...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

menatah rasa

apa yang masih berarti dari secarik surat yang ditulis dengan tangan?

beberapa bulan lalu, sebuah jasa pengiriman barang sejagat raya kembali membuat saya sibuk mencungkil-cungkil sudut setiap dompet dan saku. ada benda yang akan diantarkan dan harus saya tebus. lagi-lagi sebuah amplop putih besar dengan logonya yang gagah.

saya kadang heran, mengapa untuk mengangkut satu surat saja perlu mobil box? saat menerima surat itu saya sempat beberapa detik mengintip ke balik pintu. adakah dinosaurus di dalamnya? ternyata tak ada. sang kurir minta pamit setelah tebus-menebus tuntas. saya tidak katakan: bubye, sampai jumpa lagi ya! padanya. biar saja ia pergi dengan ratusan barang tebusan lainnya.

saya masuk kamar dan memilih pangkal ranjang untuk duduk dan dengan dada yang kembang kempis mulai membuka amplop besar itu. gerutu tak kunjung luput. mahalnya pajak membuatnya tinggal di mulut saya untuk kemudian saya rapalkan.

ada sensasi dari bunyi lembaran kertas. saya jadi ingat film besutan marc foster tahun 2006, stranger than fiction. harold crick, petugas pajak (lagi-lagi kata ini saya sebut) yang menderita neurosis dan budak keteraturan itu mengimajinasikan suara kertas sebagai desir ombak di tepi pantai. saya suka itu.

amplop sudah terbuka dan saya bongkar isinya. sebuah benda segitiga yang isinya macam-macam. ia berpesan sebelumnya bahwa semua yang dijejalkan dalam kotak segitiga itu adalah oleh-oleh dari kaketo, yang baru pulang dari tanah suci. ajaib. hanya dalam kotak setinggi lima sentian itu ada hadiah untuk bapak saya, ibu saya, kawan-kawan saya, dan untuk saya sendiri. (meskipun saya tahu betul bahwa motifnya menjejalkan seluruh barang adalah meringankan uang tebusan yang harus saya bayar)

ada sebuah amplop biru yang masih terjepit di dalam amplop besar. amplop serupa yang ia kirimkan pertama kali.

saya retak seketika. saya hanya menemukan selembar kertas yang bertulis tangan dua muka, depan belakang, bolak-balik. kurang seru, pada awalnya saya kira. kenapa tak mengirimkannya saja lewat surat elektronik?

saya makin retak saat saya sadar di zaman yang serba virtual ini, untuk pertama kalinya setelah hampir satu dekade, saya tidak menerima surat yang bertulis tangan. saya akui, ada getar yang tak sebentar dan gigil yang tak kecil saat saya menarik secarik kertas itu dari dalam amplop, mengurai lipatan, dan mulai membacanya pelan-pelan.

ia benar. berbondong-bondong manusia mudah tergoda dan tergiur dengan yang mudah-mudah serta ringkas. yang mudah dan yang ringkas lebih mahir mereduksi rasa dan makna. tinggal menghadap layar dan mulai menggerakkan jemari merangkai kata. jika tak suka dan tak sempurna, anak panah di sudut kanan itu tinggal ditekan. habis perkara. abjad-abjad menjadi jamak dan seragam.

menulis dengan pena berarti kesungguhan, katanya. there's some wonderful feelings which can not be exlplained through an email. di balik tatahan kata itu bukan hanya ada garis lurus dan lengkung yang kita identifikasi sebagai komponen pembentuk huruf, kata, kalimat. di sana ada kekusutan nadi, keletihan, jibaku pikir, dan sejenisnya. garis-garis itu bisa jadi petunjuk sesuatu. sesuatu yang laten. sesuatu yang lamat-lamat.

0 comments:

Post a Comment