...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

Showing posts with label siang. Show all posts
Showing posts with label siang. Show all posts

momento (2)

akibat jalan kaki, maka berjalan kakilah sewaktu-waktu
dinas pekerjaan umum bilang, "hati-hati banyak jalan berlubang". bagi mereka yang memiliki kendaraan barang kali sugesti perusahaan milik pemerintah ini adalah petunjuk paling jitu terhindar dari musibah. tapi buat pejalan kaki seperti saya, peringatan itu seperti tak lebih dari pernak pernik. saya hanya akan mengatakan "oo" dan kembali melangkahkan kaki mendekati lubang jalan yang digenangi air bekas hujan beberapa saat sebelumnya.

tentu saja bukan untuk bercermin dan mengamati wajah sampai mampus seperti narcissus dalam mitologi yunani. buat saya yang pejalan kaki ini, genangan air di lubang jalan adalah a way to enjoy universe, a way to watch the sky, a way to be grateful that Allaah SWT still gives me chance to see a very great creature in this very short life.

dan buat saya, inilah saat dimana saya memergoki langit tengah menempel di permukaan bumi. what a beautiful moment to capture a very nice scene ever..



-------
* tulisan ini tak membuat saya urung menuntut agar dinas pekerjaan umum segera memperbaiki jalanan keriting yang nyaris terhampar di seluruh negeri ini.

perempuan yang tangisnya tumpah karena berpisah

siang itu tangisnya tumpah begitu saja. kata-katanya tercekat. beku. semua menunggu.

saya tidak terlalu mengerti tentang arti sebuah kebersamaan mungkin. saya menganggapnya sedikit berlebihan. tapi rasanya, kali ini saya harus mulai mengalah.

dan perempuan itu tangisnya tumpah begitu saja. perpisahan baginya sangat menyedihkan. dan tangisnya yang tumpah itu mengundang air mata dari kelopak-kelopak mata lain dari sebagian besar orang di ruang ini ikut menerabas, menyapa udara bebas.

ia pun mulai bicara. tentu saja dengan suara terbata-bata.

saya cukup mengerti dengan ritme ini, tidak patut saya sesali. tapi sedih bagi saya ketika saya harus berpisah dari orang-orang saat saya sudah tak lagi menyekatkan jarak dengan mereka, lirihnya. dan perempuan itu melanjutkan ceritanya, menayangkan kenangan-kenangannya yang baginya tak bisa terlupakan.

saya tersenyum dan berpikir, begitu dalamkah ia memaknai kebersamaannya dengan orang-orang yang baru ia kenal dalam beberapa bulan ini? saya bergumam, Maha Suci Engkau Wahai Dzat Penggenggam Seluruh Jiwa yang telah menjadikan perintah dan larangan-Mu sebagai pengikat bagi kami, peruntuh benteng-benteng egoisme kami.

dan perempuan yang tangisnya tumpah begitu saja itu mengingatkan saya tentang satu hal. kebersamaan, kedekatan, rasa saling empati dan bersimpati, atau apapun yang semacamnya seringkali bermakna saat perpisahan datang. dan seringkali kedatangannya disambut dan disalami dengan kesedihan dan mata yang berlinang.

ingatkah bagaimana Rasulullaah SAW menitikkan air mata saat mautnya tiba karena memikirkan umatnya? dan ingatkah bagaimana para sahabat RA yang sangat mengasihi beliau SAW tersedu melepas kepergian sang kekasih Allaah itu?

baiklah, kali ini lagi-lagi saya memang harus mengalah.


mudzakarah, 28 maret 2010

noise

belakangan ini siang selalu tidak terang. entah dengan tinju macam apa, langit biru tiba-tiba berubah, melebam kelam. dari tepi jendela yang selalu ingin segera saya kunci saat hujan mengabarkan kedatangannya, ilalang dan pohon jagung itu berkerasak oleh angin yang marah, kadang ke kiri, kadang ke kanan. lansekap tiba-tiba menjadi sangat menyeramkan bagi saya. dan saat itu juga ingatan dan bayangan paling buruk bermunculan.

global warming. mungkin itu dalih ilmiahnya. cuaca sudah tak bisa lagi ditentukan dengan hitung-hitungan. semua bisa terjadi tiba-tiba. ya, seperti langit yang terpampang jendela siang-siang belakangan ini. dan manusia menjadi lebih pandai menerka dan mereka-reka.

begitupun saya, dari cerita hidup yang berkabut belakangan ini, maka saya menaksir bahwa dunia memang sedang menyempit dan tiba-tiba penuh dengan kelokan. ingatan dan bayangan buruk yang biasa muncul di tepi jendela saat hujan mulai datang siang-siang itu seperti makin punya tempat, mengisi relung-relung kosong di kepala saya. menjadi katup yang membuat pori-pori mampat dan sirkulasi terhambat.

yang tersisa di saat-saat seperti itu hanya nafas yang terengah karena saya seperti bermeiosis, membelah dua, menjadi negatif dan positif yang keduanya saling beradu mulut, mendebatkan saya yang berkabut.

soebagjo sastrowardoyo pernah bergumam: melalui dosa kita dewasa. tapi saya tidak ingin dewasa dengan menambah daftar panjang kesalahan yang suatu saat akan mengemis meminta tanggung jawab. maka anggap saja soebagjo sedang berbicara tentang penyesalan. penyesalan yang serupa pemantik agar orang enggan lagi bermuara padanya. dan rasa sakit saat menghayati penyesalan, anggap saja itupun pemantik agar orang semakin tegar, pasrah, namun berbuat lebih setelahnya.

dan siapa yang menyangka, bahwa setelah siang yang menyeramkan itu ada senja yang jingga. senja yang membuat saya kembali membuka jendela. dan pada senja semacam itu pula datang selembar kertas dan sebuah pesan di dalamnya: maka sapuhlah kabut itu dengan keyakinan bahwa masalah adalah semacam 'noise' yang membuat hidup sedikit dramatis. semacam jeda ketidaksiapan menerima porsi. ada keinginan. ada tuntutan. tapi itulah porsi, sang Transenden tidak akan memberikan porsi tak wajar bagi masing-masing ciptaan-Nya. maka panjatkanlah: Allaahumma assir wa laa tu-assir. dan tersenyumlah sedikit saja setelahnya.

kata vira: tidak ada jalan pintas, yang dilakukan adalah berjalan lurus dan pelan-pelan, lamat-lamat, nikmati suara gemuruh, untuk itu jangan sekali-kali menutup telinga dengan kedua tangan. dekapkan saja lengan itu di dadamu, jika hari semakin dingin, berjalanlah agak cepat, bukan berlari. tersandung akan memperpanjang jarak. tak ada jalan pintas, tidak juga saya berminat berbalik arah lalu mencari batu besar untuk bersembunyi di baliknya. santai saja, seperti note di balik pintu yang berbunyi: This Too Shall Pass.

asylum

kebahagiaan saya suatu siang tumpah pada kolom kecil di satu halaman surat kabar. saya girang sekali. kadang ketidaksengajaan lebih punya kesan. saya tidak pernah berpikir bahwa untuk pertama kalinya, selama lebih dari dua puluh tahun menjadi saksi bumi mengelilingi matahari, saya jadi tertarik untuk merasionalkan "rasa suka" dan "tidak suka".

"ngga! makasih!" tolak saya tiba-tiba pada perempuan pemakan segala itu, sambil bergegas menyelesaikan bacaan di pojok kertas yang kedua ujungnya dalam hitungan puluhan menit lagi mungkin akan membuat lengan saya pegal.

diam-diam saya mencuri celah untuk menautkan pandangan padanya. seperti yang saya duga, air mukanya mulai tidak bagus untuk dibiarkan tanpa kata tanya: "kenapa?"

"kenapa ngga mau?" saya ingat betul di kata bagian mana ia memenggal nafasnya dan memunculkan kekesalannya.

ia nampak bertambah tidak suka melihat senyum yang saya lemparkan.

"nih!!!"

kertas koran itu pun segera diraihnya. ia membaca, begitu dalam dan sungguh-sungguh. berharap di antara huruf-huruf yang berbanjar rapi itu, penasarannya tuntas.

mata saya kembali berkeliling.

dan tiba-tiba....

sadar, bahwa di dalam ruas-ruas integral seorang manusia yang duduk di sebelahnya ini ada yang tidak hendak berubah, ada yang enggan berkemas untuk kemudian beranjak lepas: egoisme.

saya: "es tehnya buat saya aja ya! haus ternyata..."

------------------------
perempuan, dingin tak selalu egois, panas tak selalu altruis.
keduanya hanya soal suhu yang berbeda dan suka yang tak pernah sama.