setelah berabad-abad, akhirnya saya nangkring juga di jurusan. sepi di sini. kawan-kawan saya pada kemana? (tidak perlu ikut menjawab, biar saya jawab saja dalam hati dengan penuh kepiluan - berlebihan mode on)di ujung lorong ada sekitar sepuluh orang. dugaan kuat saya, mereka adalah mahasiswa jurusan paling 'high class' di fakultas. saya tidak hendak menguping. saya hanya sedang menunggu istirahat dzuhur untuk bisa masuk kembali ke perpustakaan. birokrasi membuat semuanya mudah terkunci. perpustakaan. masjid. tempat-tempat yang seharusnya 'cukup basah' untuk melahirkan orang-orang hebat, para pemikir, politikus, bahkan negarawan.
dan di ujung lorong itu, beberapa gelintir mahasiswa membicarakan hal-hal besar. tentang berbagai kesepakatan internasional. tentang konstelasi politik internasional. tentang isu-isu lingkungan. tentang konflik. tentang tentang nasib bangsa. tentang media. tentang transmigrasi. tentang soeharto. tentang jurusannya yang 'keren', tentang bagaimana membuat proposal untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa, tentang keengganan untuk berorganisasi (salah seorang perempuan bersuara paling lantang mengatakan begini: "aku ngga pengen pake nama organisasi. aku pengen jadi orang yang tergerak karena kepedulian sosial aku. bahkan mengatasnamakan badan mahasiswa tertinggi unpad, sama sekali aku ngga bakalan mau"). tentang keharusan perempuan untuk bekerja sebelum berumah tangga (wuihhh... my mamah indeed). tentang kehidupan yang akan terus berdetak dengan perpanjangan visa dan passport. tentang peluang bisnis dan multinational corporations. tentang globalisasi yang menurut salah seorang dari mereka diidentikkan dengan hal-hal 'barat' yang diglobalkan. tentang kesempatan untuk menjadi maju dengan memutuskan untuk meninggalkan indonesia.
wufff... what's so scattered topics. isn't it? sungguh. sekali lagi, saya tidak sedang menguping karena suara mereka terlalu keras untuk tidak dipedulikan. namun hal itu membuat saya cukup menikmatinya sembari senyam-senyum. let's call it illuminating day breeze. akhirnya. ya. akhirnya ada yang cukup digdaya dari canda dan bicara mereka yang menyebut dirinya mahasiswa. ya. akhirnya.
time's up. saatnya kembali ke perpustakaan kita yang gemboknya kembali dibuka. dan saatnya kembali menerima bahwa pendidikan kita menciptakan sedikit saja yang membaca dan berbicara jika bukan karena terpaksa.


0 comments:
Post a Comment