dalam perjalanan pulang dari perayaan salah satu fase hidup beberapa kawan, saya tiba-tiba terpikir: jika saja penggalan hidup itu tiba bagi saya suatu saat nanti, saya terpikir untuk melarikan diri, mencari ruang sepi. saya hendak mencatat. saya enggan berlama-lama dalam kelindan keramaian. telinga dan mata saya tak cukup mau berdamai meski untuk sekedar mengamati dari kejauhan, dari jarak beberapa depa.
benar. saat itu saya hendak mencatat. tentang riuh dan gejolak rasa yang timbul tenggelam. tentang semua yang membentang-bentang dalam kepala. tentang haru yang lamat-lamat. tentang dada yang penuh degup. bahkan tentang ekspresi yang sering kemarau. dalam sunyi, biasanya hati lebih cerewet.


0 comments:
Post a Comment