...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

enam dolar

Saya masih tak habis pikir seharian itu. Berbagai macam pelarian sudah saya coba lakukan. Menggerutu, makan, potret-potret, berguling-guling,,,, Tapi rasa heran itu tetap saja melengking-lengking dalam kepala. Tak hendak redup barang sedikit pun.

Beberapa hari sebelumnya:

"Kiriman saya sedang dalam perjalanan, Dieu. Alamatnya seperti yang waktu itu kamu berikan. Sebentar lagi, 'ia' akan benar-benar hinggap di tanganmu," ujarnya di penghujung malam.
"Hmm... Baik, saya tunggu," kata saya lurus.
"Kalau hari ini kamu belum juga menerimanya, bilang ke saya ya! Nanti saya coba hubungi jasa pengiriman barangnya lagi."
"Haa... ok."

Saya tidak ingin terlalu menanggapi serius soal ini. Sejak awal saya juga memang tidak pernah meminta untuk diberi olehnya. Ia sendiri yang punya inisiatif sendiri untuk mengirimi saya sesuatu yang ia beli saat pergi bersama kawan-kawannya ke salah satu sudut paling indah di muka bumi.

Hingga tibalah hari itu. Saya dimintanya untuk tidak lengah barang sedetik pun, karena ia bilang saya akan dihubungi lewat nomor 'Tiga' saya oleh jasa pengiriman barang. Dan betapa mudah saya untuk patuh waktu itu. Mungkin karena saya sedikit penasaran (meskipun gengsi saya terlalu besar untuk mengakui itu di hadapannya).

Telepon saya bergetar. Sebuah nomor memanggil...
"Iya, halo.... "
"Iya, selamat pagi! Dengan ibu (????) Adieu?"
"Betul. Dari mana, ada perlu apa?"
"Kami dari XxxXx, Ibu. Ada kiriman barang untuk Ibu."
"O iya."
"Di sini tertulis alamatnya xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Betul itu alamat Ibu? Siang ini kami akan mengantarkan kiriman untuk Ibu ke alamat tersebut."
"Oo, ke alamat ini aja, Pak: xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Langsung saya yang menerima."
"Baik, kami akan mengantar ke alamat xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Tapi maaf, Ibu, ada biaya yang harus Ibu bayar."
"Hoh? Bayar?"
"Benar, Ibu. Karena kiriman untuk Ibu tidak berupa dokumen, tapi barang, jadi Ibu kena charges sebesar enam dollar."
Glekkk.... Saya tidak merasa punya mimpi buruk tadi malam.
"Bagaimana, Ibu, bisa kami antar hari ini?"
Masih dengan setengah tidak sadar dan tidak percaya, "O iya, boleh. Jam berapa?"
"Sebelum jam 11 kami usahakan."
"Ooo..."

Sambungan telepon pun terputus, dan saya masih tidak bisa percaya bahwa hari ini saya harus mengeluarkan enam dolar untuk sesuatu yang tidak pernah saya minta....?

Pukul 11 siang, seorang pria paruh baya perawakan tinggi berkulit bersih dan berseragam XxxXx itu mengantarkan sebuah bungkusan rapat ke tangan saya. Sembari menyerahkan kuitansi berisi enam dolar yang harus saya bayar, pria itu mengeluhkan satu jam yang dihabiskannya berputar-putar mengelilingi kompleks kampus untuk menemukan alamat yang saya kasih. Saya berusaha menampakkan rasa simpati saya atas perjuangan pria paruh baya itu dengan senyuman dan "Ooo..". Namun rasa-rasanya simpati saya tidak akan berbalas "penolakan" terhadap uang yang 'pura-puranya' dengan mudah saya tukarkan dengan selembar kuitansi dan bingkisan itu.

Sebagaimana ia yang berlalu, saya pun bertolak arah dan menyusuri langkah menuju kamar sembari bertanya-tanya: mengapa saya? mengapa enam dolar? mengapa ada kiriman ini?


-------------------------------------------------
Malam hari, ia minta maaf berulang kali dan dengan ramahnya menanyakan apakah saya masih punya sisa bekal untuk pergi ke Jakarta atau tidak. Dan saya bilang saja, isi kiriman itu kebesaran dan terlalu perempuan untuk saya. Entah apa yang terjadi setelah ucapan 'tega' saya itu keluar, karena saya hanya melihat emoticon sedih di layar komputer. Hehe...

Saya yakin ia bukan pengecut yang menjadi 'payah' hanya karena ucapan saya yang semacam itu. Mudah-mudahan ia pun tahu bahwa barang yang sangat perempuan dan kebesaran itu akan selalu saya simpan dan saya jaga.

Sekedar menghibur diri sendiri, enam dolar itu mungkin tidak akan berarti apa-apa dibanding berbagai macam makna hidup yang saya dapatkan sejak saya mengenalnya.

(Satu hal lagi yang tertinggal, don't judge a gift by its cover. haha...)

0 comments:

Post a Comment