Pagi ini saya sedang bingung. Bingung untuk memulai menulis segala hal yang berloncatan dalam kepala. Mulanya saya pergi ke warnet yang baru saya kunjungi ini untuk mencari bahan tugas yang harus dikumpul esok hari. Tapi saya masih terlalu malas membuka Google dan memasukkan keyword ke dalamnya.
Seorang laki-laki tua, saya langsung teringat pada kakek saya di rumah, masuk dan menghampiri si penjaga warnet. Sopan sekali ia berbicara. Ia menanyakan cara mengirim naskah lewat email juga menanyakan berapa biaya yang dibutuhkan. Sepertinya ia adalah penulis. Dan memang begitu kenyataannya karena beberapa saat kemudian, ia mengeluh karena tulisannya tidak pernah diterima redaksi surat kabar harian terbesar di kota ini. Mungkin karena orang-orang yang duduk di ruang redaksi zaman sekarang sudah tidak mau repot lagi dengan tulisan yang diketik dengan mesin tik, begitu ia bilang.
Saya jadi miris. Sungguhkah digitalisasi kehidupan harus mengeliminasi pula orang-orang potensial yang selalu menggenggam kepekaan menulis seperti laki-laki tua itu?


0 comments:
Post a Comment