...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

bukan kematian itu benar...

Saya ingin menyertakan salah satu tulisan yang saya dapatkan dari Catatan Pinggir II Goenawan Mohamad. Selain karena saya memang terlalu menyukai penulisnya, saya rasa, tulisan tentang kematian yang dibuatnya tersebut sedikit menjiwai dan menjadi salah satu dari serangkaian nada dari sebuah elegi kematian Imam Samudra, Amrozi, dan Mukhlas. Tiga orang yang kematiannya menjadi keresahan tersendiri bagi banyak orang. Saya jadi ingat beberapa waktu lalu, saat mantan presiden Indonesia kedua, Soeharto, menjelang kematiannya, seperti itu pula ketiga orang tadi diperlakukan menjelang eksekusinya.
------------------------------
Bukan Kematian Itu Benar...


Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta


Chairil Anwar menuliskan baris-baris itu untuk seorang nenek tua yang meninggal. Kita kini mungkin akan mengingatnya untuk seorang Kusni Kasdut. Sebab memang bukan kematian itu benar menusuk kalbu. Tapi kenyataan, bahwa yang matai hanya pasrah, dan maut datang sebagai manifestasi kekuasaan. Dalam hal si nenek tua, kekuasaan itu agaknya langsung dari Tuhan. Dalam hal Kusni, kekuasaan yang hadir adalah negara. Begitu tinggi, begitu bertahta, begitu singkat merampat. Yang mati butir debu. Duka itu pun rata dengan tanah.
Masalah hukuman mati, dengan demikian, selalu menyentuh sebuah akar yang tertanam dalam -sejenis akar relijius dalam kehadiran kita. Mungkin Chairil Anwar seakan hendak memprotes Tuhan ketika ia menyaksikan kematian neneknya. Tapi ia toh tak bisa mengingkari-Nya. Mungkin kita juga ingin menggugat kesana-kemari, melihat jam-jam terakhir Kusni Kasdut yang tak bisa ia elakkan. Tapi pada akhirnya kita toh berbicara tentang batas-batas manusia dan kekuasaannya.
Orang yang mati tak akan pernah kembali. Jurang antara tiang tiang si terhukum ditembak dengan alam sesudahnya adalah jurang yang mutlak. Bahaya terbesar dari hukuman mati ialah bila kita, dalam ikhtiar keadilan itu, tercerabut dari "akar relijius" kita. Artinya, kita tak lagi bertanya atas dasar apa seseorang, atau sekelompok orang, mendapatkan kekuasaan yang begitu besar hingga "setinggi itu atas debu dan duka" mereka bertahta.
Jangan salah paham. Sekelompok orang bisa mengirimkanh algojo atas nama Tuhan. Tapi pada saat itu barangkali mereka menyekutukan diri dengan Yang Mahakuasa itu, dan di sini kita sesungguhnya tak bisa lagi bicara tentang suatu akar yang apa pun berarti, kecuali kepongahan. Sebab kita tidak lagi bersedia mengakui ketidakmampuan kita untuk seperti Dia: mengabsolutkan keputusan-keputusan dan juga memberikan ampunan.
Kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir. Kematian dengan demikian diberi tafsiran bukan sebagai lawan dari kehidupan, melainkan kelanjutannya. Di ujung sana Tuhan lebih tahu.
Barangkali di situlah terasa kaum abolisionis, yang gigih menentang hukuma mati atas segala macam kejahatan, terasa sama kurang memuaskannya dengan kaum legalis. Mereka hendak menunjukkan bahwa keputusan manusia bisa salah dan tidak mutlak. Betapa benarnya. Tapi kematian barangkali tak dilihat sebagai jalan ke arah hukum yang lebih adil. Tubuh yang ditembak itu barangkali hanya dipandang sebagai tubuh yang kehilangan hak.
Tapi memang bukan hukuman mati itu benar yang menusuk kalbu, dan kaum abolisionis juga pada dasarnya berbicara tentang keadilan. Yang kadang tak disadari ialah bahwa keadilan adalah satu hal, perasaan iba adalah hal lain. Keduanya bisa bertemu di satu titik, tapi bisa juga berlawanan.
Ataukah kita harus bicara soal aturan peradaban yang mutakhir? Tapi agaknya keperluan kita kini akan peradaban bukanlah hapusnya hukuman mati untuk perikemanusiaan atau terusnya hukuman mati untuk menangkal kejahatan. Keperluan kita akan peradaban nampaknya lebih elementer: sebuah peradilan yang bersih dan terang; sebuah penjara yang lebih baik ketimbang tiang gantungan.

15 Januari 1980

0 comments:

Post a Comment