maka biarkan saya sekali lagi menekuri segala hal yang bermunculan di kepala kali ini dan setiap kali saya bertanya dan ditanya: "sekarang tanggal berapa ya?"
"time is running. make plans and give actions, adieu," ujar sahabat saya suatu malam.
menyimaknya, kadang membuat saya merasa ingin berkata "suka-suka saya lah". namun belakangan ini saya lebih sering sumringah dibuatnya.
dilecut. anggap saja itu kata yang rasa bahasanya lebih menyenangkan untuk mewakili saya yang lebih sering memilih jadi "pemalas". bukan untuk diamini oleh malaikat (na'udzubillaah). saya hanya menyebutkannya agar kesadaran untuk beranjak dan merasa perlu untuk melakukan sesuatu itu muncul sesegera mungkin. bahwa rasa malas itu adalah pembunuh yang paling handal bagi manusia yang potensial. bukan begitu?benar, manusia yang belakangan senang dilecut itu adalah saya. salah satu di antara mereka yang harus segera menyelesaikan sejumlah pencapaian dalam belasan bulan ini. dan hari ini sudah dua dua. bulan ini sudah enam. tahun depan akan dijelang. harapan dan tuntutan itu harus mulai tunai. setidaknya, seperti yang sahabat saya katakan, rapi dan jelas terencana serta punya aksi. di luar itu, bukan saya yang punya kuasa, bukan pula sahabat saya, bukan pula orang tua saya, bukan pula kamu. tapi Allaah SWT.
saya kadang berpikir, mengapa hawa nafsu diciptakan, jika sigap dan ketaatan adalah keharusan? ah pertanyaan nakal itu sudah tak lagi mempan untuk membuat saya terus membangkang. lenyap saja, wahai tanya. karena bagi saya sekarang bukan itu yang harus masuk dalam hitung-hitungan hidup. lalu apa? kesementaraan ini tak boleh lagi sia-sia. itu saja.
dan saya yang senang dilecut belakangan ini harus sadar bahwa hari ini sudah dua dua, bulan ini sudah enam, dan tahun depan akan segera saya jelang, insyaAllaah, dengan berbagai pilihan-pilihan, rencana-rencana, harapan-harapan, tuntutan-tuntutan, dan tentu saja kesediaan untuk menerima ketentuan-Nya, apapun itu.
lantas, di ujung dialog penghujung malam itu, sahabat saya bertanya: "sampai kapan kamu harus dilecut, dieu?"
saya tersenyum. every moment has each time, dan kesementaraan tak lagi boleh sia-sia. itu saja.


0 comments:
Post a Comment