belakangan ini siang selalu tidak terang. entah dengan tinju macam apa, langit biru tiba-tiba berubah, melebam kelam. dari tepi jendela yang selalu ingin segera saya kunci saat hujan mengabarkan kedatangannya, ilalang dan pohon jagung itu berkerasak oleh angin yang marah, kadang ke kiri, kadang ke kanan. lansekap tiba-tiba menjadi sangat menyeramkan bagi saya. dan saat itu juga ingatan dan bayangan paling buruk bermunculan.
global warming. mungkin itu dalih ilmiahnya. cuaca sudah tak bisa lagi ditentukan dengan hitung-hitungan. semua bisa terjadi tiba-tiba. ya, seperti langit yang terpampang jendela siang-siang belakangan ini. dan manusia menjadi lebih pandai menerka dan mereka-reka.
begitupun saya, dari cerita hidup yang berkabut belakangan ini, maka saya menaksir bahwa dunia memang sedang menyempit dan tiba-tiba penuh dengan kelokan. ingatan dan bayangan buruk yang biasa muncul di tepi jendela saat hujan mulai datang siang-siang itu seperti makin punya tempat, mengisi relung-relung kosong di kepala saya. menjadi katup yang membuat pori-pori mampat dan sirkulasi terhambat.
yang tersisa di saat-saat seperti itu hanya nafas yang terengah karena saya seperti bermeiosis, membelah dua, menjadi negatif dan positif yang keduanya saling beradu mulut, mendebatkan saya yang berkabut.
soebagjo sastrowardoyo pernah bergumam: melalui dosa kita dewasa. tapi saya tidak ingin dewasa dengan menambah daftar panjang kesalahan yang suatu saat akan mengemis meminta tanggung jawab. maka anggap saja soebagjo sedang berbicara tentang penyesalan. penyesalan yang serupa pemantik agar orang enggan lagi bermuara padanya. dan rasa sakit saat menghayati penyesalan, anggap saja itupun pemantik agar orang semakin tegar, pasrah, namun berbuat lebih setelahnya.
dan siapa yang menyangka, bahwa setelah siang yang menyeramkan itu ada senja yang jingga. senja yang membuat saya kembali membuka jendela. dan pada senja semacam itu pula datang selembar kertas dan sebuah pesan di dalamnya: maka sapuhlah kabut itu dengan keyakinan bahwa masalah adalah semacam 'noise' yang membuat hidup sedikit dramatis. semacam jeda ketidaksiapan menerima porsi. ada keinginan. ada tuntutan. tapi itulah porsi, sang Transenden tidak akan memberikan porsi tak wajar bagi masing-masing ciptaan-Nya. maka panjatkanlah: Allaahumma assir wa laa tu-assir. dan tersenyumlah sedikit saja setelahnya.
kata vira: tidak ada jalan pintas, yang dilakukan adalah berjalan lurus dan pelan-pelan, lamat-lamat, nikmati suara gemuruh, untuk itu jangan sekali-kali menutup telinga dengan kedua tangan. dekapkan saja lengan itu di dadamu, jika hari semakin dingin, berjalanlah agak cepat, bukan berlari. tersandung akan memperpanjang jarak. tak ada jalan pintas, tidak juga saya berminat berbalik arah lalu mencari batu besar untuk bersembunyi di baliknya. santai saja, seperti note di balik pintu yang berbunyi: This Too Shall Pass.


3 comments:
Kalimat-kalimat yang cantik dan kontemplasi yang menarik. Sy suka analisa dikau tentang Subagyo itu. Sekali-kali orang harus husnudzan ya? dan sekali-kali di era konspirasi ini orang harus suudjon haha.
ya, pada porsinya. inget pram ngga? dia bilang, kita ngga bisa jadi orang gila hanya dengan melihat dunia dari sisi yang baik-baiknya saja, seperti halnya kita bisa menjadi orang sakit dengan hanya melihat dunia dari sisi yang mengerikannya saja.
saya suka, sy suka.
Di dalam setiap orang suci ada pelacur, ada gigolo yang selalu memanggil2. dan antitesisnya, disetiap gigolo ada orang suci yang selalu mengajak kembali.
Statement2 dari khasanah luar kadang memang memerlukan antitesis untuk diambil hikmahnya.
Tuh, bisa dibuat tulisan tuh....
Post a Comment