tanggal dua puluh lima desember tahun lalu sekitar pukul sembilan, hp saya bergetar. sebuah sms masuk. nomor yang tidak kunjung saya hafal. adik saya yang bungsu. lelaki kecil itu memberi tahu bahwa hari itu umurnya genap bertambah satu tahun dalam hitung-hitungan kalender gregorian. saya mendadak mengecil dan merah. malu. merasa bersalah dan tidak pantas jadi seorang kakak. saya membesar kembali setelah saya juga ingat bahwa saya masih punya cadangan kata maaf (wufff.. kata ini membongkar luka lama dan memunculkan rasa bersalah pada seorang sahabat yang saya kasihi). saya ketik balasan pesan pendek itu untuk adik saya. begini bunyinya: "hehe.. si dede udah gede ya? maafin dieu ya, de. dede pengen apa?"
tak lama, pesan lain masuk kembali ke ponsel saya. masih dari adik saya. terlalu sigap sepertinya. balasannya begini: "kaos timnas irfan bachdim".
lugas dan pada saat yang sama membuat saya kaget untuk yang kedua kalinya. yang ada di kepala saya: kenapa adik saya memilih barang sebanal itu? buat apa? saya juga tidak tahu dimana harus membelinya (meskipun akhir-akhir ini saya sering melihat para penjual segara merchandise ke-timnas-an bertebaran di pinggir-pinggir jalan). sejak saat itu, saya pun tak berpikir untuk membelikan apa yang adik saya minta. lebih tepatnya, saya jadikan opsi terakhir yang seharusnya tidak saya pikirkan.
hari-hari pun berlalu, tahun pun berganti digit. beberapa kali saya minta saran pada sejumlah kawan mengenai hadiah untuk lelaki kecil yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar itu. tapi tak pernah ada tanggapan serius. setidaknya begitulah kesan yang saya tangkap. dan beberapa waktu lalu saya baru ingat kembali, pencarian belum usai. saya bertanya pada seorang kawan yang pernah mengalami saat-saat menjadi lelaki kecil. tapi, ya begitulah. pertanyaan ini memang hanya memunculkan jawaban yang terlampau subyektif (seperti kawan saya bilang).
tak puas dengan mencari ke kawan-kawan. saya pun dengan bodohnya mengetik keyword: how to choose the gift di halaman google. mesin pencari itu merekomendasikan saya terlalu banyak link. bikin saya bingung. lagi-lagi, cara saya untuk mencari tahu hadiah apa yang bermakna untuk adik saya gagal.
dan ini pula yang membuat saya merasa ada yang bergejolak, memanas, dan membuat air saya tumpah seperti air yang direbus dalam panci dengan kondisi penuh. meluap. bercecer. luber. apa yang bisa saya andalkan dari posisi saya sebagai anak pertama, sebagai kakak. nihil. saya benar-benar sedang merasa sedang berada di titik paling dalam dari sebuah jurang. inilah saat saya dimana saya merasa benar-benar tidak bisa hadir sebagai sumber bahagia bagi orang lain, bahkan bagi orang-orang terdekat dalam hidup saya. bahkan saat dihadapkan pada pilihan hadiah apa yang harus saya berikan untuk adik saya yang -saya yakin- masih tetap teguh dengan permintaan sederhananya. betapa mengenaskan.
saya jadi ingat. satu waktu di beberapa tahun lalu, adik saya yang lelaki itu pernah berlari menghampiri saya yang sedang duduk di depan komputer di rumah. di tangannya ada dua es krim ala kampung saya, di tangan kanan, sebuah es krim yang hanya dioleskan pada selembar roti tawar dan di tangan yang satu lagi es krim corong (kami menyebutnya es tungtung karena penjualnya memukul sebuah besi mirip gong sebesar mangkok yang bunyinya "tung-tung"). dengan manisnya ia bertanya, "ini es tung tung buat dieu. dieu mau yang mana?". saya melemparkan senyum ke arahnya. "waah.. beneran? dieu pilih yang dede ngga mau aja." saya yakin,adik saya kebingungan dengan tanggapan saya semacam itu. tapi akhirnya, ia pun memilih, "kalo dede yang corong, ngga apa-apa?". kata saya, "asik dieu yang roti." dan kami berdua menikmati es itu dengan lahap. adik saya, adik saya tampak bahagia. saya tidak tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya, karena dia bukan satomi kenichi (odagiri joe) dalam salah satu dorama jepang paling bikin haru: satorare.
ah, saya benar-benar malu.
dia tak sekecil ini sekarang |
-----------------------------------------------
sepertinya Allaah SWT sedang mengingatkan saya yang pathetic ini tentang sesuatu yang penuh arti itu tak mesti rumit. namun entahlah... saya masih perlu memahami peringatan itu dengan jalan yang tetap tidak sederhana.


1 comments:
Alhamdulilillah seperti film Korea saja :). Jadi inget Babeh sendiri. Nuhun ah Dieu.
Post a Comment