bagaimana kemarahan mesti diungkapkan?
kemarin malam adalah kali pertama saya merasa harus marah pada beberapa kawan. mengapa? akumulatif sebabnya. tapi, saya jamin, tidak ada emosi yang meletup berlebihan di kepala saya, kecuali greget pada beberapa hal. saat itu pula saya berencana untuk menjadi galak jika bertemu mereka. saya sudah siapkan beberapa poin yang ingin saya sampaikan. saya pun sudah menyusun gaya marah minim ego, tanpa mereduksi ketegasan dan kesan pada kawan-kawan saya itu bahwa saya sedang berbeda saat itu. saya marah. ini serius.
besoknya...
kami bertemu seperti biasa. sebelum membuat kawan-kawan baku dalam lingkaran, saya sempat melepaskan sejumlah kelakar, bahkan kelakar dari hal-hal yang tidak perlu dan diada-adakan. ini pun seperti biasa, karena saya memang tipikal orang yang tukang bojes. dan hingga lingkaran itu tidak lagi dibakukan, saya masih saja berkelakar. ya Allaah ampuni hamba-Mu yang pelawak abangan ini. saya hanya tidak ingin apa yang sampai tidak serupa kilat dan halilintar.
setelah beberapa jeda, setelah membenarkan ikat sepatu kami masing-masing, saya dan kawan-kawan pun bubar. (mudah-mudahan tidak sampai mengurangi keseriusan dalam menghayati pemahaman ya, kawan-kawan. gomenasai..)
di jalan menuju pulang...
ya ampuuun, saya lupa dengan kegalakan yang sudah saya rancang sejak malam.*
pada akhirnya, semua itu tak mesti disampaikan dengan marah dan galak saya kira.^^
----------------------
*saya tidak lupa poinnya. yang saya lupa adalah gayanya. hufffttt.. tapi, saya tetap menyayangi kawan-kawan saya yang manis, besar-besar, dan menyenangkan itu.


0 comments:
Post a Comment