...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

punk'd

ini catatan yang menguak kegilaan di masa lalu. for the victim, maafkan saya dunia akhirat ya!
--------------------------


Harusnya saya mencatat ini beberapa hari lalu. Awalnya saya kira tidak perlu. Basi kalaupun mau maksa. Tapi, postingannya Yuni bikin saya gatal, ingin menuliskan juga kejadian 14 Februari lalu, hari dimana keisengan saya -lagi-lagi- memuncak. Jadilah kawan saya korbannya. Atau saya? :( Gimana pun... Gomen ne, XXX-san!!!

Sore yang padam...

Saya : "Cuy, jangan pulang dulu yak, ada yang mau gue kasih."
(lama tak ada tanggapan)
Saya : "Pokonya jangan dulu pulang, gue mau sholat dulu."
Dia : "Emang mau ngapain? Apaan?"
(saya sedang shalat)
Saya : "Ada kado buat lu. Spesial dari gue hari ini."
Dia : "Kado apaan?"
Saya : "Hadiah buat lu. Gue kan orangnya baek banget. Pokonya ntar lu ambil ya. Kita janjian di depan."
Dia : "Oke"
....
....(krik krik)....
....
Dia : "Woi...!!!!"
(saya musti memastikan dimana arah suara itu bersumber karena di luar gelap sekali dan angin bertiup sangat kencang. tangan saya ikut sibuk memegang bagian depan dan belakang kerudung)
Dia : "Woi!!"
(akhirnya saya bisa melihatnya, manusia berbaju hitam, kulitnya?hehe...)
Saya : "Whaha...kirain dimana. Gue ngga liat. Susah. Kegelapan dalam kegelapan."
Dia : "Kurang ajar."
Saya : "Nih, buat lu."
Dia : "Apaan nih?"
Saya : "Tadi gue ngiri liat orang-orang pada ngasih kado. Ya udah, lu juga gue kasih."
Dia : "Makasih ya!"
Saya : "Yoy. Tapi ada syaratnya. Lu boleh buka tuh kado kalo udah ada di tempat yang terang. Oke?"
Dia : "Sip. Gue kasih apa nih buat lu?"
Saya : "Mobil."
Dia : "Mana mungkin? Minta aja sama temen lu itu."
Saya : "Becanda kok. Itu hadiah buat elu. Gue ngga ngutangin kok. Jadi ngga mesti lu bayar. Heuheu..."
Dia : "Pokonya makasih banget yak!"
Saya : "Sip."
.....berdetik-detik
.....bermenit-menit
.....berjam-jam
Dia : "Gila. Baru naek angkot nih gw."
(saya terperanjat. si kampret segera saya raih)
Saya : "Tuh angkot lampunya nyala apa ngga?"
Dia : "Iya. Kenapa?"
Saya : "Udah lu buka?"
Dia : "Belum. Ntar aja. Tapi beneran nih gue ngga usah ngasih apa-apa buat elu?"
Saya : "Yaelah itu lagi. Nih ya, yang penting lu buka tuh cepet-cepet! Inget, di tempat terang."
Dia : "Pasti gue buka. Makasih lagi ah."
....
....(krik-krik)....
....
....(krik-krik)....
....

Percakapan hari itu berakhir. Padahal saya berharap tidak menemukan akhir 'semanis' dan 'sesunyi' itu.

Besoknya, malam-malam...
Dia : "Gue baru ngeh buku yang lu kasih itu bukunya simpatisan PDP. Lu pernah aktif di sana ya?"
Saya : "BASI LU!"

Ternyata rencana yang saya anggap akan lucu itu hanya berubah jadi kacang dan kerupuk. Saya tidak benar-benar tertawa seperti yang ada dalam bayangan saya sore itu, ketika saya membungkus rapi buku kampanye "Laksamana Sukardi dan PDP" yang saya dapat di kantin Salman itu dengan kertas koran. Saya tidak puas sama sekali. Padahal, ketika saya menuliskan "Ini spesial buat lu dari Adieu" pada kertas yang saya tempel di muka Laksamana Sukardi itu, saya membayangkan akan muncul umpatan-umpatan dari mulut kawan saya dan muka saya jadi merah karena senang diumpat.

Hufffhhh.... Sepertinya keinginan saya untuk menyamai Pidi Baiq, master of 'iseng', father of monster and molen. Allah memang lebih tahu. Makasih Ya Allah, Kau memang keren.

Too much "punk'd" in this world. So, happy punk'd-lentine!
"Rrrrgggghhh..........."




-----------------------------
begitulah kira-kira. don't try this at home! :p

0 comments:

Post a Comment