...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

clay

tahun kemarin dia masih sebesar kelingking. tahun ini pun begitu. di mata saya, dia tetap seperti itu. harus tetap seperti itu. saya sedang berusaha untuk menyenyumi sesuatu yang tak kunjung mudah untuk diterima. dia, adik saya tersayang, sudah tumbuh sebagai lelaki kelas enam sd. masa transisi, begitu orang banyak bilang, menuju berubahnya suara. seandainya bisa, saya ingin adik saya tetap sebesar kelingking. saya ingin dia tetap jadi lelaki kecil yang selalu minta ditemani ke kamar mandi. saya ingin dia tetap menjadi lelaki kecil yang membelikan saya sebungkus wafer cokelat sepulang sekolah. saya ingin dia tetap menjadi lelaki kecil yang senang memainkan mobil-mobilan, membaca komik beyblader dan tsubatsa, juga menulis dengan gaya yang terlalu mengharukan untuk dikatakan rapi. jahat? begitulah. ada cemas yang begitu besar merayap di setiap kata yang sudah dilafalkannya sempurna. cemas itu sempat luput saya rasakan dari adik saya yang besar. cemas itu adalah cemas yang pernah menjadi salah satu pompa menulis bagi tagore, gandhi, dan gibran untuk saya kutip kembali dalam buku catatan. cemas itu adalah cemas yang harus dirasakan oleh mereka yang mulai menjadi tua kepada yang dianggap muda.

seandainya dia sebongkah clay, tangan saya siap membentuknya untuk menjadi apa yang saya pikirkan. sayangnya, bukan.

0 comments:

Post a Comment