apa jadinya jika wage rudolf supratman hidup dan bersidekap di bangku tempat saya duduk sekarang? bagaimana kira-kira reaksi yang akan dimunculkan sang komposer ketika mendengar seorang lelaki paruh baya memetik ukulele serta menyanyikan indonesia raya dengan nada yang begitu mengenaskan dan lirik yang terpencar-pencar?pada saat yang sama, bisakah nasionalisme dipertanyakan dalam perkara ini? bukankah dalam sebaris prosanya, goenawan mohamad bertutur: nasionalisme adalah suatu seleksi untuk apa saja yang diingat dan dilupakan? siapa yang pantas disalahkan jika nasionalisme -salah satunya- didefinisikan sebagai kemahiran seorang warga negara menyanyikan lagu kebangsaan? wr supratman? pengamen itu? atau saya (anti nasionalis tapi hafal seluruh lirik lagu kebangsaan negeri ini) yang gemar menyalahkan pemerintah karena lagi-lagi tak becus untuk bahkan memelihara ingatan penting yang membedakan antara bangsanya dengan bangsa-bangsa lain? yang pasti, jangan salahkan saya karena menulis dan membicarakan pengamen yang tidak pernah merencanakan barang sekalipun untuk bertemu dengan orang yang akan menjadikannya objek curhatan. haha..
dalam menimbang "harga" mahal yang harus dibayar untuk menilai rasa memiliki terhadap sebuah bangsa, orang kebanyakan tidak bisa menyalahkan mereka yang tiap subuh mesti keluar dari tempat sembunyi di kolong-kolong jembatan untuk meramaikan jalanan hanya karena mereka tidak mahir menyenandungkan lagu kebangsaan indonesia raya, tidak bisa merapalkan butir-butir pancasila, tidak hafal nama-nama menteri dalam susunan kabinet kekinian. hafal bukan esensi dari rasa memiliki. orang bijak mengatakan, semua mesti menyentuh hingga dasar jiwa. bukan sekedar euforia, bukan pula emosi yang membabi buta. artifisial.
sayangnya, saya telanjur melihat yang artifisial itu hadir tepat di depan kelopak mata. yang hadir berupa hingar bingar di pertengahan bulan delapan saja. yang juga kadang menjelma berupa kemarahan tak terkira juga membikin siapa saja mesti ikut berteriak "ganyang! ganyang!" hanya karena cemas bahwa batik, tarian, dan lagu-lagu pindah ke tangan tetangga. rasa cemas ini, kawan, tidak hanya muncul dari setiap pojok jembatan dan jalanan. tapi sekolah, kampus, kantor, juga kompleks perumahan kelas atas. juga media. sementara cemas dibuat tak muncul saat negeri ini dikangkangi terang-terangan oleh bangsa lain secara ekonomi, politik, keamanan, sosial, dan lainnya.
itulah sebabnya saya tidak lagi suka dengan nasionalisme. terlalu artifisial, runyam, rapuh, dan 'barbar' untuk dikatakan sebagai simpul yang mengokohkan dan membuat ajeg suatu bangsa dengan lainnya. ibarat -mohon maaf- kentut. panas juga bau seketika. hanya seketika. hanya bikin orang kebanyakan ketar-ketir karena menghirup baunya yang mistis. begitu pula nasionalisme, bikin orang sibuk memikirkan apa yang hanya tampil di permukaan.
seandainya pengamen itu tahu apa yang saya pikirkan, mungkinkah ia juga akan merenungi nasionalisme untuk membuangnya jauh-jauh sampai tak terlihat lagi? mungkinkah ia akan menghampiri saya dan mengajak berdiskusi mengenai hari-harinya yang tak pernah begitu menarik perhatian orang-orang kaya dan mulia? atau paling sederhana, mungkinkah ia akan membenahi baris lirik yang tak teratur ia nyanyikan di depan kami, para penumpang ini? atau bahkan, mungkinkah ia berhenti bernyanyi dan turun dari bis yang saya tumpangi karena ia risih menjadi bahan soliloqui?
nampaknya semua kemungkinan itu mesti saya simpan di saku baju. saya mesti bersedih, karena kemungkinan-kemungkinan yang saya ciptakan dalam kepala ini tidak ada yang benar satu pun. pengamen itu tetap bernyanyi. indonesia raya. tetap dengan nada yang mengenaskan dan lirik yang terpencar-pencar.
dan tak perlulah wage rudolf supratman jadi saya. rupanya ini bukan hanya perkara sang komposer dan kerja kerasnya mencipta. mengapa? karena bencana serupa juga menimpa ebiet g. ade dan lagu asing entah apa yang hanya lugas terdengar pada bagian “susanaa… susanaaa…”
ya, inilah yang artifisial. tapi inilah yang harus ia perlihatkan. berpura-pura bisa menyanyi dengan suara yang tidak artifisial, suara apa adanya. sekedar menjadi alat tukar bagi siapapun pendengar yang ingin memberinya kepingan uang yang tak besar.


1 comments:
hmmm....saya sampe sekarang jarang menikmati suara sumbang yng suka genjrang genjreng di angkot dan di angkutan umum jenis apapun. saya bukan penggila musik, tapi sesekali ada suara instrument yg terdengar di gerbong kereta, membuat saya ihklas melepas berapapun uang yg saya comot di dompet. :)
Post a Comment