...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

siapakah yang lebih arif?

"Aku ga mau lagi kayak gini. Rasanya aku ingin kembali ke masa laluku. Lebih mending, ketimbang sekarang. Aku seperti tahu segalanya, tapi seolah kehilangan juga banyak hal. Aku capek. Aku capek. Aku ingin pergi. Kemanapun asal jangan kembali ke tempat ini."
Senja itu, begitu bertemu ia menyeret saya ke sebuah pojokan. Berbicara begitu deras, sederas hujan yang datang beberapa hari belakangan ini. Saya tertegun beberapa saat, sampai akhirnya saya sadar bahwa ia hanya hendak bercerita, tidak mencari nasihat atau apalah yang semacamnya.
Ia, perempuan jangkung itu, kawan saya. Kami sama-sama perantau, datang dari daerah yang sama. Dulu, saya sempat sangat dekat dengannya karena sebuah tekanan yang sekarang membuat saya sangat merasa bersalah (dan setidaknya kini saya tahu bagaimana sebaik mungkin saya berusaha tetap mempertahankan hubungan pertemanan saya dengannya). Ia geram dengan kondisinya sendiri, juga pada keadaan yang mengelilinginya. Ia merasa tak tahan lagi dengan tuntutan, yang perlahan mengikis identitasnya sebagai seseorang. Ia hendak berontak, tapi tak hendak membuat kekacauan. Seperti ragu-ragu, saya bilang waktu itu. Tapi bukan begitu kenyataannya. Ia hanya ingin menghormati orang-orang dan hal-hal yang, katanya, telah mempertemukannya dengan 'pengetahuan'-nya sekarang.
Luar biasa. Saya beberapa kali menunduk, berusaha berkaca pada diri sendiri. Perempuan jangkung itu membuat saya banyak merenung. Jangan-jangan masih ada ruang dalam hidup saya yang luput dari usaha saya untuk tetap menjadi lebih arif (semoga..). Ia tegar, meskipun ia bergumam. Ia juga tegar, meski sikapnya dalam keadaan tertekan seperti itu kadang-kadang tidak masuk di akal saya sebagai manusia.
Keluhan seperti itu bukan pertama kali saya dengar. Beberapa kawan (dan saya waktu dulu), juga merasakan hal yang sama, tentu dengan penyikapan yang berbeda-beda. Saya sempat bertanya, sebenarnya apa yang terjadi? Mungkinkah salah langkah? Ataukah ada yang salah dengan komitmen seseorang untuk menyerempakkan langkah dalam sebuah barisan (barisan apapun itu)? Atau mungkin kesalahan ada pada langkah yang serempak? Langkah yang seolah mewajibkan seseorang untuk jadi kaki-kaki yang sama yang bergerak ke arah yang sama pada saat yang sama? Langkah yang satu komando?
Entahlah. Tapi saya kira (semoga perkiraan saya jauh dari sentimentalitas), seseorang punya hak untuk hidup sebagai dirinya sendiri. Atau setidaknya kepemilikan seseorang terhadap dirinya (potensi dan kesadarannya) tetap diberi ruang bahkan untuk menghayati nada seragam apapun yang dibunyikan.
Manusia memang bisa dikarbit, dicetak, diarahkan. Tapi kelak, selalu ada cerita bagi diri kita sendiri. Tanpa proteksi.
Dosakah? Hmm... Lagi-lagi entah. Karena saya tidak punya otoritas untuk menghakimi perbuatan, mengandung dosa atau pahala. Karena saya yakin, orang-orang yang saya temui adalah orang-orang dewasa yang selalu berusaha mencari tahu dan menyadari kapasitas dirinya. Dan yang saya yakini, Tuhan Maha Arif dari apapun.
Saya tiba-tiba ingat sebuah catatan yang saya kutip dari catatan seseorang yang terlalu sering saya kutip: Kearifan adalah soal yang sederhana tapi tak terelakkan. Dengan itu kita mulai mengakui, betapapun indahnya da menariknya hati yang bergetar oleh suatu keyakinan, betapapun mengharukannya hasrat untuk kemurnian, hidup tidak perlu tunduk hanya kepada satu cita-cita. Hidup selalu mengetuk bermacam, mungkin beratus-ratus, pintu. Dari semua pintu itu jalan keluar bisa terbuka ke bermacam taman. Kita tidak bisa membunuh setiap orang yang keluar dari pintu A atau memenjarakan mereka yang tidak melalui pintu B. Memang, dengan demikian terasa tidak ada lagi keyakinan yang membara. Tetapi justru yang berani yang tetap bisa berjalan menghadapi keruwetan, seribu pintu yang arahnya persis tidak kita tahu.

0 comments:

Post a Comment