...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

pangeran berkuda putih

Kawan-kawan saya, perempuan, terutama yang usianya sudah menginjak 20an selalu bercerita tentang keinginannya didatangi pangeran berkuda putih yang identitasnya, kata mereka, masih ditahan Tuhan rapat-rapat di langit. Saya sempat gatel juga mendengarnya. Bahkan karena itu saya jadi bertanya-tanya, apakah perempuan memang harus selalu begitu? Selalu jadi pihak yang menunggu dan berharap. Dengan kata lain, perempuan adalah pihak yang selalu "di-", bukan "me-".

Tapi saya sedang tidak ingin membahas itu (mungkin lain waktu). Saya hanya ingin menuliskan kembali apa yang saya baca beberapa waktu lalu. Tentang pangeran berkuda putih.

Kenapa pangeran berkuda putih seolah jadi mitos kaum hawa yang mulai berhasrat untuk menikah? Lewat Goenawan Mohamad akhirnya saya tahu bagaimana hal itu bermula.

Di sebuah negeri, Kartasura, menjelang pertengahan abad ke-17. Raden Sukra. Begitulah laki-laki itu punya nama. Ia adalah putra Raden Adipati Sindu Reja. Kerupawanannya membikin kesal putra mahkota, Pangeran Adipati Anom. Jadilah ia, laki-laki tampan yang memukau banyak orang itu, dibawa ke hadapan sang putra mahkota. Ia dikeroyok dan ke dalam matanya, dijejalkan semut hitam.

Sindu Reja geram. Tapi statusnya yang hanya seorang abdi raja, menciutkan keinginannya untuk menuntut balas.

Tidak dengan Sukra. Ia datang menemui Lembah, putri Pangeran Puger, dan bermaksud memikat perempuan cantik itu sebagai jalan untuk membalaskan kekesalannya yang menggelegak atas perlakuan sang putra mahkota. Datanglah Sukra suatu sore bersama Nirwati,kudanya yang putih, ke pertamanan istana kepugeran itu, tempat Lembah berjibaku dengan kemurungannya karena suaminya, sang putra mahkota,lebih asyik dengan perempuan barunya.

Hati-hati dengan cinta. Begitu salah satu pesan dituliskan. Cinta mengubah jalan cerita. Sukra dan Lembah benar-benar terjebak dalam sebuah kubangan yang mereka buat sendiri dengan sukarela.

Berita tentang kasmarannya dua insan itu terdengar oleh Adipati Anom, bahkan sampai ke telinga sang Raja. Tak tanggung-tanggung. Ayah Lembah,Pangeran Puger, diminta untuk membunuh sendiri putri kandungnya. Dan nasib Raden Sukra, sepertinya tak hendak berubah. Hidupnya tamat. Setelah terbujuk untuk menyerah dan diminumi racun, lehernya pun diinjak dan dipatahkan oleh pamannya sendiri, sang pengabdi Raja.

Begitulah. Mudah-mudahan keinginan kawan-kawan saya yang perempuan untuk didatangi pangeran berkuda putih bukan keinginan untuk mengakhiri cerita hidup seperti Sukra dan Lembah. Tentu saja karena mereka (kawan-kawan saya yang perempuan) dan saya tidak hidup di Kartasura pertengahan abad ke-17. Dan yang paling penting, mereka (kawan-kawan saya yang perempuan) dan saya, tidak hendak merekonstruksi sepenggal kisah lama yang diungkapkan dalam Babad Tanah Jawi tersebut.

Kita punya sejarah kita masing-masing, perempuan. Tapi apakah kita pun akan didatangi pangeran berkuda putih kita masing-masing, perempuan? Mungkin. Tapi mudah-mudahan bukan Raden Sukra pangeran itu. Haha...


(terinspirasi dari kawan-kawan dan Goenawan Mohamad)
------------------------
Kore wa nan desu ka, adieu? Teuing ah.......

0 comments:

Post a Comment