tahun kemarin dia masih sebesar kelingking. tahun ini pun begitu. di mata saya, dia tetap seperti itu. harus tetap seperti itu. saya sedang berusaha untuk menyenyumi sesuatu yang tak kunjung mudah untuk diterima. dia, adik saya tersayang, sudah tumbuh sebagai lelaki kelas enam sd. masa transisi, begitu orang banyak bilang, menuju berubahnya suara. seandainya bisa, saya ingin adik saya tetap sebesar kelingking. saya ingin dia tetap jadi lelaki kecil yang selalu minta ditemani ke kamar mandi. saya ingin dia tetap menjadi lelaki kecil yang membelikan saya sebungkus wafer cokelat sepulang sekolah. saya ingin dia tetap menjadi lelaki kecil yang senang memainkan mobil-mobilan, membaca komik beyblader dan tsubatsa, juga menulis dengan gaya yang terlalu mengharukan untuk dikatakan rapi. jahat? begitulah. ada cemas yang begitu besar merayap di setiap kata yang sudah dilafalkannya sempurna. cemas itu sempat luput saya rasakan dari adik saya yang besar. cemas itu adalah cemas yang pernah menjadi salah satu pompa menulis bagi tagore, gandhi, dan gibran untuk saya kutip kembali dalam buku catatan. cemas itu adalah cemas yang harus dirasakan oleh mereka yang mulai menjadi tua kepada yang dianggap muda.
seandainya dia sebongkah clay, tangan saya siap membentuknya untuk menjadi apa yang saya pikirkan. sayangnya, bukan.
Showing posts with label adik. Show all posts
Showing posts with label adik. Show all posts
Aug 4, 2011
0
Jan 12, 2011
1
purezento
saya baru sadar betapa mengenaskan saya ini.
tanggal dua puluh lima desember tahun lalu sekitar pukul sembilan, hp saya bergetar. sebuah sms masuk. nomor yang tidak kunjung saya hafal. adik saya yang bungsu. lelaki kecil itu memberi tahu bahwa hari itu umurnya genap bertambah satu tahun dalam hitung-hitungan kalender gregorian. saya mendadak mengecil dan merah. malu. merasa bersalah dan tidak pantas jadi seorang kakak. saya membesar kembali setelah saya juga ingat bahwa saya masih punya cadangan kata maaf (wufff.. kata ini membongkar luka lama dan memunculkan rasa bersalah pada seorang sahabat yang saya kasihi). saya ketik balasan pesan pendek itu untuk adik saya. begini bunyinya: "hehe.. si dede udah gede ya? maafin dieu ya, de. dede pengen apa?"
tak lama, pesan lain masuk kembali ke ponsel saya. masih dari adik saya. terlalu sigap sepertinya. balasannya begini: "kaos timnas irfan bachdim".
lugas dan pada saat yang sama membuat saya kaget untuk yang kedua kalinya. yang ada di kepala saya: kenapa adik saya memilih barang sebanal itu? buat apa? saya juga tidak tahu dimana harus membelinya (meskipun akhir-akhir ini saya sering melihat para penjual segara merchandise ke-timnas-an bertebaran di pinggir-pinggir jalan). sejak saat itu, saya pun tak berpikir untuk membelikan apa yang adik saya minta. lebih tepatnya, saya jadikan opsi terakhir yang seharusnya tidak saya pikirkan.
hari-hari pun berlalu, tahun pun berganti digit. beberapa kali saya minta saran pada sejumlah kawan mengenai hadiah untuk lelaki kecil yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar itu. tapi tak pernah ada tanggapan serius. setidaknya begitulah kesan yang saya tangkap. dan beberapa waktu lalu saya baru ingat kembali, pencarian belum usai. saya bertanya pada seorang kawan yang pernah mengalami saat-saat menjadi lelaki kecil. tapi, ya begitulah. pertanyaan ini memang hanya memunculkan jawaban yang terlampau subyektif (seperti kawan saya bilang).
tak puas dengan mencari ke kawan-kawan. saya pun dengan bodohnya mengetik keyword: how to choose the gift di halaman google. mesin pencari itu merekomendasikan saya terlalu banyak link. bikin saya bingung. lagi-lagi, cara saya untuk mencari tahu hadiah apa yang bermakna untuk adik saya gagal.
dan ini pula yang membuat saya merasa ada yang bergejolak, memanas, dan membuat air saya tumpah seperti air yang direbus dalam panci dengan kondisi penuh. meluap. bercecer. luber. apa yang bisa saya andalkan dari posisi saya sebagai anak pertama, sebagai kakak. nihil. saya benar-benar sedang merasa sedang berada di titik paling dalam dari sebuah jurang. inilah saat saya dimana saya merasa benar-benar tidak bisa hadir sebagai sumber bahagia bagi orang lain, bahkan bagi orang-orang terdekat dalam hidup saya. bahkan saat dihadapkan pada pilihan hadiah apa yang harus saya berikan untuk adik saya yang -saya yakin- masih tetap teguh dengan permintaan sederhananya. betapa mengenaskan.
saya jadi ingat. satu waktu di beberapa tahun lalu, adik saya yang lelaki itu pernah berlari menghampiri saya yang sedang duduk di depan komputer di rumah. di tangannya ada dua es krim ala kampung saya, di tangan kanan, sebuah es krim yang hanya dioleskan pada selembar roti tawar dan di tangan yang satu lagi es krim corong (kami menyebutnya es tungtung karena penjualnya memukul sebuah besi mirip gong sebesar mangkok yang bunyinya "tung-tung"). dengan manisnya ia bertanya, "ini es tung tung buat dieu. dieu mau yang mana?". saya melemparkan senyum ke arahnya. "waah.. beneran? dieu pilih yang dede ngga mau aja." saya yakin,adik saya kebingungan dengan tanggapan saya semacam itu. tapi akhirnya, ia pun memilih, "kalo dede yang corong, ngga apa-apa?". kata saya, "asik dieu yang roti." dan kami berdua menikmati es itu dengan lahap. adik saya, adik saya tampak bahagia. saya tidak tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya, karena dia bukan satomi kenichi (odagiri joe) dalam salah satu dorama jepang paling bikin haru: satorare.
ah, saya benar-benar malu.
-----------------------------------------------
sepertinya Allaah SWT sedang mengingatkan saya yang pathetic ini tentang sesuatu yang penuh arti itu tak mesti rumit. namun entahlah... saya masih perlu memahami peringatan itu dengan jalan yang tetap tidak sederhana.
tanggal dua puluh lima desember tahun lalu sekitar pukul sembilan, hp saya bergetar. sebuah sms masuk. nomor yang tidak kunjung saya hafal. adik saya yang bungsu. lelaki kecil itu memberi tahu bahwa hari itu umurnya genap bertambah satu tahun dalam hitung-hitungan kalender gregorian. saya mendadak mengecil dan merah. malu. merasa bersalah dan tidak pantas jadi seorang kakak. saya membesar kembali setelah saya juga ingat bahwa saya masih punya cadangan kata maaf (wufff.. kata ini membongkar luka lama dan memunculkan rasa bersalah pada seorang sahabat yang saya kasihi). saya ketik balasan pesan pendek itu untuk adik saya. begini bunyinya: "hehe.. si dede udah gede ya? maafin dieu ya, de. dede pengen apa?"
tak lama, pesan lain masuk kembali ke ponsel saya. masih dari adik saya. terlalu sigap sepertinya. balasannya begini: "kaos timnas irfan bachdim".
lugas dan pada saat yang sama membuat saya kaget untuk yang kedua kalinya. yang ada di kepala saya: kenapa adik saya memilih barang sebanal itu? buat apa? saya juga tidak tahu dimana harus membelinya (meskipun akhir-akhir ini saya sering melihat para penjual segara merchandise ke-timnas-an bertebaran di pinggir-pinggir jalan). sejak saat itu, saya pun tak berpikir untuk membelikan apa yang adik saya minta. lebih tepatnya, saya jadikan opsi terakhir yang seharusnya tidak saya pikirkan.
hari-hari pun berlalu, tahun pun berganti digit. beberapa kali saya minta saran pada sejumlah kawan mengenai hadiah untuk lelaki kecil yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar itu. tapi tak pernah ada tanggapan serius. setidaknya begitulah kesan yang saya tangkap. dan beberapa waktu lalu saya baru ingat kembali, pencarian belum usai. saya bertanya pada seorang kawan yang pernah mengalami saat-saat menjadi lelaki kecil. tapi, ya begitulah. pertanyaan ini memang hanya memunculkan jawaban yang terlampau subyektif (seperti kawan saya bilang).
tak puas dengan mencari ke kawan-kawan. saya pun dengan bodohnya mengetik keyword: how to choose the gift di halaman google. mesin pencari itu merekomendasikan saya terlalu banyak link. bikin saya bingung. lagi-lagi, cara saya untuk mencari tahu hadiah apa yang bermakna untuk adik saya gagal.
dan ini pula yang membuat saya merasa ada yang bergejolak, memanas, dan membuat air saya tumpah seperti air yang direbus dalam panci dengan kondisi penuh. meluap. bercecer. luber. apa yang bisa saya andalkan dari posisi saya sebagai anak pertama, sebagai kakak. nihil. saya benar-benar sedang merasa sedang berada di titik paling dalam dari sebuah jurang. inilah saat saya dimana saya merasa benar-benar tidak bisa hadir sebagai sumber bahagia bagi orang lain, bahkan bagi orang-orang terdekat dalam hidup saya. bahkan saat dihadapkan pada pilihan hadiah apa yang harus saya berikan untuk adik saya yang -saya yakin- masih tetap teguh dengan permintaan sederhananya. betapa mengenaskan.
saya jadi ingat. satu waktu di beberapa tahun lalu, adik saya yang lelaki itu pernah berlari menghampiri saya yang sedang duduk di depan komputer di rumah. di tangannya ada dua es krim ala kampung saya, di tangan kanan, sebuah es krim yang hanya dioleskan pada selembar roti tawar dan di tangan yang satu lagi es krim corong (kami menyebutnya es tungtung karena penjualnya memukul sebuah besi mirip gong sebesar mangkok yang bunyinya "tung-tung"). dengan manisnya ia bertanya, "ini es tung tung buat dieu. dieu mau yang mana?". saya melemparkan senyum ke arahnya. "waah.. beneran? dieu pilih yang dede ngga mau aja." saya yakin,adik saya kebingungan dengan tanggapan saya semacam itu. tapi akhirnya, ia pun memilih, "kalo dede yang corong, ngga apa-apa?". kata saya, "asik dieu yang roti." dan kami berdua menikmati es itu dengan lahap. adik saya, adik saya tampak bahagia. saya tidak tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya, karena dia bukan satomi kenichi (odagiri joe) dalam salah satu dorama jepang paling bikin haru: satorare.
ah, saya benar-benar malu.
dia tak sekecil ini sekarang |
-----------------------------------------------
sepertinya Allaah SWT sedang mengingatkan saya yang pathetic ini tentang sesuatu yang penuh arti itu tak mesti rumit. namun entahlah... saya masih perlu memahami peringatan itu dengan jalan yang tetap tidak sederhana.
Jul 31, 2010
0
grumbling
banyak yang ingin saya catat malam ini. tentang adik laki-laki saya yang akan datang menjemput saya esok hari bersama bapak. tentang tugas-tugas di penghujung batas. tentang keteraturan. tentang segala benda yang menemani saya beberapa bulan ini. tentang kampung halaman. dan tentang makna tinggal. sebab itu, saya kira malam ini saya berencana untuk terjaga.ya, besok adik saya yang saya rindukan itu akan datang. saya menduga tingginya sudah hampir sekuping saya. tapi barangkali keceriaan dan gaya 'manja'-nya selalu sama karena posisinya sebagai anak bungsu dan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga belum tergeser oleh apapun. benar, adik saya akan membantu saya mengangkat sejumlah barang dari kosan saya sekarang. mungkin hanya sekedar tas punggung, keyboard, dan buku-buku. kontrakan cepot yang saya tinggali sudah habis masa sewanya. saatnya bermigrasi. saya, bapak, dan adik saya akan sibuk bersama esok hari.
tapi, tahukah, saya dibikin bingung. kemanakah saya akan hinggap sementara tugas-tugas belum tuntas dan waktu semakin mendekati batas. benar goenawan mohamad bilang, orang dewasa adalah orang yang selalu resah dengan segala yang detail. gm mengamini sejumlah pemikir dan sastrawan yang berkata bahwa orang dewasa adalah orang yang selalu bicara angka-angka, efisiensi, serta rasionalitas. dan sayalah salah satu orang dewasa dalam terminologi gm itu. orang yang tengah resah, menghitung-hitung efisiensi, dan mempertimbangkan rasionalitas.
keterdesakan punya dua kemungkinan. pertama, terdesak membuat orang cerdas. dimana segala potensi keluar secara maksimal dan optimal. ini yang sering jadi bulan-bulanan para trainer: orang terdesak saja bisa optimal apalagi jika dipersiapkan jauh-jauh hari. itulah mengapa kawan saya mengatakan dalam kalimat tak langsung: we must think future is present. berkhayal? bukan, kilah kawan saya. sekedar menciptakan persiapan-persiapan pada sesuatu yang sesuai rencana atau terbalik sama sekali.
namun, jangan pernah lupa, terdesak pun punya wajah kemungkinan yang lain lagi: membuat orang kalap, buntu, dan kehilangan semua yang rasional. pada titik ini, yang tersisa hanya yang emosional. ini pula yang sering saya rasakan. mungkin juga kamu.
menangis dan malafalkan mantra-mantra keluhan pada satu titik adalah adalah cara untuk membasuh ketidaksiapan menerima porsi itu. pada akhirnya memang keluhan itu harus sementara. menangis pun begitu. sebabnya iman, yang sering dicerca oleh kaum yang merasa hadir setelah modernisme itu, memang mengharuskan siapapun yang memilikinya untuk bangkit serta menyusun serangkaian rencana untuk memperbaiki kehidupan dan berbagai kelumit yang muncul di dalamnya.
maka saya pikir, simpulan gm tentang orang dewasa itu belum final. orang dewasa adalah orang yang tahu dirinya adalah sesuatu yang lemah, yang sekali waktu tak mampu merasionalkan situasi. oleh sebab itu, maka harapan tak perlu putus. dan keyakinan bahwa yang terdesak itu pun bisa dilalui terus disuburkan.
itu yang ingin saya catat, kebingungan yang kadang mengantarkan saya pada penyesalan serta dorongan untuk menyelesaikan. karena, meskipun selalu muncul di penghujung, saya masih merasa bahwa Allaah SWT tak pernah absen memberikan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.
besok saya harus mangkat dari kamar cepot yang telah membuat saya cukup damai dan nyaman untuk tinggal ini. dan itulah "tinggal" yang masih harus terdefinisikan oleh konteks kesementaraan. sekilas. sekilas. sekilas. meski nyaman, tak bisa ditinggali selamanya. serupa shelter, dimana saya, kamu, dan semua orang yang hidup akan melanjutkan perjalanannya kembali. kemana? masing-masing kita punya pilihan. dan bukan hanya itu, di ujung sana itu ada kepastian. kepastian tentang sebuah kala dimana kita semua akan ditanya. dan di ujung itu pula "tinggal" tak lagi menjadi sementara. itu pula barangkali yang membuat manusia harus mengerti bahwa semua yang sekilas tak boleh begitu saja lepas. mesti ada makna, mesti ada kesan, mesti ada pelajaran.
...the secret of getting started is going ahead...
saya harus segera berkemas. dan malam ini saya sepertinya tak tidur. mendaftar barang, memilah-milahnya, mengepaknya, mengerjakan draft revisi biar besok saya bisa pulang kampung seperti yang saya janjikan pada adik dan ibu saya. sometimes it's nice for being organized.outside it's raining, still you shine
how i've missed your trembling hands inside of mine
i've been away for ages, still you care
do you count the sundays when i'm there
...
(K's Choice)
i've been away for ages, still you care
do you count the sundays when i'm there
...
(K's Choice)
Jul 26, 2010
0
pria kecil yang sangat saya rindukan
saya sedang begitu merindukan pria kecil ini. dalam beberapa hari terakhir, dia juga telah membuat saya cengeng seketika. entah kenapa, rindu saya terhadap si bungsu dan pria kedua di rumah ini selalu lebih besar dari adik saya yang pertama. dia tak pernah punya dialog lain selain pertanyaan kapan saya pulang tiap kali saya menghubungi rumah melalui telepon. dia sudah kelas 5 sd. badannya pasti sudah berkali-kali lebih besar dari foto yang saya pampangkan di jendela sekarang.jadi anak yang shalih ya, de!


