i'm tired of running
you know in my life
i'm always searching for something
you are the only one that leaves me speechless
with words i can't forget
if we meet tomorrow
what to say?
to convey these feelings
don't laugh and listen
but surely i can say
tomorrow
you know in my life
i'm always searching for something
you are the only one that leaves me speechless
with words i can't forget
if we meet tomorrow
what to say?
to convey these feelings
don't laugh and listen
but surely i can say
tomorrow
saat mematut diri, semua seakan menyembul-nyembul --seperti gas kentut adik saya waktu main air-- minta dipikirkan
seharian di kamis lalu saya bersama bapak menyusuri banyak sudut di kota bandung. adik saya yang besar rungsing, minta dibelikan komputer yang bisa dijinjing. dalihnya banyak, sebanyak saya dulu.
bapak menelepon, saya masih di kosan baru, di daerah sadangserang yang terjal ini. bapak bilang, tak usah bertemu di salah satu pusat perbelanjaan elektronik di bandung. bapak menunggu di pahlawan. saya diminta naik angkot dan jemput bapak di sana.
saya sudah lama tak pulang. itu artinya, penampakan bapak punya peluang nol koma sembilan persen berubah dari terakhir kali saya mencium lengannya yang berurat beberapa bulan lalu. mungkin lebih kurus. mungkin juga gemuk. mungkin perutnya makin buncit. mungkin wajahnya sudah bersih karena bercukur. mungkin juga masih memelihara kumisnya yang tegas. mungkin makin hitam. mungkin. ah semua serba mungkin.
dari dalam angkot, dari kejauhan, saya melihat seseorang mirip bapak. tapi begitu kurus dan mukanya bersih. kecuali kumis itu. kumis itu milik bapak saya. benar, itu bapak saya. saya minta supir angkot berhenti dan melongok ke luar, memanggil bapak. makin hitam si bapak. bapak duduk di samping saya. saya mencium lengannya yang masih berurat. kali ini makin tegas. lelaki itu menanyakan kabar saya yang memang sedang baik-baik saja, kecuali isi kepala yang sedang rumit (andai bapak tahu). bapak pun begitu saya kira. andai saja saya tahu. saya tahu, tapi tak banyak. lantas kami pun larut dalam pembicaraan dengan gaya kami (berbicara tanpa bersitatap), tentang adik saya yang rungsing, tentang mamah, tentang adik saya yang kecil dan bercita-cita untuk menjadi pemain bola, tentang neneto dan kaketo, tentang rumah yang sudah rapuh, tentang studi saya, tentang pekerjaan saya, tentang banyaaaak. dan angkutan kota yang kami tumpangi terus saja berjalan, tak peduli bahwa dua penumpang di belakangnya (dan memang hanya dua orang, saya dan bapak) sedang 'bertamasya' dari satu topik ke topik yang lain.
kami tiba di perhentian utama kami. pusat belanja elektronik yang dipantati gramedia. seya sempat mampir beberapa jeda di gramedia diskon, sembari menunggu bapak shalat dzuhur. siapa tahu ada buku yang saya incar atau barangkali komik, seperti saran salah seorang kawan, untuk adik saya. tapi bapak sudah memanggil via ponsel. saya harus menyetor muka saya ke bapak. kemudian berputar-putarlah kami di salah satu gedung belanja yang rikuh itu. jika tidak terpaksa karena ada keperluan, saya paling malas mendatangi tempat ramai.
saya sempat beberapa kali bersitegang dengan bapak soal produk komputer jinjing mana yang akan kami pilih. saya membantah bapak dengan ilmu kekomputeran saya yang pas-pasan. sedang bapak hanya mengandalkan ego dan argumentasi "katanya". saya juga kesal pada bapak yang sedikit-sedikit selalu menghubungi adik saya yang pasti rungsing dan bersikukuh dengan merk titipannya. saya bilang, bahwa prioritas pencarian barang kami adalah harga yang terjangkau dan performa kerja komputer yang tak perlu kalah dengan barang mahal. saya pikir, cara bapak yang selalu berkonsultasi dengan adik saya, tidak akan menyelesaikan kebingungan. saya juga bilang, kepala saya nyaris pecah dan saya mau muntah. tempat ini bukan tempat yang menyenangkan buat saya. saya meninggalkan bapak di tempatnya berjalan. saya naik ke lantai dua. saya kesal. tapi bukan untuk menghindari bapak saja tujuan saya naik eskalator, tapi untuk memastikan spesifikasi barang yang tadi kami sambangi. bapak memanggil-manggil saya beberapa kali. eskalator yang beroperasi pelan itu menyadarkan saya bahwa saya sudah berbuat tidak adil pada bapak. saya menoleh dan minta bapak menunggu di bawah. mungkin saat itulah di dalam diri bapak saya juga ada gumam tentang kondisi pendidikan bapak yang jauh lebih rendah dibanding anaknya. bagaimana saya mengira-ngira? karena setelah saya kembali turun ke lantai tempat bapak menunggu, bapak bilang semua pilihan terserah saya tanpa raut marah. saya benar-benar merasa bersalah. sangat. sangat.
hingga pencarian usai dan komputer jinjing dengan budget minim untuk adik saya sudah kami bawa, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. setelah kami shalat ashar bergantian, bapak mengajak saya untuk mencarikan tas punggung khusus komputer jinjing, juga untuk adik saya yang besar. bapak baik sekali mencarikan segala hal untuk adik saya. saya sedikit iri. tapi tak apalah, toh saya sudah punya tas bonus dulu. kami keliling gramedia lagi. sekalian mencari hadiah yang tepat untuk adik saya yang bungsu. bapak tak jadi membeli tas. saya pun begitu. melihat label di barang-barang yang kami taksir, bikin niat kami mesti urung.
tak sampai di situ. pencarian kami berlanjut karena adik saya yang bungsu beberapa puluh kali mengirim pesan pendek, minta dibelikan sepatu futsal. mentari yang menguning itu pun membuat kami pesimis untuk memperpanjang rute berkeliling di kota kembang. sepatu itu pun tak kunjung kami temukan di pusat belanja seberang gramedia dago. ada, tapi lagi-lagi perkara label membuat kami, keluarga yang seadanya ini, menyusut seketika. tak jadi beli. kami mengambil alternatif lain untuk mengganti sepatu futsal dengan makanan. saya menghubungi adik saya. minta maaf karena sudah sore jadi tak sempat untuk mencari tempat pencarian lain. adik saya yang bungsu itu ternyata lebih memilih kepulangan saya. "ya udah, ga apa-apa. asal dieu jadi pulang sama bapak." saya senyum. o, adik yang teramat saya kasihi. saya pasti akan menggendong dia sesampainya saya di rumah. harus. :D
terlalu sore. kami tak kebagian angkutan luar kota yang biasa menjadi langganan saya sekeluarga saat pergi ke luar kota. bapak mengajak saya ke tegal lega. kata bapak, di situ biasanya masih ada travel. kami sampai di tegal lega. belum ada mobil travel di sana. bapak sempat cemas jangan-jangan angkutan terakhir sudah pergi. tapi ada kondektur angkutan di sana yang meyakinkan kami bahwa mobil akan sampai sekitar pukul setengah tujuh. nyaris maghrib waktu itu. bapak masih bersemangat mengajak saya berkeliling pasar tegal lega. pundak saya sudah panas, kaki juga. dan saya yakin, bapak pun begitu. apalagi, ia harus menjinjing kantong kresek super besar berisi komputer jinjing dan dusnya. hingga di ujung pasar, lagi-lagi tak ada yang kami dapat kecuali lelah. kami mampir ke sebuah masjid di ujung gang sempit untuk shalat maghrib. bergantian. karena ada barang yang harus kami jaga, harus kami sampaikan untuk adik saya yang cantik tapi rungsing itu.
kami kembali ke pangkalan travel. sudah ada mobil terparkir di sana. kami mesti menunggu lama sampai mobil itu benar-benar berangkat. bahkan saya dan bapak sempat makan. perut saya sudah berdangdut. saya yakin bapak juga. bapak mengeluh karena nasinya terlalu sedikit, meski sudah saya tambahkan setengah nasi saya. bukan porsi kuli, kata bapak.
jangan pernah membayangkan kami terlalu gaya dan kaya menumpangi travel untuk sampai ke rumah kami. awalnya saya kira begitu. tapi perlu digarisbawahi, ini travel kampung. dari kota ke kampung. sudah lebih dari jam setengah sebelas malam, kami harus menyusuri hutan yang lebat di balik tepi lembah karena ada salah satu penumpang travel yang harus disampaikan tepat di depan halaman rumahnya. jalanan sempit, rusak, dan gelap itu kami lalui juga. anggap saja jalan-jalan, begitu kata bapak. ini resiko naik travel (saya kasih tambahan ya: ala kampung). coba kalau naik angkutan biasa, sudah sejak pukul delapan sepertinya saya dan bapak sudah santai sambil menikmati kopi hangat di kursi ruang tengah. dan adik saya (yang besar juga yang kecil) tak perlu repot-repot menteror bapak, menanyakan sudah sampai dimana dan berapa lama lagi tiba di rumah. saya sih biasa saja. mengeluh pun, saya pikir, tidak akan membuat saya dan bapak cepat tiba di rumah. anggap saja, seperti bapak saya bilang, menikmati perjalanan keliling malam-malam, meskipun saya sudah beberapa kali sendawa karena masuk angin.
hampir jam dua belas malam di layar ponsel saya. akhirnya tiba juga saya di depan pintu rumah yang saya rindukan. sayup, dua adik saya berjingkrakan. adik saya yang besar senang karena komputer jinjing impiannya. adik saya yang kecil senang karena saya (tolong kawan-kawan jangan muntah, karena memang begitu kenyataannya). lalu bapak saya? siapa yang menanti? mamah. ya, mamah dengan kaos dalam yang diselimuti kain sarung dan rambut acak-acakan karena baru bangun tidur itu pasti harap-harap cemas menanti bagian dari dirinya. bapak saya. juga anaknya. (hihi.. )
saya sudah mencatat rasa kesal saya pada bapak di sini. saya sudah mencatat dongkol saya di sini. saya sudah mencatat perjalanan lebih kurang empat belas jam antara bapak dan saya, yang sudah bukan lagi gadis kecil bapak. tapi, saya belum bilang betapa kakunya saya waktu sesekali bapak memegang tangan saya ketika menyebrang. tangan yang sama seperti yang saya genggam belasan tahun lalu, namun lebih keras dan saya sudah mendefinisikan hangat tangannya dengan cara yang berbeda dengan adieu kecil belasan tahun lalu. saya juga belum bilang bahwa sepanjang perjalanan ada satu kebiasaan yang hilang. rasa gelisah yang tiap kali tumbuh ketika angkutan yang saya tumpangi tak kunjung menyampaikan saya ke depan rumah. rasa gelisah itu hilang kemarin, ketika saya menyisir perjalanan bersama bapak. yang justru timbul adalah sesuatu yang baru: ketenangan dan rasa aman, karena saya sedang berada dekat dengan sosok orang yang saya kasihi: bapak saya.
Allaahummaghfirliy waliwaalidaya warham-huma kamaa rabbayaanii shaghiiraa. Ya Allaah, sayangi, lindungi, dan berkahilah hidup sosok orang-orang yang saya kasihi, di dunia dan di akhirat. hamparkanlah pengampunan dan surga-Mu untuk mereka. Allaahumma aamiin.
saya tak ingin, pada saatnya nanti saya mesti berlabuh, dan menyesali senja yang datang begitu cepat tanpa mengerti apa yang telah terjadi saat matahari masih tinggi dulu.
i got to tell you my entire story
it's bad and i am still ashamed of it
i was a baby in the family
still acted like a kid with a big attitude
happiness is in our hands
but we are adults
i ought to be understood
it’s still good to say
i said i never want to talk to you
i raised my voice i yelled at you
caught unaware
you’re hurt
i was a baby in the family
still acted like a kid with a big attitude
happiness is in our hands
but we are adults
i ought to be understood
it’s still good to say
i said i never want to talk to you
i raised my voice i yelled at you
caught unaware
you’re hurt
can we not be honest?
but i want to be honest
because i got to tell you face to face
you're the No.1 DADDY in the world
i want you to hear me
i know that you're right
wish you knew that i'm sorry
but you're the only one that leaves my speechless
so i can't tell you yet
o if we never had tomorrow
i don't know how i'd forgive myself
you're the only one i will follow
no matter who i aim to be, you'll be a part of me
sometimes it's bitter & sweet
sometime it's hard to see it
and sometimes we forget it weeps
sometimes we lose it in the heat
life is short now i'm making my statement
i see it no waiting another moment
my story of me and my daddy
do not forget we stayed
if we meet tomorrow
what to say? don't take it away
for all the lies
i told you now
you took me farthert
but i want to be honest
because i got to tell you face to face
you're the No.1 DADDY in the world
i want you to hear me
i know that you're right
wish you knew that i'm sorry
but you're the only one that leaves my speechless
so i can't tell you yet
o if we never had tomorrow
i don't know how i'd forgive myself
you're the only one i will follow
no matter who i aim to be, you'll be a part of me
sometimes it's bitter & sweet
sometime it's hard to see it
and sometimes we forget it weeps
sometimes we lose it in the heat
life is short now i'm making my statement
i see it no waiting another moment
my story of me and my daddy
do not forget we stayed
if we meet tomorrow
what to say? don't take it away
for all the lies
i told you now
you took me farthert
then i could go
tomorrow, if i see you,
what to say to keep you from walking away
there's so much I'm feeling,
that keeps me breathing
but surely i can say
tomorrow...*
tomorrow, if i see you,
what to say to keep you from walking away
there's so much I'm feeling,
that keeps me breathing
but surely i can say
tomorrow...*
* blaise plant ft benni becca, ashita


2 comments:
Jadi kangen sama Ayah gue....
Sy selalu iri pada mite-mite yg dituliskan oleh tukang yg membuat Jendela ini; penuh kedetilan hidup yg sering sy lewatkan.
Sy suka kalimat sederhana yg menimbulkan efek yg tidak sederhana ini, "...adik saya yang kecil senang karena saya,".
Post a Comment