...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

Jika Khalid bin Walid menebus dosa-dosanya dengan selalu menjadi orang terdepan dalam barisan perang.. Dan jika Wahsyi bin Harb menebus dosanya dengan menghunuskan tombak yang dulu meregangkan nyawa Hamzah paman terkasih Rasulullah saw ke dada Mushailamah al-Kadzdzab.. Maka amalan sebanyak apa yang bisa kau tanamkan untuk melebur dosa-dosamu itu?

(diambil dari catatan "nenek" terkasih yang tak pernah kehabisan cara untuk membuat saya mempertanyakan diri sendiri dan mempertanyakan hidup macam apa yang tengah dan harus saya jalani.... atashi wa omae no kotoga suki desu)

Attitudes Toward Women in Islam vs. the West

by: Dr. Nazreen Nawaz

"Every society embraces the particular values that it honours, respects, and protects. However, the subject that is given such honour varies according to the viewpoint that the society and the state are established upon. This attitude towards honour will then consequently spread to shape the opinions of the individuals within the society at large.

Within a capitalist state, empty rhetoric is often expressed regarding the honour, care and protection given to the wife, mother, daughter and career woman. However, behind such words, the reality is very clear: the only object worthy of honour, care and protection is money and the values of freedom and democracy. Hence, we observe a situation in Western societies where the use of pornography and images of naked women to sell products has become an acceptable means due to its ability to create massive revenue.

Under the guise of personal freedom that stipulates that an individual should live his life according to his own desires and under his own accountability, we see an epidemic of crimes against women ranging from sexual harassment and rape to domestic violence. Women are encouraged by the male-run fashion industries to wear as little clothing as possible to reveal their beauty to all. We also see that slanderous allegations against the reputation of women have become commonplace in the media and within society at large. It is clear that the view of the woman being an economic commodity for the man, or tool to simply fulfil the desires of man, affects all levels of the society from the politicians, police force, army and doctors, to the simple man on the street. Such is the result of the capitalist ideology.

The antithesis to this situation is the deen of Islam where the true preservation of the honour of the woman is viewed as a life and death matter to be given the utmost care and attention. This is exhibited by the society and state and at all stages within the Muslim woman's life as a daughter, wife, and mother. The Prophet (saw) said, "Whoever dies protecting his honour dies shaheed." The woman is one of those honours placed within the palm of the man as an amana (trust) from his Creator Allah (swt) to be protected at all times. This attitude within an Islamic State would also affect every level of the society from the ruler, army, Qadis and to the man on the street.

An international view that has been propagated as to how the woman can achieve respect and honour within the society is to adopt the Western lifestyle, dress and to become a successful career woman. Alongside this, women have been instructed to call for the values of liberation, freedom, and equality and to aid the transformation of the systems of ruling within their countries to become more in tune with the Democratic system of government that secures all freedoms of the capitalist West. In contrast, the image portrayed of Islam is that it dishonours the woman by forcing her to cover in the khimar and jilbab, by encouraging early marriage, by commanding obedience to the father as a daughter and to the husband as a wife and by allowing polygamy for the man. The Western media, as proofs for their claim, repeatedly cite the existent pseudo-Islamic states such as Afghanistan and Saudi Arabia.

The Western world calls for the Muslim woman to lock the Qur'an in the cupboard and disregard the rules and roles that emanate from Islam. It calls for her to uncover her beauty so she may be appreciated by men, to socialise freely with male friends and colleagues so as to elevate her status, to pursue her career at the expense of marriage and her marital duties and to call for further freedoms within her society.

Unfortunately, many of our dear sisters have taken this path, feeling that this will bring them the honour and protection that they desire as Muslim women within society. It is an attack that has been consistent over the past 150 years or so and this concept has corrupted the mentality of the rulers, scholars and intellectuals of this Ummah. Qasim Amin, an Egyptian judge in the 19th century, wrote a book entitled, Al Mara'at al Jadida (Modern Woman). In this, he rebukes Egyptians for glorifying their Islamic past and taking pride in their Islamic culture. He advises the Muslim woman to take the Western woman as her role model in order to elevate her status and the status of Egyptian society. He writes, "This is our real ailment which needs to be eradicated first of all. The first way to get rid of it is that we should make our younger generations acquainted more and more with Western civilisation and its conditions and circumstances ... We will realise the value and importance of Western civilisation and see for ourselves that no reform is possible unless it is based on modern Western knowledge ... For this very reason we project the people of the West as a symbol of perfection, insist on their veneration as an ideal, and appeal to our countrymen to study the position and status of the Western woman."

With this in mind, it is important for us to examine the true reality of the status of the honour of the woman within the western capitalist states and the consequences of the call for ideas such as freedom and liberation. Has the achievement of a successful career, a free lifestyle, and a greater voice in the parliamentary process and democracy brought her the honour, status, protection and security that she desired?

feel it!!

To feel the love of people whom we love is a fire feeds our life. But to feel the affection that comes from those whom we don't know ... is something still greater and more beautiful.
-Pablo Neruda-

boogie galak

Rasa-rasanya Bugi makin hari makin galak. Ia seperti kambing tetangga, yang biasa digembalakan di depan rumah kawan saya waktu kecil. Kambing sentimen itu selalu grasak-grusuk tiap kali saya lewat.

Ya, kambing itu sentimen karena tidak dilahirkan sebagai seorang saya yang bisa memakai celana pendek dan kaos kebesaran dengan rambut panjang yang selalu diikat dua. Kambing itu sentimen karena ia sudah tahu bahwa 17 tahun kemudian, jika saja ia jadi saya, akan mengalami ujian masuk kampus dua kali dengan modal nekat dan nakal. Kambing itu juga sentimen karena jika ia jadi saya, ia sudah tahu bahwa saya akan membicarakannya melalui blog yang kemungkinan besar ditemukan dan juga dibaca orang lain.

Padahal seharusnya dia bersyukur bahwa setidaknya ia menjadi selebritis dalam tulisan ini, meskipun tanpa nama yang cukup menjual yang selama ini dijadikan prasyarat bagi mereka yang ingin menunaikan hidup sebagai bulan-bulanan aktivis gosip. Saya tetap menyebutnya kambing, sebagaimana mestinya, karena saya tidak mau menamai dia Mawar sebagai samaran.

Dan yang pasti, meskipun ia pernah sentimen dan grasak-grusuk, saya tetap ingin berterima kasih padanya karena ia telah menginspirasi saya untuk menyamakan kegalakan Bugi dengan dirinya.

Tiga kaos kaki jari saya cedera dan kritis karenanya. Bagian jempol sebelah dalam terkelupas gara-gara sering dipakai mengepit Bugi. Huffffhhhhhh........ Bugi galak, mungkin juga karena ia sentimen pada saya. Ia sentimen karena selama hati kami saling tertaut, saya tidak pernah mencucinya, kecuali hanya sekali saja beberapa tahun lalu.

Saya juga tidak tahu mengapa Bugi tidak mengatakan kekesalannya pada saya. Mengapa harus anarkis, Bugi? Mengapa? Bukankah kamu dulu tidak keberatan pada saat kita berkomitmen untuk menyusuri hidup bersama saya? Saya bilang pada Bugi waktu itu, saya hanya bisa hidup dengan orang yang tidak terlalu banyak menuntut, sebagaimana saya pun tidak pernah ingin menuntut orang lain terlalu banyak karena masing-masing kita adalah sebuah ruang yang terhimpun dalam bangunan besar bernama hidup. Begitupun dengan Bugi, saya kira.

Saya cukup kecewa karena Bugi tidak pernah mau melakukan upaya yang cukup diplomatis dan main hantam saja ketika ia merasa berkeberatan terhadap sesuatu, terhadap saya. Korban pun sudah jatuh. Tiga kaos kaki saya yang juga saya sayangi seperti halnya Bugi, Tole, Kukut, dan Adiknya Kukut. Namun demikian, tidak adil juga jika berubahnya sikap Bugi belakangan ini menjadi alasan saya untuk berhenti mengasihinya, membuangnya, dan melupakannya begitu saja seolah kami tidak pernah bertemu dan menjalin serangkaian kisah yang nanti harus saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Saya tetap mengasihi Bugi. Sangat dan akan tetap mengasihinya selagi potensi saya sebagai manusia yang punya naluri mengasihi tidak dicabut Allah. Saya tetap akan mencatat kisah-kisah hidup saya bersamanya seperti Raqib dan Atid mencatat perjalanan hidup manusia.

Maafkan, Bugi. Maafkan Adieu. Suatu saat kita harus meluangkan waktu untuk saling bicara, sepertinya. Dan saat itu saya akan meminta kamu untuk mengatakan segalanya, segala yang selama ini tercekat dan menjadi kekesalan. Katakan, Bugi! Akan saya dengarkan. Dan saya harap saat itu kita akan saling mengerti, memahami, dan kemudian kembali menuju hidup dan menyusuri jalan seharusnya kita lewati. n_n

Review 90 Menit Bersama Sartre


Lagi... Karena buku ini hanya butuh 5.000 rupiah, akhirnya saya membelinya dengan harapan bahwa ketidakmengertian saya karena mencoba membaca Sartre lewat buku SARTRE UNTUK PEMULA beberapa tahun lalu terurai sedikit. Ya, sedikit saja. Apalagi buku yang saya pegang sekarang jauh lebih tipis daripada buku sebelumnya--yang mungkin lebih tebal karena dikemas versi komik.

Dan tahukah, ternyata bukan 90 menit yang saya butuhkan untuk sekedar menuntaskannya. Tapi 1 minggu (inilah bukti bahwa saya adalah seekor kura-kura dalam hal membaca buku). Dan untuk mengerti konsep eksistensialisme yang dibidani oleh filsuf juling pasangan hidup Simone de Bauvoire itu, tentu saja butuh waktu yang lebih dari sekedar 90 menit ataupun tiga hari.

Tapi buku ini sedikit memberi gambaran mengenai perjalanan kehidupan Jean Paul Sartre dan bagaimana sampai akhirnya ia memunculkan gagasan yang dititikberatkan pada kebebasan seutuhnya dari seorang manusia. Konteks dimana Sartre hidup tentunya sangat berpengaruh pada pemikiran yang saat ini kita kenal dengan nama eksistensialisme.

Eksistensialisme berbicara bagaimana meletakkan setiap manusia pada posisi memiliki dirinya sendiri apa adanya, dan membebankan keseluruhan tangung jawab bagi eksistensinya di pundaknya sendiri (L'Existensialism est un humanism). Eksistensi hadir ketika manusia sampai pada titik dimana ia memiliki pilihan-pilihan. Dengan kata lain, manusia bukan apa-apa pada mulanya, dan selanjutnya ia akan menjadi apa yang diperbuatnya sendiri. "Tindakanku menyebabkan nilai-nilai berkembang seperti ayam hutan." (Being and Nothingness)

Tapi jujur saja, sebagai orang yang memang memiliki kelambatan berpikir, saya memiliki kesulitan untuk memahami Sartre dan eksistensialisme hanya dengan buku tipis ini. Mungkin dibutuhkan buku-buku atau literatur lain untuk menunjang rasa penasaran saya. Dan yang paling penting adalah menciptakan perbincangan. Karena tanpa proses interaktif, saya tak bisa kunjung beranjak dari ketidaktahuan dan ketidakmengertian.