...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

ini dunia yang bukan surga

Tinggal menanti lonceng berdentang beberapa kali untuk tahu bahwa tahun resmi berganti. Bersamanya, mungkin ada banyak harapan. Mungkin juga penyesalan. Mungkin kebahagiaan juga mungkin kesedihan. Mungkin keberanian. Mungkin juga ketakutan.

Seperti berita di koran yang saya beli kemarin pagi. Palestina, lagi-lagi. Ditulis dengan huruf besar-besar: Gaza Dibombardir, 195 Tewas. Tiba-tiba saya terpikir bahwa di antara mereka yang tubuhnya koyak dan lengket pada puing dan reruntuhan itu, banyak yang tidak tahu-menahu soal kematian yang dihantarkan 30 roket yang dijatuhkan tiba-tiba oleh pesawat-pesawat tempur Israel itu. Dan ingatan kita akan kembali mencatat kemunculan dendam-dendam baru yang segar dan hangat untuk disemai. Pada saat yang sama hadir ketakutan, juga keberanian yang tak lekang oleh senjata yang dikokang dan bom yang diledakkan. Karena ada harapan, di ujung sana, kenikmatan yang sublim siap menanti. Barangkali benar. Dendam tidak pernah punya titik. Serupa tulisan to be continue... sebelum credit title pada sinetron Tersanjung. Entah sampai kapan?

Inilah dunia, bukan surga. Saya tidak bisa berharap semua baik-baik saja, kecuali harapan itu hanya dibiarkan tinggal dalam kepala dan juga kata-kata.


Kurang lebih itu juga yang kamu katakan lewat penjelasanmu yang panjang. Kamu selalu meminta saya membuka mata lebih lebar. Kamu yang seolah ingin membombardir keseimbangan hidup saya dengan mengatakan bahwa pemahaman humanis yang melekat dalam diri saya tidak selalu cocok dijadikan landasan sikap. Begitu bukan?

Sulit untuk menerimanya. Tapi mungkin kamu ada benarnya juga. Mau tak mau, macam inilah hidup yang harus dihadapi. Saya sadar bahwa banyak yang tidak saya tahu. Dan saya juga ingin sadar bahwa pikiran humanis kadang memang hadir serupa gumam lirih seorang hipokrit yang hanya duduk diam menanti kematian. Semoga saya tidak seperti itu.

Inilah dunia, bukan surga. Tapi bukan pula neraka. Kemungkinan akan tetap hadir. Dengan kata lain, saya, kamu, kita, masih punya rongga dan celah untuk tetap mengejawantahkan harapan-harapan baik yang kali ini masih tinggal dalam kepala dan kata-kata.

Saya harap kamu tidak pernah bosan untuk memberi tahu saya banyak hal. Bahkan tentang segala yang tidak saya sukai saat ini.


Adieu, menjaga mati-matian pencarian dari pembenaran
Menjelang hilang, menghitung detik-detik terbuang……
Hidup belum usai....

trust

Tadi malam sebuah perbincangan hadir. Seorang kawan tiba-tiba melayangkan sebuah pesan tentang pertanyaan-pertanyaan. Saya baru tahu bahwa pertanyaan-pertanyaannya saat itu muncul dilatarbelakangi oleh kebingungannya mencari orang yang tepat untuk bisa ia percayai setelah pesan pendek berikutnya saya terima. Perbincangan kami berlanjut sampai akhirnya kawan saya menyuruh saya diam. ”Cukup! Jangan bertanya lagi!”, katanya.

Sebetulnya saya sadar kalau tanggapan-tanggapan saya saat itu cukup introgatif. Egoisme saya sedang narsis-narsisnya. Saya ingin kawan saya juga merasakan hal yang sama seperti yang ia lakukan terhadap saya lewat pesan-pesan pendeknya (balas dendam nih ceritanya...). Mungkin memang layak dimaklum jika pada akhirnya ia risih dengan nada tanggapan-tanggapan saya yang cukup ’menjajah’.

Perkaranya adalah tentang bagaimana sebuah kepercayaan bisa kembali hadir ketika seseorang sudah cukup trauma karena luka pengkhianatan. Ada jera dan enggan mengulang kembali cerita. Hingga pada suatu titik, pengalaman mengantarkannya apatisme akut. Sebentuk apriori. Serupa tembok besar yang terbangun tiba-tiba dan melingkupinya dari dunia di luar dirinya. Asing dan misterius. Soliter. Kawan saya mengutip kata-kata dosennya tentang filosofi teater Julius Caesar: teman dekatmu adalah ia yang akan menghancurkanmu.

Beberapa waktu, saya pun pernah mengalaminya. Yang hadir dalam pandangan saya hanya suram dan suram. Bodoh saya kira untuk menjalin kedekatan dengan orang lain dan mencoba membuka diri sedang ketakutan sudah membayang sejak saya membuka mata tiap hari.

Dilematis. Karena pada saat yang sama, naluri kemanusiaan saya tak bisa dinafikkan. Muncul, mendesak, dan terus mendesak: ”Ayo, kamu butuh orang lain untuk sekedar membagi resah.”

Kesediaan saya membuka diri adalah kesediaan saya untuk melakukan sebuah ritus pengorbanan yang sederhana namun radikal. Segala hal punya ruang dan waktunya masing-masing. Begitulah saya belajar. Bagaimana membagi ruang untuk hidup yang bisa saya bagi kapan dan pada siapa, juga ruang yang memang hanya saya dan Tuhan saja yang boleh tahu.

Dan memang tidak mudah, apalagi bagi saya yang memang sangat payah dalam menjalin sebuah kedekatan. Satu hal yang tidak pernah boleh absen adalah keinginan untuk belajar dari banyak hal, termasuk dari kecewa.

Tiba-tiba saya teringat bahwa Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir 6 (yang kembali diungkapkan dalam buku barunya, God and The Unfinished Things) pernah memberi saya masukan tentang konsep soliter-solider dari Albert Camus: ”Seorang penjaga gawang adalah seorang yang soliter, tapi ia juga seorang yang solider: ia seorang yang paling tersisih tapi ia hadir dalam sebuah kesetiakawanan. Ia mungkin sang kapten kesebalasan, tapi dalam sebuah permainan yang agresif, ia jarang sekali sang pemberi arah, irama, ataupun semangat timnya di medan pergulatan. Ia teramat jauh di garis belakang..........Dari sini pula Camus melihat kita, manusia: mahkluk yang hidup antara ”keterbuangan” (l’exil) yang sunyi dan ”kerajaan” (le royaume) yang membuat betah. Sebab kebersamaan terus-menerus punya batas dan bahayanya: totalitas itu tak hendak mengakui bahwa pada akhirnya manusia berdiri sendiri di gawang di ujung garis itu. Tapi keterasingan bukanlah hidup.”

Dan All American Reject juga ikut bersuara di sela-sela benda yang menyumpal kedua telinga saya: ”Don’t solve the problem, if danger is better...”^^

di bawah lampu remang yang kuyup

(Date)
28/12/2008
12:51
(Message)
Kamu pernah lihat cahaya lampu jalan yang sedang diguyur air hujan? Apalagi di sekitar lampu jalan itu gelap atau bisa dikatakan remang-remang. Apa yang kamu rasakan saat melihat suasana seperti itu? Katakan padaku..
(From)
+62878********


Pernah. Dan –dari sebuah bacaan- saya teringat perempuan-perempuan di sebuah kota di Amsterdam yang sebagian dari mereka menanti dengan raut muka putus asa siang malam, duduk dan berdiri, dengan kutang terus terang dan rok minimal. Ada yang diharapkan: dari sekian banyak orang yang lewat ada satu yang mengajak kencan dan memberi mereka kehidupan. Tidakkah mereka hidup saat itu? Entahlah.

lalu....

Lalu bungabunga itu menggugurkan kelopaknya
dan kalender itu membunuh satu persatu setiap angka yang sudah tak layak tampak

Lalu tanahtanah bertanya kepada kegaiban semesta:
Sampai kapan aku menjadi rumah bagi mereka yang tak dapat lagi tertawa?

Lalu kita bergidik menyaksikan keganjilan sang waktu sambil terus resah bertanya:
Kapan giliran kita?


(dicuri dari sajaktukangtidur)----------->maaf saya mencurinya, kawan!

mom..........


Namun tampaknya saya tak cukup tegar untuk itu semua. Saya butuh Ibu.

langit...........(part 1)


Inilah catatanku, Langit

(izinkan aku mencatatkannya untukmu, meski aku yakin kau tak pernah bisa membacanya)

Langit terkasih,
Entah di malam yang mana kau terjaga. Namun aku masih bisa menemukan langit malam ini. Di sana ada beberapa bintang yang tetap berusaha agar tidak terkurung oleh pekatnya jalinan mendung. Angin membantu meniupkannya ke barat, tempat kekeringan tak lagi dianggap orang banyak sebagai panas yang melarikan diri dari neraka. Tentu saja karena orang-orang itu sudah terlalu lama mengulum kepedihan agar tak ikut diuapkan terik mentari dan tersangkut di sulur-sulur awan. Setidaknya kepedihan itu membuat mereka tetap berharap sedikit saja: ada satu dua titik hujan yang jatuh tepat pada keringnya hidup mereka. Hal itu cukup bagi mereka yang tidak ingin menuntut terlalu banyak. Tidak lebih, karena mereka tidak ingin menjadi orang yang rakus dan berjiwa kerdil.

Begitupun denganku. Betapapun aku berdiri jauh di seberang bibir jurang tempatmu berdiri, seperti bintang dan seperti orang-orang yang ditimpa kekeringan itu, aku pun punya sedikit harapan. Tentu saja hanya sedikit, karena aku tidak ingin menuntut terlalu banyak. Aku ingin kita masih bisa tetap saling menatap. Biarkan saja kedua mata kita yang saling sapa, saling berbicara. Karena mata kita adalah kata-kata. Tak perlu riuh, karena percuma saja kau tidak mungkin mendengarku dan aku pun tidak mungkin mendengar ucapanmu. Ya, seperti saat ini. Persis.

Langit,
Siang itu sembari menghitung rintik gerimis yang jatuh, tiba-tiba wujudmu menjelma melalui sela atap gedung tempat ribuan orang berpacu dengan waktu dan tuntutan. Mulanya sekedar semilir yang membisikkan namamu pelan di telingaku. Namamu. Ya, namamu Langit. Nama yang tak urung membuatku berpaling dan menelikung rasa penasaran yang begitu besar. Pada saat itu pula, terbit harapanku yang pertama: menjabat tanganmu. Lalu tiba-tiba seorang perempuan dengan perawakan tinggi kurus menghampiri aku yang tengah mematung sambil tetap memainkan pikiranku. Kemudian aku tahu perempuan itu kau, Langit. Rekayasa pikiranku tidak keliru. Kau memang perempuan cerdas dan berkarakter. Terpujilah orang tuamu karena telah memberikan nama yang indah untuk sosok sepertimu.

Langit,
Aku masih sangat percaya Tuhan selalu punya alasan pada setiap kejutan yang Ia berikan. Namun sayang, tak ada cukup alasan untuk membuatku memaksa-Nya mengatakan alasan Ia mempertemukanku denganmu yang juga penuh kejutan. Aku yakin kau pasti tertawa jika kau tahu aku kembali menyertakan kata ‘Tuhan’. Tuhan macam apa yang terlalu mudah untuk disebutkan oleh mulut manusia jika Tuhan adalah sesuatu yang memiliki ketinggian makna bagi manusia? Hmh...aku tak bisa melupakan kata-katamu itu.

Langit,
Cerita yang seolah hanya hidup dalam rangkaian imajinasi kawan-kawanku dan kurasa tak mampu diaminkan oleh realitas, ternyata benar-benar kuhadapi. Dan sepertinya kau tahu benar seperti apa jeda yang kulewati untuk sekedar terdiam. Dengan nada yang sangat meyakinkan kau mengatakan “Aku memang lesbian. What so?”. Sungguh tak masuk akal, Langit, aku benar-benar mendengar pernyataan tersebut langsung darimu, perempuan yang begitu kukagumi.

Langit,

Inilah yang selama ini luput kuungkapkan padamu. Kau keliru jika selama ini menilai diamku. Karena sesungguhnya aku tidak diam. Aku berbicara. Aku berkata-kata. Hanya saja tak sedikit pun suara mampu kukeluarkan dan mungkin tak mampu kau dengar. Sebab itulah maka saat ini aku sengaja menuliskan ini untukmu. Untukmu Langit. Hanya untukmu.

(..................to be continued)------------------>kapan2 we lah!




Dewi Gendhari


Saya sedang tergila-gila dengan perempuan. Saya sedang tergila-gila dengan Gendhari, salah satu tokoh perempuan dalam cerita pewayangan Mahabrata. Tadinya saya bermaksud untuk membuat sesuatu tentang Gendhari. Tapi karena belum kunjung sempat dan yang saya lakukan hanya mengumpulkan dan mengumpulkan bahan, sedang saya sudah ingin mempromosikan sosok Gendhari, jadilah ini. Sebuah petikan dari Wikipedia (hoho...kalo tidak salah), yang tidak terlalu saya percaya kebenarannya. Heuheu...

---------------------------------------

DEWI GENDARI adalah putra Prabu Gandara, raja negara Gandaradesa dengan permaisuri Dewi Gandini. Perempuan itu mempunyai tiga orang saudara kandung, masing-masing bernama; Arya Sakuni (ini nih yang jadi provokator Kurawa untuk merebut tahta Astinapura dari Pandawa), Arya Surabasata dan Arya Gajaksa.

Dewi Gendari menikah dengan Prabu Drestarasta, raja negara Astina, putra Prabu Kresnadwipayana/Bagawan Abiyasa dengan permaisuri Dewi Ambika. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh 100 orang anak, tetapi pada waktu lahirnya berwujud gumpalan darah kental, yang oleh Dewi Gendari diceraiberaikan menjadi seratus potongan, dan atas kehendak Dewata menjelma menjadi bayi manusia (versi buku yang saya baca menyebutkan bahwa gumpalan daging tersebut membuncah dan menjadi seratus potongan karena aji-aji yang diucapkan Destarasta.....hehe...lupa-lupa inget). Keseratus bayi tersebut dikenal dengan nama Sata Kurawa.

Di antara mereka yang terkenal dalam pedalangan adalah: Duryudana (raja negara Astina). Bogadatta, (raja negara Turilaya), Carucitra, Citrayuda, Citraboma, Dursasana (Adipati Banjarjungut), Durmuka, Durmagati, Durgempo, Gardapati (raja negara Bukasapta), Gardapura, Kartamarma (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Wikataboma, Widandini (raja negara Purantara) dan Dewi Dursilawati.

Dewi Gendari mempunyai sifat kejam dan bengis (Jangan dulu percaya. Yang saya tahu, ia sangat memanjakan anak-anaknya). Dewi Gendari selalu mementingkan diri sendiri dan tidak segan-segan berkhianat serta pendendam (Ini juga, jangan dulu di percaya).Dewi Gendari mati terjun ke dalam Pancaka/api pembakaran jenazah bersama Dewi Kunti dan Prabu Drestarasta setelah berakhirnya perang Bharatayuda.

tak cukup peka

"Happy mother's day"
Entah berapa banyak sms yang sama masuk ke inbox di ponsel saya. Tapi mengapa saya tidak cukup peka dengannya?
Argggggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhh...........

-penyuka telur ceplok setengah matang yang selalu gagal membuatnya-

75
















Di dalam sejarah, di luar surga, manusia kecewa. Tapi seperti harapan, kecewa juga lahir dari rongga yang bisa menelannya kembali. Mungkin rongga itu sebenarnya rasa syukur yang luas tapi tak selalu jelas.

(dikutip dari Tuhan&Hal-Hal Yang Tak Selesai, Goenawan Mohamad)


-----------------------------------
Bisa juga saya memilikinya. Sebuah buku yang dari tahun lalu saya idam-idamkan. Buku yang diinginkan tapi malas sekali mengusahakan untuk membelinya. Pertama karena saya tidak punya uang yang cukup (alasan sakral seorang Adieu). Kedua, karena saya -memang tidak terlalu mencarinya- tidak menemukannya waktu saya 'ngeceng' di Gramedia. Pernah sekali waktu saya melihatnya berjejer di antara buku-buku lain di rak "SASTRA". Waktu melihat harganya, saya langsung jiper. Untuk ukuran buku sekecil dan setipis itu, harga yang tertera di label sepertinya kurang pantas jika tidak ingin mengatakannya mahal. Celakanya, kemarin, Gramedia menyediakan diskon 30% all item. Terpaksalah (bohong pisan maneh teh, Dieu) saya merogoh saku agak dalam dan mengeluarkan uang 35000 rupiah untuk mendapatkan satu lagi koleksi buku-buku Goenawan Mohamad di kamar saya.

Huhhhhh...yokatta ne!!!!^^

gerbang kampus, semangkuk soto, dan sebuah ingatan

Jam delapan kira-kira, saya duduk di gerbang kampus menikmati semangkuk soto bersama seorang kawan yang juga beruntung :( karena tak pulang dan berkumpul dengan keluarga di rumah. Sambil menghayati sesendok demi sesendok soto, ingatan saya mencari muara: rumah, ibu, bapak, dan adik-adik saya.

Ah sudah. Saya tak hendak mencari kesedihan.
Kembali saya nikmati sisa-sisa kuah di mangkuk yang saya pegang. Kali ini makin lahap.

yang tetap pilu di sisa-sisa senja

Seorang perempuan, usianya senja, menangis. Batinnya perih. Dan sepertinya tangis tak pernah cukup untuk membahas dan menyelesaikan luka yang ia alami berpuluh-puluh tahun silam. Di sela-sela suaranya yang patah, ia mencoba memberi tahu sesuatu. Gerak-gerik tubuhnya yang polos (seperti Keisya, keponakan saya, yang kalo bercerita susunan kalimatnya sangat sulit dimengerti, tapi untungnya tubuhnya pun berbicara. Setidaknya dahi saya tidak terlalu mengkerut untuk mengira-ngira apa yang ingin dia ceritakan), membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Laki-laki dan perempuan. Kaum muda. Ya, kami. Kami yang mengikuti pemutaran film dokumenter tentang Jugun Ianfu beberapa waktu lalu. Dan saya yakin, siapa yang tidak geli pada saat seorang ibu tua –maaf- meremas-remas payudaranya sendiri di hadapan kamera. Ia memperagakan bagaimana para tentara Jepang menjajah keperempuanannya. Miris. Dan buru-buru saya tertunduk, mencoba menghindari tontonan.

Begitulah perempuan di negeri ini punya sejarah yang lain lagi. Cerita kusam yang selalu suram. Cerita yang tidak pernah saya ketahui jika saja saya tidak bertemu dengan seorang kawan yang sangat berminat dengan cerita-cerita perang. Karena sejauh yang saya tahu, selama saya belajar di bangku sekolah, guru-guru sejarah saya tak pernah sedikitpun memberi tahu bagaimana cerita Jugun Ianfu. Jangankan cerita, namanya pun, sejauh yang saya sadari, tidak pernah tersebut (salah satu guru sejarah saya lebih senang menceritakan rambutnya yang memutih, dan yang satu lagi lebih senang menghisap nikotin dari batangan rokok yang dikulum di mulutnya yang sangat hitam).

Jugun ianfu adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada perempuan penghibur yang terlibat dalam perbudakan seks selama Perang Dunia II di koloni Jepang dan wilayah perang. Indonesia, sebagai salah satu negara jajahan Jepang, tentunya menjadi salah satu lahan subur untuk praktek Jugun Ianfu (Japanese sex slaves). Dengan paksaan maupun diiming-imingi sekolah ke luar negeri maupun dijadikan pemain sandiwara, para perempuan waktu itu direkrut. Mereka dijebloskan ke dalam rumah bordil yang konon sengaja didirikan pemerintah Jepang untuk meningkatkan kinerja militernya (pemuasan kebutuhan seksual para tentara dan misi menyebarkan penyakit kelamin di daerah musuh).

Menurut para Jugun Ianfu yang berhasil bertahan hidup hingga pasca kemerdekaan, rumah bordil Jepang merupakan tempat yang mengerikan. Perempuan-perempuan itu dibagi menjadi tiga atau empat kategori, tergantung lamanya pelayanan. Yang paling baru (yang lebih tidak mungkin terkena penyakit kelamin) ditempatkan di kategori tertinggi. Namun, dengan berjalannya waktu, perempuan-perempuan baru tersebut akan diturunkan kategorinya karena kemungkinan terkena penyakit kelamin lebih tinggi. Ketika mereka dianggap terlalu berpenyakit untuk digunakan lebih lanjut, mereka diabaikan. Banyak perempuan yang dijadikan Jugun Ianfu melaporkan uterus mereka membusuk dari penyakit yang diperoleh oleh ribuan lelaki dalam waktu beberapa tahun. Dan ketika perang berakhir dan posisi militer Jepang terancam, perempuan-perempuan itu ditinggalkan dan tidak dipedulikan lagi nasibnya.

Riwayat tragis, lebih mencekam dan membekas. Seorang perempuan tua asal Cimahi yang ada dalam film dokumenter yang dipertontonkan waktu itu (saya lupa namanya), memperlihatkan bekas luka di balik kebaya lusuh yang ia kenakan akibat pengangkatan rahimnya yang rusak. Ia membatin. Selama ia bebas dari cengkeraman Jepang, ia selalu hidup sendiri. Bebannya berlipat. Ia tidak mungkin kembali dan mencari keluarga maupun sanak saudaranya. Karena menjadi seorang Jugun Ianfu berarti menjadi orang yang harus siap untuk dicemooh dan diludahi masyarakat waktu itu. Dan lagi, tidak ada lelaki yang mau menerima perempuan kotor yang pernah dijamah semena-mena oleh orang lain, lanjutnya. Dan hanya di sebuah bangunan tua yang juga pernah menjadi rumah bordil itulah perempuan itu bertahan sampai akhirnya ia meninggal beberapa tahun lalu.

Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika saya hidup di masa penjajahan Jepang waktu itu (1942-1945). Melihat kesaksian para Jugun Ianfu di film yang saya tonton pun sudah membuat perasaan saya meledak-ledak: benci, sedih, takut, marah, dan menangis. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana khawatirnya para orang tua yang memiliki anak-anak perempuan kala itu, ketika mereka mendengar kaki dengan sepatu militer berderak-derak di halaman. Saya juga tidak bisa membayangkan berapa banyak doa dipanjatkan ketika pintu-pintu rumah mereka mulai digedor. Hfffhh… Dalam benak saya, saat itu yang hadir benar-benar suasana yang sangat menegangkan.

Sejarah Jugun Ianfu adalah sejarah tentang sebuah kepiluan mendalam bagi kita, perempuan. Sejarah yang mungkin hanya bisa dilihat jika mata kita sudah sangat terbelalak untuk membaca dunia, membaca kehidupan. Sejarah yang, dalam pengalaman saya, serupa mitos. Nyata nyata tidak, tidak tidak nyata. Sejarah yang hanya berlabuh dari sisa-sisa senja para korbannya. Setelah itu, entahlah. Mungkin benar-benar akan jadi mitos. Akan jadi dongeng yang sangat tidak cocok untuk jadi lulabi, tidak pernah lumrah jadi pengantar tidur, jika tidak ingin mengalami mimpi buruk. Semoga tidak.


(dari celah-celah lupa dan kesadaran yang hampir luput)

ini siapa? tuuuuuut....



Sebuah siang, saat rehat setelah ngepel kosan…

+62878******** calling…
“Halo”
“Selamat siang. Dengan Mba Adieu?”
“Ya.”
“Ini dari PT.Astra. Kami mau memberitahukan bahwa saat ini anda sedang ditipu oleh teman anda.”
“Haha… Sudah saya kira sebelumnya. Ini siapa?”
“Ah mosok toh ngga kenal siapa aku.”
“Iya, bener. Saya ga tahu. Ini siapa?”
“Tebak dong!”
“Ga tau. Saya ga mau maen tebak-tebakan.”
“Wah… Sama temen sendiri kok lupa?”
“Beneran. Soal ini saya memang paling payah. Apalagi yang kamu pakai sekarang nomer yang tidak masuk di phonebook saya.”
...
Seperti bermain petak umpet. Saya tetap tidak bisa menebak suara siapa yang sedang berbicara di seberang sana. Dia juga tetap dengan aksi menyembunyikan identitasnya, sambil sesekali bersenandung.
Saya sempat menerka beberapa nama, tapi semuanya tidak ada yang dia akui. Karena sedikit kesal, saya ambil sisa kripik yang saya beli kemarin dan memakannya sambil tetap menelepon. “Krash..krash…grauk…grauk…”. Dan ternyata… suara kripik yang bising itu sepertinya telah membuat kawan saya yang anonim itu marah.
Begini detik-detik terakhir perbincangan kami:
“Aku ga enak ngegangguin orang makan. Aku tutup aja ya?”
“Ya terserah kamu. Tapi saya masih ga bisa nebak nih. Saya udah nanya lho ya. Krash…krash…grauk…grauk..”
“Ya… Tapi masa ga tahu sih? Ya udahlah mending selesein aja makannya. Ga sopan aku ngegangguin orang lagi makan. Wong aku lagi makan mau nelepon aja diberhentiin dulu makannya. Tuuuuuuuut…...”
Dan suaranya menghilang. Belum sempat saya minta maaf, telepon terputus begitu saja.
Saya hanya tersenyum dan masih tetap tidak mengerti. Sedikit tidak enak hati. Tapi ya sudahlah. Untuk apa juga saya memaksa orang yang memang sedang ingin mencari hiburan dengan tetap menyembunyikan identitasnya. Sama halnya dengan saya yang tetap berhak makan kripik singkong karena lelah dengan tebak-tebakan.
Tetapi, saya sadar. Manusia tidak pernah sama. Dalam komunikasi, menurut salah seorang teman (dia juga mengutip Jalaludin Rahmat), selalu ada noise. Dan kadang kita mesti mau belajar untuk mengerti banyak hal. Kita harus siap dengan kejutan-kejutan, yang semula tak pernah kita duga.

Maafkan saya, kawan. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya.

kukut, kukut,.....

Saya kehilangan satu teman bicara. Kukut. Komputer butut saya terkasih. Meski ada Mohok, posisi Kukut tidak pernah bisa digantikan. Akhir-akhir ini saya sudah terlalu bingung terhadapnya. Apa lagi yang harus saya lakukan. Tiap kali dinyalakan, dia suka tiba-tiba pingsan.

Kemarin saya minta Pak War untuk menyembuhkannya. Kukut diboyong Pak War ke rumahnya. Tapi tak lama. Malam tadi, Pak War mengantarkannya kembali ke kamar saya. Saya kira Kukut akan sembuh. Saya sudah berteriak-teriak. Akhirnya, Kut, kamu sembuh juga dan malam ini, saya akan menceritakan banyak hal.

Malangnya, baru beberapa saat saya tinggal untuk makan di bawah, Kukut pingsan lagi. Aduh Kukut...kamu tuh ngambek ya sama saya?

Pak War bilang Kukut harus punya pasangan hidup biar dia bisa tetap bertahan. Stabilizer. Harddisc-nya si Kukut sudah payah, riskan karena selama ini ia selalu dipaksa bertahan dengan arus listrik yang tidak stabil. "Coba deh Adieu beli stabilizer, nanti saya ke sana lagi", begitu pesan Pak War di tengah-tengah kecemasan saya tadi malam.

Hfffhhh... Itu artinya, budget bulanan saya bulan ini lebih besar dari budget saya biasanya. Tapi demi Kukut, demi cerita dan kenangan yang tak boleh luput, saya akan lakukan apa saja.




Inget ya, Kut. Kamu harus sembuh demi saya. Saya sayang kamu, Kut. Saya butuh kamu. Sembuhlah. Saya mohon!!!:(

field of innocence

I still remember
The world from the eyes of a child
Slowly those feelings
Were clouded by what I know now

Where has my heart gone
An uneven trade for the real world
Oh I, I want to go back to
Believing in everything and knowing nothing at all

I still remember
The sun always warm on my back
Somehow it seems colder now

Where has my heart gone
Trapped in the eyes of a stranger
Oh I, I want to go back to
Believing in everything

Where has my heart gone.
An uneven trade for the real world
Oh I, I want to go back to
Believing in everything

Oh where has my heart gone
Trapped in the eyes of a stranger
Oh I, I want to go back to
Believing in everything

[Field of Innocence, Evanescence]
------------------------------------
Waktu saya mendengar lagu ini, saya tersenyum. Lirih. Saya memang sedang ingin mengembalikan waktu hingga saya kembali ke masa kecil. Masa dimana saya bisa menangis dan berjalan bebas, sebebas ayunan rambut saya yang selalu Ibu kepang dua. Masa dimana saya bisa menanti matahari terbit dari balik atap-atap rumah. Masa dimana saya ketakutan karena bulan selalu mengikuti kemanapun arah saya berjalan malam-malam. Masa dimana saya hanya bisa tersenyum polos dengan hanya mempertunjukkan gusi dan beberapa gigi karena saya selalu yakin orang-orang yang memberikan saya permen dan cokelat adalah orang-orang yang selalu tulus.
Dan saya yakin, kau pun menginginkannya kan, Leu? ^_^


(untuk Aulia dan saya)

mohok

Bugi, Tole dan Kukut punya teman baru. Namanya Mohok.

Mohok adalah kaktus cebol yang saya beli di pasar Unpad hari Minggu sepulang praktikum kemarin. Lucu. Hijau muda grundel-grundel.

Saya kira saya cukup punya alasan jika suatu saat Mohok bertanya: "Kenapa kamu milih saya, Adieu?". Maka beginilah jawaban saya:
"Karena kamu murah, Hok. Heuheu... Tapi tenang, bukan berarti kamu murahan. Saya pilih kamu karena kamu hampir punya watak yang sama dengan Bugi, Tole, dan Kukut. Tidak menyusahkan saya (bahasa yang lebih diplomatis ketimbang saya tidak mau susah dengan keberadaanmu..whaha...). Kamu cukup tegar untuk tetap hidup dengan tidak terlalu berharap banyak pada orang lain. Bukankah terlalu berharap itu tidak menyenangkan, Hok? Ya, tentu saja. Karena dengan itu kamu akan cemas dan berjibaku dengan ketakutanmu sendiri. Kamu cukup mengerti bahwa orang lain adalah juga ruang yang tidak selalu bisa kamu tinggali meskipun kamu menyukainya. Iya kan, Hok? Ngangguk dong ah! Kamu sosok yang selalu ingin memperlihatkan kesabaran. Selalu ingin mensyukuri keadaan dan ketiadaan, juga belajar dari itu semua. Kamu hanya ingin hidup dan mencoba tulus pada orang-orang yang ada di sekitarmu. Menyenangkan mereka dengan bentukmu yang boncel, warnamu yang cerah. Tapi kamu juga punya duri, Hok. Setidaknya duri itu yang akan menjagamu, membuatmu mampu bertahan menghadapi ancaman dari luar dirimu. Makanya saya menyenangimu, saya memilihmu, dan memintamu untuk selalu jadi cermin ketika saya luput mengenali diri saya sendiri. Hok, tetaplah hidup. Betahlah hidup bersama saya, Bugi, Tole dan Kukut. Mau kan, Hok? Saya mohon."

Undergoing MyBlogLog Verification

alasan untuk pulang

Telunjuk tangan sebelah kanan saya 'meraksasa'. Warnanya pun memucat. jika saya sandingkan dengan telunjuk tangan kiri,saya melihatnya ibarat gajah dan kurcaci.
"Makanya, jadi orang tuh jangan pernah nyari penyakit, Adieu." Begitu omel ibu saya sambil membenarkan letak selimut di badan saya.
"Ngapain juga pake sengat-sengatan segala? Gimana coba kalo malpraktek?", ibu tetap mengomel. Tangannya menyodorkan beberapa butir obat dan segelas air putih untuk saya minum. Saya hanya tersenyum.


Dua hari sebelumnya...

"Waduh...seneng makan gorengan ya?", tanya satu perempuan sambil tetap memegangi tangan saya.
"Seneng banget atuh."
"Ini mah kolesterol."
"Wew... Seriusan?"
Perempuan itu langsung menjelaskan indikasi yang ia lihat dari telapak tangan saya.
"Lagi banyak pikiran juga ya? Stress?"
"Umm...banyak pikiran iya, stress ga tau."
Dilanjutkannya mengarahkan sebuah senter kecil ke bola mata saya.
"Penyakitnya banyak juga.", lanjutnya.
Beuh... Sebegitu pesakitankah saya? Padahal bisa dibilang, saya orang yang jarang sakit, kecuali akhir-akhir ini. Saya terus bergumam, melakukan pembelaan diri dalam hati dan perempuan itupun masih terus melanjutkan diagnosanya.
Dan untuk kedua kalinya, saya merelakan lebah-lebah itu menyengat tangan saya. Pertama kali, seminggu yang lalu, di sela-sela jempol tangan, dua sengatan. Dan sekarang tambah satu sengatan lagi. Hanya tangan kanan. di telunjuk dua sengatan, satu lagi di pergelangan. Sebenarnya saya tidak terlalu sakit, tapi saya sengaja menjerit (kesempatan untuk mengeluarkan kekesalan saya pada diri saya sendiri).



Ternyata, saya bukan datang ke rumah karena sakit. Mungkin sakit, tapi sakit saya lebih banyak dipengaruhi oleh keinginan saya untuk menemukan sosok nyata dari orang-orang yang saya sayangi: Ibu, Bapak, dan adik-adik saya. Juga rumah tempat saya besar dan belajar dari kenakalan pada orang tua saya.
Dan tangan kanan saya pun mengempis sedikit demi sedikit.

eskrim

Adik saya yang paling kecil tiba-tiba menghampiri saya yang tengah belajar memfungsikan tangan kanan yang sedang membengkak parah sebagaimana biasanya. Ia, yang masih mengenakan celana seragam sekolahnya, membawa dua es krim corong. Satu ia berikan pada saya.
“Nih…”
“Buat Adieu?”
“Heueuh”
“Siapa yang beliin? Pake uang siapa?”
“Dede. Eh, Mamah deng.”
“Kirain pake uang kamu, De.”
Dia hanya tertawa dan kembali menikmati es krim di tangannya.
Saya pun begitu. Saya berhenti sejenak untuk memakan es krim yang diberikan adik saya. Hmm… enak. Di jatinangor, untuk bisa menikmati eskrim seenak ini, setidaknya saya harus punya uang 5000 rupiah.
“Enak, Dieu?”
“Enak banget, Dede.”
Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan eskrim corong mini yang enak itu. Adik saya kembali ke depan, nonton channel kesayangannya, Spacetoon.
Dan saya kembali dengan pikiran-pikiran saya yang sedang berkemelut.

Seandainya hidup seperti es krim. Enak. Manis. Tapi mungkin tidak butuh waktu lama untuk bisa menikmatinya. Tuhan Maha Tahu darimu, Adieu.