...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

silence

Aku tiba-tiba ingin membangun sebuah ruang cemas yang kau berikan senja itu, bersama langit yang tak kunjung bulat mempersembahkan hujan.

Tempted in our minds
Tormented inside lie
Wounded and afraid
Inside my head
Falling through changes

Did you know when you lost?
Did you know when I wanted?
Did you know what I lost?
Do you know what I wanted?

Empty in our hearts
Crying out in silence
Wandered out of reach
Too far to speak
Drifting unable

Did you know when you lost?
Did you know when I wanted?
Did you know what I lost?
Do you know what I wanted?

[Portishead, Silence]


-----------------------------
Untuk siapapun yang selalu berusaha menerjemahkan penantian dengan cemas.

jendelaku, jejakku mengingat

Saya sedang mandeg. Semua sedang terasa membosankan buat saya. Banyak yang hampir luput saya ingat. Orang-orang yang mengelilingi hidup saya. Bapak dan Ibu, terutama. Juga harapannya: "Kapan kamu lulus, Adieu?".
Hffhh...
Itulah mengapa saya bilang hidup tidak melulu bercerita tentang diri sediri, tapi juga orang-orang lain dengan kepentingannya masing-masing. Mudah-mudahan saya kembali menyadari itu semua, menyadari status saya sebagai anak bagi orang tua yang sudah mati-matian menyambung hidup untuk saya hingga saat ini.
Saya ingin sekali mensyukuri apapun, bahkan untuk segala yang tidak saya miliki. Saya sangat yakin, dari situ saya bisa belajar banyak. Tentang harapan, tentang kekecewaan, tentang sukses dan gagal, tentang tabah, tentang marah, tentang tangis, tentang bahagia, juga tentang bagaimana selanjutnya hidup harus saya jalani.


Bu, Pak, ternyata Adieu menemukan jejak-jejak harapan kalian di sini, di ruang ini. Ruang yang Adieu persembahkan untuk kalian: jendelanalar.

siapakah yang lebih arif?

"Aku ga mau lagi kayak gini. Rasanya aku ingin kembali ke masa laluku. Lebih mending, ketimbang sekarang. Aku seperti tahu segalanya, tapi seolah kehilangan juga banyak hal. Aku capek. Aku capek. Aku ingin pergi. Kemanapun asal jangan kembali ke tempat ini."
Senja itu, begitu bertemu ia menyeret saya ke sebuah pojokan. Berbicara begitu deras, sederas hujan yang datang beberapa hari belakangan ini. Saya tertegun beberapa saat, sampai akhirnya saya sadar bahwa ia hanya hendak bercerita, tidak mencari nasihat atau apalah yang semacamnya.
Ia, perempuan jangkung itu, kawan saya. Kami sama-sama perantau, datang dari daerah yang sama. Dulu, saya sempat sangat dekat dengannya karena sebuah tekanan yang sekarang membuat saya sangat merasa bersalah (dan setidaknya kini saya tahu bagaimana sebaik mungkin saya berusaha tetap mempertahankan hubungan pertemanan saya dengannya). Ia geram dengan kondisinya sendiri, juga pada keadaan yang mengelilinginya. Ia merasa tak tahan lagi dengan tuntutan, yang perlahan mengikis identitasnya sebagai seseorang. Ia hendak berontak, tapi tak hendak membuat kekacauan. Seperti ragu-ragu, saya bilang waktu itu. Tapi bukan begitu kenyataannya. Ia hanya ingin menghormati orang-orang dan hal-hal yang, katanya, telah mempertemukannya dengan 'pengetahuan'-nya sekarang.
Luar biasa. Saya beberapa kali menunduk, berusaha berkaca pada diri sendiri. Perempuan jangkung itu membuat saya banyak merenung. Jangan-jangan masih ada ruang dalam hidup saya yang luput dari usaha saya untuk tetap menjadi lebih arif (semoga..). Ia tegar, meskipun ia bergumam. Ia juga tegar, meski sikapnya dalam keadaan tertekan seperti itu kadang-kadang tidak masuk di akal saya sebagai manusia.
Keluhan seperti itu bukan pertama kali saya dengar. Beberapa kawan (dan saya waktu dulu), juga merasakan hal yang sama, tentu dengan penyikapan yang berbeda-beda. Saya sempat bertanya, sebenarnya apa yang terjadi? Mungkinkah salah langkah? Ataukah ada yang salah dengan komitmen seseorang untuk menyerempakkan langkah dalam sebuah barisan (barisan apapun itu)? Atau mungkin kesalahan ada pada langkah yang serempak? Langkah yang seolah mewajibkan seseorang untuk jadi kaki-kaki yang sama yang bergerak ke arah yang sama pada saat yang sama? Langkah yang satu komando?
Entahlah. Tapi saya kira (semoga perkiraan saya jauh dari sentimentalitas), seseorang punya hak untuk hidup sebagai dirinya sendiri. Atau setidaknya kepemilikan seseorang terhadap dirinya (potensi dan kesadarannya) tetap diberi ruang bahkan untuk menghayati nada seragam apapun yang dibunyikan.
Manusia memang bisa dikarbit, dicetak, diarahkan. Tapi kelak, selalu ada cerita bagi diri kita sendiri. Tanpa proteksi.
Dosakah? Hmm... Lagi-lagi entah. Karena saya tidak punya otoritas untuk menghakimi perbuatan, mengandung dosa atau pahala. Karena saya yakin, orang-orang yang saya temui adalah orang-orang dewasa yang selalu berusaha mencari tahu dan menyadari kapasitas dirinya. Dan yang saya yakini, Tuhan Maha Arif dari apapun.
Saya tiba-tiba ingat sebuah catatan yang saya kutip dari catatan seseorang yang terlalu sering saya kutip: Kearifan adalah soal yang sederhana tapi tak terelakkan. Dengan itu kita mulai mengakui, betapapun indahnya da menariknya hati yang bergetar oleh suatu keyakinan, betapapun mengharukannya hasrat untuk kemurnian, hidup tidak perlu tunduk hanya kepada satu cita-cita. Hidup selalu mengetuk bermacam, mungkin beratus-ratus, pintu. Dari semua pintu itu jalan keluar bisa terbuka ke bermacam taman. Kita tidak bisa membunuh setiap orang yang keluar dari pintu A atau memenjarakan mereka yang tidak melalui pintu B. Memang, dengan demikian terasa tidak ada lagi keyakinan yang membara. Tetapi justru yang berani yang tetap bisa berjalan menghadapi keruwetan, seribu pintu yang arahnya persis tidak kita tahu.

pangeran berkuda putih

Kawan-kawan saya, perempuan, terutama yang usianya sudah menginjak 20an selalu bercerita tentang keinginannya didatangi pangeran berkuda putih yang identitasnya, kata mereka, masih ditahan Tuhan rapat-rapat di langit. Saya sempat gatel juga mendengarnya. Bahkan karena itu saya jadi bertanya-tanya, apakah perempuan memang harus selalu begitu? Selalu jadi pihak yang menunggu dan berharap. Dengan kata lain, perempuan adalah pihak yang selalu "di-", bukan "me-".

Tapi saya sedang tidak ingin membahas itu (mungkin lain waktu). Saya hanya ingin menuliskan kembali apa yang saya baca beberapa waktu lalu. Tentang pangeran berkuda putih.

Kenapa pangeran berkuda putih seolah jadi mitos kaum hawa yang mulai berhasrat untuk menikah? Lewat Goenawan Mohamad akhirnya saya tahu bagaimana hal itu bermula.

Di sebuah negeri, Kartasura, menjelang pertengahan abad ke-17. Raden Sukra. Begitulah laki-laki itu punya nama. Ia adalah putra Raden Adipati Sindu Reja. Kerupawanannya membikin kesal putra mahkota, Pangeran Adipati Anom. Jadilah ia, laki-laki tampan yang memukau banyak orang itu, dibawa ke hadapan sang putra mahkota. Ia dikeroyok dan ke dalam matanya, dijejalkan semut hitam.

Sindu Reja geram. Tapi statusnya yang hanya seorang abdi raja, menciutkan keinginannya untuk menuntut balas.

Tidak dengan Sukra. Ia datang menemui Lembah, putri Pangeran Puger, dan bermaksud memikat perempuan cantik itu sebagai jalan untuk membalaskan kekesalannya yang menggelegak atas perlakuan sang putra mahkota. Datanglah Sukra suatu sore bersama Nirwati,kudanya yang putih, ke pertamanan istana kepugeran itu, tempat Lembah berjibaku dengan kemurungannya karena suaminya, sang putra mahkota,lebih asyik dengan perempuan barunya.

Hati-hati dengan cinta. Begitu salah satu pesan dituliskan. Cinta mengubah jalan cerita. Sukra dan Lembah benar-benar terjebak dalam sebuah kubangan yang mereka buat sendiri dengan sukarela.

Berita tentang kasmarannya dua insan itu terdengar oleh Adipati Anom, bahkan sampai ke telinga sang Raja. Tak tanggung-tanggung. Ayah Lembah,Pangeran Puger, diminta untuk membunuh sendiri putri kandungnya. Dan nasib Raden Sukra, sepertinya tak hendak berubah. Hidupnya tamat. Setelah terbujuk untuk menyerah dan diminumi racun, lehernya pun diinjak dan dipatahkan oleh pamannya sendiri, sang pengabdi Raja.

Begitulah. Mudah-mudahan keinginan kawan-kawan saya yang perempuan untuk didatangi pangeran berkuda putih bukan keinginan untuk mengakhiri cerita hidup seperti Sukra dan Lembah. Tentu saja karena mereka (kawan-kawan saya yang perempuan) dan saya tidak hidup di Kartasura pertengahan abad ke-17. Dan yang paling penting, mereka (kawan-kawan saya yang perempuan) dan saya, tidak hendak merekonstruksi sepenggal kisah lama yang diungkapkan dalam Babad Tanah Jawi tersebut.

Kita punya sejarah kita masing-masing, perempuan. Tapi apakah kita pun akan didatangi pangeran berkuda putih kita masing-masing, perempuan? Mungkin. Tapi mudah-mudahan bukan Raden Sukra pangeran itu. Haha...


(terinspirasi dari kawan-kawan dan Goenawan Mohamad)
------------------------
Kore wa nan desu ka, adieu? Teuing ah.......

apa buku?

Apakah buku? Ia adalah letupan imajinasi dari orang yang menulisnya. Namun iapun cermin dari orang yang membacanya.
Lalu, siapa yang lebih punya hak atas sebuah buku?

sempit

dunia menyempit,
hanya ada kau,
dan aku,
dan,
suara menderas dari kertas-kertas
yang kau kirimkan pagi itu....

butuh jeda

Kau punya bahasa sendiri untuk menjelaskan segala hal yang kau temui, segala hal yang kau pikirkan, segala hal yang kau rasakan. Bahasa yang sangat sulit kumengerti. Bahasa yang pelafalannya pun membuatku lelah. Bahasa yang berputar-putar. Namun barangkali sejak itu aku mengerti bahwa dunia tak mesti diterangkan dengan sesuatu yang seragam. Dunia tak mesti diterangkan dengan penyampaian yang tegas bentuknya. Karena mungkin saja kau lebih mengerti bahwa manusia, siapa pun ia, butuh jeda. Jeda untuk sekedar mencari pengertiannya sendiri.

bukan hanya cinta

Barangkali bukan hanya cinta yang membuat orang buta, tapi juga perut yang lapar.


(penghujung malam dimana kau mengakhiri ceritamu)

blue and yellow

Saya jatuh cinta pada The Used dan Blue and Yellow sejak saya KKN beberapa bulan lalu. Melalui seorang teman yang sering ngomel karena laptopnya berminyak (kami, user, tepatnya peminjam, sering menggunakan laptopnya sambil makan bala-bala). Sebuah irama yang mengingatkan saya tentang sebuah ruang perjalanan. Sulit, tapi saya sangat menikmatinya. Bahkan saya selalu bersyukur tiap kali saya menyigi ingatan tentangnya. Saya selalu bangga tiap kali fragmen-fragmen masa itu bermunculan dalam kepala.

And it's all in how you mix the two,
And it starts just where the light exists.
It's a feeling that you cannot miss,
And it burns a hole,
through everyone that feels it.

Well your never gonna find it,
If your looking for it,
won't come your way,
Well you'll never find it,
if your looking for it.

Should've done something, but I've done it enough.
By the way, your hands were shaking,
Rather waste some time with you.

And you never would have thought in the end,
How amazing it feels just to live again,
It's a feeling that you cannot miss,
it burns a hole, through everyone that feels it

Well you're never gonna find it,
If your looking for it, won't come your way, yea
Well you'll never find it, if you're looking for it.

Should've done something, but I've done it enough.
By the way, your hands were shaking.
Rather waste some time with you.

Should've said something, but I've said it enough.
By the way, my words were faded.
Rather waste some time with you.

ia sering (men)tertawa(kan saya)

Akhir-akhir ini saya sering mendengar ibu tertawa. Sangat sering. Ibu menertawakan saya. Ia menertawakan langkah-langkah serius yang mulai saya pilih. Ia selalu tertawa ketika saya mulai bicara serius tentang hidup. Dan pada saat itu, saya jadi blingsatan. Apa yang harus saya lakukan untuk membuat ibu tetap bersikap wajar? Biasanya saya mengalihkan topik pembicaraan. Menanyakan sedang apa adik saya yang paling kecil, atau menanyakan kesehatan kakek dan neneto, atau apa saja yang setidaknya membuat saya kembali menemukan posisi ‘aman’ saya sebagai anaknya yang manja.
Tapi mungkin saya sedikit mengerti. Tawanya yang renyah serupa ucapan: “Adieu anakku tersayang, ibu menyayangimu, benarkah akan kau lakukan itu?”
Ragukah ia pada kemampuan anaknya? Mungkin tidak. Mungkin ia yakin, dan hendak meyakinkan diri dengan tawanya. Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa anaknya yang pernah glendotan manja di pangkuannya telah beranjak dewasa (sedikit). Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa ia telah benar-benar membesarkan anaknya dengan cara yang benar. Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa jika saatnya tiba, ia benar-benar siap melepas anaknya mencari penghidupan sendiri. Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa ia telah benar-benar beruntung diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bersama dengan anaknya. Ya, mungkin, karena itu hanya spekulasi seorang anak manja bernama Adieu yang selalu GR dengan kasih sayang kedua orang tuanya.
Tawa ibu kembali terdengar. Nyaring di kuping.

Mama, mama, you know i love you...
Mama,mama, you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the star
Mama, i just want you to know
Loving you is like food to my soul...
(Boyz II Men, A Song For Mama)


Bu, seandainya bisa, Adieu ingin selamanya jadi anakmu yang manja. Jangan tertawa seperti itu lagi. Tersenyum saja. Itu pun cukup.

bukan kematian itu benar...

Saya ingin menyertakan salah satu tulisan yang saya dapatkan dari Catatan Pinggir II Goenawan Mohamad. Selain karena saya memang terlalu menyukai penulisnya, saya rasa, tulisan tentang kematian yang dibuatnya tersebut sedikit menjiwai dan menjadi salah satu dari serangkaian nada dari sebuah elegi kematian Imam Samudra, Amrozi, dan Mukhlas. Tiga orang yang kematiannya menjadi keresahan tersendiri bagi banyak orang. Saya jadi ingat beberapa waktu lalu, saat mantan presiden Indonesia kedua, Soeharto, menjelang kematiannya, seperti itu pula ketiga orang tadi diperlakukan menjelang eksekusinya.
------------------------------
Bukan Kematian Itu Benar...


Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta


Chairil Anwar menuliskan baris-baris itu untuk seorang nenek tua yang meninggal. Kita kini mungkin akan mengingatnya untuk seorang Kusni Kasdut. Sebab memang bukan kematian itu benar menusuk kalbu. Tapi kenyataan, bahwa yang matai hanya pasrah, dan maut datang sebagai manifestasi kekuasaan. Dalam hal si nenek tua, kekuasaan itu agaknya langsung dari Tuhan. Dalam hal Kusni, kekuasaan yang hadir adalah negara. Begitu tinggi, begitu bertahta, begitu singkat merampat. Yang mati butir debu. Duka itu pun rata dengan tanah.
Masalah hukuman mati, dengan demikian, selalu menyentuh sebuah akar yang tertanam dalam -sejenis akar relijius dalam kehadiran kita. Mungkin Chairil Anwar seakan hendak memprotes Tuhan ketika ia menyaksikan kematian neneknya. Tapi ia toh tak bisa mengingkari-Nya. Mungkin kita juga ingin menggugat kesana-kemari, melihat jam-jam terakhir Kusni Kasdut yang tak bisa ia elakkan. Tapi pada akhirnya kita toh berbicara tentang batas-batas manusia dan kekuasaannya.
Orang yang mati tak akan pernah kembali. Jurang antara tiang tiang si terhukum ditembak dengan alam sesudahnya adalah jurang yang mutlak. Bahaya terbesar dari hukuman mati ialah bila kita, dalam ikhtiar keadilan itu, tercerabut dari "akar relijius" kita. Artinya, kita tak lagi bertanya atas dasar apa seseorang, atau sekelompok orang, mendapatkan kekuasaan yang begitu besar hingga "setinggi itu atas debu dan duka" mereka bertahta.
Jangan salah paham. Sekelompok orang bisa mengirimkanh algojo atas nama Tuhan. Tapi pada saat itu barangkali mereka menyekutukan diri dengan Yang Mahakuasa itu, dan di sini kita sesungguhnya tak bisa lagi bicara tentang suatu akar yang apa pun berarti, kecuali kepongahan. Sebab kita tidak lagi bersedia mengakui ketidakmampuan kita untuk seperti Dia: mengabsolutkan keputusan-keputusan dan juga memberikan ampunan.
Kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir. Kematian dengan demikian diberi tafsiran bukan sebagai lawan dari kehidupan, melainkan kelanjutannya. Di ujung sana Tuhan lebih tahu.
Barangkali di situlah terasa kaum abolisionis, yang gigih menentang hukuma mati atas segala macam kejahatan, terasa sama kurang memuaskannya dengan kaum legalis. Mereka hendak menunjukkan bahwa keputusan manusia bisa salah dan tidak mutlak. Betapa benarnya. Tapi kematian barangkali tak dilihat sebagai jalan ke arah hukum yang lebih adil. Tubuh yang ditembak itu barangkali hanya dipandang sebagai tubuh yang kehilangan hak.
Tapi memang bukan hukuman mati itu benar yang menusuk kalbu, dan kaum abolisionis juga pada dasarnya berbicara tentang keadilan. Yang kadang tak disadari ialah bahwa keadilan adalah satu hal, perasaan iba adalah hal lain. Keduanya bisa bertemu di satu titik, tapi bisa juga berlawanan.
Ataukah kita harus bicara soal aturan peradaban yang mutakhir? Tapi agaknya keperluan kita kini akan peradaban bukanlah hapusnya hukuman mati untuk perikemanusiaan atau terusnya hukuman mati untuk menangkal kejahatan. Keperluan kita akan peradaban nampaknya lebih elementer: sebuah peradilan yang bersih dan terang; sebuah penjara yang lebih baik ketimbang tiang gantungan.

15 Januari 1980

kenapa orang tua punya kelebihan?

Kenapa orang tua punya kelebihan? Karena mereka punya kesalahan yang kita tak punya.
~ Catatan Pinggir, Goenawan Mohamad



GM, saya mau menambahkan. Kenapa orang tua punya kelebihan? Karena mereka pun memiliki kebaikan yang tidak kita punya. Juga, seperti yang dikatakan seorang kawan, karena orang tua telah melewati waktu yang lebih banyak dibanding kita. Itu artinya, waktu mereka untuk belajar dan menghayati hidup pun lebih lama.