
Lagi... Karena buku ini hanya butuh 5.000 rupiah, akhirnya saya membelinya dengan harapan bahwa ketidakmengertian saya karena mencoba membaca Sartre lewat buku SARTRE UNTUK PEMULA beberapa tahun lalu terurai sedikit. Ya, sedikit saja. Apalagi buku yang saya pegang sekarang jauh lebih tipis daripada buku sebelumnya--yang mungkin lebih tebal karena dikemas versi komik.
Dan tahukah, ternyata bukan 90 menit yang saya butuhkan untuk sekedar menuntaskannya. Tapi 1 minggu (inilah bukti bahwa saya adalah seekor kura-kura dalam hal membaca buku). Dan untuk mengerti konsep eksistensialisme yang dibidani oleh filsuf juling pasangan hidup Simone de Bauvoire itu, tentu saja butuh waktu yang lebih dari sekedar 90 menit ataupun tiga hari.
Tapi buku ini sedikit memberi gambaran mengenai perjalanan kehidupan Jean Paul Sartre dan bagaimana sampai akhirnya ia memunculkan gagasan yang dititikberatkan pada kebebasan seutuhnya dari seorang manusia. Konteks dimana Sartre hidup tentunya sangat berpengaruh pada pemikiran yang saat ini kita kenal dengan nama eksistensialisme.
Eksistensialisme berbicara bagaimana meletakkan setiap manusia pada posisi memiliki dirinya sendiri apa adanya, dan membebankan keseluruhan tangung jawab bagi eksistensinya di pundaknya sendiri (L'Existensialism est un humanism). Eksistensi hadir ketika manusia sampai pada titik dimana ia memiliki pilihan-pilihan. Dengan kata lain, manusia bukan apa-apa pada mulanya, dan selanjutnya ia akan menjadi apa yang diperbuatnya sendiri. "Tindakanku menyebabkan nilai-nilai berkembang seperti ayam hutan." (Being and Nothingness)
Tapi jujur saja, sebagai orang yang memang memiliki kelambatan berpikir, saya memiliki kesulitan untuk memahami Sartre dan eksistensialisme hanya dengan buku tipis ini. Mungkin dibutuhkan buku-buku atau literatur lain untuk menunjang rasa penasaran saya. Dan yang paling penting adalah menciptakan perbincangan. Karena tanpa proses interaktif, saya tak bisa kunjung beranjak dari ketidaktahuan dan ketidakmengertian.


2 comments:
Duh sartre dimanakah kau berada? Jadi Being dulu atau Becoming? Kita mencari ke timur dan barat apa yang disebut hikmah dalam hidup ini. mungkin kita suka kesan nikmatnya penelusuran tapi sebenarnya kita bisa sudah disediakan dengan hikmah yang benar bukan sangkaan lagi.
haduh... eksistensialis...
ngga ngerti ren...
tapi pengen komen...
:peace:
Post a Comment