kami, saya dan beberapa kawan, pada suatu pagi, akhirnya terjebak pada pembahasan serius tentang sejarah. terlalu pagi untuk pembahasan seserius itu. ayam pun masih enggan bersenandung. tapi saya merasa beruntung karena ada saatnya saya merasa butuh kawan-kawan serupa mereka.
"sejarah adalah jejak-jejak kaki di padang pasir. badai, bahkan angin kecil bisa kapan saja menghapusnya," ujar kawan saya yang a.
"bukan. sejarah adalah hak setiap mereka yang menang dan punya kuasa," tutur kawan saya yang b.
kawan saya yang c tidak mau ketinggalan "sejarah itu abu, hitam dan putih yang tidak jelas."
"makanya, kita tidak bisa sembarangan mempercayai sejarah. butuh ketelitian. tidak sembarang catatan, tidak sembarang peninggalan, dan pastinya diceritakan oleh orang-orang yang 'pantas', 'layak', 'mampu', dan 'bertanggung jawab' atas segala macam peristiwa yang ditatahnya, disampaikannya," timpal kawan saya yang d.
"oo... butuh ketelitian?" tanya saya.
"ya, itu yang paling penting," katanya meyakinkan.
"masak?" tanya saya lagi.
"apa lagi?" kawan d terlihat sedikit kesal.
"ada lagi yang lain, menurut saya."
"apa?" kawan c seperti merasa perlu penasaran.
"kesabaran dan secangkir kopi"
raut muka kecewa, kesal, dan dua menampakkan kegelian mengiringi tawa saya yang renyah. dan kami pun kembali pada buku kami masing-masing, pada pagi kami masing-masing, pada khayalan kami masing-masing tentang siang yang entah akan menjadi saksi peristiwa sejarah penderitaan apa lagi di muka bumi. pada akhirnya, ayam bangun dan kami memanjatkan doa kami masing-masing. mungkin doa yang sama: semoga ini adalah hari terakhir kami dan saudara-saudara kami menderita.


0 comments:
Post a Comment