...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

irritating

hari itu adalah pagi yang penuh binar. namun malang, hari berlabuh pada senja yang muram.

optimisme pagi itu muncul begitu rupa. pekerjaan, perjalanan, pertemuan. bukan lagi batu besar yang meluruhkan keringat lelah buat saya, yang membuat saya tak jarang mesti menepi dan berhenti beberapa jeda sebelum mulai kembali melangkah, memangku kembali beban dengan bilyunan serapah.

tapi tidak pagi itu. saya serupa sisifus yang telah meminum ramuan penambah stamina. pagi itu, batu tidak saya angkat. tapi saya duduki sembari bergumam. semua agenda akan saya lalui dengan mudah. semudah meniup bunga dandelion. semudah menyeruput kopi dingin. semudah tertidur di dalam bis saat mencoba mengingat-ingat orang-orang yang saya kasihi.

sampai pukul tujuh belas nol nol, air muka saya masih manis. bahkan saya sempat melemparkan senyum pada perempuan-perempuan cantik yang tidak saya kenal di jalanan kampus, satu hal yang -lagi-lagi saya akui- jarang saya lakukan, kecuali hari itu.

namun.. tujuh belas tujuh belas adalah titik balik. tangan saya merogoh saku jilbab, bermaksud untuk memastikan keberadaan barang berharga yang salah satu sahabat saya berikan tahun lalu. damn! it's lost! cakrawala saya berubah. tak lagi biru dengan gradasi lembayung di batas lansekap. semua menghitam. saya ingin kembali. saya ingin mencari dimana barang itu.  dimana saya jatuhkan benda itu? mengapa saya harus memasukkannya ke dalam saku? mengapa tidak saya pakai saja benda itu? saya ingin kembali dan mencarinya. tapi bis yang melaju perlahan di depan saya adalah armada terakhir yang akan membawa saya pulang. jika saya kembali, saya harus mulai mencari dimana? puluhan potong ingatan bermunculan. terlalu banyak pojokan yang saya kunjungi. dan terlalu sering saya merogoh saku hari itu.

saya pasrah. 

saya memang menyedihkan. menyebalkan. dan memang tidak pernah beranjak dari kondisi itu. saya tak pernah merasa sekosong sore itu. ketidakmampuan saya untuk menjaganyalah yang membuat saya menjadi kosong. saya sesak. saya ingin mengutuk diri sendiri. tapi saya juga ingat. tidak pernah akan ada yang abadi di dunia. kita tidak pernah benar-benar bisa memiliki sesuatu untuk selamanya di muka bumi ini. uncertain. begitu sahabat saya bilang. what's certain is uncertain itself. itulah barangkali mengapa Allaah SWT menyatakan "fatawakkal 'allaah", yang -dalam bahasa saya- penafsirannya seperti ini apa yang kamu genggam di dunia ini adalah sesuatu yang mudah untuk lerai, hilang, lenyap, maka serahkanlah segala rupa yang merasa bisa kamu genggam dan kencangkan ikhtiar untuk menggenggamnya. dan percayalah, orang bijak meneruskan, bahwa tidak ada yang sia-sia dari setiap keadaan.

ah, tapi saya tetap saja mengutuk diri sendiri. tentu saja mengutuk karena saya tidak menjaga barang itu baik-baik. maafkan saya, sahabat. ampuni saya, ya Allaah.

0 comments:

Post a Comment