...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

Showing posts with label kawan. Show all posts
Showing posts with label kawan. Show all posts

vita nouva

[introduksi yang sebetulnya tidak perlu kecuali untuk menajamkan eksistensi]

seandainya saya mengganda, saya akan membisikkan kata-kata serupa. sayangnya, cirex melahirkan kata-kata itu lebih dulu daripada saya. hehe.. becanda.

ini adalah satu lagi tulisan cirex yang membuat saya jatuh hati, saya gandakan dan saya tempel di sini. saya boyong paksa untuk singgah, tertanam, dan terbaca oleh siapa saja yang sengaja atau tak sengaja, telanjur atau tidak untuk menoleh ke halaman ini.

saya mengunyahnya dengan penuh suka cita dan cemas. mungkin kawan-kawan pun begitu. mungkin juga tidak. mungkin sebagian besar akan mencarik kertas, meraih pena, menuliskannya kembali, dan merapalkannya lekat-lekat di telinga manusia kecil yang Allaah hadirkan di tengah kehidupan kawan-kawan. mungkin juga tidak. biar saja.

Selamat datang, Nak, selamat datang di kehidupan yang kerap menjelma persimpangan tanpa marka jalan. Bersiaplah. Kebenaran yang hanya satu sering bersembunyi malu-malu, dan kejahatan sering berpura-pura tanpa ragu. Tak perlu kau terlampau risau. Selama kau pandai mengemas waspada, aku pastikan segalanya akan baik-baik saja. Hiduplah untuk bercuriga. Saat ini mungkin kau sangsi, setelah besar nanti kau akan mengangguk pasti.
 
Selamat datang, Nak, aku tak memiliki apa-apa untuk menyambut kedatanganmu kecuali sebaris nama. Tentu kau akan bertanya mengapa kau harus bernama. Tidak harus, Nak, tapi begitulah manusia. Semenjak Allah mengajarkan Adam tentang nama-nama, semenjak itulah manusia gemar memberi nama-nama. Manusia menamakan makhluk terbang itu burung, menamakan makhluk air itu ikan, menamakan sesuatu yang tinggi menjulang itu pohon, menamakan itu pelangi, itu sungai, itu samudra, itu cakrawala, itu debu dan pasir hitam. Dunia ini memang milik manusia, Nak, berbanggalah akan hal itu. Kau boleh mengubah nama yang aku berikan itu, kelak, jika kau tak menyukainya. Sebab, memang begitulah manusia. Gemar mengubah nama-nama. Gemar mengubah tanda-tanda. Gemar mengubah segalanya. Gemar mengubah peradaban hingga akhir zaman. Tapi tak sanggup mengubah hakikat dirinya sendiri bahkan sampai napas tersangkut di tenggorokan.

Selamat datang, Nak, aku akan mendampingimu dalam kebahagiaan dan kecemasan yang berimbang. Kehidupan tanpa kebahagiaan adalah kematian. Kehidupan tanpa kecemasan adalah kehidupan yang harus diperiksa ulang.
Selamat datang, Nak, selamat karena telah menjadi seorang manusia.

Salam sayang dari seseorang yang telah dipilih Allah untuk menjadi ayahmu:
Aku




temui langsung penulis di sini jika andapun jatuh hati dengan tulisannya

maicihus euforius

dua pekan kemarin, kira-kira, saya kembali bertandang ke kota kembang. bolehlah saya sedikit belagu, bandung tak lagi jadi tempat tinggal saya bagi orang tak karuan seperti saya, tidak selalu inspirasi menulis datang dengan kegalauan. suatu kali, desakan menulis pun hadir di tengah rasa mulas yang dahsyat. di sela-sela perut yang berkerumuk dan mengamuk.

saya kembali hadir di bandung kala itu. urusan saya dengan kota itu belum tuntas. bahkan terlalu banyak untuk dikatakan menjelang tuntas. utang saya masih banyak: desain, utang majalah, mengembalikan cd, video dokumentasi, dan lain.

saya sempat bertandang di kampus pendidikan yang dulunya tidak disebut upi. kampus itu bersejarah bagi saya. di kampus itu saya bertemu dengan seorang guru hebat yang memperkenalkan saya guru-guru hebat lainnya. dan di kampus itu pula, rasa takut saya terhadap ulat bulu seketika lenyap. bagaimana tidak? saya tidak mungkin membiarkan segerombolan ulat itu nyaman menggelantung di ujung jilbab setelah dengan tidak sengaja kaki saya melangkah di bawah pohon yang dihuni bilyunan ulat bulu merah putih yang lucu tapi mengerikan. hari itu saya tidak sedang napak tilas. saya hanya mengantar adik saya yang besar untuk mengurus ini itu agar bisa diterima menjadi mahasiswa.

belum sempat duduk di angkot menuju pulang, bibi menelpon. dia meminta saya datang ke rumah kontrakannya di ujungberung. siang yang dahsyat. belum pernah saya merasakan bandung sepanas hari itu. perjalanan kami cukup panjang. adik saya yang terlalu peduli pada perawatan kulit dan wajahnya sudah berulang kali mengeluh kepanasan. satu setengah jam, perjalanan setiabudi-ujungberung pun tunai beserta macet dan tetek-bengeknya. kami sampai di rumah kontrakan bibi.

maka berbahagialah adik saya. di sana, ma icih menyambut kami. ma icih adalah mesiah bagi adik saya yang sudah sejak pagi tadi mengeluh karena cuaca. juru penyelamat, begitulah kira-kira. dia lantas bercerita soal ma icih yang punya tingkat rasa pedas skala 1 hingga 10. adik saya bangga karena pernah mencicipi ma icih paling pedas. bibi saya menyimak lekat-lekat setiap kata yang dibual adik saya. dia bercerita tentang rasa ma icih yang enak, ma icih yang mahal, ma icih yang langka, dan ma icih yang membuat pemiliknya yang muda menjadi kaya raya seketika.

bibi minta saya untuk mencari resep ma icih lewat google. *saya tidak menyangka bibi saya secanggih itu*

bibi bilang, dia tertarik untuk membuka bisnis semacam ma icih. bisnis keripik pedas. dan jreeeng.. betapa tergiurnya bibi melihat omset per bulan dari bisnis keripik setan ini. bibi saya pun mulai bersoliloqui tentang besar pendapatan yang seandainya dia miliki tiap bulannya. sampailah saya pada kesimpulan bahwa ma icih bukan hanya menyalakan rasa mulas tapi juga menyalakan nyali untuk memulai bisnis serupa. bayangkan, omsetnya 4 milyar per bulan. bibi kena euforia ma icih. buktinya beberapa minggu setelahnya, ketika saya berkunjung ke rumah neneto, sudah ada beberapa toples keripik pedas yang rasanya belum jelas. *maafkan saya, bibi* tapi saya yakin, euforia untuk berbisnis dan meraih keuntungan besar itu masih ada. bibi meminta saya untuk merancangkan kemasan calon produknya. *orderaaan.. hihi*

melihat euforia ini, saya jadi ingat beberapa bulan lalu. euforia training enterpreneur yang terlampau massif dan pernah saya benci. nyaris semua kawan riuh membicarakan mr. s.a. (saya singkat namanya), training yang dipandunya, dan petuah-petuahnya. menjelang training berlangsung, kawan-kawan saya senang sekali promosi. bukan hanya itu, tidak sedikit yang nyeletuk dengan nada mencibir pada siapa saja yang tak ikut antri mendaftar. tentu saja saya tidak ikut. pertama, karena saya tidak suka training jenis apapun. saya tidak senang dengan suasana sok menyenangkan dalam training. *haha sentimen* kedua, saya tidak suka pada sesuatu yang terlalu ramai digandrungi. maka bulatlah tekad saya untuk berkata "maaf, saya ngga ikut dan ngga mau ikut." hell with the rest! peduli setan dengan ungkapan-ungkapan tidak menyenangkan yang beberapa kawan saya lemparkan karena ketidakikutsertaan saya. dan waktu itu, saya memilih tinggal di kosan, bersama ivik, kawan sekosan saya yang juga tidak senang dengan training.

saya makin tidak suka setelah menangkap gelagat sejumlah kawan yang mengindikasikan bahwa kehadiran dalam training seolah menjadi agenda wajib yang akan menjadi haram jika tidak diikuti. bahkan ada kawan yang mengeluh karena partnernya yang lelaki tidak bisa diganggu untuk urusan kepanitiaan hanya karena dia ikut training mr. s.a. ini. ooh damn! apa-apaan ini? "mr. s. a. berusaha untuk memasukkan nilai-nilai dan pemikiran islam lewat training!", "sebetulnya apa yang disampein mr. s.a. semuanya ada di kitab yang kita kaji.", " banyak lho yang ikut trainingnya!", "sayang kalo ngga ikutan.", "mr. s.a. mengajari kita bagaimana kita optimis dengan kemampuan yang kita miliki!", e-te-ce..... cerita kedigdayaan training seperti lalat yang menguing-nguing dekat telinga dan ingin sekali saya usir.

saya sempat membagi ke-shit-an ini bersama ivik. kami sama-sama terganggu dengan fenomena training, motivasi, optimisme, petatah-petitih, rasa semangat, dan lain-lain yang seolah muncul (dan berlebihan) setelah turunnya mr. s.a. dari 'kayangan'. kami sempat mempertanyakan kembali siapa yang berlebihan dalam hal ini? saya dan ivik atau kawan-kawan saya yang penggila training? apakah dulu Rasulullaah SAW mengubah masyarakat dengan cara 'sok menyenangkan' dan 'penuh semangat' seperti training-training yang menjamur sekarang ini? belum cukupkah para aktivis menggenjot motivasi mereka untuk mengoptimalkan potensi yang mereka miliki dengan kajian rutin tiap minggunya? rugikah ketika kita tidak menjadi enterpreuner? rugikah ketika seseorang lebih memilih untuk mendedikasikan waktunya sebagai seorang ahli fiqih, bukan seorang enterpreuner? mengapa perkara wirausaha menjadi indikasi seseorang itu survive atau tidak? apakah peradaban manusia ini menjadi mulia karena banyak manusia yang menjadi wirausahawan? mengapa? mengapa? kok bisa?

saya yang sentimen dan juga ivik yang sederhana tertawa tiba-tiba saat itu, dan berkata: "jangan-jangan, kita yang berlebihan!"

tapi, sumpah demi ma icih, sampai detik ini pun, saya tidak suka training!

??!!!@#!!@??!!

rindu itu begitu purba. begitu mengganggu. namun bisa diringkas dengan hanya mengirimkan beberapa deret kata untuk saya sampaikan pada nomor sejumlah sahabat di masa lalu, tanpa melankoli.

sambil menikmati jalanan bandung-jatinangor yang riuh, saya mengingat-ingat kembali beberapa kilasan, beberapa penggal momentum di tahun-tahun silam. tahun dimana saya dan sahabat-sahabat saya begitu ranum. dorongan untuk hadir dan diakui meluap tak terbendung kala itu. kami pun benar-benar menghadirkan diri, mencari definisi kehadiran dengan cara yang konyol juga memalukan untuk kami ingat lagi di masa kini. ah, masa muda. seandainya bisa waktu bisa saya geret mundur, sumpah demi SM*SH, saya tidak akan pernah melakukan kegilaan itu. untung saja waktu memang tidak bisa diulang. karena Allah tahu betul bagaimana membuat hidup kami tidak pasi dan hambar. Allah tahu betul bagaimana saya bisa tersenyum dengan hanya mengingat di jeda waras yang nyaris terkuras.

di akhir pesan pendek itu: "gimana kalo kita bikin konser nostalgia? tajuknya TRIBUTE TO JAMI' VOICE? haha.."

sahabat lama saya yang sibuk dengan clay-nya (baca: her adorable son) di suatu sudut jakarta itu menimpali: "boleh. kamu yang jadi manajer proyeknya. haha.."

saya tahu dia tidak serius karena saya pun sadar bahwa dia tahu saya pun tidak serius. pertanyaan saya di akhir itu hanya cara agar saya tidak terlihat sepi. sepi yang saya kreasikan dan saya besar-besarkan sendiri.

ulul bilang belajar

begini ulul bilang: 

aku belajar diam dari banyaknya bicara
aku belajar sabar dari sebuah kemarahan
aku belajar mengalah dari suatu keegoisan
aku belajar menangis dari kebahagiaan
aku belajar tegar dari kehilangan
karena hidup adalah belajar
belajar bersyukur meski tak cukup
belajar ikhlas meski tak rela
--------------------------------------------------------------------------------
whooaaaa (berbinar mode on)!!!! ulul-chan, daicukiiiiii...

saudara-saudara, ini adalah tangan the ulul. buleud, kayak pipinya. that's why daicukiiii :) you're growing, sisso. hounto daicukiiii

punk'd

ini catatan yang menguak kegilaan di masa lalu. for the victim, maafkan saya dunia akhirat ya!
--------------------------


Harusnya saya mencatat ini beberapa hari lalu. Awalnya saya kira tidak perlu. Basi kalaupun mau maksa. Tapi, postingannya Yuni bikin saya gatal, ingin menuliskan juga kejadian 14 Februari lalu, hari dimana keisengan saya -lagi-lagi- memuncak. Jadilah kawan saya korbannya. Atau saya? :( Gimana pun... Gomen ne, XXX-san!!!

Sore yang padam...

Saya : "Cuy, jangan pulang dulu yak, ada yang mau gue kasih."
(lama tak ada tanggapan)
Saya : "Pokonya jangan dulu pulang, gue mau sholat dulu."
Dia : "Emang mau ngapain? Apaan?"
(saya sedang shalat)
Saya : "Ada kado buat lu. Spesial dari gue hari ini."
Dia : "Kado apaan?"
Saya : "Hadiah buat lu. Gue kan orangnya baek banget. Pokonya ntar lu ambil ya. Kita janjian di depan."
Dia : "Oke"
....
....(krik krik)....
....
Dia : "Woi...!!!!"
(saya musti memastikan dimana arah suara itu bersumber karena di luar gelap sekali dan angin bertiup sangat kencang. tangan saya ikut sibuk memegang bagian depan dan belakang kerudung)
Dia : "Woi!!"
(akhirnya saya bisa melihatnya, manusia berbaju hitam, kulitnya?hehe...)
Saya : "Whaha...kirain dimana. Gue ngga liat. Susah. Kegelapan dalam kegelapan."
Dia : "Kurang ajar."
Saya : "Nih, buat lu."
Dia : "Apaan nih?"
Saya : "Tadi gue ngiri liat orang-orang pada ngasih kado. Ya udah, lu juga gue kasih."
Dia : "Makasih ya!"
Saya : "Yoy. Tapi ada syaratnya. Lu boleh buka tuh kado kalo udah ada di tempat yang terang. Oke?"
Dia : "Sip. Gue kasih apa nih buat lu?"
Saya : "Mobil."
Dia : "Mana mungkin? Minta aja sama temen lu itu."
Saya : "Becanda kok. Itu hadiah buat elu. Gue ngga ngutangin kok. Jadi ngga mesti lu bayar. Heuheu..."
Dia : "Pokonya makasih banget yak!"
Saya : "Sip."
.....berdetik-detik
.....bermenit-menit
.....berjam-jam
Dia : "Gila. Baru naek angkot nih gw."
(saya terperanjat. si kampret segera saya raih)
Saya : "Tuh angkot lampunya nyala apa ngga?"
Dia : "Iya. Kenapa?"
Saya : "Udah lu buka?"
Dia : "Belum. Ntar aja. Tapi beneran nih gue ngga usah ngasih apa-apa buat elu?"
Saya : "Yaelah itu lagi. Nih ya, yang penting lu buka tuh cepet-cepet! Inget, di tempat terang."
Dia : "Pasti gue buka. Makasih lagi ah."
....
....(krik-krik)....
....
....(krik-krik)....
....

Percakapan hari itu berakhir. Padahal saya berharap tidak menemukan akhir 'semanis' dan 'sesunyi' itu.

Besoknya, malam-malam...
Dia : "Gue baru ngeh buku yang lu kasih itu bukunya simpatisan PDP. Lu pernah aktif di sana ya?"
Saya : "BASI LU!"

Ternyata rencana yang saya anggap akan lucu itu hanya berubah jadi kacang dan kerupuk. Saya tidak benar-benar tertawa seperti yang ada dalam bayangan saya sore itu, ketika saya membungkus rapi buku kampanye "Laksamana Sukardi dan PDP" yang saya dapat di kantin Salman itu dengan kertas koran. Saya tidak puas sama sekali. Padahal, ketika saya menuliskan "Ini spesial buat lu dari Adieu" pada kertas yang saya tempel di muka Laksamana Sukardi itu, saya membayangkan akan muncul umpatan-umpatan dari mulut kawan saya dan muka saya jadi merah karena senang diumpat.

Hufffhhh.... Sepertinya keinginan saya untuk menyamai Pidi Baiq, master of 'iseng', father of monster and molen. Allah memang lebih tahu. Makasih Ya Allah, Kau memang keren.

Too much "punk'd" in this world. So, happy punk'd-lentine!
"Rrrrgggghhh..........."




-----------------------------
begitulah kira-kira. don't try this at home! :p

...creepy

bagaimana kemarahan mesti diungkapkan?

kemarin malam adalah kali pertama saya merasa harus marah pada beberapa kawan. mengapa? akumulatif sebabnya. tapi, saya jamin, tidak ada emosi yang meletup berlebihan di kepala saya, kecuali greget pada beberapa hal. saat itu pula saya berencana untuk menjadi galak jika bertemu mereka. saya sudah siapkan beberapa poin yang ingin saya sampaikan. saya pun sudah menyusun gaya marah minim ego, tanpa mereduksi ketegasan dan kesan pada kawan-kawan saya itu bahwa saya sedang berbeda saat itu. saya marah. ini serius.

besoknya...

kami bertemu seperti biasa. sebelum membuat kawan-kawan baku dalam lingkaran, saya sempat melepaskan sejumlah kelakar, bahkan kelakar dari hal-hal yang tidak perlu dan diada-adakan. ini pun seperti biasa, karena saya memang tipikal orang yang tukang bojes. dan hingga lingkaran itu tidak lagi dibakukan, saya masih saja berkelakar. ya Allaah ampuni hamba-Mu yang pelawak abangan ini. saya hanya tidak ingin apa yang sampai tidak serupa kilat dan halilintar.

setelah beberapa jeda, setelah membenarkan ikat sepatu kami masing-masing, saya dan kawan-kawan pun bubar. (mudah-mudahan tidak sampai mengurangi keseriusan dalam menghayati pemahaman ya, kawan-kawan. gomenasai..)

di jalan menuju pulang...

ya ampuuun, saya lupa dengan kegalakan yang sudah saya rancang sejak malam.*


pada akhirnya, semua itu tak mesti disampaikan dengan marah dan galak saya kira.^^


----------------------
*saya tidak lupa poinnya. yang saya lupa adalah gayanya. hufffttt.. tapi, saya tetap menyayangi kawan-kawan saya yang manis, besar-besar, dan menyenangkan itu.

reobjurgasi samakah dengan balik mencerca :D

ini hanya tanggapan dari tulisan luar biasa kawan saya, yuni (silakan klik di sini)
--------------------------------------

maksudnya "hal" apa ya, yu? bingung saya.

itulah kenapa akhirnya tidak perlu ditanya sastra mana maksud saya. jujur sebelum menulis itu, saya menyempatkan diri untuk mencari definisi objek yang akan saya tulis.

dan yuni yang saya sayangi karena Allaah, yu perlu tahu bahwa saya menuliskan apa yang pernah saya alami, particularly pengalaman saya saat bersentuhan sedikit dengan sastra dan para pengusung ke-bebas-an. memang lancang, ini saya akui. bahwa saya yang hanya bersentuhan sedikit saja dengan sastra telah begitu songong membicarakan sastra, -dan bukan hanya itu- bahkan mencercanya. namun -lagi-lagi saya melakukan pembenaran- pengalaman saya yang awam dengan sastra telah membuat saya bersikap seperti itu. saya tidak alergi dengan sastra dan hingga detik ini, kalau saya sempat, saya masih membaca beberapa karya. saya juga tidak alergi dengan kawan-kawan sastra. beberapa partner saya banyak yang kuliah di fakultas sastra and it's nice, indeed, as well as my other partners from other departments. it's not a matter for me at all. yang membuat saya alergi adalah superioritas yang sekonyong-konyong terbit saat dalam diri seseorang tersemat 'pemahaman sastra' (dan ini yang biasanya dapati dari kawan-kawan sastra -yang merekapun ternyata peroleh dari dosen-dosennya). sekonyong-konyong sastra menjadi satu-satunya jalan muncul dan berkembangnya kepekaan. padahal, bagi saya yang awam ini, bukan itu yang menjadi sumber kepekaan. bukan sastra. karena sastra adalah produknya. serupa bunga yang bisa indah, bisa menjadi sumber kebahagiaan berbahaya, bisa meracuni, bisa melukai, dan lain-lain.

saya sepakat dengan yu. pada dasarnya semua kembali pada diri kita sendiri, tepatnya pada pemahaman, pada keyakinan yang melahirkan pemahaman serta tindakan-tindakan kita. namun sayangnya, saya tidak sepakat bahwa kita menghadapinya dengan biasa saja. karena buat saya, tidak ada yang bebas nilai yang menyebabkan kita (saya maksudnya) merasa perlu menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa, sebagai sesuatu yang c'est la vie. tidak ada yang bebas nilai dalam penyikapan bagi seorang manusia. manusia tak kekal, sebagaimana kehidupan, sebagaimana segala yang melingkupi kita. apa yang kita 'biasa'kan, bisa jadi tak akan pernah 'biasa' di mata Allaah SWT, pencipta dan pengatur kita.

segala sesuatu memang berawal dari wacana, saya percaya. tapi bukan berarti akhirnya hanya wacana yang membuat seseorang atau banyak orang sibuk lantas lupa bahwa dengan wacana itulah perubahan semestinya diantarkan.

adapan tentang "jijik", beberapa kalimat terakhir dari paragraf sebelum inilah yang bikin saya "jijik". saya tetap tak bisa bersikap "biasa" saat mendapati siapapun yang merasa dengan sastra ia menjadi "bebas", merasa perlu membongkar tatanan yang mapan, dan -in the edge- merasa digdaya saat menggugat agama dan tuhan. ini yang "menjijikkan" dan tak bisa saya tanggapi dengan ke-'biasa'-an.

sejauh ini baru itu yang bisa saya jadikan tanggapan. dan saya sadar bahwa tanggapan ini kurang dimengerti karena struktur dan alurnya yang melompat-lompat (bahkan melompat terlalu jauh sehingga tidak nyambung). makanya saya bilang menulislah dengan ilmu, karena saya merasa ilmu saya kurang waktu menulis. lebih dari itu, pesan dari seorang tua ini kepada siapapun yang merasa muda, menulislah dengan pemahaman. ini juga yang sedang saya tanam dalam-dalam sebagai orang awam yang sering menulis untuk mencurahkan isi 'hati' minim 'kepala'. pembenaran saya untuk hal ini adalah bahwa menulis adalah memberi jeda dan menikmatinya untuk kembali bersegera, bukan malah menjadi celah melegitimasi sebuah pelanggaran aturan. (semoga Allaah mengampuni saya atas pelanggaran yang pernah atau sedang saya lakukan, sengaja atau tidak)

tulisan saya "objurgasi" itu adalah tulisan yang menggambarkan 'fase' saya dalam menyikapi sastra yang pernah ada di dua kutub yang vis a vis satu sama lain di waktu yang berbeda. "pernah" ya, yu, bukan sedang. nampaknya 'kepernahan' itu memang terlampau ekstrim. dan saya bersyukur saya bertemu hari jumat, hari bertemunya saya dengan guru saya. saya 200% yakin pengalaman yu yang sastrawati (secara akademis maupun praktis) jauh lebih kaya ketimbang saya. thus, yu lebih mampu menyikapinya dengan tepat daripada saya.

ya, semoga Allaah SWT memudahkan urusan kita dalam kebaikan.

O Allaah help me to see the truth as TRUTH and give me the strength to follow it, and O Allaah help me to see falsehood as FALSE and give me strength to abstain from it.



tambahan: tanaman yang saya suka itu merupakan golongan gulma-gulmaan, yu. namanya semanggi. bisa ditemukan dimana saja, karena memang tanamannya 'nyampah'.

fatigue

menua adalah niscaya. dan saya senang melihat mereka yang idealis menjadi tambun saat semakin tua. sekaligus khawatir. di sela-sela lemak yang melipat-lipat itu, idealisme jera, tak diberi nyawa.

-----------------------------
(catatan sembarangan, tak sengaja begitu saja melihat sejumlah kawan di gerbang unpad sore hari. hmm.. mereka semakin tua. saya juga. hoho...)

mengerikan

ini tentang dua keping dvd dan kengerian saya, juga tentang dosen kawan saya yang mungkin akan tertawa ala devil saat menyaksikan kawan saya terjebak dalam sistem perkuliahan di kampusnya...

pembicaraan saya dan seorang kawan saya yang perempuan malam-malam bermula dari frida. kawan saya menjelaskan bahwa di hari jadinya 6 juli lalu, frida kahlo menjadi topik paling atas di twitter. hingga kawan saya berkata, "jadi pengen nonton filmnya."

"ngeri!" tanggapan saya spontan kala itu. tidak seluruhnya, tapi setidaknya saya pernah membuka dan mengintip kisah hidupnya lewat lembaran yang ditulis barbara mujica sedikit-sedikit sambil mengantuk. perempuan meksiko yang beridentitas frida itu memang berparas cantik. ia pelukis yang narsis. tidak sedikti orang yang berpendapat, frida seakan menciptakan cermin ketika ia mulai menggoreskan kuasnya.

bukan hanya itu. frida melegenda barangkali karena pemberontakannya. ia feminis, ia nasionalis, dan komunis, maka itu benar, dari beberapa buku yang saya baca. ia seorang perempuan cantik yang memiliki kecenderungan seksual terhadap jenis apapun. itu benar, menurut buku yang saya baca. dan begitulah, sampai saya pun sedikit mengetahui bahwa penghujung hidupnya tragis, begitu tragis. oleh karena itu, barangkali goenawan mohamad pun merasa perlu mempersembahkan sesuatu istimewa untuk frida, segenggam puisi.

barangkali. namun yang pasti, bagi saya, itulah yang mengerikan. itulah yang melatarbelakangi saya berkomentar "ngeri" pada kawan saya yang ingin menonton film besutan julie taymor tahun 2002 dan dibintangi salma hayek itu. bukunya saja bagi saya sangat "mengerikan", apalagi visualisasinya (meski dalam hal ini saya masih tetap berpendapat, visualisasi novel atau karya tulis apapun melalui film pastinya tidak akan pernah bisa mengimbangi imajinasi si penulis saat menuangkan idenya dalam bentuk tulisan. makanya saya ngga suka cerita andrea hirata jadi another lalat pasar).

dan kengerian ini yang membuat saya yakin untuk meremas dua keping dvd hingga jadi pecahan kecil dan melemparnya ke tong sampah. film pertama, atas rekomendasi seorang kawan saat saya sedang begitu bernyali untuk menonton thriller. yang kedua, karena saya tertarik baca sinopsisnya saat nangkring sore-sore di samping gerbang unpad. saya terjebak. dua-duanya film yang tidak saya kehendaki.

sial. kawan saya yang perempuan dan ingin menonton frida itu menertawakan saya sejadi-jadinya. "untung ga kuliah di sastra," kawan saya bilang.

ya, untung saya tidak jadi memutuskan untuk nakal lagi dengan pindah ke fakultas yang gedungnya bersebelahan dengan tempat kuliah saya sekarang. tanpa menjadi mahasiswa sastra pun, sebagai pemulung dan orang yang tak tahu apa-apa, saya seringkali shocked dengan film-film yang saya pilih dan saya tonton. dan akhirnya saya harus sadar, maklum, dan harus pandai membuat self sensor bahwa itulah nilai jual dari film-film barat, sesuatu yang menurut sigmund freud akan membuat manusia menjadi benar-benar hidup dan berharga: seksualitas.

dan betapa malang kawan saya. ia bercerita, sekali waktu, untuk bahasan suatu mata kuliah (aaaaaaah saya benar-benar lupa apa mata kuliahnya), ia diharuskan dosennya menonton film dokumenter tentara negeri paman sam dalam perangnya di vietnam (saudara-saudara, sungguh, as menang perang itu hanya mitos) dengan segala embel-embelnya, termasuk tentara-tentara itu saat bersenang-senang dengan perempuan-perempuan muda vietnam. dosen kawan saya itu, sangat berhasrat sekali untuk membuat kawan saya yang berideologi vis a vis dengan ideologinya menjadi duplikatnya (sang dosen).

"saya membayangkan dosenmu tertawa devil karena puas menyaksikan kamu meronta-ronta dalam jebakannya yang sangat cantik dan resmi itu, dan berkata dalam hati: haha... sejauh apapun kamu berlari dari saya dan pemikiran-pemikiran saya, kamu tidak akan mampu keluar, karena kamu harus di sini, terikat pada lingkaran yang tidak kamu inginkan itu," ujar saya.

"kok sama pikirannya?" kawan saya malah bertanya balik.

entahlah, jawab saya dalam hati.

namun rasanya michael foucault, pencetus penjara panotikon itu, benar dalam hal ini: "pengetahuan dan kekuasaan saling terkait satu sama lain. kita tidak bisa membayangkan bahwa suatu ketika pengatahuan tidak lagi bergantung pada kekuasaaan, sebagaimana mustahil pengetahuan tidak mengandung kekuasaan"*

-----------------------
* dicuri dari "matinya ilmu komunikasi", st tri guntur narwayan. edward said cukup bisa 'diajak bicara banyak' soal ini.

perempuan yang tangisnya tumpah karena berpisah

siang itu tangisnya tumpah begitu saja. kata-katanya tercekat. beku. semua menunggu.

saya tidak terlalu mengerti tentang arti sebuah kebersamaan mungkin. saya menganggapnya sedikit berlebihan. tapi rasanya, kali ini saya harus mulai mengalah.

dan perempuan itu tangisnya tumpah begitu saja. perpisahan baginya sangat menyedihkan. dan tangisnya yang tumpah itu mengundang air mata dari kelopak-kelopak mata lain dari sebagian besar orang di ruang ini ikut menerabas, menyapa udara bebas.

ia pun mulai bicara. tentu saja dengan suara terbata-bata.

saya cukup mengerti dengan ritme ini, tidak patut saya sesali. tapi sedih bagi saya ketika saya harus berpisah dari orang-orang saat saya sudah tak lagi menyekatkan jarak dengan mereka, lirihnya. dan perempuan itu melanjutkan ceritanya, menayangkan kenangan-kenangannya yang baginya tak bisa terlupakan.

saya tersenyum dan berpikir, begitu dalamkah ia memaknai kebersamaannya dengan orang-orang yang baru ia kenal dalam beberapa bulan ini? saya bergumam, Maha Suci Engkau Wahai Dzat Penggenggam Seluruh Jiwa yang telah menjadikan perintah dan larangan-Mu sebagai pengikat bagi kami, peruntuh benteng-benteng egoisme kami.

dan perempuan yang tangisnya tumpah begitu saja itu mengingatkan saya tentang satu hal. kebersamaan, kedekatan, rasa saling empati dan bersimpati, atau apapun yang semacamnya seringkali bermakna saat perpisahan datang. dan seringkali kedatangannya disambut dan disalami dengan kesedihan dan mata yang berlinang.

ingatkah bagaimana Rasulullaah SAW menitikkan air mata saat mautnya tiba karena memikirkan umatnya? dan ingatkah bagaimana para sahabat RA yang sangat mengasihi beliau SAW tersedu melepas kepergian sang kekasih Allaah itu?

baiklah, kali ini lagi-lagi saya memang harus mengalah.


mudzakarah, 28 maret 2010

vague

kami, saya dan beberapa kawan, pada suatu pagi, akhirnya terjebak pada pembahasan serius tentang sejarah. terlalu pagi untuk pembahasan seserius itu. ayam pun masih enggan bersenandung. tapi saya merasa beruntung karena ada saatnya saya merasa butuh kawan-kawan serupa mereka.

"sejarah adalah jejak-jejak kaki di padang pasir. badai, bahkan angin kecil bisa kapan saja menghapusnya," ujar kawan saya yang a.

"bukan. sejarah adalah hak setiap mereka yang menang dan punya kuasa," tutur kawan saya yang b.

kawan saya yang c tidak mau ketinggalan "sejarah itu abu, hitam dan putih yang tidak jelas."

"makanya, kita tidak bisa sembarangan mempercayai sejarah. butuh ketelitian. tidak sembarang catatan, tidak sembarang peninggalan, dan pastinya diceritakan oleh orang-orang yang 'pantas', 'layak', 'mampu', dan 'bertanggung jawab' atas segala macam peristiwa yang ditatahnya, disampaikannya," timpal kawan saya yang d.

"oo... butuh ketelitian?" tanya saya.

"ya, itu yang paling penting," katanya meyakinkan.

"masak?" tanya saya lagi.

"apa lagi?" kawan d terlihat sedikit kesal.

"ada lagi yang lain, menurut saya."

"apa?" kawan c seperti merasa perlu penasaran.

"kesabaran dan secangkir kopi"

raut muka kecewa, kesal, dan dua menampakkan kegelian mengiringi tawa saya yang renyah. dan kami pun kembali pada buku kami masing-masing, pada pagi kami masing-masing, pada khayalan kami masing-masing tentang siang yang entah akan menjadi saksi peristiwa sejarah penderitaan apa lagi di muka bumi. pada akhirnya, ayam bangun dan kami memanjatkan doa kami masing-masing. mungkin doa yang sama: semoga ini adalah hari terakhir kami dan saudara-saudara kami menderita.

asylum

kebahagiaan saya suatu siang tumpah pada kolom kecil di satu halaman surat kabar. saya girang sekali. kadang ketidaksengajaan lebih punya kesan. saya tidak pernah berpikir bahwa untuk pertama kalinya, selama lebih dari dua puluh tahun menjadi saksi bumi mengelilingi matahari, saya jadi tertarik untuk merasionalkan "rasa suka" dan "tidak suka".

"ngga! makasih!" tolak saya tiba-tiba pada perempuan pemakan segala itu, sambil bergegas menyelesaikan bacaan di pojok kertas yang kedua ujungnya dalam hitungan puluhan menit lagi mungkin akan membuat lengan saya pegal.

diam-diam saya mencuri celah untuk menautkan pandangan padanya. seperti yang saya duga, air mukanya mulai tidak bagus untuk dibiarkan tanpa kata tanya: "kenapa?"

"kenapa ngga mau?" saya ingat betul di kata bagian mana ia memenggal nafasnya dan memunculkan kekesalannya.

ia nampak bertambah tidak suka melihat senyum yang saya lemparkan.

"nih!!!"

kertas koran itu pun segera diraihnya. ia membaca, begitu dalam dan sungguh-sungguh. berharap di antara huruf-huruf yang berbanjar rapi itu, penasarannya tuntas.

mata saya kembali berkeliling.

dan tiba-tiba....

sadar, bahwa di dalam ruas-ruas integral seorang manusia yang duduk di sebelahnya ini ada yang tidak hendak berubah, ada yang enggan berkemas untuk kemudian beranjak lepas: egoisme.

saya: "es tehnya buat saya aja ya! haus ternyata..."

------------------------
perempuan, dingin tak selalu egois, panas tak selalu altruis.
keduanya hanya soal suhu yang berbeda dan suka yang tak pernah sama.

escapist???

Kedatangannya pagi itu adalah nafas buat saya yang tengah 'sekarat' akibat tuntutan dan bilangan tanggal. Dua kepingan CD ia serahkan. Dan saya hanya menukar pemberiannya itu dengan sebatang wafer cokelat dan segelas air putih.

Jika Divan Semesta punya PYTM, maka saya punya kawan saya yang satu itu. Ia adalah salah seorang yang tidak sadar bahwa ia ikut andil dalam meramu saya, mempengaruhi bentuk saya sekarang. Rumahnya adalah tempat singgah kedua saya di Bandung. Tangan ibunya adalah sering saya cium. Makanannya sering saya habiskan. Tempat tidurnya sering saya tempati.

Dan semua itu sudah lama tidak saya lakukan. Sibuk? Bukan. Bukan itu. Saya tidak ingin naif dengan kata-kata yang membenarkan saya untuk tidak menyempatkan diri melakukan hal-hal yang dulu sering menjadi katarsis saya kala jemu dengan hidup.

Seperti halnya sekarang. Percaya atau tidak, hidup sedang kembali membuat saya bosan dan kesal. Meskipun di satu pojokan saya bersikeras mengingat-ingat dan meyakinkan ungkapan Nenek (yang juga mengutip Pram, si kakek tua yang kini sudah menjadi tanah itu): "Kita tidak mungkin menjadi orang sakit dengan hanya melihat dunia dari sisi buruknya saja, sebagaimana kita tidak mungkin menjadi gila karena melihat dunia dari sisinya yang menyenangkan saja."

Saya berharap banyak semoga saya tidak menjadi sombong karena merasa menemukan hari-hari yang sulit belakangan ini. Hari-hari yang membuat saya ingin menutup, mengunci dan berpura-pura tuli saat ada yang mencoba mengetuk pintu kamar. Hari-hari yang membuat saya ketakutan setengah mati saat telepon seluler saya mulai berbunyi di atas lemari. Satu-satunya yang ingin saya lakukan adalah mengenyahkan semuanya, mengenyahkan segalanya, termasuk menghapus semua garis yang saya goreskan yang menandakan saya hadir di tengah sekian banyak orang dengan kepentingannya masing-masing. Kepentingan? Huh... kata-kata itu kembali berbau busuk.

Bosan. Rusuh. Kumuh. Berantakan. Itulah saya sekarang. Orang yang biasa saya minta untuk menunjukkan arah tidak mungkin saya temui, karena prasyarat pertemuan kami belum mampu saya penuhi.

Dan hadirlah kawan saya yang satu itu. Ia tidak datang membawa arah dan menunjuki saya kemana sebaiknya saya pergi. Ia hanya memberi saya minum, dan membiarkan saya mencari arah saya sendiri. Tak saling memaksakan arah. Tak saling menujamkan 'kehendak'. Dengan cara itu kami menikmati pertemanan kami, saya dan ia yang memberi dua keping CD pagi itu.

Sometimes, I feel the fear of uncertainty stinging clear
And I can't help but ask myself how much I let the fear
Take the wheel and steer
It's driven me before
And it seems to have a vague, haunting mass appeal
But lately I'm beginning to find that
I Should be the one behind the wheel
[Incubus, DRIVE]

Di salah satu keping CD yang diberikannya, Brandon Boyd yang eksentrik itu ikut bersuara. Saat itu juga saya pun melemparkan senyum saya pada monitor.

Escapist!!! Saya bergumam. Serupa bidang untuk mendarat beberapa saat. Serupa ruang untuk menjadi egois beberapa saat.

Saya mencoba membongkar dari laci-laci harddisk dan setumpuk CD, demi mencari Incubus. Sialnya saya hanya punya beberapa. And damn..... how can they suddenly stole my attention at that time? Demi Incubus, saya pun membongkar youtube. Sial lagi, beberapa kali saya coba unduh, selalu gagal. Saya pun mencukupkan diri dengan hanya memutarnya via quicklist di youtube, beberapa lagu. Dan salah satunya kembali membuat saya tersenyum. Dan lagi-lagi saya bergumam: "Escapist!!!!!"

We all have a weakness
But some of ours are easy to identify
...
We all have a sickness
That cleverly attaches and multiplies
No matter how we try
[Incubus, DIG]

And actually what i'm thinking now is "is it real that im an escapist?". But let me tell u something: "i dont wanna be lonely, i just wanna be alone"1 for while. "It's just a phase... It will be over soon"2



1. Silverchair, Across The Night
2. Incubus, Just A Phase

kertas

Seorang kawan mengirimi saya pesan pendek,
"Saya sedang di polres. Anker juga ya."

Berkali-kali saya pun mengiriminya balasan pertanyaan yang sama: "Kenapa?", namun kawan saya yang belum lama berhenti bolak-balik kampus itu tak kunjung memberikan jawaban menentramkan.

Jujur, pasca tayangan rutin kegagahan polisi dan densus 88 yang marak di televisi, saya agak parno. Tepatnya bosan dan parno pada segala hal yang berbau seragam, senjata serta birokrasi.

"Lagi ngurusin surat kelakuan baik nih," katanya lewat SMS.

Akhirnya saya lega sekaligus bertanya-tanya. Lega karena itu artinya kawan saya tidak terjerat tindak-tanduk 'terorisme' dan 'semacamnyah' yang pemberitaannya nyaris membuat saya muak dan hampir muntah. Tapi yang mengherankan adalah, mau-maunya kawan saya itu meminta restu pada kepolisian yang tiba-tiba dan seolah-olah tahu betul perjalanan hidupnya, dan lantas mengesahkannya sebagai warga negara Indonesia berkelakuan baik melalui selembar kertas?

Pada saat yang sama, di pagi buta, di dalam kamar kosan saya hadir tiga orang petarung tes CPNS (dua kawan dari Solo dan satu kawan dari Jakarta) yang tengah sibuk mempersiapkan segala amunisi, lagi-lagi didominasi dengan kertas dan kertas dan kertas, sebelum akhirnya mereka berangkat dan menghindari telat di kampus para nindya praja

Nampaknya zaman hendak semakin meringkas hidup dan keberlangsungannya dalam berlembar-lembar kertas yang mudah hilang, luntur, dan terbakar. Jika sudah begitu, maka akan ada banyak orang yang siap-siap mengincar dan minta bayar.