...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

If I hadn't made me, I'd have fallen apart by now.
I won't let them make me..It's more than I can allow.
So when I make me, I won't be paper-Mache..
And if I fuck me...I'll fuck me in my own way.
Fuck me in my own way
[Incubus, MAKE YOURSELF]

escapist???

Kedatangannya pagi itu adalah nafas buat saya yang tengah 'sekarat' akibat tuntutan dan bilangan tanggal. Dua kepingan CD ia serahkan. Dan saya hanya menukar pemberiannya itu dengan sebatang wafer cokelat dan segelas air putih.

Jika Divan Semesta punya PYTM, maka saya punya kawan saya yang satu itu. Ia adalah salah seorang yang tidak sadar bahwa ia ikut andil dalam meramu saya, mempengaruhi bentuk saya sekarang. Rumahnya adalah tempat singgah kedua saya di Bandung. Tangan ibunya adalah sering saya cium. Makanannya sering saya habiskan. Tempat tidurnya sering saya tempati.

Dan semua itu sudah lama tidak saya lakukan. Sibuk? Bukan. Bukan itu. Saya tidak ingin naif dengan kata-kata yang membenarkan saya untuk tidak menyempatkan diri melakukan hal-hal yang dulu sering menjadi katarsis saya kala jemu dengan hidup.

Seperti halnya sekarang. Percaya atau tidak, hidup sedang kembali membuat saya bosan dan kesal. Meskipun di satu pojokan saya bersikeras mengingat-ingat dan meyakinkan ungkapan Nenek (yang juga mengutip Pram, si kakek tua yang kini sudah menjadi tanah itu): "Kita tidak mungkin menjadi orang sakit dengan hanya melihat dunia dari sisi buruknya saja, sebagaimana kita tidak mungkin menjadi gila karena melihat dunia dari sisinya yang menyenangkan saja."

Saya berharap banyak semoga saya tidak menjadi sombong karena merasa menemukan hari-hari yang sulit belakangan ini. Hari-hari yang membuat saya ingin menutup, mengunci dan berpura-pura tuli saat ada yang mencoba mengetuk pintu kamar. Hari-hari yang membuat saya ketakutan setengah mati saat telepon seluler saya mulai berbunyi di atas lemari. Satu-satunya yang ingin saya lakukan adalah mengenyahkan semuanya, mengenyahkan segalanya, termasuk menghapus semua garis yang saya goreskan yang menandakan saya hadir di tengah sekian banyak orang dengan kepentingannya masing-masing. Kepentingan? Huh... kata-kata itu kembali berbau busuk.

Bosan. Rusuh. Kumuh. Berantakan. Itulah saya sekarang. Orang yang biasa saya minta untuk menunjukkan arah tidak mungkin saya temui, karena prasyarat pertemuan kami belum mampu saya penuhi.

Dan hadirlah kawan saya yang satu itu. Ia tidak datang membawa arah dan menunjuki saya kemana sebaiknya saya pergi. Ia hanya memberi saya minum, dan membiarkan saya mencari arah saya sendiri. Tak saling memaksakan arah. Tak saling menujamkan 'kehendak'. Dengan cara itu kami menikmati pertemanan kami, saya dan ia yang memberi dua keping CD pagi itu.

Sometimes, I feel the fear of uncertainty stinging clear
And I can't help but ask myself how much I let the fear
Take the wheel and steer
It's driven me before
And it seems to have a vague, haunting mass appeal
But lately I'm beginning to find that
I Should be the one behind the wheel
[Incubus, DRIVE]

Di salah satu keping CD yang diberikannya, Brandon Boyd yang eksentrik itu ikut bersuara. Saat itu juga saya pun melemparkan senyum saya pada monitor.

Escapist!!! Saya bergumam. Serupa bidang untuk mendarat beberapa saat. Serupa ruang untuk menjadi egois beberapa saat.

Saya mencoba membongkar dari laci-laci harddisk dan setumpuk CD, demi mencari Incubus. Sialnya saya hanya punya beberapa. And damn..... how can they suddenly stole my attention at that time? Demi Incubus, saya pun membongkar youtube. Sial lagi, beberapa kali saya coba unduh, selalu gagal. Saya pun mencukupkan diri dengan hanya memutarnya via quicklist di youtube, beberapa lagu. Dan salah satunya kembali membuat saya tersenyum. Dan lagi-lagi saya bergumam: "Escapist!!!!!"

We all have a weakness
But some of ours are easy to identify
...
We all have a sickness
That cleverly attaches and multiplies
No matter how we try
[Incubus, DIG]

And actually what i'm thinking now is "is it real that im an escapist?". But let me tell u something: "i dont wanna be lonely, i just wanna be alone"1 for while. "It's just a phase... It will be over soon"2



1. Silverchair, Across The Night
2. Incubus, Just A Phase

out of mind, out of mine???

Siapa tuh namanya???? Aaa... Si Xxx. Sial! Tak satupun fotonya muncul saat saya googling. Hrrgghh... Betapa tidak terkenalnya manusia itu.

Tahukah? Dialah sang pembuat ulah. Dia yang membuat saya bertambah kacau 27 Oktober ini.

Saya tahu ini konyol dan buang waktu dan mungkin mengkhayal terlalu jauh. Saya ingin menjambak rambut vokalis salah satu band deathmask Asia Tengah itu. Saya ingin menjeduk-jedukkan kepalanya ke tembok dan tak henti mencemooh setengah teriak: "Kenapa rambut kamu panjang? Kenapa rambut kamu panjang? Kenapa rambut kamu panjang?..."

Dia adalah orang kesekian yang rambut panjangnya mengganggu ingatan saya. Sebelumnya ada Otong, Ipan, Jaka, Unyil dan Mamat. Mereka bernyanyi dan berambut panjang. Sungguh menyebalkan. Merusak keseimbangan alam semesta, seperti para pejabat itu ketika lewat. Bising. Menguing-nguing.

Argghhh...!!!

...................#%%+$#%*+***%+$%####

(anybody have tissue?)

kertas

Seorang kawan mengirimi saya pesan pendek,
"Saya sedang di polres. Anker juga ya."

Berkali-kali saya pun mengiriminya balasan pertanyaan yang sama: "Kenapa?", namun kawan saya yang belum lama berhenti bolak-balik kampus itu tak kunjung memberikan jawaban menentramkan.

Jujur, pasca tayangan rutin kegagahan polisi dan densus 88 yang marak di televisi, saya agak parno. Tepatnya bosan dan parno pada segala hal yang berbau seragam, senjata serta birokrasi.

"Lagi ngurusin surat kelakuan baik nih," katanya lewat SMS.

Akhirnya saya lega sekaligus bertanya-tanya. Lega karena itu artinya kawan saya tidak terjerat tindak-tanduk 'terorisme' dan 'semacamnyah' yang pemberitaannya nyaris membuat saya muak dan hampir muntah. Tapi yang mengherankan adalah, mau-maunya kawan saya itu meminta restu pada kepolisian yang tiba-tiba dan seolah-olah tahu betul perjalanan hidupnya, dan lantas mengesahkannya sebagai warga negara Indonesia berkelakuan baik melalui selembar kertas?

Pada saat yang sama, di pagi buta, di dalam kamar kosan saya hadir tiga orang petarung tes CPNS (dua kawan dari Solo dan satu kawan dari Jakarta) yang tengah sibuk mempersiapkan segala amunisi, lagi-lagi didominasi dengan kertas dan kertas dan kertas, sebelum akhirnya mereka berangkat dan menghindari telat di kampus para nindya praja

Nampaknya zaman hendak semakin meringkas hidup dan keberlangsungannya dalam berlembar-lembar kertas yang mudah hilang, luntur, dan terbakar. Jika sudah begitu, maka akan ada banyak orang yang siap-siap mengincar dan minta bayar.

enam dolar

Saya masih tak habis pikir seharian itu. Berbagai macam pelarian sudah saya coba lakukan. Menggerutu, makan, potret-potret, berguling-guling,,,, Tapi rasa heran itu tetap saja melengking-lengking dalam kepala. Tak hendak redup barang sedikit pun.

Beberapa hari sebelumnya:

"Kiriman saya sedang dalam perjalanan, Dieu. Alamatnya seperti yang waktu itu kamu berikan. Sebentar lagi, 'ia' akan benar-benar hinggap di tanganmu," ujarnya di penghujung malam.
"Hmm... Baik, saya tunggu," kata saya lurus.
"Kalau hari ini kamu belum juga menerimanya, bilang ke saya ya! Nanti saya coba hubungi jasa pengiriman barangnya lagi."
"Haa... ok."

Saya tidak ingin terlalu menanggapi serius soal ini. Sejak awal saya juga memang tidak pernah meminta untuk diberi olehnya. Ia sendiri yang punya inisiatif sendiri untuk mengirimi saya sesuatu yang ia beli saat pergi bersama kawan-kawannya ke salah satu sudut paling indah di muka bumi.

Hingga tibalah hari itu. Saya dimintanya untuk tidak lengah barang sedetik pun, karena ia bilang saya akan dihubungi lewat nomor 'Tiga' saya oleh jasa pengiriman barang. Dan betapa mudah saya untuk patuh waktu itu. Mungkin karena saya sedikit penasaran (meskipun gengsi saya terlalu besar untuk mengakui itu di hadapannya).

Telepon saya bergetar. Sebuah nomor memanggil...
"Iya, halo.... "
"Iya, selamat pagi! Dengan ibu (????) Adieu?"
"Betul. Dari mana, ada perlu apa?"
"Kami dari XxxXx, Ibu. Ada kiriman barang untuk Ibu."
"O iya."
"Di sini tertulis alamatnya xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Betul itu alamat Ibu? Siang ini kami akan mengantarkan kiriman untuk Ibu ke alamat tersebut."
"Oo, ke alamat ini aja, Pak: xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Langsung saya yang menerima."
"Baik, kami akan mengantar ke alamat xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Tapi maaf, Ibu, ada biaya yang harus Ibu bayar."
"Hoh? Bayar?"
"Benar, Ibu. Karena kiriman untuk Ibu tidak berupa dokumen, tapi barang, jadi Ibu kena charges sebesar enam dollar."
Glekkk.... Saya tidak merasa punya mimpi buruk tadi malam.
"Bagaimana, Ibu, bisa kami antar hari ini?"
Masih dengan setengah tidak sadar dan tidak percaya, "O iya, boleh. Jam berapa?"
"Sebelum jam 11 kami usahakan."
"Ooo..."

Sambungan telepon pun terputus, dan saya masih tidak bisa percaya bahwa hari ini saya harus mengeluarkan enam dolar untuk sesuatu yang tidak pernah saya minta....?

Pukul 11 siang, seorang pria paruh baya perawakan tinggi berkulit bersih dan berseragam XxxXx itu mengantarkan sebuah bungkusan rapat ke tangan saya. Sembari menyerahkan kuitansi berisi enam dolar yang harus saya bayar, pria itu mengeluhkan satu jam yang dihabiskannya berputar-putar mengelilingi kompleks kampus untuk menemukan alamat yang saya kasih. Saya berusaha menampakkan rasa simpati saya atas perjuangan pria paruh baya itu dengan senyuman dan "Ooo..". Namun rasa-rasanya simpati saya tidak akan berbalas "penolakan" terhadap uang yang 'pura-puranya' dengan mudah saya tukarkan dengan selembar kuitansi dan bingkisan itu.

Sebagaimana ia yang berlalu, saya pun bertolak arah dan menyusuri langkah menuju kamar sembari bertanya-tanya: mengapa saya? mengapa enam dolar? mengapa ada kiriman ini?


-------------------------------------------------
Malam hari, ia minta maaf berulang kali dan dengan ramahnya menanyakan apakah saya masih punya sisa bekal untuk pergi ke Jakarta atau tidak. Dan saya bilang saja, isi kiriman itu kebesaran dan terlalu perempuan untuk saya. Entah apa yang terjadi setelah ucapan 'tega' saya itu keluar, karena saya hanya melihat emoticon sedih di layar komputer. Hehe...

Saya yakin ia bukan pengecut yang menjadi 'payah' hanya karena ucapan saya yang semacam itu. Mudah-mudahan ia pun tahu bahwa barang yang sangat perempuan dan kebesaran itu akan selalu saya simpan dan saya jaga.

Sekedar menghibur diri sendiri, enam dolar itu mungkin tidak akan berarti apa-apa dibanding berbagai macam makna hidup yang saya dapatkan sejak saya mengenalnya.

(Satu hal lagi yang tertinggal, don't judge a gift by its cover. haha...)

nothing fades

Art by: Matt Specht

Turning the wheel to emptiness
They’re when you breathe your final breath
No one will hold you anymore
Haven’t they told you baby,
You’re always alive
Always alive

Leaving the plane of time and space
Leaving the mask of every face
Just like the Sun and every ray
Might as well smile 'cause baby
We all die one day
We all die one day

Not square, not round
The silence in the sound
Not short, not long
The quiet in the song
(It carries you along)

Some of the people here believe
Reading a book of prophesies
Some of you sigh and turn away
Nobody knows, so what’s the play?
You’re here now
You’re here for now

And what does it matter anyway
Whatever I sing or what you say
Taking a chance we place a bet
But it ain't gonna get you
to black or red
This time around
This time around

No cause, no condition
Who knows your position?
Not you, no other
What will you discover?

You never disappear
So tell me why you fear
Neither are you born
Sometimes still you mourn
Never do you arise,
You’re never low or high
No one acts, no one is made
Nothing glows, nothing fades

Nothing fades.........


(Nothing Fades, Duncan Sheik)