...jendela

Avatarmenengok sedikit ke pengalaman majemuk yang telah lewat

boogie galak

Rasa-rasanya Bugi makin hari makin galak. Ia seperti kambing tetangga, yang biasa digembalakan di depan rumah kawan saya waktu kecil. Kambing sentimen itu selalu grasak-grusuk tiap kali saya lewat.

Ya, kambing itu sentimen karena tidak dilahirkan sebagai seorang saya yang bisa memakai celana pendek dan kaos kebesaran dengan rambut panjang yang selalu diikat dua. Kambing itu sentimen karena ia sudah tahu bahwa 17 tahun kemudian, jika saja ia jadi saya, akan mengalami ujian masuk kampus dua kali dengan modal nekat dan nakal. Kambing itu juga sentimen karena jika ia jadi saya, ia sudah tahu bahwa saya akan membicarakannya melalui blog yang kemungkinan besar ditemukan dan juga dibaca orang lain.

Padahal seharusnya dia bersyukur bahwa setidaknya ia menjadi selebritis dalam tulisan ini, meskipun tanpa nama yang cukup menjual yang selama ini dijadikan prasyarat bagi mereka yang ingin menunaikan hidup sebagai bulan-bulanan aktivis gosip. Saya tetap menyebutnya kambing, sebagaimana mestinya, karena saya tidak mau menamai dia Mawar sebagai samaran.

Dan yang pasti, meskipun ia pernah sentimen dan grasak-grusuk, saya tetap ingin berterima kasih padanya karena ia telah menginspirasi saya untuk menyamakan kegalakan Bugi dengan dirinya.

Tiga kaos kaki jari saya cedera dan kritis karenanya. Bagian jempol sebelah dalam terkelupas gara-gara sering dipakai mengepit Bugi. Huffffhhhhhh........ Bugi galak, mungkin juga karena ia sentimen pada saya. Ia sentimen karena selama hati kami saling tertaut, saya tidak pernah mencucinya, kecuali hanya sekali saja beberapa tahun lalu.

Saya juga tidak tahu mengapa Bugi tidak mengatakan kekesalannya pada saya. Mengapa harus anarkis, Bugi? Mengapa? Bukankah kamu dulu tidak keberatan pada saat kita berkomitmen untuk menyusuri hidup bersama saya? Saya bilang pada Bugi waktu itu, saya hanya bisa hidup dengan orang yang tidak terlalu banyak menuntut, sebagaimana saya pun tidak pernah ingin menuntut orang lain terlalu banyak karena masing-masing kita adalah sebuah ruang yang terhimpun dalam bangunan besar bernama hidup. Begitupun dengan Bugi, saya kira.

Saya cukup kecewa karena Bugi tidak pernah mau melakukan upaya yang cukup diplomatis dan main hantam saja ketika ia merasa berkeberatan terhadap sesuatu, terhadap saya. Korban pun sudah jatuh. Tiga kaos kaki saya yang juga saya sayangi seperti halnya Bugi, Tole, Kukut, dan Adiknya Kukut. Namun demikian, tidak adil juga jika berubahnya sikap Bugi belakangan ini menjadi alasan saya untuk berhenti mengasihinya, membuangnya, dan melupakannya begitu saja seolah kami tidak pernah bertemu dan menjalin serangkaian kisah yang nanti harus saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Saya tetap mengasihi Bugi. Sangat dan akan tetap mengasihinya selagi potensi saya sebagai manusia yang punya naluri mengasihi tidak dicabut Allah. Saya tetap akan mencatat kisah-kisah hidup saya bersamanya seperti Raqib dan Atid mencatat perjalanan hidup manusia.

Maafkan, Bugi. Maafkan Adieu. Suatu saat kita harus meluangkan waktu untuk saling bicara, sepertinya. Dan saat itu saya akan meminta kamu untuk mengatakan segalanya, segala yang selama ini tercekat dan menjadi kekesalan. Katakan, Bugi! Akan saya dengarkan. Dan saya harap saat itu kita akan saling mengerti, memahami, dan kemudian kembali menuju hidup dan menyusuri jalan seharusnya kita lewati. n_n

1 comments:

October 15, 2009 at 7:00 PM puteri biru said...

bugi oh bugi...
bugi en adieu yang akur ya...
moga langgeng sampe anak cucu, hihihihihi :P

Post a Comment