...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

pada perempuan yang perutnya menggembung seperti fugu

hari ini saya melihat cara bersalaman yang tidak wajar. setidaknya menurut saya. kejadiannya sekilas. dan saya melihat beberapa kali orang melakukannya.

bukan. bukan tangan raih tangan. saya melihat hal lain. perempuan itu, perempuan yang disalami itu pun seolah tanpa keberatan membiarkan tangan-tangan mereka menggerayangi perutnya yang menggembung persis seperti ikan fugu.

entah rapal apa yang keluar dari mulut mereka yang mengelus-elus perut buncit itu. saya benar-benar tidak tahu. saya hanya tahu bahwa dari kejauhan air muka mereka tidak menunjukkan hal-hal yang kurang ajar. dan saya hanya tahu bahwa saya yang duduk di angkot ini ribut dan risih dengan sesuatu yang tidak menimpa saya. saya sibuk bersoliluqui. sementara perempuan itu, tampak menikmati pembicaraan sewajarnya.

apa yang salah? imajinasimu yang terlalu berlebihan, tukas penumpang angkot yang duduk di sebelah saya. saya menengok ke sisi kanan. saya kaget. karena penumpang itu tidak berbicara apapun. ia masih bermasyuk mengamati pemandangan dipati ukur yang dipenuhi anak muda yang mahasiswa, yang berkerumun, yang penuh gaya, dari balik jendela.

saya jadi berpikir, bahwa bersalaman (dengan mempertemukan tangan dengan tangan untuk saling berjabat) hanya simbol yang sesekali bisa berubah. mempertemukan pipi dengan pipi (saya lebih sering menyodorkan batok kepala ketimbang pipi) saat sesama spesies saya saling bertemu pun hanya simbol. saling memegang janggut di tanah raja abdullah pun hanya simbol. atau saling meludahi dahak dalam film slapstick ace ventura pun tak lebih dari simbol. bisa berubah. bisa berganti. namun tak bisa sembarangan. orang mesti ingat bahwa setiap simbol itu mengandung pesan yang harus bisa diterima dan dimengerti. simbol yang menyesuaikan dengan pesan yang ingin disampaikan.

benar, bersalaman adalah simbol. simbol yang bisa berarti memperlihatkan rasa saling berkasih sayang, menukarkan beberapa iris kepercayaan. dari sini maka saya bilang wajar jim carrey kesal dan merasa dilecehkan saat seorang kepala suku di afrika mendahakinya dalam salah satu adegan di film besutan tom shadyac itu. detektif sinting tersebut tidak mengetahui bahwa sang kepala suku tengah memuliakannya sebagai seorang tamu, tengah menyalaminya. buktinya, setelah mengetahui bahwa anggapannya keliru, ace (jim carrey) pun menyalami sang kepala suku dengan 'dahak' (yakkkksss...) yang tak kalah banyak (nah kalo ini mah bukan menghormati, tapi balas dendam. jangan kayak gitu ya, kawan-kawan).

dan di zaman yang membuat saya curiga terhadap setiap jeda bangunan, terhadap setiap sudut benteng, terhadap setiap pinggiran pohon --dengan asumsi kuat bahwa tempat-tempat itu strategis untuk kencing para 'kucing'--, di zaman yang menuntut orang terseret dengan ritme dan dinamika kosong yang cepat ini, simbol serupa kulit yang lupa kacangnya (hahay). hampa. maka wajarlah siapapun dengan kepentingan apapun bisa menggonta-ganti simbol itu, bahkan hingga bisa mengubahnya menjadi sama sekali beda dengan pesan yang seharusnya disampaikan (bisa jadi suatu saat memuliakan sama dengan menjilati tapak sepatu, atau saling melempar pecahan beling, atau bisa jadi dengan saling menikam). ya, siapa yang tahu jika -lagi-lagi- orang dibiarkan bebas mengikuti kehendaknya sendiri dan kepedulian raib bersama dengan tegaknya banyak bangunan. what's common today, could be strange tomorrow. what's right today, could be wrong tomorrow.

maka saya bersyukur bahwa kegamangan hidup saya berakhir, meski saya sulit menerima bahwa saya masih soliloquist. sering bermonolog, termasuk saat ini, saat menyaksikan tangan-tangan yang mengelus perut mahasiswi pascasarjana yang hamil itu. ah. barangkali bersama tangan-tangan itu ada bahagia yang hadir, ada harapan dan doa yang terpanjat, semoga yang mendekam di balik rahim itu lahir sebagai manusia yang akan melengkapi kesempurnaan hidup yang tak lama.

meski tangan saya tidak turut menggerayangi perut bulat perempuan itu: "semoga Allaah SWT melimpahkan keberkahan atasmu. semoga rasa syukur itu tak lekang bertambah, hanya pada Allaah yang Maha Memberi Karunia. semoga Allaah SWT membiarkanmu dewasa serta mempersembahkan kebaikan dan baktimu pada kedua orang tuamu."

0 comments:

Post a Comment