...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

Showing posts with label kata. Show all posts
Showing posts with label kata. Show all posts

jarambah, tas punggung, dan jalan-jalan (menuju 'negara' dan 'kekuasaan')

saya senang melakukan perjalanan. itulah mungkin alasan teman saya menamai saya dengan "JARAMBAH", kata yang tidak saya mengerti pada mulanya (meski saya orang sunda ras murni :D). saya rasa penamaan itu kurang tepat. mengapa? karena perjalanan saya hanya perjalanan yang kecil, mudah, dan murah. tidak segaya orang-orang yang mengaku dirinya pembawa tas punggung alias backpacker. tapi jangan khawatir, saya sering merasa cukup lelah melakukan perjalanan lewat buku, tontonan, atau dongengan sejumlah orang. sejauh ini buat saya cukup dengan hanya membaca, mendengar, atau menyaksikan perjalanan orang lain ke tempat-tempat yang pernah atau bahkan tidak akan mungkin bisa saya jelajahi. merasa terwakili. meskipun dalam hati, saya masih tetap punya gerutu: kenapa mereka yang bisa ke tempat itu, bukan saya? :(

seperti sore tadi. pada salah satu saluran televisi nasional, saya menyimak sebuah rekaman perjalanan seorang laki-laki muda (saya masih tidak tahu namanya, padahal acara itu kegemaran saya selain wayang dan wisata kuliner) ke berbagai negara hanya dengan membawa backpack. saya suka karena di setiap akhir acara, program televisi itu selalu memberitahu rincian biaya yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan ke tempat yang dikunjungi. katakanlah sebagai referensi bagi para backpacker yang berniat menyusulnya ke sana suatu saat.

dari perjalanannya yang saya tonton tadi sore, ada satu tempat yang begitu saya ingat. memang bukan tempat dengan lanskap yang indah, tetapi sebuah daerah di wilayah laos yang jalanannya pekat dengan debu dan asap kendaraan.

masjid di vientiane, laos
vientiane, namanya. sebuah daerah kecil yang dihuni oleh mayoritas penduduk yang hijrah dari kamboja berpuluh-puluh tahun lalu. para pendatang itu memilih vientiane sebagai tempat untuk melarikan diri dari kekejaman rezim khmermerah. selain itu, kebanyakan mereka menganggap bahwa vientiane menjanjikan kehidupan perekonomian yang lebih mapan ketimbang tempat tinggal mereka sebelumnya (saya tiba-tiba ingat para pengungsi rohingya yang saat ini masih terlunta-lunta mencari tempat tinggal, beberapa ada yang terdampar di aceh, melarikan diri dari kekejaman pemerintah thailand).

bukan cuma itu. di vientiane, daerah dengan muslim mayoritas di laos, juga terdapat sebuah masjid tak terlalu besar bernama al azhar. yang menarik ada di gerbang halaman mesjid yang dibangun tahun 1976 oleh pengungsi kamboja tersebut. ada tiga bendera mengelebat-ngelebat dimainkan angin. salah satunya bendera berlambang palu arit, lambang negara laos yang memang diklaim masih mengasas pada ideologi komunisme.

bagi saya itu aneh. tapi tidak bagi sang imam masjid. baginya, hal itu dibolehkan. pertama, karena memang bendera itu memang harus dikibarkan di seluruh penjuru laos. kedua, "...yang penting mah akidahnya. ngga apa-apa kok bendera itu tetap bercokol di sana," tutur sang imam dengan terjemahan bebas versi saya. nah lho... n_n

saya masih tak habis pikir hingga saat ini. tak lazim. begitu kepala saya bilang. sebagaimana ketidaklaziman yang saya sematkan pada pemerintah di sejumlah negeri muslim (mesir, turki, tunisia, libya, dan seterusnya) yang mengeluarkan kebijakan yang 'out of mind' terhadap masjid-masjid yang berdiri di wilayahnya dengan dalih "siaga terorisme". what a bullshit matter.

di luar itu, lagi-lagi, membaca vientiane membuat saya memahami "negara" dan "kekuasaan" yang dulu pernah menjadi objek apriori saya karena dari sanalah, berdasarkan asumsi saya yang dulu, kekerasan dan penindasan juga penyimpangan idealisme muncul, berkembang, dan tahan lama. masjid dengan bendera palu arit itu menambah satu lagi trigger untuk menerima pemahaman bahwa negara punya kekuatan 'represif' yang sekali waktu dibutuhkan untuk menjaga kestabilan dan keseimbangan kekuasaannya. diskusi lebih lanjut mengenai kekuasaan dan negara? mari bertatap muka. cheers :D

reobjurgasi samakah dengan balik mencerca :D

ini hanya tanggapan dari tulisan luar biasa kawan saya, yuni (silakan klik di sini)
--------------------------------------

maksudnya "hal" apa ya, yu? bingung saya.

itulah kenapa akhirnya tidak perlu ditanya sastra mana maksud saya. jujur sebelum menulis itu, saya menyempatkan diri untuk mencari definisi objek yang akan saya tulis.

dan yuni yang saya sayangi karena Allaah, yu perlu tahu bahwa saya menuliskan apa yang pernah saya alami, particularly pengalaman saya saat bersentuhan sedikit dengan sastra dan para pengusung ke-bebas-an. memang lancang, ini saya akui. bahwa saya yang hanya bersentuhan sedikit saja dengan sastra telah begitu songong membicarakan sastra, -dan bukan hanya itu- bahkan mencercanya. namun -lagi-lagi saya melakukan pembenaran- pengalaman saya yang awam dengan sastra telah membuat saya bersikap seperti itu. saya tidak alergi dengan sastra dan hingga detik ini, kalau saya sempat, saya masih membaca beberapa karya. saya juga tidak alergi dengan kawan-kawan sastra. beberapa partner saya banyak yang kuliah di fakultas sastra and it's nice, indeed, as well as my other partners from other departments. it's not a matter for me at all. yang membuat saya alergi adalah superioritas yang sekonyong-konyong terbit saat dalam diri seseorang tersemat 'pemahaman sastra' (dan ini yang biasanya dapati dari kawan-kawan sastra -yang merekapun ternyata peroleh dari dosen-dosennya). sekonyong-konyong sastra menjadi satu-satunya jalan muncul dan berkembangnya kepekaan. padahal, bagi saya yang awam ini, bukan itu yang menjadi sumber kepekaan. bukan sastra. karena sastra adalah produknya. serupa bunga yang bisa indah, bisa menjadi sumber kebahagiaan berbahaya, bisa meracuni, bisa melukai, dan lain-lain.

saya sepakat dengan yu. pada dasarnya semua kembali pada diri kita sendiri, tepatnya pada pemahaman, pada keyakinan yang melahirkan pemahaman serta tindakan-tindakan kita. namun sayangnya, saya tidak sepakat bahwa kita menghadapinya dengan biasa saja. karena buat saya, tidak ada yang bebas nilai yang menyebabkan kita (saya maksudnya) merasa perlu menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa, sebagai sesuatu yang c'est la vie. tidak ada yang bebas nilai dalam penyikapan bagi seorang manusia. manusia tak kekal, sebagaimana kehidupan, sebagaimana segala yang melingkupi kita. apa yang kita 'biasa'kan, bisa jadi tak akan pernah 'biasa' di mata Allaah SWT, pencipta dan pengatur kita.

segala sesuatu memang berawal dari wacana, saya percaya. tapi bukan berarti akhirnya hanya wacana yang membuat seseorang atau banyak orang sibuk lantas lupa bahwa dengan wacana itulah perubahan semestinya diantarkan.

adapan tentang "jijik", beberapa kalimat terakhir dari paragraf sebelum inilah yang bikin saya "jijik". saya tetap tak bisa bersikap "biasa" saat mendapati siapapun yang merasa dengan sastra ia menjadi "bebas", merasa perlu membongkar tatanan yang mapan, dan -in the edge- merasa digdaya saat menggugat agama dan tuhan. ini yang "menjijikkan" dan tak bisa saya tanggapi dengan ke-'biasa'-an.

sejauh ini baru itu yang bisa saya jadikan tanggapan. dan saya sadar bahwa tanggapan ini kurang dimengerti karena struktur dan alurnya yang melompat-lompat (bahkan melompat terlalu jauh sehingga tidak nyambung). makanya saya bilang menulislah dengan ilmu, karena saya merasa ilmu saya kurang waktu menulis. lebih dari itu, pesan dari seorang tua ini kepada siapapun yang merasa muda, menulislah dengan pemahaman. ini juga yang sedang saya tanam dalam-dalam sebagai orang awam yang sering menulis untuk mencurahkan isi 'hati' minim 'kepala'. pembenaran saya untuk hal ini adalah bahwa menulis adalah memberi jeda dan menikmatinya untuk kembali bersegera, bukan malah menjadi celah melegitimasi sebuah pelanggaran aturan. (semoga Allaah mengampuni saya atas pelanggaran yang pernah atau sedang saya lakukan, sengaja atau tidak)

tulisan saya "objurgasi" itu adalah tulisan yang menggambarkan 'fase' saya dalam menyikapi sastra yang pernah ada di dua kutub yang vis a vis satu sama lain di waktu yang berbeda. "pernah" ya, yu, bukan sedang. nampaknya 'kepernahan' itu memang terlampau ekstrim. dan saya bersyukur saya bertemu hari jumat, hari bertemunya saya dengan guru saya. saya 200% yakin pengalaman yu yang sastrawati (secara akademis maupun praktis) jauh lebih kaya ketimbang saya. thus, yu lebih mampu menyikapinya dengan tepat daripada saya.

ya, semoga Allaah SWT memudahkan urusan kita dalam kebaikan.

O Allaah help me to see the truth as TRUTH and give me the strength to follow it, and O Allaah help me to see falsehood as FALSE and give me strength to abstain from it.



tambahan: tanaman yang saya suka itu merupakan golongan gulma-gulmaan, yu. namanya semanggi. bisa ditemukan dimana saja, karena memang tanamannya 'nyampah'.

lachrymose

.....hari kelima di tahun yang selalu diawali dengan hingar bingar yang sama

ya harusnya saya menuliskan ini 168 jam lalu dari waktu saya menuliskannya kembali sekarang. penyakit "ketidakmampuan menulis dadakan" tiba-tiba muncul. namun yakinlah, kata-kata itu belum retak, bahkan ia belum kehilangan aromanya, sama seperti saat pertama kali ia dimuntahkan dari sela-sela cericit lengking burung yang hampir kalah, dari antara celah nyanyi ayam yang membasi, dari tengah pijar mentari yang telah memar, dan dari tengah-tengah deru mesin yang mulai kelabu, pagi itu.

mienai mono wo kanjiyou
kibou ya negai wo
...
kimi no ashita wo miushinawanai
de
hatenai yume wo oikakete ikou
...*


--------------------------
* Carry On, Arashi
dedicated to someone who's working hard and doing his best for his dreams