Seorang kawan mengirimi saya pesan pendek,"Saya sedang di polres. Anker juga ya."
Berkali-kali saya pun mengiriminya balasan pertanyaan yang sama: "Kenapa?", namun kawan saya yang belum lama berhenti bolak-balik kampus itu tak kunjung memberikan jawaban menentramkan.
Jujur, pasca tayangan rutin kegagahan polisi dan densus 88 yang marak di televisi, saya agak parno. Tepatnya bosan dan parno pada segala hal yang berbau seragam, senjata serta birokrasi.
"Lagi ngurusin surat kelakuan baik nih," katanya lewat SMS.
Akhirnya saya lega sekaligus bertanya-tanya. Lega karena itu artinya kawan saya tidak terjerat tindak-tanduk 'terorisme' dan 'semacamnyah' yang pemberitaannya nyaris membuat saya muak dan hampir muntah. Tapi yang mengherankan adalah, mau-maunya kawan saya itu meminta restu pada kepolisian yang tiba-tiba dan seolah-olah tahu betul perjalanan hidupnya, dan lantas mengesahkannya sebagai warga negara Indonesia berkelakuan baik melalui selembar kertas?
Pada saat yang sama, di pagi buta, di dalam kamar kosan saya hadir tiga orang petarung tes CPNS (dua kawan dari Solo dan satu kawan dari Jakarta) yang tengah sibuk mempersiapkan segala amunisi, lagi-lagi didominasi dengan kertas dan kertas dan kertas, sebelum akhirnya mereka berangkat dan menghindari telat di kampus para nindya praja
Nampaknya zaman hendak semakin meringkas hidup dan keberlangsungannya dalam berlembar-lembar kertas yang mudah hilang, luntur, dan terbakar. Jika sudah begitu, maka akan ada banyak orang yang siap-siap mengincar dan minta bayar.


1 comments:
Ada kalanya kita harus kompromi, dan ada kalanya juga kita harus keras kepala. Sing penting, enjoy aja! Hehehe....
Post a Comment