seperti sore tadi. pada salah satu saluran televisi nasional, saya menyimak sebuah rekaman perjalanan seorang laki-laki muda (saya masih tidak tahu namanya, padahal acara itu kegemaran saya selain wayang dan wisata kuliner) ke berbagai negara hanya dengan membawa backpack. saya suka karena di setiap akhir acara, program televisi itu selalu memberitahu rincian biaya yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan ke tempat yang dikunjungi. katakanlah sebagai referensi bagi para backpacker yang berniat menyusulnya ke sana suatu saat.
dari perjalanannya yang saya tonton tadi sore, ada satu tempat yang begitu saya ingat. memang bukan tempat dengan lanskap yang indah, tetapi sebuah daerah di wilayah laos yang jalanannya pekat dengan debu dan asap kendaraan.
![]() |
| masjid di vientiane, laos |
bukan cuma itu. di vientiane, daerah dengan muslim mayoritas di laos, juga terdapat sebuah masjid tak terlalu besar bernama al azhar. yang menarik ada di gerbang halaman mesjid yang dibangun tahun 1976 oleh pengungsi kamboja tersebut. ada tiga bendera mengelebat-ngelebat dimainkan angin. salah satunya bendera berlambang palu arit, lambang negara laos yang memang diklaim masih mengasas pada ideologi komunisme.
bagi saya itu aneh. tapi tidak bagi sang imam masjid. baginya, hal itu dibolehkan. pertama, karena memang bendera itu memang harus dikibarkan di seluruh penjuru laos. kedua, "...yang penting mah akidahnya. ngga apa-apa kok bendera itu tetap bercokol di sana," tutur sang imam dengan terjemahan bebas versi saya. nah lho... n_n
saya masih tak habis pikir hingga saat ini. tak lazim. begitu kepala saya bilang. sebagaimana ketidaklaziman yang saya sematkan pada pemerintah di sejumlah negeri muslim (mesir, turki, tunisia, libya, dan seterusnya) yang mengeluarkan kebijakan yang 'out of mind' terhadap masjid-masjid yang berdiri di wilayahnya dengan dalih "siaga terorisme". what a bullshit matter.
di luar itu, lagi-lagi, membaca vientiane membuat saya memahami "negara" dan "kekuasaan" yang dulu pernah menjadi objek apriori saya karena dari sanalah, berdasarkan asumsi saya yang dulu, kekerasan dan penindasan juga penyimpangan idealisme muncul, berkembang, dan tahan lama. masjid dengan bendera palu arit itu menambah satu lagi trigger untuk menerima pemahaman bahwa negara punya kekuatan 'represif' yang sekali waktu dibutuhkan untuk menjaga kestabilan dan keseimbangan kekuasaannya. diskusi lebih lanjut mengenai kekuasaan dan negara? mari bertatap muka. cheers :D



0 comments:
Post a Comment