Adik saya yang paling kecil tiba-tiba menghampiri saya yang tengah belajar memfungsikan tangan kanan yang sedang membengkak parah sebagaimana biasanya. Ia, yang masih mengenakan celana seragam sekolahnya, membawa dua es krim corong. Satu ia berikan pada saya.
“Nih…”
“Buat Adieu?”
“Heueuh”
“Siapa yang beliin? Pake uang siapa?”
“Dede. Eh, Mamah deng.”
“Kirain pake uang kamu, De.”
Dia hanya tertawa dan kembali menikmati es krim di tangannya.
Saya pun begitu. Saya berhenti sejenak untuk memakan es krim yang diberikan adik saya. Hmm… enak. Di jatinangor, untuk bisa menikmati eskrim seenak ini, setidaknya saya harus punya uang 5000 rupiah.
“Enak, Dieu?”
“Enak banget, Dede.”
Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan eskrim corong mini yang enak itu. Adik saya kembali ke depan, nonton channel kesayangannya, Spacetoon.
Dan saya kembali dengan pikiran-pikiran saya yang sedang berkemelut.
Seandainya hidup seperti es krim. Enak. Manis. Tapi mungkin tidak butuh waktu lama untuk bisa menikmatinya. Tuhan Maha Tahu darimu, Adieu.


0 comments:
Post a Comment