...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

ia sering (men)tertawa(kan saya)

Akhir-akhir ini saya sering mendengar ibu tertawa. Sangat sering. Ibu menertawakan saya. Ia menertawakan langkah-langkah serius yang mulai saya pilih. Ia selalu tertawa ketika saya mulai bicara serius tentang hidup. Dan pada saat itu, saya jadi blingsatan. Apa yang harus saya lakukan untuk membuat ibu tetap bersikap wajar? Biasanya saya mengalihkan topik pembicaraan. Menanyakan sedang apa adik saya yang paling kecil, atau menanyakan kesehatan kakek dan neneto, atau apa saja yang setidaknya membuat saya kembali menemukan posisi ‘aman’ saya sebagai anaknya yang manja.
Tapi mungkin saya sedikit mengerti. Tawanya yang renyah serupa ucapan: “Adieu anakku tersayang, ibu menyayangimu, benarkah akan kau lakukan itu?”
Ragukah ia pada kemampuan anaknya? Mungkin tidak. Mungkin ia yakin, dan hendak meyakinkan diri dengan tawanya. Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa anaknya yang pernah glendotan manja di pangkuannya telah beranjak dewasa (sedikit). Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa ia telah benar-benar membesarkan anaknya dengan cara yang benar. Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa jika saatnya tiba, ia benar-benar siap melepas anaknya mencari penghidupan sendiri. Ia mungkin ingin meyakinkan diri bahwa ia telah benar-benar beruntung diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bersama dengan anaknya. Ya, mungkin, karena itu hanya spekulasi seorang anak manja bernama Adieu yang selalu GR dengan kasih sayang kedua orang tuanya.
Tawa ibu kembali terdengar. Nyaring di kuping.

Mama, mama, you know i love you...
Mama,mama, you’re the queen of my heart
Your love is like tears from the star
Mama, i just want you to know
Loving you is like food to my soul...
(Boyz II Men, A Song For Mama)


Bu, seandainya bisa, Adieu ingin selamanya jadi anakmu yang manja. Jangan tertawa seperti itu lagi. Tersenyum saja. Itu pun cukup.

0 comments:

Post a Comment