat tidurnya sering saya tempati.

Dan semua itu sudah lama tidak saya lakukan. Sibuk? Bukan. Bukan itu. Saya tidak ingin naif dengan kata-kata yang membenarkan saya untuk tidak menyempatkan diri melakukan hal-hal yang dulu sering menjadi katarsis saya kala jemu dengan hidup.

Seperti halnya sekarang. Percaya atau tidak, hidup sedang kembali membuat saya bosan dan kesal. Meskipun di satu pojokan saya bersikeras mengingat-ingat dan meyakinkan ungkapan Nenek (yang juga mengutip Pram, si kakek tua yang kini sudah menjadi tanah itu): "Kita tidak mungkin menjadi orang sakit dengan hanya melihat dunia dari sisi buruknya saja, sebagaimana kita tidak mungkin menjadi gila karena melihat dunia dari sisinya yang menyenangkan saja."

Saya berharap banyak semoga saya tidak menjadi sombong karena merasa menemukan hari-hari yang sulit belakangan ini. Hari-hari yang membuat saya ingin menutup, mengunci dan berpura-pura tuli saat ada yang mencoba mengetuk pintu kamar. Hari-hari yang membuat saya ketakutan setengah mati saat telepon seluler saya mulai berbunyi di atas lemari. Satu-satunya yang ingin saya lakukan adalah mengenyahkan semuanya, mengenyahkan segalanya, termasuk menghapus semua garis yang saya goreskan yang menandakan saya hadir di tengah sekian banyak orang dengan kepentingannya masing-masing. Kepentingan? Huh... kata-kata itu kembali berbau busuk.

Bosan. Rusuh. Kumuh. Berantakan. Itulah saya sekarang. Orang yang biasa saya minta untuk menunjukkan arah tidak mungkin saya temui, karena prasyarat pertemuan kami belum mampu saya penuhi.

Dan hadirlah kawan saya yang satu itu. Ia tidak datang membawa arah dan menunjuki saya kemana sebaiknya saya pergi. Ia hanya memberi saya minum, dan membiarkan saya mencari arah saya sendiri. Tak saling memaksakan arah. Tak saling menujamkan 'kehendak'. Dengan cara itu kami menikmati pertemanan kami, saya dan ia yang memberi dua keping CD pagi itu.

Sometimes, I feel the fear of uncertainty stinging clear
And I can't help but ask myself how much I let the fear
Take the wheel and steer
It's driven me before
And it seems to have a vague, haunting mass appeal
But lately I'm beginning to find that
I Should be the one behind the wheel
[Incubus, DRIVE]

Di salah satu keping CD yang diberikannya, Brandon Boyd yang eksentrik itu ikut bersuara. Saat itu juga saya pun melemparkan senyum saya pada monitor.

Escapist!!! Saya bergumam. Serupa bidang untuk mendarat beberapa saat. Serupa ruang untuk menjadi egois beberapa saat.

Saya mencoba membongkar dari laci-laci harddisk dan setumpuk CD, demi mencari Incubus. Sialnya saya hanya punya beberapa. And damn..... how can they suddenly stole my attention at that time? Demi Incubus, saya pun membongkar youtube. Sial lagi, beberapa kali saya coba unduh, selalu gagal. Saya pun mencukupkan diri dengan hanya memutarnya via quicklist di youtube, beberapa lagu. Dan salah satunya kembali membuat saya tersenyum. Dan lagi-lagi saya bergumam: "Escapist!!!!!"

We all have a weakness
But some of ours are easy to identify
...
We all have a sickness
That cleverly attaches and multiplies
No matter how we try
[Incubus, DIG]

And actually what i'm thinking now is "is it real that im an escapist?". But let me tell u something: "i dont wanna be lonely, i just wanna be alone"1 for while. "It's just a phase... It will be over soon"2



1. Silverchair, Across The Night
2. Incubus, Just A Phase