Sejarah hidup saya beberapa tahun belakangan ini adalah sejarah kebersamaan saya dengan Tole1) dan Bugi2). Mereka berdua yang hampir selalu menemani saya kemanapun dalam keadaan apapun. Minna-chan, aishiteru....:*
--------------------------
1) Tole adalah tas saya tercinta. Kami sudah hidup bersama sekitar 4 tahun. Ia sangat jarang mandi. Bahkan, yang saya sadari, saya hanya mencucinya sekali saja selama ini. Kemarin temen saya mengingatkan saya tentang Tole yang sudah ledek. Biar, saya bilang ke temen saya itu. Saya suka sama yang ledek-ledek. Sudahlah ledek, sekarang bebannya pun tambah banyak. Entah mengapa, semakin tua semakin banyak yang ingin saya bawa, termasuk hal-hal yang dulu tidak penting sama sekali, sekarang menjadi sesuatu yang setidaknya membuat saya sedikit linglung jika tertinggal.
2) Bugi adalah sandal gunung saya. Kedatangannya tidak pernah masuk dalam hitung-hitungan mimpi saya. Pemberian dari seorang kawan yang tidak menginginkannya karena bentuknya yang aneh. Seperti Tole, Bugi juga jarang sengaja saya mandikan. Biar ia belajar tentang hidupnya sendiri. Haha.... Saya pernah berpikir, jika suatu saat saya ditanya Allah kemana saja waktu saya hidup di dunia, saya ingin Bugi membantu saya menjawabnya, karena ia memang selalu ikut saya (atau kebalik, saya yang ikut dia) dalam segala momen, segala suasana. Mulai dari sekedar menjelajah tempat-tempat baru, ujian, maen di tengah sawah, sampai acara hajatan.
------adieu loph yu, Bugi, Tole--------
Oct 27, 2008
2
Oct 26, 2008
0
soliloqui

Andai bukan karenamu, tentu saja aku sudah meninggalkan tempat ini dengan langkah yang gegas, tanpa kemungkinan menoleh kembali ke belakang. Ya, andai saja. Memang terkesan tidak sabar, karena pada kenyataannya aku bukanlah penyabar. Bagiku sabar adalah kebodohan dalam bentuknya yang lain. Aku juga tak pernah suka menunggu. Kerugian yang cukup besar kurasakan jika aku rela membiarkan diriku untuk menunggu. Sabar dan menunggu adalah kebodohan.
Namun kali ini tidak. Kali ini berbeda. Entah mengapa. Sudah hampir tiga setengah jam bangku ini menyangga dudukku. Aku menunggumu. Ya, aku menunggumu. Tentu saja dengan seribu macam kecemasan dan kutukan yang melebur menjadi satu. Kemana kau, perempuanku? Mengapa sejak tadi batang hidungmu setitikpun tak kunjung tampak? Apakah kau tak tahu bahwa aku benci menunggu? Tega sekali. Mungkinkah kau lupa? Mungkinkah kau sengaja lupa dan tidak menemuiku? Atau jangan-jangan sesuatu yang buruk tengah menimpamu? Mengapa tak ada kabar sepatah katapun? Bahkan angin tak memberiku petanda. Ia hanya menerpa tubuhku pelan saja dan berlalu, lantas datang lagi, kemudian kembali berlalu. Bisu. O perempuan, kau benar-benar menyiksaku.
Ataukah aku ada di waktu yang keliru? Sebentar kulihat buku catatan kecil yang di dalamnya telah kutulis besar-besar janji yang telah kita sepakati sebelumnya. Tidak, aku tidak keliru. Di halaman itu tertulis hari ini pukul 3 kita bertemu. Tapi mana? Sudah hampir tiga jam aku di sini. Ataukah mungkin aku ada di tempat yang keliru? Kulihat lagi buku itu. Di halaman yang sama, aku menulisnya besar-besar. Tidak, aku tidak keliru sama sekali. Kita sepakat untuk bertemu di pojokan taman ini. Tepatnya kau bilang akan datang lebih dulu dan menungguku di bangku ini, di bawah pohon randu yang mulai menua ini. Namun apa? Justru akulah yang lebih dulu tiba di sini.
Aku benci menunggu, tapi aku benar-benar menunggu kali ini. Duduk bergeming di bangku ini dengan kaki dan jemari yang terlalu sering bergerak-gerak. Gelisah. Resah. Cemas. Juga mengutukmu yang tak kunjung datang menemuiku. Hhhh...kepalaku sesak oleh tanya dan prasangka. Baju yang kukenakan telah basah oleh keringat sebesar-besar biji jagung yang deras bebas menerabas pori-pori tubuh. Gerah bukan karena cuaca yang sedang panas. Justru harusnya kita beruntung karena sore ini langit begitu bersahaja. Namun keberuntungan itu, kebersahajaan langit yang menangkup bumi tempat kita berpijak terpaksa tumpas dalam pertempuran panjang melawan gusar, juga kutukanku padamu.
Jika saja kau hadir sekarang, mungkin kita akan sama-sama menyaksikan senja terindah yang tak pernah tertangkap oleh mata selama ini. Bidadari cantik di penghujung hari yang sangat ramah. Bianglala mendesup celah dedaunan pada pohon randu di belakang bangku yang kita duduki. Dan mungkin pendarnya akan menempa kepala kita yang sudah hampir koyak oleh hidup yang membosankan. Biarkan. Ya, biarkan semua yang busuk dan koyak itu menguap, ikut terjalin angin dan jadilah ia satu lagi warna langit yang bergradasi. Menyemburat jingga-putih-biru-abu. Memulasnya.
Bukan hanya menyaksikan langit yang indah, kita pun akan bertukar kisah. Tak perlu indah, tak perlu nyata. Mungkin tentang mimpi-mimpi atau apapun. Milik kita atau orang lain yang tidak kita ketahui, asalkan kita bisa menemukan sesuatu yang kita pun tak harus tahu. Dan aku, aku akan menjaring kata-kata, menenun puisi, menyulam makna yang selama ini luput ditahbiskan. Makna dari segala yang lupa. Untukmu. Serupa persembahan awal pertemuan. Serupa jejak yang sengaja kutinggalkan agar suatu saat bisa kembali dicari.
Namun hingga detik ini pun kau tak kunjung tampak. Padahal matahari sudah tersuruk ke belakang pegunungan di ujung sana. Seakan ditenggelamkan ke dasar bumi. Yang tersisa sekarang adalah bait-bait obituari. Setelahnya rembulan menggantikan matahari bertahta di singgasana cakrawala, diseliri taburan gemintang berkilauan, mengedip-ngedip nakal, seolah berkompetisi siapa di antara mereka yang paling menggemaskan dan memberi gairah.
Tapi kemanakah kau, hingga malam ini semakin melarutkan pekat, kau tak tampak jua.
---------------------------------------------------
(.....sudah begitu lama saya tidak bercerita. semoga saya masih kemampuan dan kemauan juga kesempatan untuk menyambung nyawa bagi cerita ini....)
Oct 23, 2008
1
sentimen sore-sore
Sejak saya merasa tua, sejak saat itu pula saya berani nyeletuk "Bodoh!" pada saat melihat segerombol orang yang memakai kostum (kaos, jaket, jas, atau apapun) jalan beramai-ramai. Mungkin saya akan cukup bisa memaklumi jika perilaku berkostum sama ramai-ramai tersebut punya momen (setidaknya ada event tertentu). Tapi kalo cuma buat pamer.........o gosh.....how stupid they are.... Hanya untuk menunjukkan kalo mereka baru saja dibagi kaos/jaket kelompok/golongan? Hanya untuk menunjukkan kalo kaos/jaket itu melambangkan kedigdayaan golongan mereka? Bodoh. Bodoh.
Untuk hal ini mungkin saya sepakat dengan Umberto Eco. Aku berbicara lewat pakaianku. Hanya saja dengan makna yang penuh sentimen: karena pakaian itu hanya simbol kedangkalan berpikir mereka. Simbol tetaplah simbol. Soal interpretasi, saya rasa, sudah bukan lagi jadi ranah orang yang menciptakan simbol. Seperti pengarang yang sudah mati ketika karyanya dibaca (hehe......saya lupa siapa yang bilang).
Pintarlah sikit!!!! Ngapain kalian bayar kuliah mahal2 cuma dapet jaket doang??...............^^
------------------------------------------
(sekedar klarifikasi-karena itu berarti saya tidak mematikan kesadaran, meskipun ia datang cukup terlambat-...tulisan ini adalah tulisan paling sentimen yang pernah saya buat. saya sudah cukup kesal dengan pelaksanaan praktikum yang biayanya menguap entah kemana dan bagaimana, dan pulangnya, saya melihat kawan-kawan mahasiswa jurusan "J" fakultas "Kom" cekikikan dan bergaya sok "wart" jalan di depan saya......cuihhh!!! gomen ne...)
Untuk hal ini mungkin saya sepakat dengan Umberto Eco. Aku berbicara lewat pakaianku. Hanya saja dengan makna yang penuh sentimen: karena pakaian itu hanya simbol kedangkalan berpikir mereka. Simbol tetaplah simbol. Soal interpretasi, saya rasa, sudah bukan lagi jadi ranah orang yang menciptakan simbol. Seperti pengarang yang sudah mati ketika karyanya dibaca (hehe......saya lupa siapa yang bilang).
Pintarlah sikit!!!! Ngapain kalian bayar kuliah mahal2 cuma dapet jaket doang??...............^^
------------------------------------------
(sekedar klarifikasi-karena itu berarti saya tidak mematikan kesadaran, meskipun ia datang cukup terlambat-...tulisan ini adalah tulisan paling sentimen yang pernah saya buat. saya sudah cukup kesal dengan pelaksanaan praktikum yang biayanya menguap entah kemana dan bagaimana, dan pulangnya, saya melihat kawan-kawan mahasiswa jurusan "J" fakultas "Kom" cekikikan dan bergaya sok "wart" jalan di depan saya......cuihhh!!! gomen ne...)
Oct 19, 2008
0
bisakah?

“aku pun bertanya, bisakah kita berlindung pada senja yang tak memihak, pada malam sejenak, dan metamorfose?” GM-Berlin 1993
-------------------------
(tiba-tiba ingat pada satu malam di satu pantai,terbaring begitu saja,menghitung bintang-bintang)
sebab aku ingin

sebab aku ingin menghitung titik-titik air yang jatuh kala hujan sore itu
sebab aku ingin membenah lelah yang tumpah
sebab aku ingin menggugat senyap yang bersidekap.....biarkan aku menjadi diriku yang tidak lain adalah dirimu
Oct 11, 2008
0
halaman 'bukan apa-apa' untuk orang-orang istimewa
Beberapa hari lalu, saya tidak sengaja menemukan blog kawan yang saya kenal lewat blog salah seorang kawan yang juga saya kenal. Saya langsung saja bertandang ke 'rumahnya'. Dan... sungguh manis. Lewat tulisan-tulisannya, saya tahu bahwa halaman sederhana itu ia persembahkan istimewa untuk anaknya yang pada 7 Oktober lalu genap berusia dua tahun. Saya tak mampu lagi berdecak, karena rasa kagum saya sangat keterlaluan. Beruntung sekali seorang anak yang memiliki ayah semacam kawan saya itu. Sebetulnya saya sedikit iri. Andai saja saya jadi anaknya, maka saya akan bilang pada seluruh dunia bahwa saya begitu mencintai ayah saya itu.
Ah, tapi tidak juga. Bapak saya tidak punya blog seperti saya dan kawan saya (jangankan blog, menggunakan komputer saja ia keburu gengsi). Tapi saya yakin, Bapak saya pun menuliskan pahatan-pahatan sejarah kebersamaannya bersama saya dan adik-adik saya (anak-anaknya yang nakal) di halaman yang hanya ia dan Ia yang tahu dengan tulisan yang paling indah dan kata-kata yang paling menakjubkan. Saya yakin karena bapak memiliki istri yang juga luar biasa, ibu saya terkasih. Merekalah yang membuat saya kembali merasa beruntung tiap kali gagal berkurusetra karena mencoba membaca dunia.
Biar saya saja yang mempersembahkan halaman 'bukan apa-apa' ini untuk Bapak dan Ibu saya, selain halaman istimewa yang dibuatkan Allah lewat tangan-tangan para malaikat. Tidak ada yang ungkapan-ungkapan revolusioner dan progresif di sini. Yang ada hanya keluhan, keluhan, dan keluhan seorang manusia ringkih yang saat ini sedang berusaha menamatkan kuliah. Tapi, di sela-sela keluhan itu, saya sisipkan sesuatu yang selalu membuat saya merasa istimewa: Bapak dan Ibu.
Pak, Bu, blog ini Adieu persembahkan untuk kalian.
Ah, tapi tidak juga. Bapak saya tidak punya blog seperti saya dan kawan saya (jangankan blog, menggunakan komputer saja ia keburu gengsi). Tapi saya yakin, Bapak saya pun menuliskan pahatan-pahatan sejarah kebersamaannya bersama saya dan adik-adik saya (anak-anaknya yang nakal) di halaman yang hanya ia dan Ia yang tahu dengan tulisan yang paling indah dan kata-kata yang paling menakjubkan. Saya yakin karena bapak memiliki istri yang juga luar biasa, ibu saya terkasih. Merekalah yang membuat saya kembali merasa beruntung tiap kali gagal berkurusetra karena mencoba membaca dunia.
Biar saya saja yang mempersembahkan halaman 'bukan apa-apa' ini untuk Bapak dan Ibu saya, selain halaman istimewa yang dibuatkan Allah lewat tangan-tangan para malaikat. Tidak ada yang ungkapan-ungkapan revolusioner dan progresif di sini. Yang ada hanya keluhan, keluhan, dan keluhan seorang manusia ringkih yang saat ini sedang berusaha menamatkan kuliah. Tapi, di sela-sela keluhan itu, saya sisipkan sesuatu yang selalu membuat saya merasa istimewa: Bapak dan Ibu.
Pak, Bu, blog ini Adieu persembahkan untuk kalian.
laki-laki tua yang menulis dengan mesin tik
Pagi ini saya sedang bingung. Bingung untuk memulai menulis segala hal yang berloncatan dalam kepala. Mulanya saya pergi ke warnet yang baru saya kunjungi ini untuk mencari bahan tugas yang harus dikumpul esok hari. Tapi saya masih terlalu malas membuka Google dan memasukkan keyword ke dalamnya.
Seorang laki-laki tua, saya langsung teringat pada kakek saya di rumah, masuk dan menghampiri si penjaga warnet. Sopan sekali ia berbicara. Ia menanyakan cara mengirim naskah lewat email juga menanyakan berapa biaya yang dibutuhkan. Sepertinya ia adalah penulis. Dan memang begitu kenyataannya karena beberapa saat kemudian, ia mengeluh karena tulisannya tidak pernah diterima redaksi surat kabar harian terbesar di kota ini. Mungkin karena orang-orang yang duduk di ruang redaksi zaman sekarang sudah tidak mau repot lagi dengan tulisan yang diketik dengan mesin tik, begitu ia bilang.
Saya jadi miris. Sungguhkah digitalisasi kehidupan harus mengeliminasi pula orang-orang potensial yang selalu menggenggam kepekaan menulis seperti laki-laki tua itu?
Seorang laki-laki tua, saya langsung teringat pada kakek saya di rumah, masuk dan menghampiri si penjaga warnet. Sopan sekali ia berbicara. Ia menanyakan cara mengirim naskah lewat email juga menanyakan berapa biaya yang dibutuhkan. Sepertinya ia adalah penulis. Dan memang begitu kenyataannya karena beberapa saat kemudian, ia mengeluh karena tulisannya tidak pernah diterima redaksi surat kabar harian terbesar di kota ini. Mungkin karena orang-orang yang duduk di ruang redaksi zaman sekarang sudah tidak mau repot lagi dengan tulisan yang diketik dengan mesin tik, begitu ia bilang.
Saya jadi miris. Sungguhkah digitalisasi kehidupan harus mengeliminasi pula orang-orang potensial yang selalu menggenggam kepekaan menulis seperti laki-laki tua itu?
ibu dan meteor
Pada hari kesembilan bulan sembilan tahun ini sebuah meteor akan berdebum menghantam bumi, juga meluluhlantakkannya seperti debu di kaca-kaca. Itu artinya kiamat akan terjadi. Israfil sudah terlampau greget meniup sangkakala seperti halnya Squidward terhadap klarinet kesayangannya. Saya yang pada waktu itu duduk di bangku SMP benar-benar ketakutan. Kabar tersebut datang jauh hari. Berupa ramalan saja atau disertai bukti ilmiah, saya sangat tidak peduli. Perhatian saya sudah cukup tersita bersama ketakutan pada kejadian yang dijelaskan kitab suci sebagai hari berakhirnya kehidupan. Bukan mati, tapi sebuah babak baru bagi hidup yang lebih abadi.
Barangkali karena ingatan saya pernah merekam berbagai kisah mengerikan yang diceritakan ibu saya tercinta ketika ia sudah kehilangan cara untuk membuat saya jera dari kenakalan. Bahkan bukan saja ketika saya nakal, ibu juga bercerita ketika saya sedang glendotan manja di pangkuannya (posisi termanis saya sebagai seorang anak).
Dan semenjak telinga saya mendengar isu meteor jatuh itu, saya lekas minta maaf pada ibu. Saya tidak ingin Ibu menyisakan kesalahan saya yang luput dari maafnya. Saya takut jadi anak durhaka, karena durhaka adalah tiket gratis masuk kamp konsentrasi paling purba bernama neraka. Saya tidak pernah lagi melewatkan shalat lima waktu. Padahal sebelumnya saya merasa menang, karena dengan hanya memindahkan posisi mukena saya di tempat tidur dan sedikit mengacak-ngacaknya ,ibu sudah menyangka saya shalat. Saya juga sering berbuat baik, jarang melawan kehendak orang tua. Semua itu semata karena saya takut terpisah dari ibu dan masuk neraka.
Sekarang saya sudah menginjak tahun terakhir di bangku kuliah (dengan dua kali SPMB berselang dua tahun), dan meteor itu tak kunjung tiba. Entah kemana ia mampirnya. Ramalan terlalu sering mengalami penundaan dengan berbagai alasan. Entah orang iseng macam apa yang begitu rajin menyebarkan isu kiamat sudah dekat karena bumi akan tertabrak meteor itu. Sepertinya bukan Pidi Baiq*, karena Pidi Baiq suka memberikan ganti rugi pada orang yang jadi korban keisengannya dengan selembar 50 ribu atau sekedar mentraktir makan di tempat makan yang ‘lumayan’.
Tapi meteor, ramalan, Pidi Baiq, maupun traktir makan tak jadi soal buat saya sekarang. Saya hanya tidak habis pikir mengapa cerita-cerita ‘horor’ ibu saya benar-benar membuat saya ketakutan dan sempat membuat saya berubah 180 derajat menjadi anak yang baik dan rajin shalat (“sempat”, karena setelah itu saya kembali menjadi nakal dengan penampakan yang disesuaikan dengan bilangan usia ^^). Dengan kata lain, ketakutan tersebut pernah mempengaruhi benar sikap saya, hidup saya. Mungkin karena ibu saya pintar. Meskipun ia bukan orang yang mengecap pendidikan tinggi, ibu sangat tahu bahwa cerita-cerita tersebut setidaknya akan memberikan efek yang cukup baik untuk membuat anaknya tumbuh menjadi orang baik. Ibu tahu betul bahwa ketakutan tersebut akan menjadi tiang pancang manusia dari kelalaiannya, apalagi Ibu mengutip kisah-kisah tersebut dari kitab suci, kitab yang diyakini memuat kebenaran karena berasal dari Tuhan, Pencipta semesta raya. Karena ibu juga tahu, takut seperti itulah yang akan selalu mendekatkan anaknya kepada Allah SWT, Dzat yang telah memberikannya kesempatan untuk mengejawantahkan kasih sayang kepada sesama mahkluk-Nya, terutama suami dan anak-anaknya yang ia sayangi melebihi apapun.
Atau mungkin juga karena yang menceritakannya adalah ibu saya, sehingga cerita-cerita tersebut menjadi berpengaruh bagi hidup saya. Biar saya ungkapkan lagi di sini, saya teramat mengasihi ibu saya. Dialah yang sangat berperan dalam menjaga kesetimbangan hidup saya selama ini. Terkesan berlebihan. Biar saja. Saya memang ingin mencintai ibu saya secara berlebihan. Karena ia pun telah menyayangi saya lebih dari apa yang saya bayangkan.
Barangkali karena ingatan saya pernah merekam berbagai kisah mengerikan yang diceritakan ibu saya tercinta ketika ia sudah kehilangan cara untuk membuat saya jera dari kenakalan. Bahkan bukan saja ketika saya nakal, ibu juga bercerita ketika saya sedang glendotan manja di pangkuannya (posisi termanis saya sebagai seorang anak).
Dan semenjak telinga saya mendengar isu meteor jatuh itu, saya lekas minta maaf pada ibu. Saya tidak ingin Ibu menyisakan kesalahan saya yang luput dari maafnya. Saya takut jadi anak durhaka, karena durhaka adalah tiket gratis masuk kamp konsentrasi paling purba bernama neraka. Saya tidak pernah lagi melewatkan shalat lima waktu. Padahal sebelumnya saya merasa menang, karena dengan hanya memindahkan posisi mukena saya di tempat tidur dan sedikit mengacak-ngacaknya ,ibu sudah menyangka saya shalat. Saya juga sering berbuat baik, jarang melawan kehendak orang tua. Semua itu semata karena saya takut terpisah dari ibu dan masuk neraka.
Sekarang saya sudah menginjak tahun terakhir di bangku kuliah (dengan dua kali SPMB berselang dua tahun), dan meteor itu tak kunjung tiba. Entah kemana ia mampirnya. Ramalan terlalu sering mengalami penundaan dengan berbagai alasan. Entah orang iseng macam apa yang begitu rajin menyebarkan isu kiamat sudah dekat karena bumi akan tertabrak meteor itu. Sepertinya bukan Pidi Baiq*, karena Pidi Baiq suka memberikan ganti rugi pada orang yang jadi korban keisengannya dengan selembar 50 ribu atau sekedar mentraktir makan di tempat makan yang ‘lumayan’.
Tapi meteor, ramalan, Pidi Baiq, maupun traktir makan tak jadi soal buat saya sekarang. Saya hanya tidak habis pikir mengapa cerita-cerita ‘horor’ ibu saya benar-benar membuat saya ketakutan dan sempat membuat saya berubah 180 derajat menjadi anak yang baik dan rajin shalat (“sempat”, karena setelah itu saya kembali menjadi nakal dengan penampakan yang disesuaikan dengan bilangan usia ^^). Dengan kata lain, ketakutan tersebut pernah mempengaruhi benar sikap saya, hidup saya. Mungkin karena ibu saya pintar. Meskipun ia bukan orang yang mengecap pendidikan tinggi, ibu sangat tahu bahwa cerita-cerita tersebut setidaknya akan memberikan efek yang cukup baik untuk membuat anaknya tumbuh menjadi orang baik. Ibu tahu betul bahwa ketakutan tersebut akan menjadi tiang pancang manusia dari kelalaiannya, apalagi Ibu mengutip kisah-kisah tersebut dari kitab suci, kitab yang diyakini memuat kebenaran karena berasal dari Tuhan, Pencipta semesta raya. Karena ibu juga tahu, takut seperti itulah yang akan selalu mendekatkan anaknya kepada Allah SWT, Dzat yang telah memberikannya kesempatan untuk mengejawantahkan kasih sayang kepada sesama mahkluk-Nya, terutama suami dan anak-anaknya yang ia sayangi melebihi apapun.
Atau mungkin juga karena yang menceritakannya adalah ibu saya, sehingga cerita-cerita tersebut menjadi berpengaruh bagi hidup saya. Biar saya ungkapkan lagi di sini, saya teramat mengasihi ibu saya. Dialah yang sangat berperan dalam menjaga kesetimbangan hidup saya selama ini. Terkesan berlebihan. Biar saja. Saya memang ingin mencintai ibu saya secara berlebihan. Karena ia pun telah menyayangi saya lebih dari apa yang saya bayangkan.
Oct 10, 2008
0
mereka bicara perempuan
Saya tidak hendak melakukan wawancara dalam konteksnya yang sarat aturan. Saya hanya hendak mencari tahu, belum ingin menilai, opini singkat (ada juga sih yang panjang) beberapa laki-laki yang saya cari secara acak mengenai perempuan. Tidak ada persiapan sangat khusus untuk melakukan ini semua. Nanya sambil nguap, sebenarnya. Dicatat kalau ingat. Maaf apabila ada yang merasa tidak nyaman dengan pernyataan saya, maupun pernyataan tokoh-tokoh yang saya kutip berikut ini.
Adieu: “Boleh tau ngga, apa yang kamu pandang dari perempuan?”
“Awalnya rupa sih... Gitu-gitu aja dari dulu. Enak aja dipandang.”
(Noved, mahasiswa yang pernah terancam mengulang penelitiannya karena idealisme)
“Partner paling nyambung buat diajak ngomongin fashion, gosip, dan life style ter-update.”
(Dy, pengisi formulir Mojang Jajaka)
“Geulisna. Terus eta bodina, montok atawa heunteu.”
(Dodo, pengamen yang sering ngabisin pendapatannya buat beli aksesoris)
“Sama aja kayak gw mandang cowo. Sama-sama manusia biasa kali.”
(Fred, manusia beruntung kuliah tapi suka sekali menguap dan merokok)
“Istimewa. Ada banyak hal dari perempuan yang ngga dimiliki laki-laki. Perempuan kuat perasaannya. Makanya dia istimewa.”
(Joe, manusia biasa banget yang mau keluar kamar hanya untuk urusan bisnis)
“Gw cuma pengen mandang cewe cerdas dan sholihah.”
(Soni, aktivis organisasi perfilman, BEM, dan forum penanya aktif saat diskusi)
“Ibumu....”
(Bapak saya terkasih^^, salah seorang laki-laki paling istimewa yang tak pernah banyak bicara)
“Perempuan itu kuat. Dia bukan pelengkap tapi determinis, artinya dia ikut ‘menentukan’. Perempuan itu tinggi, seperti halnya rahimnya, dinisbatkan kepada Maha Rahim-Nya Dia. Perempuan itu misteri sepanjang zaman. Ia juga tabib, penawar berbagai penyakit. Cermin peradaban, maju mundurnya peradaban terkait dengan apresiasinya kepada perempuan. Saya banyak baca buku soal perempuan, jadinya gitu, ideal. Saya jawab sebagai konsepsi, walaupun mungkin ada disparitas antara konsepsi itu dengan aktual perlakuan saya pada perempuan pada titik tertentu. Tidak lebih karena saya memang melihat perempuan ‘tinggi’.”
(Zul, karyawan sebuah perusahaan)
“Mesin cuci yang bisa masak.”
(Wewe, penulis giat genre ‘bidadari’ untuk berbagai zine)
...............................(mungkin bersambung, lihat mood saya saja nanti)
Adieu: “Boleh tau ngga, apa yang kamu pandang dari perempuan?”
“Awalnya rupa sih... Gitu-gitu aja dari dulu. Enak aja dipandang.”
(Noved, mahasiswa yang pernah terancam mengulang penelitiannya karena idealisme)
“Partner paling nyambung buat diajak ngomongin fashion, gosip, dan life style ter-update.”
(Dy, pengisi formulir Mojang Jajaka)
“Geulisna. Terus eta bodina, montok atawa heunteu.”
(Dodo, pengamen yang sering ngabisin pendapatannya buat beli aksesoris)
“Sama aja kayak gw mandang cowo. Sama-sama manusia biasa kali.”
(Fred, manusia beruntung kuliah tapi suka sekali menguap dan merokok)
“Istimewa. Ada banyak hal dari perempuan yang ngga dimiliki laki-laki. Perempuan kuat perasaannya. Makanya dia istimewa.”
(Joe, manusia biasa banget yang mau keluar kamar hanya untuk urusan bisnis)
“Gw cuma pengen mandang cewe cerdas dan sholihah.”
(Soni, aktivis organisasi perfilman, BEM, dan forum penanya aktif saat diskusi)
“Ibumu....”
(Bapak saya terkasih^^, salah seorang laki-laki paling istimewa yang tak pernah banyak bicara)
“Perempuan itu kuat. Dia bukan pelengkap tapi determinis, artinya dia ikut ‘menentukan’. Perempuan itu tinggi, seperti halnya rahimnya, dinisbatkan kepada Maha Rahim-Nya Dia. Perempuan itu misteri sepanjang zaman. Ia juga tabib, penawar berbagai penyakit. Cermin peradaban, maju mundurnya peradaban terkait dengan apresiasinya kepada perempuan. Saya banyak baca buku soal perempuan, jadinya gitu, ideal. Saya jawab sebagai konsepsi, walaupun mungkin ada disparitas antara konsepsi itu dengan aktual perlakuan saya pada perempuan pada titik tertentu. Tidak lebih karena saya memang melihat perempuan ‘tinggi’.”
(Zul, karyawan sebuah perusahaan)
“Mesin cuci yang bisa masak.”
(Wewe, penulis giat genre ‘bidadari’ untuk berbagai zine)
...............................(mungkin bersambung, lihat mood saya saja nanti)
sebelum luka tiba-tiba
Ketika kau entah dimana dalam nadiku
Kusaksikan kertap suara itu
Belum pernah kukenal sebelumnya
Cuaca tersirap begitu tiba-tiba
Ketika kau entah dimana dalam urat darahku
Kudengar lengking suara itu
Seperti asing rasanya matahari senja
Yang ingin tenggelam di ufuk sana
(Ketika Kau, Sapardi Djoko Damono)
-----------------------------------------------------
Karena aku ingin membisikimu sesuatu, kemarilah! Lekaslah kau pergi. Jauh. Jauh sekali, bahkan ke suatu ruang yang kau pun tak mengenalinya. Jangan bertanya kenapa. Pergilah segera! Sebelum kita luka tiba-tiba.
Kusaksikan kertap suara itu
Belum pernah kukenal sebelumnya
Cuaca tersirap begitu tiba-tiba
Ketika kau entah dimana dalam urat darahku
Kudengar lengking suara itu
Seperti asing rasanya matahari senja
Yang ingin tenggelam di ufuk sana
(Ketika Kau, Sapardi Djoko Damono)
-----------------------------------------------------
Karena aku ingin membisikimu sesuatu, kemarilah! Lekaslah kau pergi. Jauh. Jauh sekali, bahkan ke suatu ruang yang kau pun tak mengenalinya. Jangan bertanya kenapa. Pergilah segera! Sebelum kita luka tiba-tiba.
bsk k kmps?jam piro?ktmuan yuk,lg tumpul bgt euy,balikn film jg.sy dr mrghyu jam8, d jtgr smp sore,rek sklian ngceng.
recipient: +62817xxxxxxx
sent: 21:35:57 8 Oct 08
--------------------------------------
tumpul apany?he3x..ayo bngn lg!aq lg pngn bln sst yg br uy.bsk k kmps j 9 an,tp kykny d lab pe j 2 or 3.ntar kl aq brs sms km.gmn?ok kan?
sender: +62817xxxxxxx
sent: 21:22:08 8 Oct 08
--------------------------------------
teuing.teu prdktif pisan.jgn2 kbykn knsmsi ‘cemiln’ oriental.sy teu pcaya dri kieu.krsis orientasi hdp.brasa tdk pnya sgala.udh ga tau lg musti ngpain.
recipient: +62817xxxxxxx
sent: 21:48:16 8 Oct 08
--------------------------------------
waduh?cb pnygrn.nyb sst yng lain mslny?aq malah lg jljh bdy nie.hobi br ngmpln bk n inf ttg samurai n ninja..it’s make me feel cmftbleto have such actvty.
sender: +62817xxxxxxx
sent: 21:35:08 8 Oct 08
--------------------------------------
apa yg musti sy cari?sy bingung mnentukn arah.ampun dah,sy cape.br dtg k bdg udh kyk gini.pdhl target numpuk:pnltian+skrpsi+prktkum.lieur.adieu gelo.
recipient: +62817xxxxxxx
sent: 21:58:12 8 Oct 08
--------------------------------------
he3x..iya sich..atw bth senthn mukwmt?dah lm g dgr(ehm..)or mgkn ngrjain hal2 yg bs bkn qt sdkt ‘bpijk’,ya skrpsi mslny?
sender: +62817xxxxxxx
sent: 21:48:50 8 Oct 08
--------------------------------------
--------------------------------------
Saya tidak membalas lagi smsnya. Malam itu, pikiran di kepala saya tak ubahnya popcorn, meletup-letup tak karuan. Tak bisa tidur. Terjaga pun gelisah. Apa yang saya mau dan apa yang saya butuhkan sudah tak lagi begitu jelas. Semua seperti berlari mengikuti jarum jam yang tak henti berdetak. Sepertinya saya memang sudah kehilangan kemampuan untuk sekedar menghitung jejak-jejak, sebelum hujan datang dan menghapus semuanya.
....
there's no time,
to choose for yourself.
it's like the candle's lit at both ends now,
...
(UNDECIDED, Silverchair)
Adieu, hujan belum datang sepenuhnya. Masih gerimis.
recipient: +62817xxxxxxx
sent: 21:35:57 8 Oct 08
--------------------------------------
tumpul apany?he3x..ayo bngn lg!aq lg pngn bln sst yg br uy.bsk k kmps j 9 an,tp kykny d lab pe j 2 or 3.ntar kl aq brs sms km.gmn?ok kan?
sender: +62817xxxxxxx
sent: 21:22:08 8 Oct 08
--------------------------------------
teuing.teu prdktif pisan.jgn2 kbykn knsmsi ‘cemiln’ oriental.sy teu pcaya dri kieu.krsis orientasi hdp.brasa tdk pnya sgala.udh ga tau lg musti ngpain.
recipient: +62817xxxxxxx
sent: 21:48:16 8 Oct 08
--------------------------------------
waduh?cb pnygrn.nyb sst yng lain mslny?aq malah lg jljh bdy nie.hobi br ngmpln bk n inf ttg samurai n ninja..it’s make me feel cmftbleto have such actvty.
sender: +62817xxxxxxx
sent: 21:35:08 8 Oct 08
--------------------------------------
apa yg musti sy cari?sy bingung mnentukn arah.ampun dah,sy cape.br dtg k bdg udh kyk gini.pdhl target numpuk:pnltian+skrpsi+prktkum.lieur.adieu gelo.
recipient: +62817xxxxxxx
sent: 21:58:12 8 Oct 08
--------------------------------------
he3x..iya sich..atw bth senthn mukwmt?dah lm g dgr(ehm..)or mgkn ngrjain hal2 yg bs bkn qt sdkt ‘bpijk’,ya skrpsi mslny?
sender: +62817xxxxxxx
sent: 21:48:50 8 Oct 08
--------------------------------------
--------------------------------------
Saya tidak membalas lagi smsnya. Malam itu, pikiran di kepala saya tak ubahnya popcorn, meletup-letup tak karuan. Tak bisa tidur. Terjaga pun gelisah. Apa yang saya mau dan apa yang saya butuhkan sudah tak lagi begitu jelas. Semua seperti berlari mengikuti jarum jam yang tak henti berdetak. Sepertinya saya memang sudah kehilangan kemampuan untuk sekedar menghitung jejak-jejak, sebelum hujan datang dan menghapus semuanya.
....
there's no time,
to choose for yourself.
it's like the candle's lit at both ends now,
...
(UNDECIDED, Silverchair)
Adieu, hujan belum datang sepenuhnya. Masih gerimis.
Oct 8, 2008
2
manja maneeeeeeeeeeeeeeeh.....!!!!!!
Kemarin sore saya baru saja sampai ke Bandung, namun entah kenapa ingatan saya masih tersangkut di pintu rumah, tempat keluar masuk ibu dan bapak saya dari rumah ke 'kantornya'. Ingatan saya masih terpaut pada adik bungsu saya yang selalu merengek minta perang air sore-sore sebelum ia benar-benar mandi. Mungkin karena saya sudah menganggap pulang adalah sebuah jarak terjauh dari segala macam kesibukan siapapun yang merasa siap untuk belajar 'mandiri'. Semacam ruang alternatif untuk membaca hidup. Karena mereka yang menyambut saya pulang adalah orang-orang sederhana yang tidak terlalu rumit membicarakan makna dan kata-kata, yang entah kenapa konon selalu membuat kebanyakan orang kadang terhempas derita yang paling purba: kehilangan orientasi hidup.
Dan tadi malam speaker butut itu pun ikut mengejawantahkan melankoli paling manja yang pernah saya lalui.
----------------
To my mother, to my father
It's your son or it's your daughter
Are my screams loud enough for you to hear me?
Should I turn this up for you?
Cause I sit locked inside my head
Remembering everything you've said
This silence gets us no where
Gets us nowhere way too fast
The silence is what kills me
I need someone here to help me
But you don't know how to listen
And let me make my decisions
All your insults and your curses
Make me feel like I'm not a person
And I feel like
I am nothing
But you made me
So do something
Cause I'm fucked up
Because you are
Need attention
Attention you couldn't give
(For You, STAIND)
-------------------
Standin' outside,
lookin' over a place called home,
I couldn't stay,
leaves have fallen,
wind keeps blowin' colder,
winter's on its way,
my bags are packed,
the car is waitin',
my greatest fear,
you left alone,
once again my life sweet darling,
I've made my bed,
it's time to roam
Long live freedom where I come from,
place that I call home
Standin' outside,
sayin' goodbye,
it tears me up to go
Thousand miles oceans between us,
I think about her everyday,
this plane rides long,
these wheels keep rollin',
I call to see if she's OK,
it's dark and lonely all by herself,
it tears me up to walk away,
this time my sweet Nagyi darling I pray I'll see you once again
Long live freedom where I come from,
place that I call home
Standin' outside,
saying goodbye,
it tears me up to go
Kossuth Lajos azt üzente,
Elfogyott a regimentje
De ha mégegyszer azt üzeni,
Mindnyájunknak el kell menni,
Éljen a magyar szabadság!
Éljen a haza!
Esik eső karikára,
Kossuth Lajos kalapjára
Éljen a magyarság!
A magyar szabadság!
Éljen a haza!
Long live freedom where I come from,
place that I call home
Standin' outside,
sayin' goodbye,
it tears me up to go
Because I feel so scared when you're all alone
This plane rides long and I miss my home
I feel so scared when you're all alone
These wheels keep rollin' on and on
(A Place Called Home, IGNITE)
----------------------------------------------------------------
Adieu kangen rumah.........:(
Dan tadi malam speaker butut itu pun ikut mengejawantahkan melankoli paling manja yang pernah saya lalui.
----------------
To my mother, to my father
It's your son or it's your daughter
Are my screams loud enough for you to hear me?
Should I turn this up for you?
Cause I sit locked inside my head
Remembering everything you've said
This silence gets us no where
Gets us nowhere way too fast
The silence is what kills me
I need someone here to help me
But you don't know how to listen
And let me make my decisions
All your insults and your curses
Make me feel like I'm not a person
And I feel like
I am nothing
But you made me
So do something
Cause I'm fucked up
Because you are
Need attention
Attention you couldn't give
(For You, STAIND)
-------------------
Standin' outside,
lookin' over a place called home,
I couldn't stay,
leaves have fallen,
wind keeps blowin' colder,
winter's on its way,
my bags are packed,
the car is waitin',
my greatest fear,
you left alone,
once again my life sweet darling,
I've made my bed,
it's time to roam
Long live freedom where I come from,
place that I call home
Standin' outside,
sayin' goodbye,
it tears me up to go
Thousand miles oceans between us,
I think about her everyday,
this plane rides long,
these wheels keep rollin',
I call to see if she's OK,
it's dark and lonely all by herself,
it tears me up to walk away,
this time my sweet Nagyi darling I pray I'll see you once again
Long live freedom where I come from,
place that I call home
Standin' outside,
saying goodbye,
it tears me up to go
Kossuth Lajos azt üzente,
Elfogyott a regimentje
De ha mégegyszer azt üzeni,
Mindnyájunknak el kell menni,
Éljen a magyar szabadság!
Éljen a haza!
Esik eső karikára,
Kossuth Lajos kalapjára
Éljen a magyarság!
A magyar szabadság!
Éljen a haza!
Long live freedom where I come from,
place that I call home
Standin' outside,
sayin' goodbye,
it tears me up to go
Because I feel so scared when you're all alone
This plane rides long and I miss my home
I feel so scared when you're all alone
These wheels keep rollin' on and on
(A Place Called Home, IGNITE)
----------------------------------------------------------------
Adieu kangen rumah.........:(


