...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

ulul bilang belajar

begini ulul bilang: 

aku belajar diam dari banyaknya bicara
aku belajar sabar dari sebuah kemarahan
aku belajar mengalah dari suatu keegoisan
aku belajar menangis dari kebahagiaan
aku belajar tegar dari kehilangan
karena hidup adalah belajar
belajar bersyukur meski tak cukup
belajar ikhlas meski tak rela
--------------------------------------------------------------------------------
whooaaaa (berbinar mode on)!!!! ulul-chan, daicukiiiiii...

saudara-saudara, ini adalah tangan the ulul. buleud, kayak pipinya. that's why daicukiiii :) you're growing, sisso. hounto daicukiiii

punk'd

ini catatan yang menguak kegilaan di masa lalu. for the victim, maafkan saya dunia akhirat ya!
--------------------------


Harusnya saya mencatat ini beberapa hari lalu. Awalnya saya kira tidak perlu. Basi kalaupun mau maksa. Tapi, postingannya Yuni bikin saya gatal, ingin menuliskan juga kejadian 14 Februari lalu, hari dimana keisengan saya -lagi-lagi- memuncak. Jadilah kawan saya korbannya. Atau saya? :( Gimana pun... Gomen ne, XXX-san!!!

Sore yang padam...

Saya : "Cuy, jangan pulang dulu yak, ada yang mau gue kasih."
(lama tak ada tanggapan)
Saya : "Pokonya jangan dulu pulang, gue mau sholat dulu."
Dia : "Emang mau ngapain? Apaan?"
(saya sedang shalat)
Saya : "Ada kado buat lu. Spesial dari gue hari ini."
Dia : "Kado apaan?"
Saya : "Hadiah buat lu. Gue kan orangnya baek banget. Pokonya ntar lu ambil ya. Kita janjian di depan."
Dia : "Oke"
....
....(krik krik)....
....
Dia : "Woi...!!!!"
(saya musti memastikan dimana arah suara itu bersumber karena di luar gelap sekali dan angin bertiup sangat kencang. tangan saya ikut sibuk memegang bagian depan dan belakang kerudung)
Dia : "Woi!!"
(akhirnya saya bisa melihatnya, manusia berbaju hitam, kulitnya?hehe...)
Saya : "Whaha...kirain dimana. Gue ngga liat. Susah. Kegelapan dalam kegelapan."
Dia : "Kurang ajar."
Saya : "Nih, buat lu."
Dia : "Apaan nih?"
Saya : "Tadi gue ngiri liat orang-orang pada ngasih kado. Ya udah, lu juga gue kasih."
Dia : "Makasih ya!"
Saya : "Yoy. Tapi ada syaratnya. Lu boleh buka tuh kado kalo udah ada di tempat yang terang. Oke?"
Dia : "Sip. Gue kasih apa nih buat lu?"
Saya : "Mobil."
Dia : "Mana mungkin? Minta aja sama temen lu itu."
Saya : "Becanda kok. Itu hadiah buat elu. Gue ngga ngutangin kok. Jadi ngga mesti lu bayar. Heuheu..."
Dia : "Pokonya makasih banget yak!"
Saya : "Sip."
.....berdetik-detik
.....bermenit-menit
.....berjam-jam
Dia : "Gila. Baru naek angkot nih gw."
(saya terperanjat. si kampret segera saya raih)
Saya : "Tuh angkot lampunya nyala apa ngga?"
Dia : "Iya. Kenapa?"
Saya : "Udah lu buka?"
Dia : "Belum. Ntar aja. Tapi beneran nih gue ngga usah ngasih apa-apa buat elu?"
Saya : "Yaelah itu lagi. Nih ya, yang penting lu buka tuh cepet-cepet! Inget, di tempat terang."
Dia : "Pasti gue buka. Makasih lagi ah."
....
....(krik-krik)....
....
....(krik-krik)....
....

Percakapan hari itu berakhir. Padahal saya berharap tidak menemukan akhir 'semanis' dan 'sesunyi' itu.

Besoknya, malam-malam...
Dia : "Gue baru ngeh buku yang lu kasih itu bukunya simpatisan PDP. Lu pernah aktif di sana ya?"
Saya : "BASI LU!"

Ternyata rencana yang saya anggap akan lucu itu hanya berubah jadi kacang dan kerupuk. Saya tidak benar-benar tertawa seperti yang ada dalam bayangan saya sore itu, ketika saya membungkus rapi buku kampanye "Laksamana Sukardi dan PDP" yang saya dapat di kantin Salman itu dengan kertas koran. Saya tidak puas sama sekali. Padahal, ketika saya menuliskan "Ini spesial buat lu dari Adieu" pada kertas yang saya tempel di muka Laksamana Sukardi itu, saya membayangkan akan muncul umpatan-umpatan dari mulut kawan saya dan muka saya jadi merah karena senang diumpat.

Hufffhhh.... Sepertinya keinginan saya untuk menyamai Pidi Baiq, master of 'iseng', father of monster and molen. Allah memang lebih tahu. Makasih Ya Allah, Kau memang keren.

Too much "punk'd" in this world. So, happy punk'd-lentine!
"Rrrrgggghhh..........."




-----------------------------
begitulah kira-kira. don't try this at home! :p

pistol kacang

semua orang kena. hanya nabiki yang tetap tenang. wajahnya yang manis dan sikapnya yang selalu ramah memang cukup menjamin bahwa kakak akane itu tidak akan pernah jadi sasaran tembak pistol kacang yang dibeli ayahnya. hingga suatu saat, karena ranma, ayahnya ranma, akane, dan ayah akane terlalu sering kena tembak, mereka bersekongkol untuk membuat nabiki kesal. ranma dan akane mengobrak-abrik kamar nabiki, mencari barang kesayangan nabiki. dan....tadannnn...CELENGAN KOIN SATU YEN. sayangnya, usaha ranma dan akane gagal, seperti saya mungkin (yang sering sekali gagal saat berusaha): benar-benar kacang. pistol kacang kembali menembaki ranma yang marah karena dalam celengan tersebut, nabiki menyembunyikan foto ranma ketika berubah jadi perempuan.

jangan bayangkan pistol kacang itu seperti ak47, atau mungkin senjata-senjata lain yang lebih futuristik yang digunakan israel dan amerika serikat untuk menyerang saudara-saudara kita di palestina, irak, afghanistan, pakistan, dan tempat-tempat lainnya. jauuuuuh. pistol kacang hanya sejenis tanaman. bentuknya seperti angsa, dengan kepalanya sebagai bunga kuncup yang sewaktu-waktu bisa menembak siapa saja. pistol kacang adalah tanaman legendaris yang sejak dulu digunakan oleh para nenek moyang untuk mengusir setan. tapi, seiring dengan berkurangnya setan, permintaan akan pistol kacang pun berkurang drastis, dan sekarang tanaman ini jadi langka.

saya ingin protes pada takahashi rumiko. siapa bilang setan berkurang saat ini? bukannya perkembangbiakan setan lebih banyak dari kedipan mata manusia? seandainya saja, saat membuat komik edisi 34 ini, rumiko ada di gaza, di kandahar, di waziristan, di baghdad, atau mungkin di indonesia, atau dimanapun di dunia ini, bukan di sebuah apartemen nyaman di jepang, mungkin cerita langkanya pistol kacang yang melegenda itu tidak akan pernah ada. pistol kacang akan dijual seperti halnya kacang. ada dimana-mana, dengan harga murah.

dan kita akan membeli banyak. kita selundupkan lewat terowongan di rafah untuk gaza, kita selundupkan lewat perlintasan torkham antara afghanistan dan pakistan. dan pada saat tentara keji zionis serta salibis itu kembali melakukan serangannya, biar pistol kacang itu yang membalas mereka dengan tembakannya yang bertubi-tubi. bahkan sebelum senjata tentara-tentara la'natullah 'alayh itu dikokang, pistol kacang sudah lebih dulu menyerang. dan cerita tertembaknya pasukan penjajah itu oleh pistol kacang akan jadi dagelan paling lucu yang pernah kita saksikan, sama seperti saya terpingkal-pingkal membaca ranma. barangkali saat itu pula, untuk pertama kalinya, kita akan mendengar gaza, afghan, pakistan, irak, dan lainnya bergemuruh karena tawa geli penduduknya.

"tok..tok...tok..."

"ya?"

"teh, mau beli makan ngga?"

"ngga. emang ika mau kemana?"

"keluar. jalan-jalan, nemenin si 'boc'. stress dia."

"oo...ya udah lah hati-hati. saya keluar kayaknya. tapi ntar malem."

"okew deh. dadah, teteh."

saya kembali ke depan monitor, dengan tulang leher bagian punggung yang nyut-nyutan. mungkin memang sebaiknya saya sadar. bahwa pistol kacang hanya ada dalam imajinasi rumiko dan saya yang membaca karyanya. tapi, saya masih tetap yakin, kekuasaan Allaah lebih dahsyat ketimbang khayalan rumiko di komik ranma.



(mari kembali bekerja, adieu!!!)

jarambah, tas punggung, dan jalan-jalan (menuju 'negara' dan 'kekuasaan')

saya senang melakukan perjalanan. itulah mungkin alasan teman saya menamai saya dengan "JARAMBAH", kata yang tidak saya mengerti pada mulanya (meski saya orang sunda ras murni :D). saya rasa penamaan itu kurang tepat. mengapa? karena perjalanan saya hanya perjalanan yang kecil, mudah, dan murah. tidak segaya orang-orang yang mengaku dirinya pembawa tas punggung alias backpacker. tapi jangan khawatir, saya sering merasa cukup lelah melakukan perjalanan lewat buku, tontonan, atau dongengan sejumlah orang. sejauh ini buat saya cukup dengan hanya membaca, mendengar, atau menyaksikan perjalanan orang lain ke tempat-tempat yang pernah atau bahkan tidak akan mungkin bisa saya jelajahi. merasa terwakili. meskipun dalam hati, saya masih tetap punya gerutu: kenapa mereka yang bisa ke tempat itu, bukan saya? :(

seperti sore tadi. pada salah satu saluran televisi nasional, saya menyimak sebuah rekaman perjalanan seorang laki-laki muda (saya masih tidak tahu namanya, padahal acara itu kegemaran saya selain wayang dan wisata kuliner) ke berbagai negara hanya dengan membawa backpack. saya suka karena di setiap akhir acara, program televisi itu selalu memberitahu rincian biaya yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan ke tempat yang dikunjungi. katakanlah sebagai referensi bagi para backpacker yang berniat menyusulnya ke sana suatu saat.

dari perjalanannya yang saya tonton tadi sore, ada satu tempat yang begitu saya ingat. memang bukan tempat dengan lanskap yang indah, tetapi sebuah daerah di wilayah laos yang jalanannya pekat dengan debu dan asap kendaraan.

masjid di vientiane, laos
vientiane, namanya. sebuah daerah kecil yang dihuni oleh mayoritas penduduk yang hijrah dari kamboja berpuluh-puluh tahun lalu. para pendatang itu memilih vientiane sebagai tempat untuk melarikan diri dari kekejaman rezim khmermerah. selain itu, kebanyakan mereka menganggap bahwa vientiane menjanjikan kehidupan perekonomian yang lebih mapan ketimbang tempat tinggal mereka sebelumnya (saya tiba-tiba ingat para pengungsi rohingya yang saat ini masih terlunta-lunta mencari tempat tinggal, beberapa ada yang terdampar di aceh, melarikan diri dari kekejaman pemerintah thailand).

bukan cuma itu. di vientiane, daerah dengan muslim mayoritas di laos, juga terdapat sebuah masjid tak terlalu besar bernama al azhar. yang menarik ada di gerbang halaman mesjid yang dibangun tahun 1976 oleh pengungsi kamboja tersebut. ada tiga bendera mengelebat-ngelebat dimainkan angin. salah satunya bendera berlambang palu arit, lambang negara laos yang memang diklaim masih mengasas pada ideologi komunisme.

bagi saya itu aneh. tapi tidak bagi sang imam masjid. baginya, hal itu dibolehkan. pertama, karena memang bendera itu memang harus dikibarkan di seluruh penjuru laos. kedua, "...yang penting mah akidahnya. ngga apa-apa kok bendera itu tetap bercokol di sana," tutur sang imam dengan terjemahan bebas versi saya. nah lho... n_n

saya masih tak habis pikir hingga saat ini. tak lazim. begitu kepala saya bilang. sebagaimana ketidaklaziman yang saya sematkan pada pemerintah di sejumlah negeri muslim (mesir, turki, tunisia, libya, dan seterusnya) yang mengeluarkan kebijakan yang 'out of mind' terhadap masjid-masjid yang berdiri di wilayahnya dengan dalih "siaga terorisme". what a bullshit matter.

di luar itu, lagi-lagi, membaca vientiane membuat saya memahami "negara" dan "kekuasaan" yang dulu pernah menjadi objek apriori saya karena dari sanalah, berdasarkan asumsi saya yang dulu, kekerasan dan penindasan juga penyimpangan idealisme muncul, berkembang, dan tahan lama. masjid dengan bendera palu arit itu menambah satu lagi trigger untuk menerima pemahaman bahwa negara punya kekuatan 'represif' yang sekali waktu dibutuhkan untuk menjaga kestabilan dan keseimbangan kekuasaannya. diskusi lebih lanjut mengenai kekuasaan dan negara? mari bertatap muka. cheers :D

acak

------------------







AYO BUKU, BACA MATAKU!*










----------------
* Duel, Joko Pinurbo

...creepy

bagaimana kemarahan mesti diungkapkan?

kemarin malam adalah kali pertama saya merasa harus marah pada beberapa kawan. mengapa? akumulatif sebabnya. tapi, saya jamin, tidak ada emosi yang meletup berlebihan di kepala saya, kecuali greget pada beberapa hal. saat itu pula saya berencana untuk menjadi galak jika bertemu mereka. saya sudah siapkan beberapa poin yang ingin saya sampaikan. saya pun sudah menyusun gaya marah minim ego, tanpa mereduksi ketegasan dan kesan pada kawan-kawan saya itu bahwa saya sedang berbeda saat itu. saya marah. ini serius.

besoknya...

kami bertemu seperti biasa. sebelum membuat kawan-kawan baku dalam lingkaran, saya sempat melepaskan sejumlah kelakar, bahkan kelakar dari hal-hal yang tidak perlu dan diada-adakan. ini pun seperti biasa, karena saya memang tipikal orang yang tukang bojes. dan hingga lingkaran itu tidak lagi dibakukan, saya masih saja berkelakar. ya Allaah ampuni hamba-Mu yang pelawak abangan ini. saya hanya tidak ingin apa yang sampai tidak serupa kilat dan halilintar.

setelah beberapa jeda, setelah membenarkan ikat sepatu kami masing-masing, saya dan kawan-kawan pun bubar. (mudah-mudahan tidak sampai mengurangi keseriusan dalam menghayati pemahaman ya, kawan-kawan. gomenasai..)

di jalan menuju pulang...

ya ampuuun, saya lupa dengan kegalakan yang sudah saya rancang sejak malam.*


pada akhirnya, semua itu tak mesti disampaikan dengan marah dan galak saya kira.^^


----------------------
*saya tidak lupa poinnya. yang saya lupa adalah gayanya. hufffttt.. tapi, saya tetap menyayangi kawan-kawan saya yang manis, besar-besar, dan menyenangkan itu.

momento (3): you're my number one daddy in the world

i'm tired of running
you know in my life
i'm always searching for something
you are the only one that leaves me speechless
with words i can't forget

if we meet tomorrow

what to say?
to convey these feelings
don't laugh and listen
but surely i can say
tomorrow

 

 saat mematut diri, semua seakan menyembul-nyembul --seperti gas kentut adik saya waktu main air-- minta dipikirkan


seharian di kamis lalu saya bersama bapak menyusuri banyak sudut di kota bandung. adik saya yang besar rungsing, minta dibelikan komputer yang bisa dijinjing. dalihnya banyak, sebanyak saya dulu.

bapak menelepon, saya masih di kosan baru, di daerah sadangserang yang terjal ini. bapak bilang, tak usah bertemu di salah satu pusat perbelanjaan elektronik di bandung. bapak menunggu di pahlawan. saya diminta naik angkot dan jemput bapak di sana.

saya sudah lama tak pulang. itu artinya, penampakan bapak punya peluang nol koma sembilan persen berubah dari terakhir kali saya mencium lengannya yang berurat beberapa bulan lalu. mungkin lebih kurus. mungkin juga gemuk. mungkin perutnya makin buncit. mungkin wajahnya sudah bersih karena bercukur. mungkin juga masih memelihara kumisnya yang tegas. mungkin makin hitam. mungkin. ah semua serba mungkin.

dari dalam angkot, dari kejauhan, saya melihat seseorang mirip bapak. tapi begitu kurus dan mukanya bersih. kecuali kumis itu. kumis itu milik bapak saya. benar, itu bapak saya. saya minta supir angkot berhenti dan melongok ke luar, memanggil bapak. makin hitam si bapak. bapak duduk di samping saya. saya mencium lengannya yang masih berurat. kali ini makin tegas. lelaki itu menanyakan kabar saya yang memang sedang baik-baik saja, kecuali isi kepala yang sedang rumit (andai bapak tahu). bapak pun begitu saya kira. andai saja saya tahu. saya tahu, tapi tak banyak. lantas kami pun larut dalam pembicaraan dengan gaya kami (berbicara tanpa bersitatap), tentang adik saya yang rungsing, tentang mamah, tentang adik saya yang kecil dan bercita-cita untuk menjadi pemain bola, tentang neneto dan kaketo, tentang rumah yang sudah rapuh, tentang studi saya, tentang pekerjaan saya, tentang banyaaaak. dan angkutan kota yang kami tumpangi terus saja berjalan, tak peduli bahwa dua penumpang di belakangnya (dan memang hanya dua orang, saya dan bapak) sedang 'bertamasya' dari satu topik ke topik yang lain.

kami tiba di perhentian utama kami. pusat belanja elektronik yang dipantati gramedia. seya sempat mampir beberapa jeda di gramedia diskon, sembari menunggu bapak shalat dzuhur. siapa tahu ada buku yang saya incar atau barangkali komik, seperti saran salah seorang kawan, untuk adik saya. tapi bapak sudah memanggil via ponsel. saya harus menyetor muka saya ke bapak. kemudian berputar-putarlah kami di salah satu gedung belanja yang rikuh itu. jika tidak terpaksa karena ada keperluan, saya paling malas mendatangi tempat ramai.

saya sempat beberapa kali bersitegang dengan bapak soal produk komputer jinjing mana yang akan kami pilih. saya membantah bapak dengan ilmu kekomputeran saya yang pas-pasan. sedang bapak hanya mengandalkan ego dan argumentasi "katanya". saya juga kesal pada bapak yang sedikit-sedikit selalu menghubungi adik saya yang pasti rungsing dan bersikukuh dengan merk titipannya. saya bilang, bahwa prioritas pencarian barang kami adalah harga yang terjangkau dan performa kerja komputer yang tak perlu kalah dengan barang mahal. saya pikir, cara bapak yang selalu berkonsultasi dengan adik saya, tidak akan menyelesaikan kebingungan. saya juga bilang, kepala saya nyaris pecah dan saya mau muntah. tempat ini bukan tempat yang menyenangkan buat saya. saya meninggalkan bapak di tempatnya berjalan. saya naik ke lantai dua. saya kesal. tapi bukan untuk menghindari bapak saja tujuan saya naik eskalator, tapi untuk memastikan spesifikasi barang yang tadi kami sambangi. bapak memanggil-manggil saya beberapa kali. eskalator yang beroperasi pelan itu menyadarkan saya bahwa saya sudah berbuat tidak adil pada bapak. saya menoleh dan minta bapak menunggu di bawah. mungkin saat itulah di dalam diri bapak saya juga ada gumam tentang kondisi pendidikan bapak yang jauh lebih rendah dibanding anaknya. bagaimana saya mengira-ngira? karena setelah saya kembali turun ke lantai tempat bapak menunggu, bapak bilang semua pilihan terserah saya tanpa raut marah. saya benar-benar merasa bersalah. sangat. sangat.


hingga pencarian usai dan komputer jinjing dengan budget minim untuk adik saya sudah kami bawa, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. setelah kami shalat ashar bergantian, bapak mengajak saya untuk mencarikan tas punggung khusus komputer jinjing, juga untuk adik saya yang besar. bapak baik sekali mencarikan segala hal untuk adik saya. saya sedikit iri. tapi tak apalah, toh saya sudah punya tas bonus dulu. kami keliling gramedia lagi. sekalian mencari hadiah yang tepat untuk adik saya yang bungsu. bapak tak jadi membeli tas. saya pun begitu. melihat label di barang-barang yang kami taksir, bikin niat kami mesti urung.

tak sampai di situ. pencarian kami berlanjut karena adik saya yang bungsu beberapa puluh kali mengirim pesan pendek, minta dibelikan sepatu futsal. mentari yang menguning itu pun membuat kami pesimis untuk memperpanjang rute berkeliling di kota kembang. sepatu itu pun tak kunjung kami temukan di pusat belanja seberang gramedia dago. ada, tapi lagi-lagi perkara label membuat kami, keluarga yang seadanya ini, menyusut seketika. tak jadi beli. kami mengambil alternatif lain untuk mengganti sepatu futsal dengan makanan. saya menghubungi adik saya. minta maaf karena sudah sore jadi tak sempat untuk mencari tempat pencarian lain. adik saya yang bungsu itu ternyata lebih memilih kepulangan saya. "ya udah, ga apa-apa. asal dieu jadi pulang sama bapak." saya senyum. o, adik yang teramat saya kasihi. saya pasti akan menggendong dia sesampainya saya di rumah. harus. :D

terlalu sore. kami tak kebagian angkutan luar kota yang biasa menjadi langganan saya sekeluarga saat pergi ke luar kota. bapak mengajak saya ke tegal lega. kata bapak, di situ biasanya masih ada travel. kami sampai di tegal lega. belum ada mobil travel di sana. bapak sempat cemas jangan-jangan angkutan terakhir sudah pergi. tapi ada kondektur angkutan di sana yang meyakinkan kami bahwa mobil akan sampai sekitar pukul setengah tujuh. nyaris maghrib waktu itu. bapak masih bersemangat mengajak saya berkeliling pasar tegal lega. pundak saya sudah panas, kaki juga. dan saya yakin, bapak pun begitu. apalagi, ia harus menjinjing kantong kresek super besar berisi komputer jinjing dan dusnya. hingga di ujung pasar, lagi-lagi tak ada yang kami dapat kecuali lelah. kami mampir ke sebuah masjid di ujung gang sempit untuk shalat maghrib. bergantian. karena ada barang yang harus kami jaga, harus kami sampaikan untuk adik saya yang cantik tapi rungsing itu.

kami kembali ke pangkalan travel. sudah ada mobil terparkir di sana. kami mesti menunggu lama sampai mobil itu benar-benar berangkat. bahkan saya dan bapak sempat makan. perut saya sudah berdangdut. saya yakin bapak juga. bapak mengeluh karena nasinya terlalu sedikit, meski sudah saya tambahkan setengah nasi saya. bukan porsi kuli, kata bapak.

jangan pernah membayangkan kami terlalu gaya dan kaya menumpangi travel untuk sampai ke rumah kami. awalnya saya kira begitu. tapi perlu digarisbawahi, ini travel kampung. dari kota ke kampung. sudah lebih dari jam setengah sebelas malam, kami harus menyusuri hutan yang lebat di balik tepi lembah karena ada salah satu penumpang travel yang harus disampaikan tepat di depan halaman rumahnya. jalanan sempit, rusak, dan gelap itu kami lalui juga. anggap saja jalan-jalan, begitu kata bapak. ini resiko naik travel (saya kasih tambahan ya: ala kampung). coba kalau naik angkutan biasa, sudah sejak pukul delapan sepertinya saya dan bapak sudah santai sambil menikmati kopi hangat di kursi ruang tengah. dan adik saya (yang besar juga yang kecil) tak perlu repot-repot menteror bapak, menanyakan sudah sampai dimana dan berapa lama lagi tiba di rumah. saya sih biasa saja. mengeluh pun, saya pikir, tidak akan membuat saya dan bapak cepat tiba di rumah. anggap saja, seperti bapak saya bilang, menikmati perjalanan keliling malam-malam, meskipun saya sudah beberapa kali sendawa karena masuk angin.

hampir jam dua belas malam di layar ponsel saya. akhirnya tiba juga saya di depan pintu rumah yang saya rindukan. sayup, dua adik saya berjingkrakan. adik saya yang besar senang karena komputer jinjing impiannya. adik saya yang kecil senang karena saya (tolong kawan-kawan jangan muntah, karena memang begitu kenyataannya). lalu bapak saya? siapa yang menanti? mamah. ya, mamah dengan kaos dalam yang diselimuti kain sarung dan rambut acak-acakan karena baru bangun tidur itu pasti harap-harap cemas menanti bagian dari dirinya. bapak saya. juga anaknya. (hihi.. )

saya sudah mencatat rasa kesal saya pada bapak di sini. saya sudah mencatat dongkol saya di sini. saya sudah mencatat perjalanan lebih kurang empat belas jam antara bapak dan saya, yang sudah bukan lagi gadis kecil bapak. tapi, saya belum bilang betapa kakunya saya waktu sesekali bapak memegang tangan saya ketika menyebrang. tangan yang sama seperti yang saya genggam belasan tahun lalu, namun lebih keras dan saya sudah mendefinisikan hangat tangannya dengan cara yang berbeda dengan adieu kecil belasan tahun lalu. saya juga belum bilang bahwa sepanjang perjalanan ada satu kebiasaan yang hilang. rasa gelisah yang tiap kali tumbuh ketika angkutan yang saya tumpangi tak kunjung menyampaikan saya ke depan rumah. rasa gelisah itu hilang kemarin, ketika saya menyisir perjalanan bersama bapak. yang justru timbul adalah sesuatu yang baru: ketenangan dan rasa aman, karena saya sedang berada dekat dengan sosok orang yang saya kasihi: bapak saya.


Allaahummaghfirliy waliwaalidaya warham-huma kamaa rabbayaanii shaghiiraa. Ya Allaah, sayangi, lindungi, dan berkahilah hidup sosok orang-orang yang saya kasihi, di dunia dan di akhirat. hamparkanlah pengampunan dan surga-Mu untuk mereka. Allaahumma aamiin.


saya tak ingin, pada saatnya nanti saya mesti berlabuh, dan menyesali senja yang datang begitu cepat tanpa mengerti apa yang telah terjadi saat matahari masih tinggi dulu.

i got to tell you my entire story
it's bad and i am still ashamed of it
i was a baby in the family
still acted like a kid with a big attitude
happiness is in our hands
but we are adults
i ought to be understood
it’s still good to say
i said i never want to talk to you
i raised my voice i yelled at you
caught unaware
you’re hurt
can we not be honest?
but i want to be honest
because i got to tell you face to face
you're the No.1 DADDY in the world

i want you to hear me
i know that you're right
wish you knew that i'm sorry
but you're the only one that leaves my speechless
so i can't tell you yet

o if we never had tomorrow
i don't know how i'd forgive myself
you're the only one i will follow
no matter who i aim to be, you'll be a part of me

sometimes it's bitter & sweet
sometime it's hard to see it
and sometimes we forget it weeps
sometimes we lose it in the heat
life is short now i'm making my statement
i see it no waiting another moment
my story of me and my daddy
do not forget we stayed

if we meet tomorrow
what to say? don't take it away
for all the lies
i told you now
you took me farthert
then i could go

tomorrow, if i see you,
what to say to keep you from walking away
there's so much I'm feeling,
that keeps me breathing
but surely i can say
tomorrow...
*



--------------------------------
* blaise plant ft benni becca, ashita

purezento

saya baru sadar betapa mengenaskan saya ini.

tanggal dua puluh lima desember tahun lalu sekitar pukul sembilan, hp saya bergetar. sebuah sms masuk. nomor yang tidak kunjung saya hafal. adik saya yang bungsu. lelaki kecil itu memberi tahu bahwa hari itu umurnya genap bertambah satu tahun dalam hitung-hitungan kalender gregorian. saya mendadak mengecil dan merah. malu. merasa bersalah dan tidak pantas jadi seorang kakak. saya membesar kembali setelah saya juga ingat bahwa saya masih punya cadangan kata maaf (wufff.. kata ini membongkar luka lama dan memunculkan rasa bersalah pada seorang sahabat yang saya kasihi). saya ketik balasan pesan pendek itu untuk adik saya. begini bunyinya: "hehe.. si dede udah gede ya? maafin dieu ya, de. dede pengen apa?"

tak lama, pesan lain masuk kembali ke ponsel saya. masih dari adik saya. terlalu sigap sepertinya. balasannya begini: "kaos timnas irfan bachdim".

lugas dan pada saat yang sama membuat saya kaget untuk yang kedua kalinya. yang ada di kepala saya: kenapa adik saya memilih barang sebanal itu? buat apa? saya juga tidak tahu dimana harus membelinya (meskipun akhir-akhir ini saya sering melihat para penjual segara merchandise ke-timnas-an bertebaran di pinggir-pinggir jalan). sejak saat itu, saya pun tak berpikir untuk membelikan apa yang adik saya minta. lebih tepatnya, saya jadikan opsi terakhir yang seharusnya tidak saya pikirkan.

hari-hari pun berlalu, tahun pun berganti digit. beberapa kali saya minta saran pada sejumlah kawan mengenai hadiah untuk lelaki kecil yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar itu. tapi tak pernah ada tanggapan serius. setidaknya begitulah kesan yang saya tangkap. dan beberapa waktu lalu saya baru ingat kembali, pencarian belum usai. saya bertanya pada seorang kawan yang pernah mengalami saat-saat menjadi lelaki kecil. tapi, ya begitulah. pertanyaan ini memang hanya memunculkan jawaban yang terlampau subyektif (seperti kawan saya bilang).

tak puas dengan mencari ke kawan-kawan. saya pun dengan bodohnya mengetik keyword: how to choose the gift di halaman google. mesin pencari itu merekomendasikan saya terlalu banyak link. bikin saya bingung. lagi-lagi, cara saya untuk mencari tahu hadiah apa yang bermakna untuk adik saya gagal.

dan ini pula yang membuat saya merasa ada yang bergejolak, memanas, dan membuat air saya tumpah seperti air yang direbus dalam panci dengan kondisi penuh. meluap. bercecer. luber. apa yang bisa saya andalkan dari posisi saya sebagai anak pertama, sebagai kakak. nihil. saya benar-benar sedang merasa sedang berada di titik paling dalam dari sebuah jurang. inilah saat saya dimana saya merasa benar-benar tidak bisa hadir sebagai sumber bahagia bagi orang lain, bahkan bagi orang-orang terdekat dalam hidup saya. bahkan saat dihadapkan pada pilihan hadiah apa yang harus saya berikan untuk adik saya yang -saya yakin- masih tetap teguh dengan permintaan sederhananya. betapa mengenaskan.

saya jadi ingat. satu waktu di beberapa tahun lalu, adik saya yang lelaki itu pernah berlari menghampiri saya yang sedang duduk di depan komputer di rumah. di tangannya ada dua es krim ala kampung saya, di tangan kanan, sebuah es krim yang hanya dioleskan pada selembar roti tawar dan di tangan yang satu lagi es krim corong (kami menyebutnya es tungtung karena penjualnya memukul sebuah besi mirip gong sebesar mangkok yang bunyinya "tung-tung"). dengan manisnya ia bertanya, "ini es tung tung buat dieu. dieu mau yang mana?". saya melemparkan senyum ke arahnya. "waah.. beneran? dieu pilih yang dede ngga mau aja." saya yakin,adik saya kebingungan dengan tanggapan saya semacam itu. tapi akhirnya, ia pun memilih, "kalo dede yang corong, ngga apa-apa?". kata saya, "asik dieu yang roti." dan kami berdua menikmati es itu dengan lahap. adik saya, adik saya tampak bahagia. saya tidak tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya, karena dia bukan satomi kenichi (odagiri joe) dalam salah satu dorama jepang paling bikin haru: satorare.

ah, saya benar-benar malu.


dia tak sekecil ini sekarang


-----------------------------------------------
sepertinya Allaah SWT sedang mengingatkan saya yang pathetic ini tentang sesuatu yang penuh arti itu tak mesti rumit. namun entahlah... saya masih perlu memahami peringatan itu dengan jalan yang tetap tidak sederhana.

momento (2)

akibat jalan kaki, maka berjalan kakilah sewaktu-waktu
dinas pekerjaan umum bilang, "hati-hati banyak jalan berlubang". bagi mereka yang memiliki kendaraan barang kali sugesti perusahaan milik pemerintah ini adalah petunjuk paling jitu terhindar dari musibah. tapi buat pejalan kaki seperti saya, peringatan itu seperti tak lebih dari pernak pernik. saya hanya akan mengatakan "oo" dan kembali melangkahkan kaki mendekati lubang jalan yang digenangi air bekas hujan beberapa saat sebelumnya.

tentu saja bukan untuk bercermin dan mengamati wajah sampai mampus seperti narcissus dalam mitologi yunani. buat saya yang pejalan kaki ini, genangan air di lubang jalan adalah a way to enjoy universe, a way to watch the sky, a way to be grateful that Allaah SWT still gives me chance to see a very great creature in this very short life.

dan buat saya, inilah saat dimana saya memergoki langit tengah menempel di permukaan bumi. what a beautiful moment to capture a very nice scene ever..



-------
* tulisan ini tak membuat saya urung menuntut agar dinas pekerjaan umum segera memperbaiki jalanan keriting yang nyaris terhampar di seluruh negeri ini.

breeze?

setelah berabad-abad, akhirnya saya nangkring juga di jurusan. sepi di sini. kawan-kawan saya pada kemana? (tidak perlu ikut menjawab, biar saya jawab saja dalam hati dengan penuh kepiluan - berlebihan mode on)

di ujung lorong ada sekitar sepuluh orang. dugaan kuat saya, mereka adalah mahasiswa jurusan paling 'high class' di fakultas. saya tidak hendak menguping. saya hanya sedang menunggu istirahat dzuhur untuk bisa masuk kembali ke perpustakaan. birokrasi membuat semuanya mudah terkunci. perpustakaan. masjid. tempat-tempat yang seharusnya 'cukup basah' untuk melahirkan orang-orang hebat, para pemikir, politikus, bahkan negarawan.

dan di ujung lorong itu, beberapa gelintir mahasiswa membicarakan hal-hal besar. tentang berbagai kesepakatan internasional. tentang konstelasi politik internasional. tentang isu-isu lingkungan. tentang konflik. tentang tentang nasib bangsa. tentang media. tentang transmigrasi. tentang soeharto. tentang jurusannya yang 'keren', tentang bagaimana membuat proposal untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa, tentang keengganan untuk berorganisasi (salah seorang perempuan bersuara paling lantang mengatakan begini: "aku ngga pengen pake nama organisasi. aku pengen jadi orang yang tergerak karena kepedulian sosial aku. bahkan mengatasnamakan badan mahasiswa tertinggi unpad, sama sekali aku ngga bakalan mau"). tentang keharusan perempuan untuk bekerja sebelum berumah tangga (wuihhh... my mamah indeed). tentang kehidupan yang akan terus berdetak dengan perpanjangan visa dan passport. tentang peluang bisnis dan multinational corporations. tentang globalisasi yang menurut salah seorang dari mereka diidentikkan dengan hal-hal 'barat' yang diglobalkan. tentang kesempatan untuk menjadi maju dengan memutuskan untuk meninggalkan indonesia.

wufff... what's so scattered topics. isn't it? sungguh. sekali lagi, saya tidak sedang menguping karena suara mereka terlalu keras untuk tidak dipedulikan. namun hal itu membuat saya cukup menikmatinya sembari senyam-senyum. let's call it illuminating day breeze. akhirnya. ya. akhirnya ada yang cukup digdaya dari canda dan bicara mereka yang menyebut dirinya mahasiswa. ya. akhirnya.

time's up. saatnya kembali ke perpustakaan kita yang gemboknya kembali dibuka. dan saatnya kembali menerima bahwa pendidikan kita menciptakan sedikit saja yang membaca dan berbicara jika bukan karena terpaksa.

pada perempuan yang perutnya menggembung seperti fugu

hari ini saya melihat cara bersalaman yang tidak wajar. setidaknya menurut saya. kejadiannya sekilas. dan saya melihat beberapa kali orang melakukannya.

bukan. bukan tangan raih tangan. saya melihat hal lain. perempuan itu, perempuan yang disalami itu pun seolah tanpa keberatan membiarkan tangan-tangan mereka menggerayangi perutnya yang menggembung persis seperti ikan fugu.

entah rapal apa yang keluar dari mulut mereka yang mengelus-elus perut buncit itu. saya benar-benar tidak tahu. saya hanya tahu bahwa dari kejauhan air muka mereka tidak menunjukkan hal-hal yang kurang ajar. dan saya hanya tahu bahwa saya yang duduk di angkot ini ribut dan risih dengan sesuatu yang tidak menimpa saya. saya sibuk bersoliluqui. sementara perempuan itu, tampak menikmati pembicaraan sewajarnya.

apa yang salah? imajinasimu yang terlalu berlebihan, tukas penumpang angkot yang duduk di sebelah saya. saya menengok ke sisi kanan. saya kaget. karena penumpang itu tidak berbicara apapun. ia masih bermasyuk mengamati pemandangan dipati ukur yang dipenuhi anak muda yang mahasiswa, yang berkerumun, yang penuh gaya, dari balik jendela.

saya jadi berpikir, bahwa bersalaman (dengan mempertemukan tangan dengan tangan untuk saling berjabat) hanya simbol yang sesekali bisa berubah. mempertemukan pipi dengan pipi (saya lebih sering menyodorkan batok kepala ketimbang pipi) saat sesama spesies saya saling bertemu pun hanya simbol. saling memegang janggut di tanah raja abdullah pun hanya simbol. atau saling meludahi dahak dalam film slapstick ace ventura pun tak lebih dari simbol. bisa berubah. bisa berganti. namun tak bisa sembarangan. orang mesti ingat bahwa setiap simbol itu mengandung pesan yang harus bisa diterima dan dimengerti. simbol yang menyesuaikan dengan pesan yang ingin disampaikan.

benar, bersalaman adalah simbol. simbol yang bisa berarti memperlihatkan rasa saling berkasih sayang, menukarkan beberapa iris kepercayaan. dari sini maka saya bilang wajar jim carrey kesal dan merasa dilecehkan saat seorang kepala suku di afrika mendahakinya dalam salah satu adegan di film besutan tom shadyac itu. detektif sinting tersebut tidak mengetahui bahwa sang kepala suku tengah memuliakannya sebagai seorang tamu, tengah menyalaminya. buktinya, setelah mengetahui bahwa anggapannya keliru, ace (jim carrey) pun menyalami sang kepala suku dengan 'dahak' (yakkkksss...) yang tak kalah banyak (nah kalo ini mah bukan menghormati, tapi balas dendam. jangan kayak gitu ya, kawan-kawan).

dan di zaman yang membuat saya curiga terhadap setiap jeda bangunan, terhadap setiap sudut benteng, terhadap setiap pinggiran pohon --dengan asumsi kuat bahwa tempat-tempat itu strategis untuk kencing para 'kucing'--, di zaman yang menuntut orang terseret dengan ritme dan dinamika kosong yang cepat ini, simbol serupa kulit yang lupa kacangnya (hahay). hampa. maka wajarlah siapapun dengan kepentingan apapun bisa menggonta-ganti simbol itu, bahkan hingga bisa mengubahnya menjadi sama sekali beda dengan pesan yang seharusnya disampaikan (bisa jadi suatu saat memuliakan sama dengan menjilati tapak sepatu, atau saling melempar pecahan beling, atau bisa jadi dengan saling menikam). ya, siapa yang tahu jika -lagi-lagi- orang dibiarkan bebas mengikuti kehendaknya sendiri dan kepedulian raib bersama dengan tegaknya banyak bangunan. what's common today, could be strange tomorrow. what's right today, could be wrong tomorrow.

maka saya bersyukur bahwa kegamangan hidup saya berakhir, meski saya sulit menerima bahwa saya masih soliloquist. sering bermonolog, termasuk saat ini, saat menyaksikan tangan-tangan yang mengelus perut mahasiswi pascasarjana yang hamil itu. ah. barangkali bersama tangan-tangan itu ada bahagia yang hadir, ada harapan dan doa yang terpanjat, semoga yang mendekam di balik rahim itu lahir sebagai manusia yang akan melengkapi kesempurnaan hidup yang tak lama.

meski tangan saya tidak turut menggerayangi perut bulat perempuan itu: "semoga Allaah SWT melimpahkan keberkahan atasmu. semoga rasa syukur itu tak lekang bertambah, hanya pada Allaah yang Maha Memberi Karunia. semoga Allaah SWT membiarkanmu dewasa serta mempersembahkan kebaikan dan baktimu pada kedua orang tuamu."