"ngga! makasih!" tolak saya tiba-tiba pada perempuan pemakan segala itu, sambil bergegas menyelesaikan bacaan di pojok kertas yang kedua ujungnya dalam hitungan puluhan menit lagi mungkin akan membuat lengan saya pegal.
diam-diam saya mencuri celah untuk menautkan pandangan padanya. seperti yang saya duga, air mukanya mulai tidak bagus untuk dibiarkan tanpa kata tanya: "kenapa?"
"kenapa ngga mau?" saya ingat betul di kata bagian mana ia memenggal nafasnya dan memunculkan kekesalannya.
ia nampak bertambah tidak suka melihat senyum yang saya lemparkan.
"nih!!!"
kertas koran itu pun segera diraihnya. ia membaca, begitu dalam dan sungguh-sungguh. berharap di antara huruf-huruf yang berbanjar rapi itu, penasarannya tuntas.
mata saya kembali berkeliling.
dan tiba-tiba....
sadar, bahwa di dalam ruas-ruas integral seorang manusia yang duduk di sebelahnya ini ada yang tidak hendak berubah, ada yang enggan berkemas untuk kemudian beranjak lepas: egoisme.
saya: "es tehnya buat saya aja ya! haus ternyata..."
------------------------
perempuan, dingin tak selalu egois, panas tak selalu altruis.
keduanya hanya soal suhu yang berbeda dan suka yang tak pernah sama.
keduanya hanya soal suhu yang berbeda dan suka yang tak pernah sama.


2 comments:
yun gak ngerti lah tulisannya T_T
akhirnya mengerti juga, hehehe...
Post a Comment