
Andai bukan karenamu, tentu saja aku sudah meninggalkan tempat ini dengan langkah yang gegas, tanpa kemungkinan menoleh kembali ke belakang. Ya, andai saja. Memang terkesan tidak sabar, karena pada kenyataannya aku bukanlah penyabar. Bagiku sabar adalah kebodohan dalam bentuknya yang lain. Aku juga tak pernah suka menunggu. Kerugian yang cukup besar kurasakan jika aku rela membiarkan diriku untuk menunggu. Sabar dan menunggu adalah kebodohan.
Namun kali ini tidak. Kali ini berbeda. Entah mengapa. Sudah hampir tiga setengah jam bangku ini menyangga dudukku. Aku menunggumu. Ya, aku menunggumu. Tentu saja dengan seribu macam kecemasan dan kutukan yang melebur menjadi satu. Kemana kau, perempuanku? Mengapa sejak tadi batang hidungmu setitikpun tak kunjung tampak? Apakah kau tak tahu bahwa aku benci menunggu? Tega sekali. Mungkinkah kau lupa? Mungkinkah kau sengaja lupa dan tidak menemuiku? Atau jangan-jangan sesuatu yang buruk tengah menimpamu? Mengapa tak ada kabar sepatah katapun? Bahkan angin tak memberiku petanda. Ia hanya menerpa tubuhku pelan saja dan berlalu, lantas datang lagi, kemudian kembali berlalu. Bisu. O perempuan, kau benar-benar menyiksaku.
Ataukah aku ada di waktu yang keliru? Sebentar kulihat buku catatan kecil yang di dalamnya telah kutulis besar-besar janji yang telah kita sepakati sebelumnya. Tidak, aku tidak keliru. Di halaman itu tertulis hari ini pukul 3 kita bertemu. Tapi mana? Sudah hampir tiga jam aku di sini. Ataukah mungkin aku ada di tempat yang keliru? Kulihat lagi buku itu. Di halaman yang sama, aku menulisnya besar-besar. Tidak, aku tidak keliru sama sekali. Kita sepakat untuk bertemu di pojokan taman ini. Tepatnya kau bilang akan datang lebih dulu dan menungguku di bangku ini, di bawah pohon randu yang mulai menua ini. Namun apa? Justru akulah yang lebih dulu tiba di sini.
Aku benci menunggu, tapi aku benar-benar menunggu kali ini. Duduk bergeming di bangku ini dengan kaki dan jemari yang terlalu sering bergerak-gerak. Gelisah. Resah. Cemas. Juga mengutukmu yang tak kunjung datang menemuiku. Hhhh...kepalaku sesak oleh tanya dan prasangka. Baju yang kukenakan telah basah oleh keringat sebesar-besar biji jagung yang deras bebas menerabas pori-pori tubuh. Gerah bukan karena cuaca yang sedang panas. Justru harusnya kita beruntung karena sore ini langit begitu bersahaja. Namun keberuntungan itu, kebersahajaan langit yang menangkup bumi tempat kita berpijak terpaksa tumpas dalam pertempuran panjang melawan gusar, juga kutukanku padamu.
Jika saja kau hadir sekarang, mungkin kita akan sama-sama menyaksikan senja terindah yang tak pernah tertangkap oleh mata selama ini. Bidadari cantik di penghujung hari yang sangat ramah. Bianglala mendesup celah dedaunan pada pohon randu di belakang bangku yang kita duduki. Dan mungkin pendarnya akan menempa kepala kita yang sudah hampir koyak oleh hidup yang membosankan. Biarkan. Ya, biarkan semua yang busuk dan koyak itu menguap, ikut terjalin angin dan jadilah ia satu lagi warna langit yang bergradasi. Menyemburat jingga-putih-biru-abu. Memulasnya.
Bukan hanya menyaksikan langit yang indah, kita pun akan bertukar kisah. Tak perlu indah, tak perlu nyata. Mungkin tentang mimpi-mimpi atau apapun. Milik kita atau orang lain yang tidak kita ketahui, asalkan kita bisa menemukan sesuatu yang kita pun tak harus tahu. Dan aku, aku akan menjaring kata-kata, menenun puisi, menyulam makna yang selama ini luput ditahbiskan. Makna dari segala yang lupa. Untukmu. Serupa persembahan awal pertemuan. Serupa jejak yang sengaja kutinggalkan agar suatu saat bisa kembali dicari.
Namun hingga detik ini pun kau tak kunjung tampak. Padahal matahari sudah tersuruk ke belakang pegunungan di ujung sana. Seakan ditenggelamkan ke dasar bumi. Yang tersisa sekarang adalah bait-bait obituari. Setelahnya rembulan menggantikan matahari bertahta di singgasana cakrawala, diseliri taburan gemintang berkilauan, mengedip-ngedip nakal, seolah berkompetisi siapa di antara mereka yang paling menggemaskan dan memberi gairah.
Tapi kemanakah kau, hingga malam ini semakin melarutkan pekat, kau tak tampak jua.
---------------------------------------------------
(.....sudah begitu lama saya tidak bercerita. semoga saya masih kemampuan dan kemauan juga kesempatan untuk menyambung nyawa bagi cerita ini....)


0 comments:
Post a Comment