kupu-kupu itu berwarna biru merona. oraculum. ia terbang tinggi-tinggi meski tak hendak mendekati matahari. dan di atas perahu besar itu, masih tersisa alice. ia tegak dan menyenyumi mimpi-mimpi.
orang banyak-banyak terlalu sibuk. serupa lokomotif yang berhenti hanya untuk berhitung dengan jari, lalu kembali pergi, tak punya waktu mendefinisikan mimpi. barangkali mimpi hanyalah asap-asap yang menjelujur ke langit lalu menghablur tertabrak angin. barangkali juga hanya fantasi yang tak lagi layak dihayati.
lain bagi alice. mimpi adalah negeri yang warna-warni, negeri dimana ia bisa mengecil dan membesar, negeri tempat bunga dan binatang berkata-kata, negeri tempat ia meyakini enam ketidakmungkinan yang selalu dirapalkannya saat sarapan pagi. tak terjamah. misteri yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri. sebatas sanctuary saat ia tak lagi mampu memahami mengapa yang 'pantas' dan 'tidak pantas' membuat hidup laksana jurang dalam yang berjarak-jarak.
namun bukankah mimpi pun adalah partikular kefanaan? segala yang fana tak pernah bisa lama-lama. ibarat cahaya yang berpendar beberapa waktu saja. pada akhirnya alice memang harus memilih untuk segera terjaga. mimpi bagi alice pun adalah sebuah hela untuk mengambil kuda-kuda sebelum menjatuhkan pilihan hidup yang punya banyak rupa.
semestinya juga alice sadar bahwa ia hanyalah imajinasi seorang eskapis bernama lewis carrol yang mungkin begitu cemas dengan abad 19, masa dimana pintu 'pikiran' dibuka dan kolonialisme eropa mengalami euforia serta mulai disambut semarak di negara-negara dunia ketiga.



0 comments:
Post a Comment