...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

never said those words out loud

I was a kid, you were my dad
I didn't always understand
I wanted freedom, you got mad
You were concerned, I got upset
I didn't recognize you yet

And did you cry, I know I did
When I lied to you
I didn't want to hurt you
I just never knew I did

You never told me that you loved me
I know you didn't know how
I guess that shows we're much the same
'Cause I love you too and until now
I've never said those words out loud
I hope you're proud
To be my dad...

What are your secrets, do you pray
Is there a god that shows your way
I wish I knew...
Do you have crazy fantasies
What happens in your dreams
I want to know...

I guess you'll always be a mystery to me
But you taught me how to value life
And what else do I need
I have a dad who watches over me

("Dad", K's Choice)

serena

"so what, life's tough. you should get over yourself like everyone else and enjoy the girls and the boys, and everything in between. serena, in an effort to avoid the things that annoy you, you hide- far, far away, and life just passes you by. serena, are you gonna give up? are you gonna give out? ain't that a shame? you've got no one to blame but your conscience. if it doesn't make sense, i know that only too well. so tell me, did it happen one day when the day that you faced wasn't happening. it just didn't bring anything more than despair. serena, do you remember, morning would come and just like a child filled with the sun, and the hours never seemed long. where have those days gone? beyond us... or so you would believe. but I can't agree, those illusions. will you ever get through them and find the diamond inside?"

-serena, duncan sheik-

sehari lalu...

sehari lalu, sore-sore dengan rintik yang rapat, sambil menunggu titipan dikemas, saya mampir di sebuah pasar buku. sebuah tenda yang di depannya dipancangkan sebuah umbul-umbul "Diskon 10-80%" itu sesak sekali oleh manusia. saya adalah salah satunya.

sebetulnya tidak satu judul bukupun hadir dalam kepala dan mendesak saya untuk menggabungkan diri dengan mereka yang di dalam tangannya menggenggam kantong belanja. saya hanya ingin berteduh dan menunggu sambil bergumam betapa pegal kaki ini. hendak duduk, tapi penyelenggara pasar buku tak menyediakan tempat duduk sedikit pun, kecuali display yang penuh tumpukan buku.

saya kadang berpikir, betapa beruntung mereka yang dengan seenaknya memungut buku satu per satu, memasukkannya ke dalam tas belanja, mengantri di kasir, serta dengan mudah mengeluarkan berlembar-lembar uang kertas atau sebuah kartu setelah kasir memperlihatkan screen dengan lebih dari lima digit angka.

dan mengeluh masih menjadi hal gratis. seandainya... seandainya... seandainya...

saya tak hendak tenggelam dalam keluhan lama-lama. rasa pegal lebih menarik perhatian ketimbang orang-orang 'beruntung' itu.

lantas pandangan saya terpaku pada beberapa buku (saya benar-benar tidak ingat judulnya). buku-buku mengenai dongeng, pastinya. buku-buku yang tentunya tak bisa begitu saja dibaca oleh anak-anak. buku-buku yang lebih layak dibaca oleh mereka yang pernah merasa diperdengarkan dan hafal mengenai cerita-cerita negeri khayangan, cerita pangeran tampan yang menyelematkan seorang putri dari cengkeraman orang-orang jahat, cerita binatang-binatang yang bicara, cerita nenek sihir, dan sebagainya.

mendadak saya bertanya sebegitu pentingkah dongeng bagi hidup manusia kecil bernama anak-anak? bahkan tak jarang orang tua mengalokasikan penghasilan bulanannya untuk membeli buku cerita itu bagi buah hatinya. mungkin penting untuk mengajari mereka hidup dan kehidupan. dengan cerita-cerita itu sesuatu yang dinamakan moral diajarkan, sifat buruk dan sifat baik, kebenaran dan kebatilan.

namun masihkah dongeng-dongeng yang menciptakan ilusi indah itu penting untuk diperdengarkan, sedangkan di berbagai penggalan bumi, dunia tak sama sekali serupa dongeng, dimana keadaan buruk bisa disulap dengan mudah menjadi aman sentosa? dunia saat ini, adalah tempat dimana kebajikan sulit menang, dan kejahatan riang bersulang.

Origa lirih bersenandung: "aney, you're my unborn child. sorry i can't sing a brighter lullaby"

barangkali, bukan hanya dongeng, namun para orang tua akan berkata dengan suaranya berat: "nak, dunia tak akan pernah seringkas dan seindah dongeng. menjadi tegarlah. kebenaranmu, keyakinanmu, adalah sesuatu yang akan menopang langkahmu yang sulit."

dan kesadaran saya kembali, pada mereka. ya, orang-orang yang lalu lalang dengan kantong belanja itu. saya kira, saya tidak patut lagi mengeluh tentang keberuntungan dan ketidakberuntungan. yang beruntung bukan manusia yang gagal dilahirkan, atau yang mati muda sebagaimana dikutip soe hok gie dalam catatan hariannya.

karena keberuntungan tak berarti segalanya. saya percaya pada keadilan Allaah SWT, saya yakin pada kehendak-Nya. beruntung tak selalu mulia, namun setiap yang mulia akan selalu berarti mereka yang menggenggam keberuntungan karena catatan kebajikannya tak henti menebal untuk bisa menembus gerbang surga yang tak terukur luasnya.

dan...
tak usah saya lah membeli buku-buku itu... :D

bacabacabaca

untuk kesekian kalinya saya mengutuk diri sendiri...
tak lagi bisa dihitung, entah sudah sekian belas bulan saya absen dari membaca. sebetulnya bukan tidak sama sekali melakukannya. karena buktinya ada sejumlah buku yang mau tidak mau harus saya jelajahi tiap minggunya. maksud saya adalah, saya tidak lagi menemukan hasrat membaca yang benar-benar keluar dari jiwa saya, seperti yang saya lakukan dulu. jika budi dharma, dalam "bukuku kakiku", menyatakan bahwa manusia sebagai homo ludens, mahkluk yang senang bermain-main bahkan ketika dia membaca, maka saya tidak menemukan tempat bermain saya saat saya membuka buku.

saya jadi berpikir jangan-jangan usia mengubur minat baca? namun benarkah kesimpulan itu? rasanya juga tidak, karena banyak di antara orang-orang yang saya kenal adalah orang yang lipatan-lipatan otaknya semakin penuh dengan pengetahuan, dan mereka tak lagi muda. lantas ada apa sebetulnya dengan saya?

sungguh, mengingat betapa dangkal dan tumpulnya kemampuan yang saya miliki, semua itu sangat tidak menyenangkan. buku-buku catatan saya semakin jarang. bahkan saya sempat malu saat tak sengaja menemukan sejumlah buku kecil tempat saya menulis segala hal yang saya temukan dulu, ketika hari-hari harus saya lalui dengan kecemasan dan disorientasi hidup.

lalu mengapa hasrat itu tak semakin dahsyat saat saya sudah merasa menemukan pijakan hidup? mengapa 'rasa haus' itu tak semakin menggelora saat saya merasa dapat mengayunkan langkah-langkah tegas?

wahai angin, wahai hujan, wahai terik, kemana kalian membawa 'nyawa' saya berlari?