hari ini saya berjalan tanpa gps (tentu saja karena saya tidak punya). kompas sudah nyaris menepi di ujung zaman. teknologi menggantikan tugasnya. menjadi peramal, atau barangkali lebih dari itu: memberikan kebenaran, menyuguhkannya dengan cara yang sangat praktis.
benar. setelah untuk ke sekian kalinya tak menemukan kosan kawan saya yang terletak di salah satu gang sempit* di sekeloa, saya berjalan tanpa punya alat navigasi, menuju pulang. di kepala saya hanya ada satu: saya yakin ada jalan tembus dari dipati ukur ke tempat tinggal saya yang baru.
beberapa kali saya berpapasan dengan gang buntu. beberapa kali manusia-manusia gang keheranan melihat saya yang bolak-balik. beberapa kali saya mereguk air mineral yang sengaja saya selipkan di pinggir tas. beberapa kali saya mengelap keringat yang menggelinding di kening. beberapa kali saya tertawa sendiri. beberapa kali saya mengetuk-ngetukkan sepatu saya untuk mengeluarkan pasir yang menumpang gratis. beberapa kali saya mata saya mengecil saat mencoba menyapa dan mempertanyakan kenapa matahari begitu galak hari ini. tapi, sungguh, semua itu tak jadi soal. semua itu terbayar tunai saat dari kejauhan saya melihat jalan besar tubagus ismail. jalanan besar itu membisikkan harap: sebentar lagi kamu akan sampai, dieu. sebentar lagi saja.
dan.. akhirnya.. di depan saya ada pintu kosan yang memberi bahagia tiada kira. saya senang. saya begitu senang. meski saya bukan telah menyusuri hutan amazon, meski saya juga bukan sedang menghayati bahagianya menjadi seorang chuck noland saat kembali dari terdampar di sebuah pulau dalam cast away, meski ini tidak seberapa, tapi saya benar-benar senang.
saya jadi ingat, dalam suatu potongan drama hachimitsu to kuroba, takemoto yuta bergumam lirih sembari terus mengencangkan kayuh sepedanya: "if there's no map, you won't know where to go. but, that was wrong. i'm not lost because i don't have a map... i wanted to move even faster. i wanted to move even further. concentrating on that. i continue to pedal."



0 comments:
Post a Comment