...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

asylum

kebahagiaan saya suatu siang tumpah pada kolom kecil di satu halaman surat kabar. saya girang sekali. kadang ketidaksengajaan lebih punya kesan. saya tidak pernah berpikir bahwa untuk pertama kalinya, selama lebih dari dua puluh tahun menjadi saksi bumi mengelilingi matahari, saya jadi tertarik untuk merasionalkan "rasa suka" dan "tidak suka".

"ngga! makasih!" tolak saya tiba-tiba pada perempuan pemakan segala itu, sambil bergegas menyelesaikan bacaan di pojok kertas yang kedua ujungnya dalam hitungan puluhan menit lagi mungkin akan membuat lengan saya pegal.

diam-diam saya mencuri celah untuk menautkan pandangan padanya. seperti yang saya duga, air mukanya mulai tidak bagus untuk dibiarkan tanpa kata tanya: "kenapa?"

"kenapa ngga mau?" saya ingat betul di kata bagian mana ia memenggal nafasnya dan memunculkan kekesalannya.

ia nampak bertambah tidak suka melihat senyum yang saya lemparkan.

"nih!!!"

kertas koran itu pun segera diraihnya. ia membaca, begitu dalam dan sungguh-sungguh. berharap di antara huruf-huruf yang berbanjar rapi itu, penasarannya tuntas.

mata saya kembali berkeliling.

dan tiba-tiba....

sadar, bahwa di dalam ruas-ruas integral seorang manusia yang duduk di sebelahnya ini ada yang tidak hendak berubah, ada yang enggan berkemas untuk kemudian beranjak lepas: egoisme.

saya: "es tehnya buat saya aja ya! haus ternyata..."

------------------------
perempuan, dingin tak selalu egois, panas tak selalu altruis.
keduanya hanya soal suhu yang berbeda dan suka yang tak pernah sama.

2 comments:

November 10, 2009 at 11:52 PM Yuni Zai said...

yun gak ngerti lah tulisannya T_T

November 18, 2009 at 12:25 AM Yuni Zai said...

akhirnya mengerti juga, hehehe...

Post a Comment