...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

Showing posts with label bicara. Show all posts
Showing posts with label bicara. Show all posts

this is the great way to define what you bravely called "terrorism"

when America takes one million lives in Iraq for oil: Not Terrorism
when Serbs rape Muslim women in Kosovo/Bosnia: Not Terrorism
when Russians kill 200,000 Chechens in bombings: Not Terrorism
when Jews kick out Palestinians and take their land: Not Terrorism
when American drones kill entire family in Afghanistan/Pakistan/Somalia/Libya/Yemen: Not Terrorism
when Israel kills 10,000 Lebanese civilians due to two missing soldiers: Not Terrorism
when Muslims retaliate and show you how you treat us: Terrorism
it seems like the word "terrorism" is only reserved for Muslims.

adios, bugi!!!

di jalan sepanjang seratus meter yang sepi ini, saya tak henti bergerutu. ada yang salah
dan selalu disesali setelahnya. tak bisa dibayangkan, hanya karena kesalahan kecil itu yang saya lakukan, dia harus mengakhiri riwayatnya.

saat-saat duka itu datang kemudian. manusia memang mahkluk yang paling pandai menjadikan kepergian, perpisahan, dan kesedihan 100 kali lipat lebih dramatis dari kenyataan. termasuk saya sepertinya.

pukul 12.10 saat itu, bersama seorang kawan lama... kami berdua hendak menikmati mie baso pinggir gerbang unpad yang aromanya menggoda siapapun yang lewat. namun cara jalan saya yang lasak membuat kaki saya tergelincir. dan ...

dan begitulah seketika, tanpa ada pesta perpisahan dan bahkan firasat yang mengatakan bahwa waktu kebersamaan kami yang lebih dari tiga tahun harus berakhir, bugi menamatkan riwayatnya. tempat saya menjepitkan jempol dan keempat jari kakinya itu putus.

di jalan sepanjang seratus meter yang sepi ini saya tak kunjung henti bergerutu sambil membaca lembar-lembar ingatan saya bersama dia yang selalu mendampingi langkah saya dalam banyak hal, dalam banyak momentum hidup dimana tawa dan tangis bisa tumpah tanpa penadah.

adios, bugi!!!!*


-bugi, rest in peace

------------------------------
* kadang saya bingung saat akan bepergian. bugi saya sudah tidak ada. tak ada satu alas kaki pun yang bisa menggantikan sandal gunung yang gagah dan tegar itu.

vague

kami, saya dan beberapa kawan, pada suatu pagi, akhirnya terjebak pada pembahasan serius tentang sejarah. terlalu pagi untuk pembahasan seserius itu. ayam pun masih enggan bersenandung. tapi saya merasa beruntung karena ada saatnya saya merasa butuh kawan-kawan serupa mereka.

"sejarah adalah jejak-jejak kaki di padang pasir. badai, bahkan angin kecil bisa kapan saja menghapusnya," ujar kawan saya yang a.

"bukan. sejarah adalah hak setiap mereka yang menang dan punya kuasa," tutur kawan saya yang b.

kawan saya yang c tidak mau ketinggalan "sejarah itu abu, hitam dan putih yang tidak jelas."

"makanya, kita tidak bisa sembarangan mempercayai sejarah. butuh ketelitian. tidak sembarang catatan, tidak sembarang peninggalan, dan pastinya diceritakan oleh orang-orang yang 'pantas', 'layak', 'mampu', dan 'bertanggung jawab' atas segala macam peristiwa yang ditatahnya, disampaikannya," timpal kawan saya yang d.

"oo... butuh ketelitian?" tanya saya.

"ya, itu yang paling penting," katanya meyakinkan.

"masak?" tanya saya lagi.

"apa lagi?" kawan d terlihat sedikit kesal.

"ada lagi yang lain, menurut saya."

"apa?" kawan c seperti merasa perlu penasaran.

"kesabaran dan secangkir kopi"

raut muka kecewa, kesal, dan dua menampakkan kegelian mengiringi tawa saya yang renyah. dan kami pun kembali pada buku kami masing-masing, pada pagi kami masing-masing, pada khayalan kami masing-masing tentang siang yang entah akan menjadi saksi peristiwa sejarah penderitaan apa lagi di muka bumi. pada akhirnya, ayam bangun dan kami memanjatkan doa kami masing-masing. mungkin doa yang sama: semoga ini adalah hari terakhir kami dan saudara-saudara kami menderita.

kertas

Seorang kawan mengirimi saya pesan pendek,
"Saya sedang di polres. Anker juga ya."

Berkali-kali saya pun mengiriminya balasan pertanyaan yang sama: "Kenapa?", namun kawan saya yang belum lama berhenti bolak-balik kampus itu tak kunjung memberikan jawaban menentramkan.

Jujur, pasca tayangan rutin kegagahan polisi dan densus 88 yang marak di televisi, saya agak parno. Tepatnya bosan dan parno pada segala hal yang berbau seragam, senjata serta birokrasi.

"Lagi ngurusin surat kelakuan baik nih," katanya lewat SMS.

Akhirnya saya lega sekaligus bertanya-tanya. Lega karena itu artinya kawan saya tidak terjerat tindak-tanduk 'terorisme' dan 'semacamnyah' yang pemberitaannya nyaris membuat saya muak dan hampir muntah. Tapi yang mengherankan adalah, mau-maunya kawan saya itu meminta restu pada kepolisian yang tiba-tiba dan seolah-olah tahu betul perjalanan hidupnya, dan lantas mengesahkannya sebagai warga negara Indonesia berkelakuan baik melalui selembar kertas?

Pada saat yang sama, di pagi buta, di dalam kamar kosan saya hadir tiga orang petarung tes CPNS (dua kawan dari Solo dan satu kawan dari Jakarta) yang tengah sibuk mempersiapkan segala amunisi, lagi-lagi didominasi dengan kertas dan kertas dan kertas, sebelum akhirnya mereka berangkat dan menghindari telat di kampus para nindya praja

Nampaknya zaman hendak semakin meringkas hidup dan keberlangsungannya dalam berlembar-lembar kertas yang mudah hilang, luntur, dan terbakar. Jika sudah begitu, maka akan ada banyak orang yang siap-siap mengincar dan minta bayar.