Saya tidak hendak melakukan wawancara dalam konteksnya yang sarat aturan. Saya hanya hendak mencari tahu, belum ingin menilai, opini singkat (ada juga sih yang panjang) beberapa laki-laki yang saya cari secara acak mengenai perempuan. Tidak ada persiapan sangat khusus untuk melakukan ini semua. Nanya sambil nguap, sebenarnya. Dicatat kalau ingat. Maaf apabila ada yang merasa tidak nyaman dengan pernyataan saya, maupun pernyataan tokoh-tokoh yang saya kutip berikut ini.
Adieu: “Boleh tau ngga, apa yang kamu pandang dari perempuan?”
“Awalnya rupa sih... Gitu-gitu aja dari dulu. Enak aja dipandang.”
(Noved, mahasiswa yang pernah terancam mengulang penelitiannya karena idealisme)
“Partner paling nyambung buat diajak ngomongin fashion, gosip, dan life style ter-update.”
(Dy, pengisi formulir Mojang Jajaka)
“Geulisna. Terus eta bodina, montok atawa heunteu.”
(Dodo, pengamen yang sering ngabisin pendapatannya buat beli aksesoris)
“Sama aja kayak gw mandang cowo. Sama-sama manusia biasa kali.”
(Fred, manusia beruntung kuliah tapi suka sekali menguap dan merokok)
“Istimewa. Ada banyak hal dari perempuan yang ngga dimiliki laki-laki. Perempuan kuat perasaannya. Makanya dia istimewa.”
(Joe, manusia biasa banget yang mau keluar kamar hanya untuk urusan bisnis)
“Gw cuma pengen mandang cewe cerdas dan sholihah.”
(Soni, aktivis organisasi perfilman, BEM, dan forum penanya aktif saat diskusi)
“Ibumu....”
(Bapak saya terkasih^^, salah seorang laki-laki paling istimewa yang tak pernah banyak bicara)
“Perempuan itu kuat. Dia bukan pelengkap tapi determinis, artinya dia ikut ‘menentukan’. Perempuan itu tinggi, seperti halnya rahimnya, dinisbatkan kepada Maha Rahim-Nya Dia. Perempuan itu misteri sepanjang zaman. Ia juga tabib, penawar berbagai penyakit. Cermin peradaban, maju mundurnya peradaban terkait dengan apresiasinya kepada perempuan. Saya banyak baca buku soal perempuan, jadinya gitu, ideal. Saya jawab sebagai konsepsi, walaupun mungkin ada disparitas antara konsepsi itu dengan aktual perlakuan saya pada perempuan pada titik tertentu. Tidak lebih karena saya memang melihat perempuan ‘tinggi’.”
(Zul, karyawan sebuah perusahaan)
“Mesin cuci yang bisa masak.”
(Wewe, penulis giat genre ‘bidadari’ untuk berbagai zine)
...............................(mungkin bersambung, lihat mood saya saja nanti)


0 comments:
Post a Comment