malam-malam di tiga-empat minggu ke belakang menghilang ditelan bumi dan deadline. februari pergi tak hendak kembali. sementara maret sudah nyaris kikis, setengahnya. mereka pergi begitu saja, tanpa permisi, tanpa minta izin meninggalkan janji untuk saya penuhi malam ini, jika tak lunas juga, mungkin akan berlanjut hingga malam-malam berikutnya.
lalu saya? saya masih saja hadir sebagai diri yang retak dalam melanjutkan jelujur yang telah dimulai, membentang bilyunan harap, tertatih, jatuh, bangun, dan mesti tega menyeret langkah. bukankah kamupun melihat di ujung sana, ada bahagia yang sedang membentangkan kedua lengannya? entah untuk siapa.


0 comments:
Post a Comment