betapa menakjubkan warna jingga yang meredup kala matahari mulai menelusup. serupa mencerabut daun liar kecil itu lalu menyimpannya di sela-sela catatan, menikmati gumam yang rembes pelan ke dalam jiwa, menjalin lega dan sunyi dalam setarik nafas, melupakan sejenak ekpektasi yang lekat di kanan kiri, lalu ... sed fugit interea, fugit irreparabile tempus.
Showing posts with label dia. Show all posts
Showing posts with label dia. Show all posts
Nov 20, 2010
0
hiatus
betapa menakjubkan warna jingga yang meredup kala matahari mulai menelusup. serupa mencerabut daun liar kecil itu lalu menyimpannya di sela-sela catatan, menikmati gumam yang rembes pelan ke dalam jiwa, menjalin lega dan sunyi dalam setarik nafas, melupakan sejenak ekpektasi yang lekat di kanan kiri, lalu ... sed fugit interea, fugit irreparabile tempus.
Aug 18, 2010
0
menatah rasa
apa yang masih berarti dari secarik surat yang ditulis dengan tangan?
beberapa bulan lalu, sebuah jasa pengiriman barang sejagat raya kembali membuat saya sibuk mencungkil-cungkil sudut setiap dompet dan saku. ada benda yang akan diantarkan dan harus saya tebus. lagi-lagi sebuah amplop putih besar dengan logonya yang gagah.
saya kadang heran, mengapa untuk mengangkut satu surat saja perlu mobil box? saat menerima surat itu saya sempat beberapa detik mengintip ke balik pintu. adakah dinosaurus di dalamnya? ternyata tak ada. sang kurir minta pamit setelah tebus-menebus tuntas. saya tidak katakan: bubye, sampai jumpa lagi ya! padanya. biar saja ia pergi dengan ratusan barang tebusan lainnya.
saya masuk kamar dan memilih pangkal ranjang untuk duduk dan dengan dada yang kembang kempis mulai membuka amplop besar itu. gerutu tak kunjung luput. mahalnya pajak membuatnya tinggal di mulut saya untuk kemudian saya rapalkan.
ada sensasi dari bunyi lembaran kertas. saya jadi ingat film besutan marc foster tahun 2006, stranger than fiction. harold crick, petugas pajak (lagi-lagi kata ini saya sebut) yang menderita neurosis dan budak keteraturan itu mengimajinasikan suara kertas sebagai desir ombak di tepi pantai. saya suka itu.
amplop sudah terbuka dan saya bongkar isinya. sebuah benda segitiga yang isinya macam-macam. ia berpesan sebelumnya bahwa semua yang dijejalkan dalam kotak segitiga itu adalah oleh-oleh dari kaketo, yang baru pulang dari tanah suci. ajaib. hanya dalam kotak setinggi lima sentian itu ada hadiah untuk bapak saya, ibu saya, kawan-kawan saya, dan untuk saya sendiri. (meskipun saya tahu betul bahwa motifnya menjejalkan seluruh barang adalah meringankan uang tebusan yang harus saya bayar)
ada sebuah amplop biru yang masih terjepit di dalam amplop besar. amplop serupa yang ia kirimkan pertama kali.
saya retak seketika. saya hanya menemukan selembar kertas yang bertulis tangan dua muka, depan belakang, bolak-balik. kurang seru, pada awalnya saya kira. kenapa tak mengirimkannya saja lewat surat elektronik?
saya makin retak saat saya sadar di zaman yang serba virtual ini, untuk pertama kalinya setelah hampir satu dekade, saya tidak menerima surat yang bertulis tangan. saya akui, ada getar yang tak sebentar dan gigil yang tak kecil saat saya menarik secarik kertas itu dari dalam amplop, mengurai lipatan, dan mulai membacanya pelan-pelan.
ia benar. berbondong-bondong manusia mudah tergoda dan tergiur dengan yang mudah-mudah serta ringkas. yang mudah dan yang ringkas lebih mahir mereduksi rasa dan makna. tinggal menghadap layar dan mulai menggerakkan jemari merangkai kata. jika tak suka dan tak sempurna, anak panah di sudut kanan itu tinggal ditekan. habis perkara. abjad-abjad menjadi jamak dan seragam.
menulis dengan pena berarti kesungguhan, katanya. there's some wonderful feelings which can not be exlplained through an email. di balik tatahan kata itu bukan hanya ada garis lurus dan lengkung yang kita identifikasi sebagai komponen pembentuk huruf, kata, kalimat. di sana ada kekusutan nadi, keletihan, jibaku pikir, dan sejenisnya. garis-garis itu bisa jadi petunjuk sesuatu. sesuatu yang laten. sesuatu yang lamat-lamat.
Jan 11, 2010
0
beeps
saya tahu apa yang harus saya lakukan sambil menunggumu datang: belajar, mengumpulkan uang, membeli tiket perjalanan, dan ..... menghitung berapa bilyun degup yang makin mengencang.
Jan 5, 2010
0
lachrymose
.....hari kelima di tahun yang selalu diawali dengan hingar bingar yang sama
ya harusnya saya menuliskan ini 168 jam lalu dari waktu saya menuliskannya kembali sekarang. penyakit "ketidakmampuan menulis dadakan" tiba-tiba muncul. namun yakinlah, kata-kata itu belum retak, bahkan ia belum kehilangan aromanya, sama seperti saat pertama kali ia dimuntahkan dari sela-sela cericit lengking burung yang hampir kalah, dari antara celah nyanyi ayam yang membasi, dari tengah pijar mentari yang telah memar, dan dari tengah-tengah deru mesin yang mulai kelabu, pagi itu.
kibou ya negai wo
...
kimi no ashita wo miushinawanai
de hatenai yume wo oikakete ikou
...*
...
kimi no ashita wo miushinawanai
de hatenai yume wo oikakete ikou
...*
--------------------------
* Carry On, Arashi
dedicated to someone who's working hard and doing his best for his dreams
dedicated to someone who's working hard and doing his best for his dreams
Oct 21, 2009
0
enam dolar
Saya masih tak habis pikir seharian itu. Berbagai macam pelarian sudah saya coba lakukan. Menggerutu, makan, potret-potret, berguling-guling,,,, Tapi rasa heran itu tetap saja melengking-lengking dalam kepala. Tak hendak redup barang sedikit pun.
Beberapa hari sebelumnya:
"Kiriman saya sedang dalam perjalanan, Dieu. Alamatnya seperti yang waktu itu kamu berikan. Sebentar lagi, 'ia' akan benar-benar hinggap di tanganmu," ujarnya di penghujung malam.
"Hmm... Baik, saya tunggu," kata saya lurus.
"Kalau hari ini kamu belum juga menerimanya, bilang ke saya ya! Nanti saya coba hubungi jasa pengiriman barangnya lagi."
"Haa... ok."
Saya tidak ingin terlalu menanggapi serius soal ini. Sejak awal saya juga memang tidak pernah meminta untuk diberi olehnya. Ia sendiri yang punya inisiatif sendiri untuk mengirimi saya sesuatu yang ia beli saat pergi bersama kawan-kawannya ke salah satu sudut paling indah di muka bumi.
Hingga tibalah hari itu. Saya dimintanya untuk tidak lengah barang sedetik pun, karena ia bilang saya akan dihubungi lewat nomor 'Tiga' saya oleh jasa pengiriman barang. Dan betapa mudah saya untuk patuh waktu itu. Mungkin karena saya sedikit penasaran (meskipun gengsi saya terlalu besar untuk mengakui itu di hadapannya).
Telepon saya bergetar. Sebuah nomor memanggil...
"Iya, halo.... "
"Iya, selamat pagi! Dengan ibu (????) Adieu?"
"Betul. Dari mana, ada perlu apa?"
"Kami dari XxxXx, Ibu. Ada kiriman barang untuk Ibu."
"O iya."
"Di sini tertulis alamatnya xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Betul itu alamat Ibu? Siang ini kami akan mengantarkan kiriman untuk Ibu ke alamat tersebut."
"Oo, ke alamat ini aja, Pak: xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Langsung saya yang menerima."
"Baik, kami akan mengantar ke alamat xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Tapi maaf, Ibu, ada biaya yang harus Ibu bayar."
"Hoh? Bayar?"
"Benar, Ibu. Karena kiriman untuk Ibu tidak berupa dokumen, tapi barang, jadi Ibu kena charges sebesar enam dollar."
Glekkk.... Saya tidak merasa punya mimpi buruk tadi malam.
"Bagaimana, Ibu, bisa kami antar hari ini?"
Masih dengan setengah tidak sadar dan tidak percaya, "O iya, boleh. Jam berapa?"
"Sebelum jam 11 kami usahakan."
"Ooo..."
Sambungan telepon pun terputus, dan saya masih tidak bisa percaya bahwa hari ini saya harus mengeluarkan enam dolar untuk sesuatu yang tidak pernah saya minta....?
Pukul 11 siang, seorang pria paruh baya perawakan tinggi berkulit bersih dan berseragam XxxXx itu mengantarkan sebuah bungkusan rapat ke tangan saya. Sembari menyerahkan kuitansi berisi enam dolar yang harus saya bayar, pria itu mengeluhkan satu jam yang dihabiskannya berputar-putar mengelilingi kompleks kampus untuk menemukan alamat yang saya kasih. Saya berusaha menampakkan rasa simpati saya atas perjuangan pria paruh baya itu dengan senyuman dan "Ooo..". Namun rasa-rasanya simpati saya tidak akan berbalas "penolakan" terhadap uang yang 'pura-puranya' dengan mudah saya tukarkan dengan selembar kuitansi dan bingkisan itu.
Sebagaimana ia yang berlalu, saya pun bertolak arah dan menyusuri langkah menuju kamar sembari bertanya-tanya: mengapa saya? mengapa enam dolar? mengapa ada kiriman ini?
-------------------------------------------------
Malam hari, ia minta maaf berulang kali dan dengan ramahnya menanyakan apakah saya masih punya sisa bekal untuk pergi ke Jakarta atau tidak. Dan saya bilang saja, isi kiriman itu kebesaran dan terlalu perempuan untuk saya. Entah apa yang terjadi setelah ucapan 'tega' saya itu keluar, karena saya hanya melihat emoticon sedih di layar komputer. Hehe...
Saya yakin ia bukan pengecut yang menjadi 'payah' hanya karena ucapan saya yang semacam itu. Mudah-mudahan ia pun tahu bahwa barang yang sangat perempuan dan kebesaran itu akan selalu saya simpan dan saya jaga.
Sekedar menghibur diri sendiri, enam dolar itu mungkin tidak akan berarti apa-apa dibanding berbagai macam makna hidup yang saya dapatkan sejak saya mengenalnya.
(Satu hal lagi yang tertinggal, don't judge a gift by its cover. haha...)
Beberapa hari sebelumnya:
"Kiriman saya sedang dalam perjalanan, Dieu. Alamatnya seperti yang waktu itu kamu berikan. Sebentar lagi, 'ia' akan benar-benar hinggap di tanganmu," ujarnya di penghujung malam.
"Hmm... Baik, saya tunggu," kata saya lurus.
"Kalau hari ini kamu belum juga menerimanya, bilang ke saya ya! Nanti saya coba hubungi jasa pengiriman barangnya lagi."
"Haa... ok."
Saya tidak ingin terlalu menanggapi serius soal ini. Sejak awal saya juga memang tidak pernah meminta untuk diberi olehnya. Ia sendiri yang punya inisiatif sendiri untuk mengirimi saya sesuatu yang ia beli saat pergi bersama kawan-kawannya ke salah satu sudut paling indah di muka bumi.
Hingga tibalah hari itu. Saya dimintanya untuk tidak lengah barang sedetik pun, karena ia bilang saya akan dihubungi lewat nomor 'Tiga' saya oleh jasa pengiriman barang. Dan betapa mudah saya untuk patuh waktu itu. Mungkin karena saya sedikit penasaran (meskipun gengsi saya terlalu besar untuk mengakui itu di hadapannya).
Telepon saya bergetar. Sebuah nomor memanggil...
"Iya, halo.... "
"Iya, selamat pagi! Dengan ibu (????) Adieu?"
"Betul. Dari mana, ada perlu apa?"
"Kami dari XxxXx, Ibu. Ada kiriman barang untuk Ibu."
"O iya."
"Di sini tertulis alamatnya xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Betul itu alamat Ibu? Siang ini kami akan mengantarkan kiriman untuk Ibu ke alamat tersebut."
"Oo, ke alamat ini aja, Pak: xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Langsung saya yang menerima."
"Baik, kami akan mengantar ke alamat xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx. Tapi maaf, Ibu, ada biaya yang harus Ibu bayar."
"Hoh? Bayar?"
"Benar, Ibu. Karena kiriman untuk Ibu tidak berupa dokumen, tapi barang, jadi Ibu kena charges sebesar enam dollar."
Glekkk.... Saya tidak merasa punya mimpi buruk tadi malam.
"Bagaimana, Ibu, bisa kami antar hari ini?"
Masih dengan setengah tidak sadar dan tidak percaya, "O iya, boleh. Jam berapa?"
"Sebelum jam 11 kami usahakan."
"Ooo..."
Sambungan telepon pun terputus, dan saya masih tidak bisa percaya bahwa hari ini saya harus mengeluarkan enam dolar untuk sesuatu yang tidak pernah saya minta....?
Pukul 11 siang, seorang pria paruh baya perawakan tinggi berkulit bersih dan berseragam XxxXx itu mengantarkan sebuah bungkusan rapat ke tangan saya. Sembari menyerahkan kuitansi berisi enam dolar yang harus saya bayar, pria itu mengeluhkan satu jam yang dihabiskannya berputar-putar mengelilingi kompleks kampus untuk menemukan alamat yang saya kasih. Saya berusaha menampakkan rasa simpati saya atas perjuangan pria paruh baya itu dengan senyuman dan "Ooo..". Namun rasa-rasanya simpati saya tidak akan berbalas "penolakan" terhadap uang yang 'pura-puranya' dengan mudah saya tukarkan dengan selembar kuitansi dan bingkisan itu.Sebagaimana ia yang berlalu, saya pun bertolak arah dan menyusuri langkah menuju kamar sembari bertanya-tanya: mengapa saya? mengapa enam dolar? mengapa ada kiriman ini?
-------------------------------------------------
Malam hari, ia minta maaf berulang kali dan dengan ramahnya menanyakan apakah saya masih punya sisa bekal untuk pergi ke Jakarta atau tidak. Dan saya bilang saja, isi kiriman itu kebesaran dan terlalu perempuan untuk saya. Entah apa yang terjadi setelah ucapan 'tega' saya itu keluar, karena saya hanya melihat emoticon sedih di layar komputer. Hehe...
Saya yakin ia bukan pengecut yang menjadi 'payah' hanya karena ucapan saya yang semacam itu. Mudah-mudahan ia pun tahu bahwa barang yang sangat perempuan dan kebesaran itu akan selalu saya simpan dan saya jaga.
Sekedar menghibur diri sendiri, enam dolar itu mungkin tidak akan berarti apa-apa dibanding berbagai macam makna hidup yang saya dapatkan sejak saya mengenalnya.
(Satu hal lagi yang tertinggal, don't judge a gift by its cover. haha...)


