...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

freed

i will find new meaning in every joy and sorrow
in that silence,
i will hear the voice of spirit,
and freed from this world,
i will see another world

start another breathing

katakanlah ini sebagai permulaan. saya sedang merindukan segalanya, bahkan hal remeh-temeh seperti suara pintu kamar rumah, tangisan bayi tetangga, suara bersin pak rt yang sangat kolosal. saya rindu, tapi kelu.




*song by Avril Lavign ft Evan Taubenfeld "Best Years of Our Lives". thanks to ulul yang membuat video ini nangkring tak terduga di laptop saya. ^^

noise i can't remove inside..



at city centre 9 pm, just like you wrote. and i try to think about. snow coming in just like before. i will be on stand-by, releasing the vapour into the lung, getting the wings unfurl. and for a moment i feel young. i call on the bird. unfurl. it's time to chose side now. that's what you said when we talked on the phone. so white our eyes. you are still. are you paralyzed.*

*song by katatonia, unfurl

ballads of january (february isn't mine)

..no words, mouth is dry, can't verbalize..

story of the year - wake up


funeral for a friend - your revolution is a joke


paramore - we are broken


funeral for a friend ft paramore - your revolution is broken


hoobastank - crawling in the dark



hoobastank - out of control



k's choice - believe


k's choice - tired


lacuna coil - unspoken


lacuna coil - heaven's lie


dashboard confessional - vindicated


dashboard confessional - don't wait



switchfoot - you


secondhand serenade - awake

bercericit

sungguh, saya belum pernah mendengar burung bercicit tanpa jeda dengan durasi lebih dari 10 detik. bagi saya yang abangan soal beburungan, prestasi bercicit terpanjang disabet oleh burung beo. dan oleh sebab itulah kadang saya merasa kerasan untuk memuntahkan beberapa patah kata saja lewat salah satu jejaring sosial yang ikonnya burung dengan warna biru itu *tanpa bermaksud mempromosikan*.

barangkali dorongannya adalah kesadaran bahwa manusia adalah mahkluk yang bukan hanya gemar bermain, tapi juga gemar berseloroh, bergumam, merapal, menggerundel, dan nyampah, baik tentang hal yang paling penting sampai yang tidak penting sama sekali, tanpa menghabiskan banyak energi dan waktu untuk menyusun berlembar-lembar cerita. kadang manusia hanya memerlukan waktu sebentar saja dan bergumam sedikit saja tentang apa yang sedang mencuri fokus perhatiannya.

seperti yang saya lakukan pagi ini. tempat itu -yang diawali huruf "t"- kadang menyenangkan, karena saya tidak perlu memikirkan harus dengan cara apa saya saya bisa memuntahkan apa yang bergerombol dalam kepala, karena saya tidak lagi perlu untuk mendarat di sejumlah buku, blog, atau catatan untuk memperoleh persediaan kata yang tepat untuk disandingkan dengan pesan utama.

dan memang ini adalah cara yang sedikit ampuh untuk menyelamatkan diri dari sebuah penyakit yang kawan saya sebut dengan inersia. ketika saya sadar bahwa saya tidak mahir bercerita di jendela, setidaknya ada yang saya catat sebelum ingatan itu lewat tanpa sempat saya cegat.

saya tulis pagi ini:
"a day before getting a bit rock n roll's sphere over my somuchhardtocomplete-thesis. today'll be my spendinglotsofmoneytogohereandthere-day" -7th december 2011

apa saya bilang? instan, singkat, dan tidak penting sama sekali bukan? 

this is the great way to define what you bravely called "terrorism"

when America takes one million lives in Iraq for oil: Not Terrorism
when Serbs rape Muslim women in Kosovo/Bosnia: Not Terrorism
when Russians kill 200,000 Chechens in bombings: Not Terrorism
when Jews kick out Palestinians and take their land: Not Terrorism
when American drones kill entire family in Afghanistan/Pakistan/Somalia/Libya/Yemen: Not Terrorism
when Israel kills 10,000 Lebanese civilians due to two missing soldiers: Not Terrorism
when Muslims retaliate and show you how you treat us: Terrorism
it seems like the word "terrorism" is only reserved for Muslims.

daddy, can i have $10?

a man came home from work late, tired and irritated, to find his 5 year old son waiting for him at the door.

“daddy, may i ask you a question?”

“yeah, sure, what is it?” replied the man.

“daddy, how much money do you make an hour?”

“that’s none of your business! what makes you ask such a thing?” the man said angrily.

“i just want to know. please tell me, how much do you make an hour?” pleaded the little boy.

“if you must know, i make $20.00 an hour.”

“oh, ” the little boy replied, head bowed. looking up, he said, “daddy, may i borrow $10.00 please?”

the father was furious. “if the only reason you want to know how much money i make is just so you can borrow some to buy a silly toy or some other nonsense, then you march yourself straight to your room and go to bed. think about why you’re being so selfish. i work long, hard hours everyday and don’t have time for such childish games.”

the little boy quietly went to his room and shut the door. the man sat down and started to get even madder about the little boy’s questioning. how dare he ask such questions only to get some money. after an hour or so , the man had calmed down, and started to think he may have been a little hard on his son. may be there was something he really needed to buy with that $10.00 and he really didn’t ask for money very often. the man went to the door of the little boy’s room and opened the door. “are you asleep son?” he asked.

“no daddy, i’m awake,” replied the boy.

“i’ve been thinking, maybe i was too hard on you earlier,” said the man. “it’s been a long day and I took my aggravation out on you. here’s that $10.00 you asked for.”

the little boy sat straight up, beaming. “oh, thank you daddy!” he yelled. then, reaching under his pillow, he pulled out some more crumpled up bills. the man, seeing that the boy already had money, started to get angry again. the little boy slowly counted out his money, then looked up at the man.

“why did you want more money if you already had some?” the father grumbled.

“because i didn’t have enough, but now i do,” the little boy replied.

“daddy, i have $20.00 now… can i buy an hour of your time?”

....

vita nouva

[introduksi yang sebetulnya tidak perlu kecuali untuk menajamkan eksistensi]

seandainya saya mengganda, saya akan membisikkan kata-kata serupa. sayangnya, cirex melahirkan kata-kata itu lebih dulu daripada saya. hehe.. becanda.

ini adalah satu lagi tulisan cirex yang membuat saya jatuh hati, saya gandakan dan saya tempel di sini. saya boyong paksa untuk singgah, tertanam, dan terbaca oleh siapa saja yang sengaja atau tak sengaja, telanjur atau tidak untuk menoleh ke halaman ini.

saya mengunyahnya dengan penuh suka cita dan cemas. mungkin kawan-kawan pun begitu. mungkin juga tidak. mungkin sebagian besar akan mencarik kertas, meraih pena, menuliskannya kembali, dan merapalkannya lekat-lekat di telinga manusia kecil yang Allaah hadirkan di tengah kehidupan kawan-kawan. mungkin juga tidak. biar saja.

Selamat datang, Nak, selamat datang di kehidupan yang kerap menjelma persimpangan tanpa marka jalan. Bersiaplah. Kebenaran yang hanya satu sering bersembunyi malu-malu, dan kejahatan sering berpura-pura tanpa ragu. Tak perlu kau terlampau risau. Selama kau pandai mengemas waspada, aku pastikan segalanya akan baik-baik saja. Hiduplah untuk bercuriga. Saat ini mungkin kau sangsi, setelah besar nanti kau akan mengangguk pasti.
 
Selamat datang, Nak, aku tak memiliki apa-apa untuk menyambut kedatanganmu kecuali sebaris nama. Tentu kau akan bertanya mengapa kau harus bernama. Tidak harus, Nak, tapi begitulah manusia. Semenjak Allah mengajarkan Adam tentang nama-nama, semenjak itulah manusia gemar memberi nama-nama. Manusia menamakan makhluk terbang itu burung, menamakan makhluk air itu ikan, menamakan sesuatu yang tinggi menjulang itu pohon, menamakan itu pelangi, itu sungai, itu samudra, itu cakrawala, itu debu dan pasir hitam. Dunia ini memang milik manusia, Nak, berbanggalah akan hal itu. Kau boleh mengubah nama yang aku berikan itu, kelak, jika kau tak menyukainya. Sebab, memang begitulah manusia. Gemar mengubah nama-nama. Gemar mengubah tanda-tanda. Gemar mengubah segalanya. Gemar mengubah peradaban hingga akhir zaman. Tapi tak sanggup mengubah hakikat dirinya sendiri bahkan sampai napas tersangkut di tenggorokan.

Selamat datang, Nak, aku akan mendampingimu dalam kebahagiaan dan kecemasan yang berimbang. Kehidupan tanpa kebahagiaan adalah kematian. Kehidupan tanpa kecemasan adalah kehidupan yang harus diperiksa ulang.
Selamat datang, Nak, selamat karena telah menjadi seorang manusia.

Salam sayang dari seseorang yang telah dipilih Allah untuk menjadi ayahmu:
Aku




temui langsung penulis di sini jika andapun jatuh hati dengan tulisannya

momento (5)


seperti bulir air sisa hujan yang turun sore itu. ia sempat hinggap beberapa saat sebelum akhirnya matahari menguapkannya menjadi udara. ia sempat menggembung, beradhesi, indah tertangkap mata. tapi hanya sesaat. benar, hanya sesaat. meski matahari sudah paruh baya, garis-garis cahayanya masih terlampau ganas untuk membiarkannya tinggal lebih lama.

momento (4)



yogyakarta, mei 2011. ini tentang lampu jalan yang menemani penantian saya, ncep, dan adik perempuan saya senja itu di tepi malioboro. pendarnya berselang-seling di sela-sela sesak manusia yang menikmati belanja. sebagian lapak sudah dikemasi, sebagian lagi masih digelar begitu saja. barangkali yang empunya lapak masih berharap rejeki datang jelang malam yang mulai matang.

garis-garis cahaya lampu mulai menegas. kami yang berdiri di bawahnya tampak semakin menguning. kendaraan, yang bermotor dan yang tidak bermotor melesat cepat-cepat. suara ketepak-ketepak kaki kuda penarik delman berharmoni dengan nyaring klakson dari ratusan motor dan mobil yang lewat di hadapan kami. kami masih melanjutkan penantian.

sementara cahaya lampu sederhana itu semakin lugas, kami bergegas. jemputan kami datang. penantian pun tuntas.

cahaya lampu itu pun menghilang lamat-lamat direduksi jarak. yang bersisa hanya ingatan yang nyaris luput dan abai jika tadi malam, saya tidak membuka kembali beberapa loker foto dalam memori harddisk laptop saya yang ringkih sebelum waktunya.

maicihus euforius

dua pekan kemarin, kira-kira, saya kembali bertandang ke kota kembang. bolehlah saya sedikit belagu, bandung tak lagi jadi tempat tinggal saya bagi orang tak karuan seperti saya, tidak selalu inspirasi menulis datang dengan kegalauan. suatu kali, desakan menulis pun hadir di tengah rasa mulas yang dahsyat. di sela-sela perut yang berkerumuk dan mengamuk.

saya kembali hadir di bandung kala itu. urusan saya dengan kota itu belum tuntas. bahkan terlalu banyak untuk dikatakan menjelang tuntas. utang saya masih banyak: desain, utang majalah, mengembalikan cd, video dokumentasi, dan lain.

saya sempat bertandang di kampus pendidikan yang dulunya tidak disebut upi. kampus itu bersejarah bagi saya. di kampus itu saya bertemu dengan seorang guru hebat yang memperkenalkan saya guru-guru hebat lainnya. dan di kampus itu pula, rasa takut saya terhadap ulat bulu seketika lenyap. bagaimana tidak? saya tidak mungkin membiarkan segerombolan ulat itu nyaman menggelantung di ujung jilbab setelah dengan tidak sengaja kaki saya melangkah di bawah pohon yang dihuni bilyunan ulat bulu merah putih yang lucu tapi mengerikan. hari itu saya tidak sedang napak tilas. saya hanya mengantar adik saya yang besar untuk mengurus ini itu agar bisa diterima menjadi mahasiswa.

belum sempat duduk di angkot menuju pulang, bibi menelpon. dia meminta saya datang ke rumah kontrakannya di ujungberung. siang yang dahsyat. belum pernah saya merasakan bandung sepanas hari itu. perjalanan kami cukup panjang. adik saya yang terlalu peduli pada perawatan kulit dan wajahnya sudah berulang kali mengeluh kepanasan. satu setengah jam, perjalanan setiabudi-ujungberung pun tunai beserta macet dan tetek-bengeknya. kami sampai di rumah kontrakan bibi.

maka berbahagialah adik saya. di sana, ma icih menyambut kami. ma icih adalah mesiah bagi adik saya yang sudah sejak pagi tadi mengeluh karena cuaca. juru penyelamat, begitulah kira-kira. dia lantas bercerita soal ma icih yang punya tingkat rasa pedas skala 1 hingga 10. adik saya bangga karena pernah mencicipi ma icih paling pedas. bibi saya menyimak lekat-lekat setiap kata yang dibual adik saya. dia bercerita tentang rasa ma icih yang enak, ma icih yang mahal, ma icih yang langka, dan ma icih yang membuat pemiliknya yang muda menjadi kaya raya seketika.

bibi minta saya untuk mencari resep ma icih lewat google. *saya tidak menyangka bibi saya secanggih itu*

bibi bilang, dia tertarik untuk membuka bisnis semacam ma icih. bisnis keripik pedas. dan jreeeng.. betapa tergiurnya bibi melihat omset per bulan dari bisnis keripik setan ini. bibi saya pun mulai bersoliloqui tentang besar pendapatan yang seandainya dia miliki tiap bulannya. sampailah saya pada kesimpulan bahwa ma icih bukan hanya menyalakan rasa mulas tapi juga menyalakan nyali untuk memulai bisnis serupa. bayangkan, omsetnya 4 milyar per bulan. bibi kena euforia ma icih. buktinya beberapa minggu setelahnya, ketika saya berkunjung ke rumah neneto, sudah ada beberapa toples keripik pedas yang rasanya belum jelas. *maafkan saya, bibi* tapi saya yakin, euforia untuk berbisnis dan meraih keuntungan besar itu masih ada. bibi meminta saya untuk merancangkan kemasan calon produknya. *orderaaan.. hihi*

melihat euforia ini, saya jadi ingat beberapa bulan lalu. euforia training enterpreneur yang terlampau massif dan pernah saya benci. nyaris semua kawan riuh membicarakan mr. s.a. (saya singkat namanya), training yang dipandunya, dan petuah-petuahnya. menjelang training berlangsung, kawan-kawan saya senang sekali promosi. bukan hanya itu, tidak sedikit yang nyeletuk dengan nada mencibir pada siapa saja yang tak ikut antri mendaftar. tentu saja saya tidak ikut. pertama, karena saya tidak suka training jenis apapun. saya tidak senang dengan suasana sok menyenangkan dalam training. *haha sentimen* kedua, saya tidak suka pada sesuatu yang terlalu ramai digandrungi. maka bulatlah tekad saya untuk berkata "maaf, saya ngga ikut dan ngga mau ikut." hell with the rest! peduli setan dengan ungkapan-ungkapan tidak menyenangkan yang beberapa kawan saya lemparkan karena ketidakikutsertaan saya. dan waktu itu, saya memilih tinggal di kosan, bersama ivik, kawan sekosan saya yang juga tidak senang dengan training.

saya makin tidak suka setelah menangkap gelagat sejumlah kawan yang mengindikasikan bahwa kehadiran dalam training seolah menjadi agenda wajib yang akan menjadi haram jika tidak diikuti. bahkan ada kawan yang mengeluh karena partnernya yang lelaki tidak bisa diganggu untuk urusan kepanitiaan hanya karena dia ikut training mr. s.a. ini. ooh damn! apa-apaan ini? "mr. s. a. berusaha untuk memasukkan nilai-nilai dan pemikiran islam lewat training!", "sebetulnya apa yang disampein mr. s.a. semuanya ada di kitab yang kita kaji.", " banyak lho yang ikut trainingnya!", "sayang kalo ngga ikutan.", "mr. s.a. mengajari kita bagaimana kita optimis dengan kemampuan yang kita miliki!", e-te-ce..... cerita kedigdayaan training seperti lalat yang menguing-nguing dekat telinga dan ingin sekali saya usir.

saya sempat membagi ke-shit-an ini bersama ivik. kami sama-sama terganggu dengan fenomena training, motivasi, optimisme, petatah-petitih, rasa semangat, dan lain-lain yang seolah muncul (dan berlebihan) setelah turunnya mr. s.a. dari 'kayangan'. kami sempat mempertanyakan kembali siapa yang berlebihan dalam hal ini? saya dan ivik atau kawan-kawan saya yang penggila training? apakah dulu Rasulullaah SAW mengubah masyarakat dengan cara 'sok menyenangkan' dan 'penuh semangat' seperti training-training yang menjamur sekarang ini? belum cukupkah para aktivis menggenjot motivasi mereka untuk mengoptimalkan potensi yang mereka miliki dengan kajian rutin tiap minggunya? rugikah ketika kita tidak menjadi enterpreuner? rugikah ketika seseorang lebih memilih untuk mendedikasikan waktunya sebagai seorang ahli fiqih, bukan seorang enterpreuner? mengapa perkara wirausaha menjadi indikasi seseorang itu survive atau tidak? apakah peradaban manusia ini menjadi mulia karena banyak manusia yang menjadi wirausahawan? mengapa? mengapa? kok bisa?

saya yang sentimen dan juga ivik yang sederhana tertawa tiba-tiba saat itu, dan berkata: "jangan-jangan, kita yang berlebihan!"

tapi, sumpah demi ma icih, sampai detik ini pun, saya tidak suka training!

clay

tahun kemarin dia masih sebesar kelingking. tahun ini pun begitu. di mata saya, dia tetap seperti itu. harus tetap seperti itu. saya sedang berusaha untuk menyenyumi sesuatu yang tak kunjung mudah untuk diterima. dia, adik saya tersayang, sudah tumbuh sebagai lelaki kelas enam sd. masa transisi, begitu orang banyak bilang, menuju berubahnya suara. seandainya bisa, saya ingin adik saya tetap sebesar kelingking. saya ingin dia tetap jadi lelaki kecil yang selalu minta ditemani ke kamar mandi. saya ingin dia tetap menjadi lelaki kecil yang membelikan saya sebungkus wafer cokelat sepulang sekolah. saya ingin dia tetap menjadi lelaki kecil yang senang memainkan mobil-mobilan, membaca komik beyblader dan tsubatsa, juga menulis dengan gaya yang terlalu mengharukan untuk dikatakan rapi. jahat? begitulah. ada cemas yang begitu besar merayap di setiap kata yang sudah dilafalkannya sempurna. cemas itu sempat luput saya rasakan dari adik saya yang besar. cemas itu adalah cemas yang pernah menjadi salah satu pompa menulis bagi tagore, gandhi, dan gibran untuk saya kutip kembali dalam buku catatan. cemas itu adalah cemas yang harus dirasakan oleh mereka yang mulai menjadi tua kepada yang dianggap muda.

seandainya dia sebongkah clay, tangan saya siap membentuknya untuk menjadi apa yang saya pikirkan. sayangnya, bukan.

i've seen



i've seen it all, i have seen the trees,
i've seen the willow leaves dancing in the breeze
i've seen a friend killed by a friend,
and lives that were over before they were spent.
i've seen what i was - i know what i'll be
i've seen it all - there is no more to see !

you haven't seen elephants, kings or Peru !

i'm happy to say i had better to do
what about China ? have you seen the Great Wall ?
all walls are great, if the roof doesn't fall !

and the man you will marry ?

the home you will share ?
to be honest, i really don't care...

you've never been to Niagara Falls ?

i have seen water, its water, that's all...
the Eiffel Tower, the Empire State ?
my pulse was as high on my very first date !
your grandson's hand as he plays with your hair ?
to be honest, i really don't care...

i've seen it all, i've seen the dark

i've seen the brightness in one little spark.
i've seen what i chose and i've seen what i need,
and that is enough, to want more would be greed.
i've seen what i was and i know what i'll be
i've seen it all - there is no more to see !

you've seen it all and all you have seen

you can always review on your own little screen
the light and the dark, the big and the small
just keep in mind - you need no more at all
you've seen what you were and know what you'll be
you've seen it all - there is no more to see !


- bjork&thom yorke -

tears

sudah lama saya tidak cengeng. dan rasanya tidak pernah saya secengeng kemarin. rasanya juga, saya tidak pernah menunjukkan kecengengan saya di depan banyak orang yang tidak begitu saya kenal, kecuali kemarin.

bukankah saya begitu payah? saya payah karena saya tak mampu untuk membendung air yang sudah terlampau menggenang di kelopak mata. berkaca-kaca. lalu begitu saja tumpah. barangkali bukan karena kecewa.



*terima kasih kawan-kawan, terima kasih Ya Allaah*

state of worry

all humans are dead except those who have knowledge; and those who have knowledge are asleep, except those who do good deeds; and those who do good deeds are deceived, except those who are sincere; and those who are sincere are always in a state of worry.

[imam asy syafi'iy]

nobody knows

do you think it's nice for being one whom no body knows? i do. when you're stuck in something, people out in the world who are happy, seemingly careless and free, they seem to strange and foreign, because they seem to be light years away from where you are in your life. sigh! lavie really knows how to tell this to you. i am not.

??!!!@#!!@??!!

rindu itu begitu purba. begitu mengganggu. namun bisa diringkas dengan hanya mengirimkan beberapa deret kata untuk saya sampaikan pada nomor sejumlah sahabat di masa lalu, tanpa melankoli.

sambil menikmati jalanan bandung-jatinangor yang riuh, saya mengingat-ingat kembali beberapa kilasan, beberapa penggal momentum di tahun-tahun silam. tahun dimana saya dan sahabat-sahabat saya begitu ranum. dorongan untuk hadir dan diakui meluap tak terbendung kala itu. kami pun benar-benar menghadirkan diri, mencari definisi kehadiran dengan cara yang konyol juga memalukan untuk kami ingat lagi di masa kini. ah, masa muda. seandainya bisa waktu bisa saya geret mundur, sumpah demi SM*SH, saya tidak akan pernah melakukan kegilaan itu. untung saja waktu memang tidak bisa diulang. karena Allah tahu betul bagaimana membuat hidup kami tidak pasi dan hambar. Allah tahu betul bagaimana saya bisa tersenyum dengan hanya mengingat di jeda waras yang nyaris terkuras.

di akhir pesan pendek itu: "gimana kalo kita bikin konser nostalgia? tajuknya TRIBUTE TO JAMI' VOICE? haha.."

sahabat lama saya yang sibuk dengan clay-nya (baca: her adorable son) di suatu sudut jakarta itu menimpali: "boleh. kamu yang jadi manajer proyeknya. haha.."

saya tahu dia tidak serius karena saya pun sadar bahwa dia tahu saya pun tidak serius. pertanyaan saya di akhir itu hanya cara agar saya tidak terlihat sepi. sepi yang saya kreasikan dan saya besar-besarkan sendiri.

anthem

apa jadinya jika wage rudolf supratman hidup dan bersidekap di bangku tempat saya duduk sekarang? bagaimana kira-kira reaksi yang akan dimunculkan sang komposer ketika mendengar seorang lelaki paruh baya memetik ukulele serta menyanyikan indonesia raya dengan nada yang begitu mengenaskan dan lirik yang terpencar-pencar?

pada saat yang sama, bisakah nasionalisme dipertanyakan dalam perkara ini? bukankah dalam sebaris prosanya, goenawan mohamad bertutur: nasionalisme adalah suatu seleksi untuk apa saja yang diingat dan dilupakan? siapa yang pantas disalahkan jika nasionalisme -salah satunya- didefinisikan sebagai kemahiran seorang warga negara menyanyikan lagu kebangsaan? wr supratman? pengamen itu? atau saya (anti nasionalis tapi hafal seluruh lirik lagu kebangsaan negeri ini) yang gemar menyalahkan pemerintah karena lagi-lagi tak becus untuk bahkan memelihara ingatan penting yang membedakan antara bangsanya dengan bangsa-bangsa lain? yang pasti, jangan salahkan saya karena menulis dan membicarakan pengamen yang tidak pernah merencanakan barang sekalipun untuk bertemu dengan orang yang akan menjadikannya objek curhatan. haha..

dalam menimbang "harga" mahal yang harus dibayar untuk menilai rasa memiliki terhadap sebuah bangsa, orang kebanyakan tidak bisa menyalahkan mereka yang tiap subuh mesti keluar dari tempat sembunyi di kolong-kolong jembatan untuk meramaikan jalanan hanya karena mereka tidak mahir menyenandungkan lagu kebangsaan indonesia raya, tidak bisa merapalkan butir-butir pancasila, tidak hafal nama-nama menteri dalam susunan kabinet kekinian. hafal bukan esensi dari rasa memiliki. orang bijak mengatakan, semua mesti menyentuh hingga dasar jiwa. bukan sekedar euforia, bukan pula emosi yang membabi buta. artifisial.

sayangnya, saya telanjur melihat yang artifisial itu hadir tepat di depan kelopak mata. yang hadir berupa hingar bingar di pertengahan bulan delapan saja. yang juga kadang menjelma berupa kemarahan tak terkira juga membikin siapa saja mesti ikut berteriak "ganyang! ganyang!" hanya karena cemas bahwa batik, tarian, dan lagu-lagu pindah ke tangan tetangga. rasa cemas ini, kawan, tidak hanya muncul dari setiap pojok jembatan dan jalanan. tapi sekolah, kampus, kantor, juga kompleks perumahan kelas atas. juga media. sementara cemas dibuat tak muncul saat negeri ini dikangkangi terang-terangan oleh bangsa lain secara ekonomi, politik, keamanan, sosial, dan lainnya.

itulah sebabnya saya tidak lagi suka dengan nasionalisme. terlalu artifisial, runyam, rapuh, dan 'barbar' untuk dikatakan sebagai simpul yang mengokohkan dan membuat ajeg suatu bangsa dengan lainnya. ibarat -mohon maaf- kentut. panas juga bau seketika. hanya seketika. hanya bikin orang kebanyakan ketar-ketir karena menghirup baunya yang mistis. begitu pula nasionalisme, bikin orang sibuk memikirkan apa yang hanya tampil di permukaan. 

seandainya pengamen itu tahu apa yang saya pikirkan, mungkinkah ia juga akan merenungi nasionalisme untuk membuangnya jauh-jauh sampai tak terlihat lagi? mungkinkah ia akan menghampiri saya dan mengajak berdiskusi mengenai hari-harinya yang tak pernah begitu menarik perhatian orang-orang kaya dan mulia? atau paling sederhana, mungkinkah ia akan membenahi baris lirik yang tak teratur ia nyanyikan di depan kami, para penumpang ini? atau bahkan, mungkinkah ia berhenti bernyanyi dan turun dari bis yang saya tumpangi karena ia risih menjadi bahan soliloqui?

nampaknya semua kemungkinan itu mesti saya simpan di saku baju. saya mesti bersedih, karena kemungkinan-kemungkinan yang saya ciptakan dalam kepala ini tidak ada yang benar satu pun. pengamen itu tetap bernyanyi. indonesia raya. tetap dengan nada yang mengenaskan dan lirik yang terpencar-pencar.

dan tak perlulah wage rudolf supratman jadi saya. rupanya ini bukan hanya perkara sang komposer dan kerja kerasnya mencipta. mengapa? karena bencana serupa juga menimpa ebiet g. ade dan lagu asing entah apa yang hanya lugas terdengar pada bagian “susanaa… susanaaa…”

ya, inilah yang artifisial. tapi inilah yang harus ia perlihatkan. berpura-pura bisa menyanyi dengan suara yang tidak artifisial, suara apa adanya. sekedar menjadi alat tukar bagi siapapun pendengar yang ingin memberinya kepingan uang yang tak besar. 

i realize

a thing which is free of cost goes in a big price. whenever, that's not available. sometimes we want that at any cost, but it never comes. why?

- 17th february 2010, 04:27 am

cerewet

dalam perjalanan pulang dari perayaan salah satu fase hidup beberapa kawan, saya tiba-tiba terpikir: jika saja penggalan hidup itu tiba bagi saya suatu saat nanti, saya terpikir untuk melarikan diri, mencari ruang sepi. saya hendak mencatat. saya enggan berlama-lama dalam kelindan keramaian. telinga dan mata saya tak cukup mau berdamai meski untuk sekedar mengamati dari kejauhan, dari jarak beberapa depa.

benar. saat itu saya hendak mencatat. tentang riuh dan gejolak rasa yang timbul tenggelam. tentang semua yang membentang-bentang dalam kepala. tentang haru yang lamat-lamat. tentang dada yang penuh degup. bahkan tentang ekspresi yang sering kemarau. dalam sunyi, biasanya hati lebih cerewet.