dua pekan kemarin, kira-kira, saya kembali bertandang ke kota kembang. bolehlah saya sedikit belagu, bandung tak lagi jadi tempat tinggal saya bagi orang tak karuan seperti saya, tidak selalu inspirasi menulis datang dengan kegalauan. suatu kali, desakan menulis pun hadir di tengah rasa mulas yang dahsyat. di sela-sela perut yang berkerumuk dan mengamuk.
saya kembali hadir di bandung kala itu. urusan saya dengan kota itu belum tuntas. bahkan terlalu banyak untuk dikatakan menjelang tuntas. utang saya masih banyak: desain, utang majalah, mengembalikan cd, video dokumentasi, dan lain.
saya sempat bertandang di kampus pendidikan yang dulunya tidak disebut upi. kampus itu bersejarah bagi saya. di kampus itu saya bertemu dengan seorang guru hebat yang memperkenalkan saya guru-guru hebat lainnya. dan di kampus itu pula, rasa takut saya terhadap ulat bulu seketika lenyap. bagaimana tidak? saya tidak mungkin membiarkan segerombolan ulat itu nyaman menggelantung di ujung jilbab setelah dengan tidak sengaja kaki saya melangkah di bawah pohon yang dihuni bilyunan ulat bulu merah putih yang lucu tapi mengerikan. hari itu saya tidak sedang napak tilas. saya hanya mengantar adik saya yang besar untuk mengurus ini itu agar bisa diterima menjadi mahasiswa.
belum sempat duduk di angkot menuju pulang, bibi menelpon. dia meminta saya datang ke rumah kontrakannya di ujungberung. siang yang dahsyat. belum pernah saya merasakan bandung sepanas hari itu. perjalanan kami cukup panjang. adik saya yang terlalu peduli pada perawatan kulit dan wajahnya sudah berulang kali mengeluh kepanasan. satu setengah jam, perjalanan setiabudi-ujungberung pun tunai beserta macet dan tetek-bengeknya. kami sampai di rumah kontrakan bibi.
maka berbahagialah adik saya. di sana, ma icih menyambut kami. ma icih adalah mesiah bagi adik saya yang sudah sejak pagi tadi mengeluh karena cuaca. juru penyelamat, begitulah kira-kira. dia lantas bercerita soal ma icih yang punya tingkat rasa pedas skala 1 hingga 10. adik saya bangga karena pernah mencicipi ma icih paling pedas. bibi saya menyimak lekat-lekat setiap kata yang dibual adik saya. dia bercerita tentang rasa ma icih yang enak, ma icih yang mahal, ma icih yang langka, dan ma icih yang membuat pemiliknya yang muda menjadi kaya raya seketika.
bibi minta saya untuk mencari resep ma icih lewat google. *saya tidak menyangka bibi saya secanggih itu*
bibi bilang, dia tertarik untuk membuka bisnis semacam ma icih. bisnis keripik pedas. dan jreeeng.. betapa tergiurnya bibi melihat omset per bulan dari bisnis keripik setan ini. bibi saya pun mulai bersoliloqui tentang besar pendapatan yang seandainya dia miliki tiap bulannya. sampailah saya pada kesimpulan bahwa ma icih bukan hanya menyalakan rasa mulas tapi juga menyalakan nyali untuk memulai bisnis serupa. bayangkan, omsetnya 4 milyar per bulan. bibi kena euforia ma icih. buktinya beberapa minggu setelahnya, ketika saya berkunjung ke rumah neneto, sudah ada beberapa toples keripik pedas yang rasanya belum jelas. *maafkan saya, bibi* tapi saya yakin, euforia untuk berbisnis dan meraih keuntungan besar itu masih ada. bibi meminta saya untuk merancangkan kemasan calon produknya. *orderaaan.. hihi*
melihat euforia ini, saya jadi ingat beberapa bulan lalu. euforia training enterpreneur yang terlampau massif dan pernah saya benci. nyaris semua kawan riuh membicarakan mr. s.a. (saya singkat namanya), training yang dipandunya, dan petuah-petuahnya. menjelang training berlangsung, kawan-kawan saya senang sekali promosi. bukan hanya itu, tidak sedikit yang nyeletuk dengan nada mencibir pada siapa saja yang tak ikut antri mendaftar. tentu saja saya tidak ikut. pertama, karena saya tidak suka training jenis apapun. saya tidak senang dengan suasana sok menyenangkan dalam training. *haha sentimen* kedua, saya tidak suka pada sesuatu yang terlalu ramai digandrungi. maka bulatlah tekad saya untuk berkata "maaf, saya ngga ikut dan ngga mau ikut." hell with the rest! peduli setan dengan ungkapan-ungkapan tidak menyenangkan yang beberapa kawan saya lemparkan karena ketidakikutsertaan saya. dan waktu itu, saya memilih tinggal di kosan, bersama ivik, kawan sekosan saya yang juga tidak senang dengan training.
saya makin tidak suka setelah menangkap gelagat sejumlah kawan yang mengindikasikan bahwa kehadiran dalam training seolah menjadi agenda wajib yang akan menjadi haram jika tidak diikuti. bahkan ada kawan yang mengeluh karena partnernya yang lelaki tidak bisa diganggu untuk urusan kepanitiaan hanya karena dia ikut training mr. s.a. ini. ooh damn! apa-apaan ini? "mr. s. a. berusaha untuk memasukkan nilai-nilai dan pemikiran islam lewat training!", "sebetulnya apa yang disampein mr. s.a. semuanya ada di kitab yang kita kaji.", " banyak lho yang ikut trainingnya!", "sayang kalo ngga ikutan.", "mr. s.a. mengajari kita bagaimana kita optimis dengan kemampuan yang kita miliki!", e-te-ce..... cerita kedigdayaan training seperti lalat yang menguing-nguing dekat telinga dan ingin sekali saya usir.
saya sempat membagi ke-shit-an ini bersama ivik. kami sama-sama terganggu dengan fenomena training, motivasi, optimisme, petatah-petitih, rasa semangat, dan lain-lain yang seolah muncul (dan berlebihan) setelah turunnya mr. s.a. dari 'kayangan'. kami sempat mempertanyakan kembali siapa yang berlebihan dalam hal ini? saya dan ivik atau kawan-kawan saya yang penggila training? apakah dulu Rasulullaah SAW mengubah masyarakat dengan cara 'sok menyenangkan' dan 'penuh semangat' seperti training-training yang menjamur sekarang ini? belum cukupkah para aktivis menggenjot motivasi mereka untuk mengoptimalkan potensi yang mereka miliki dengan kajian rutin tiap minggunya? rugikah ketika kita tidak menjadi enterpreuner? rugikah ketika seseorang lebih memilih untuk mendedikasikan waktunya sebagai seorang ahli fiqih, bukan seorang enterpreuner? mengapa perkara wirausaha menjadi indikasi seseorang itu survive atau tidak? apakah peradaban manusia ini menjadi mulia karena banyak manusia yang menjadi wirausahawan? mengapa? mengapa? kok bisa?
saya yang sentimen dan juga ivik yang sederhana tertawa tiba-tiba saat itu, dan berkata: "jangan-jangan, kita yang berlebihan!"
tapi, sumpah demi ma icih, sampai detik ini pun, saya tidak suka training!


2 comments:
Akhirnya isi hati saya (yang sama juga) dituangkan dieu. Terimakasih :)
kalo kang fajar juga menuangkannya, pasti akan lebih nendang dan 'laris' dibaca sepertinya. hehe..
Post a Comment