...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

if we could

...if we could just be immobile for some time and finally figure out the way we feel about the missing puzzle pieces and cloudy question marks that still look a bit surreal...
*











* malam ini, owl city kembali terdengar merdu.

kompetisi suara

asrama sedang sepi manusia. hanya ada tiga empat penghuni di setiap lorong, di masing-masing lantai. apalagi saat siang. bangunan buruk rupa yang tak kunjung direnovasi ini sudah seperti kuburan. jarang ada suara-suara pada siang. kecuali hanya gedebug pintu kamar mandi dari kamar sebelah kanan saya, lalu sang penghuni kamar itu sudah bisa dipastikan akan mulai bersenandung. padahal, kata seno, dilarang bernyanyi di kamar mandi. haha...

selebihnya sepi. karena sebagian besar sudah berbondong-bondong mudik ke rumah masing-masing.

namun herannya, malam hari justru banyak suara. sahut menyahut. jerit menjerit. suara para perempuan muda histeris di lantai dua, mungkin tiga. saya kurang tahu, karena saya hanya mendengarnya dari dalam kamar. rasanya sudah bisa ditebak, ada apa dengan para perempuan muda yang berteriak dan saling meneriaki histeris itu. piala dunia. ini adalah malam kesekian saya harus terbiasa dengan kericuhan itu. sebelum masa liburan, malam-malam saya mendengar beberapa perempuan yang berani-beraninya konser di lobby. saya dan ika sebut mereka, peserta indonesian idols kehabisan tiket.

dan malam ini adalah malam kesekian saya harus terbiasa menerima suara lain selain "garuda pancasila"-nya "don't angry". benar, suara itu berasal dari lantai atas, tempat perempuan muda berteriak dan meneriaki histeris . mereka tengah masyuk menonton dua puluh dua orang aneh yang berjuang keras mengejar bola namun setelah mendapatkannya bola itu mereka tendang kembali.

hal lain lagi yang aneh, di lantai bawah, lamat-lamat saya mendengar suara televisi lobby, makin besar suaranya. bukan. bukan bola. bukan pula teriakan para perempuan. tapi suara dialog sangat serius dari sebuah sinetron, kemudian berganti sinetron lain, dan seterusnya. suara makin mengeras, kawan. dialog serius itu besar sekali volume-nya. seperti hendak menyaingi teriakan para perempuan di atas. bisa dibilang, kami, penghuni lantai bawah tidak ada yang gemar menonton televisi di lobby, kecuali security dan kawan-kawannya. alibi saya cukup kuat. pasti mr.ju-enk (sebutan saya untuk pak emod). jika tidak, kawannya yang marbot masjid kampus. sinetron. haha... it's unbelievable when i'm knowing there's a man sitting in the lobby and watching those holy sinetrons loudly while some girls shouting for their hero at one of world cup match.

mengherankan, gumam saya. sama mengherankannya dengan tarif mahal pengiriman barang dari indonesia ke luar negeri yang per kilonya lebih dari 10 dollar.

sinetron dan piala dunia. dua hal ini mungkin sedang menjadi polemik di rumah saya. antara bapak dan ibu. bapak saya yang gemar bola, dan ibu saya yang selalu berdalih menghilangkan lelah karena berkarir seharian di warungnya dengan menonton sinetron. bahkan ibu saya bisa mendadak jadi pencerita ulung saat menceritakan kembali mengulang jalan cerita dan menjelaskan satu per satu tokoh sinetron yang ditontonnya. kejadian ini saya kira berlaku di rumah-rumah lain.

namun tidak kali ini, di sini. peminatnya terbalik. sinetron oleh mr.ju-enk atau mungkin kawannya. lalu piala dunia, ya mereka, perempuan itu. perempuan yang berteriak dan meneriaki histeris di lantai dua. sambil makan kacang? entahlah.

sedang saya, hanya satu dari mereka yang menyimak kompetisi suara itu dari dalam kamar. mengherankan. tapi sudahlah. saya hanya sedang iseng dan kebat-kebit me-warm up diri sendiri dengan bermain "don't angry" dan bergumam di jendela sebelum menulis sesuatu yang sangat serius bernama... ah tak mau saya sebutkan.

kamu

saya sedang berpikir, kapan kamu dan saya akan saling menggenggam. berapa tahun lagi? ah kamu mahal sekali.


inceran saya yang gemar bermimpi (atau berkhayal?)


kalo yang ini, "adieu (adian) ku kuda beureum" (artinya tanya sama wa kepoh)
menjajal kemampuan untuk menjadi pelukis abstrak. haha....

sudah

sudah dua dua, sebentar lagi bulan enam hampir habis. selanjutnya tahun kesepuluh setelah dua ribu itu pun berlari, pergi, karena berganti. lalu bulan satu, dua, tiga, empat, lima, enam, dan seterusnya kembali mendapat giliran masing-masing untuk dipasang di dinding-dinding, terpampang di layar-layar komputer, dipajang di meja-meja kerja.

maka biarkan saya sekali lagi menekuri segala hal yang bermunculan di kepala kali ini dan setiap kali saya bertanya dan ditanya: "sekarang tanggal berapa ya?"

"time is running. make plans and give actions, adieu," ujar sahabat saya suatu malam.

menyimaknya, kadang membuat saya merasa ingin berkata "suka-suka saya lah". namun belakangan ini saya lebih sering sumringah dibuatnya.

dilecut. anggap saja itu kata yang rasa bahasanya lebih menyenangkan untuk mewakili saya yang lebih sering memilih jadi "pemalas". bukan untuk diamini oleh malaikat (na'udzubillaah). saya hanya menyebutkannya agar kesadaran untuk beranjak dan merasa perlu untuk melakukan sesuatu itu muncul sesegera mungkin. bahwa rasa malas itu adalah pembunuh yang paling handal bagi manusia yang potensial. bukan begitu?

benar, manusia yang belakangan senang dilecut itu adalah saya. salah satu di antara mereka yang harus segera menyelesaikan sejumlah pencapaian dalam belasan bulan ini. dan hari ini sudah dua dua. bulan ini sudah enam. tahun depan akan dijelang. harapan dan tuntutan itu harus mulai tunai. setidaknya, seperti yang sahabat saya katakan, rapi dan jelas terencana serta punya aksi. di luar itu, bukan saya yang punya kuasa, bukan pula sahabat saya, bukan pula orang tua saya, bukan pula kamu. tapi Allaah SWT.

saya kadang berpikir, mengapa hawa nafsu diciptakan, jika sigap dan ketaatan adalah keharusan? ah pertanyaan nakal itu sudah tak lagi mempan untuk membuat saya terus membangkang. lenyap saja, wahai tanya. karena bagi saya sekarang bukan itu yang harus masuk dalam hitung-hitungan hidup. lalu apa? kesementaraan ini tak boleh lagi sia-sia. itu saja.

dan saya yang senang dilecut belakangan ini harus sadar bahwa hari ini sudah dua dua, bulan ini sudah enam, dan tahun depan akan segera saya jelang, insyaAllaah, dengan berbagai pilihan-pilihan, rencana-rencana, harapan-harapan, tuntutan-tuntutan, dan tentu saja kesediaan untuk menerima ketentuan-Nya, apapun itu.

lantas, di ujung dialog penghujung malam itu, sahabat saya bertanya: "sampai kapan kamu harus dilecut, dieu?"

saya tersenyum. every moment has each time, dan kesementaraan tak lagi boleh sia-sia. itu saja.

mengalah...

kehidupan lebih nyata ketimbang pendapat siapapun tentang kenyataan
-nyai ontosoroh


ajaib. setelah sekian lama, saya mampu juga berbicara dengannya dengan nada yang tak lagi tinggi. ya, benar. akhirnya kami berdamai setelah beberapa minggu saling mendiamkan. sebenarnya bukan saling, karena yang mendiamkan adalah saya, bukan dia yang hampir tiap hari melayang pesan. selalu sama, berisi pertanyaan dan tagihan. "kapan, adieu?"

dulu saya hampir dibuatnya gila. saya hampir dibuatnya selalu merasa bersalah. saya hampir dibuatnya merasa tertekan. ya, perempuan itu yang tak lain adalah ibu saya terkasih, perempuan yang melahirkan saya dan yang belakangan ini sangat gemar menagih. ibu pun begitu saya kira. oleh saya, ia dibuat hampir gila, selalu tertekan, dan -ini yang selalu tak ingin saya dengar dan saya lihat- dibuat menangis.

namun kali ini kami berdamai dan saya akhirnya mampu berbicara dengan suara yang redam, menanggapi ibu saya yang pada siang beberapa hari lalu menanyakan kembali "kapan, adieu? kapan?"

"saya pasti ngasih tahu ibu, secepatnya," selalu itu ungkapan yang ibu dengar akhir-akhir ini. tak ada lagi kata-kata. sungguh, dalam perkara ini pun, saya lebih memilih diam menggumam kesal dan sesal sembari meredakannya dengan memandang bilur lembayung yang tertangkap di kaca jendela sebelum senja beringsut menjelma malam dan tersenyum pada diri sendiri. saat itu, saya mengumpulkannya. ingatan itu. ingatan tentang saya dan ia, perempuan yang tak lagi muda itu. tentang bagaimana ia membesarkan saya tanpa keberadaan bapak sampai usia saya yang lima tahun. tentang bagaimana ia mengajarkan saya membaca dan mengaji. tentang bagaimana ia mengajarkan saya bertutur sapa. tentang bagaimana ia mengajarkan saya segala hal.

benar memang, menjadi pihak yang kalah tak selamanya memilih rela menjadi nista dan terhina. bisa jadi sebaliknya. mengalah tak selalu harus menjadi orang yang harus kehilangan prinsip hidup, bukan?

sebagaimana orang tua menganggap bahwa anaknya selamanya adalah anaknya, saya pun kali ini dengan senang hati menghapus niat untuk mengatakan padanya: "bu, saya sudah sering bilang ke ibu, prioritas kita bu, sebagai muslim bukan lagi menaruh perhatian berlebih pada omongan orang lain. kekhawatiran ibu terlalu berlebihan. sudah, saya tidak mau berdebat lagi. saya tidak ingin perdebatan ini Allaah catat sebagai dosa saya yang lain lagi. saya sudah besar, insyaAllaah saya sudah siap menerima resiko hidup saya sendiri. jika ibu dan bapak merasa keberatan dengan saya dan pilihan-pilihan hidup saya dengan pertimbangan apapun, percayalah bahwa saya akan berusaha menopangnya sendiri."

saya senang, saya senang kata-kata itu tak terucap meski pernah terpikirkan. saya senang karena saya mengalah kali ini. saya senang karena telah mengikis ke-aku-an saya di hadapannya. saya senang. saya senang. saya pun senang karena kali ini saya mendengarnya berbicara dengan tenang.

ah, ibu terkasih, maafkan anakmu ini. hitungan usia yang semakin menua belum mampu menjamin kebahagiaanmu mudah terkumpul. maafkan anakmu yang belum mampu tumbuh sebagai seorang manusia yang baik, cekatan, dan bertanggung jawab.



adieu 'bayi' beberapa saat setelah dilahirkan, seorang perempuan muda kelelahan yang tidak lain adalah ibu saya yang cantik, uwa, dan neneto

t a k u t

Dua bulan sejak mentari bilang permisi dan bergegas pergi, seorang perempuan berteriak. Teriakannya benam, namun ia seperti hendak membiarkan langit retak dan harapannya menerabas bebas lewat celah-celah menemui dan bersujud serupa Adam meminta ampun pada Tuhan.

Sederhana. Sesederhana gerimis pada siang yang terang.

“Tuhan, hilangkan satu dari hidupku: ketakutan*.”



------------
saya menemukan catatan ini dalam kotak. dan bagi saya sekarang, tentunya catatan itu belum harus bertemu titik sebelum "(Tuhan, hilangkan satu dari hidupku: ketakutan) yang membuatku takut selain pada-Mu".

euforia malam-malam













kali ini saya menumpahkan kegilaan saya malam-malam bukan di hadapan adiknya kukut melainkan di hadapan kompor portable-nya fatma yang sudah mulai remong di sudut kamar (hehe... maaf ya, ncep. nanti kalo si emud datang, saya bersihin. janji). sahabat saya pun begitu. di malam yang berbeda, euforia kami benar-benar membuat saya dan sahabat saya mendadak sibuk, tak bisa lama-lama duduk. dan hasilnya, jreeeenggggggg....
tugasmu adalah mencari persamaan dari kedua gambar di atas. and which one do you think is more delicious? punya saya atau sahabat saya?

*GEJE*