...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

ibu dan meteor

Pada hari kesembilan bulan sembilan tahun ini sebuah meteor akan berdebum menghantam bumi, juga meluluhlantakkannya seperti debu di kaca-kaca. Itu artinya kiamat akan terjadi. Israfil sudah terlampau greget meniup sangkakala seperti halnya Squidward terhadap klarinet kesayangannya. Saya yang pada waktu itu duduk di bangku SMP benar-benar ketakutan. Kabar tersebut datang jauh hari. Berupa ramalan saja atau disertai bukti ilmiah, saya sangat tidak peduli. Perhatian saya sudah cukup tersita bersama ketakutan pada kejadian yang dijelaskan kitab suci sebagai hari berakhirnya kehidupan. Bukan mati, tapi sebuah babak baru bagi hidup yang lebih abadi.

Barangkali karena ingatan saya pernah merekam berbagai kisah mengerikan yang diceritakan ibu saya tercinta ketika ia sudah kehilangan cara untuk membuat saya jera dari kenakalan. Bahkan bukan saja ketika saya nakal, ibu juga bercerita ketika saya sedang glendotan manja di pangkuannya (posisi termanis saya sebagai seorang anak).

Dan semenjak telinga saya mendengar isu meteor jatuh itu, saya lekas minta maaf pada ibu. Saya tidak ingin Ibu menyisakan kesalahan saya yang luput dari maafnya. Saya takut jadi anak durhaka, karena durhaka adalah tiket gratis masuk kamp konsentrasi paling purba bernama neraka. Saya tidak pernah lagi melewatkan shalat lima waktu. Padahal sebelumnya saya merasa menang, karena dengan hanya memindahkan posisi mukena saya di tempat tidur dan sedikit mengacak-ngacaknya ,ibu sudah menyangka saya shalat. Saya juga sering berbuat baik, jarang melawan kehendak orang tua. Semua itu semata karena saya takut terpisah dari ibu dan masuk neraka.

Sekarang saya sudah menginjak tahun terakhir di bangku kuliah (dengan dua kali SPMB berselang dua tahun), dan meteor itu tak kunjung tiba. Entah kemana ia mampirnya. Ramalan terlalu sering mengalami penundaan dengan berbagai alasan. Entah orang iseng macam apa yang begitu rajin menyebarkan isu kiamat sudah dekat karena bumi akan tertabrak meteor itu. Sepertinya bukan Pidi Baiq*, karena Pidi Baiq suka memberikan ganti rugi pada orang yang jadi korban keisengannya dengan selembar 50 ribu atau sekedar mentraktir makan di tempat makan yang ‘lumayan’.

Tapi meteor, ramalan, Pidi Baiq, maupun traktir makan tak jadi soal buat saya sekarang. Saya hanya tidak habis pikir mengapa cerita-cerita ‘horor’ ibu saya benar-benar membuat saya ketakutan dan sempat membuat saya berubah 180 derajat menjadi anak yang baik dan rajin shalat (“sempat”, karena setelah itu saya kembali menjadi nakal dengan penampakan yang disesuaikan dengan bilangan usia ^^). Dengan kata lain, ketakutan tersebut pernah mempengaruhi benar sikap saya, hidup saya. Mungkin karena ibu saya pintar. Meskipun ia bukan orang yang mengecap pendidikan tinggi, ibu sangat tahu bahwa cerita-cerita tersebut setidaknya akan memberikan efek yang cukup baik untuk membuat anaknya tumbuh menjadi orang baik. Ibu tahu betul bahwa ketakutan tersebut akan menjadi tiang pancang manusia dari kelalaiannya, apalagi Ibu mengutip kisah-kisah tersebut dari kitab suci, kitab yang diyakini memuat kebenaran karena berasal dari Tuhan, Pencipta semesta raya. Karena ibu juga tahu, takut seperti itulah yang akan selalu mendekatkan anaknya kepada Allah SWT, Dzat yang telah memberikannya kesempatan untuk mengejawantahkan kasih sayang kepada sesama mahkluk-Nya, terutama suami dan anak-anaknya yang ia sayangi melebihi apapun.

Atau mungkin juga karena yang menceritakannya adalah ibu saya, sehingga cerita-cerita tersebut menjadi berpengaruh bagi hidup saya. Biar saya ungkapkan lagi di sini, saya teramat mengasihi ibu saya. Dialah yang sangat berperan dalam menjaga kesetimbangan hidup saya selama ini. Terkesan berlebihan. Biar saja. Saya memang ingin mencintai ibu saya secara berlebihan. Karena ia pun telah menyayangi saya lebih dari apa yang saya bayangkan.

0 comments:

Post a Comment